
Setelah makan malam bersama dengan Mala, Ratu segera beristirahat hingga ke esokan paginya Ratu kaget saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya begitu pula dengan Mala dan saat Ratu hendak menghampiri, Zidan keluar dari mobil itu.
"Zidan ternyata kamu, pantas saja aku merasa tidak aneh dengan mobil itu" ucap Ratu,
"Iya aku sengaja datang ke sini untuk menjemputmu, aku tau kamu sudah bekerja dengan Randi lagi, ayo kita berangkat bersama kebetulan aku ada urusan pada Randi pagi ini" ucap Zidan dan Ratu mengangguk setuju.
Ratu sebenarnya sedikit heran karena sebelumnya tidak memiliki janji apapun dengan Zidan namun dia malah tiba tiba datang menjemput dan menawarkan diri untuk pergi bersama ke kantor, Ratu yang baru ingat bahwa masih ada Mala di dalam rumah dia pun mengajak Mala agar ikut bersamanya juga dengan Zidan, meski awalnya Mala menolak karena merasa tidak enak, tapi Ratu memaksanya dan akhirnya Mala pun mau ikut bersama mereka.
Selama di perjalanan Mala terus memperhatikan Zidan yang tertangkap basa mencuri curi pandang pada Ratu beberapa kali.
"Kak Zidan apa kau menyukai kak Ratu?, Tanya Mala yang membuat Zidan terbatuk dan membuat Ratu kaget membelalakkan matanya,
"Ohok...ohok... Apa yang kau bicarakan" jawab Zidan gugup,
"Mala jangan bicara sembarangan aku dan Zidan sudah berteman sejak lama, tidak mungkin dia menyukaiku" ucap Ratu meleraikan kecanggungan,
"Memangnya kenapa tidak mungkin, bagaimana jika yang diucapkan adikmu benar" balas Zidan yang membuat Ratu kembali kaget dan tak bisa berkata kata,
"Kan, aku yang baru melihatnya saja sudah menyadari itu, dan tatapan kak Zidan sangat jelas, kak Ratu saja yang tidak sadar" ucap Mala yang membuat suasana semakin canggung.
Tak lama mereka sampai di dekat kampus Mala dan dia segera meminta turun di sana karena tidak mau terjebak lebih lama lagi dalam kecanggungan dua orang itu.
__ADS_1
Sedangkan Ratu sudah merasa tidak nyaman dia bingung harus bicara seperti apa agar suasananya tidak secanggung ini, dan membuat dia sesak berlama lama dalam suasana canggung. Sampai akhirnya Zidan memulai pembicaraan lebih dulu.
"Ayolah Ratu bukankah wajar jika seorang pria menyukai seorang wanita, kamu tidak keberatan kan jika aku mengejarmu?" Tanya Zidan,
"A.. aku tidak keberatan hanya saja aku masih kaget dan tidak menyangka" jawab Ratu dengan jujur dan gugup.
Hingga ketika sampai di perusahaan Ratu segara keluar dan membawa kopernya keluar dia segera berjalan cepat meninggalkan Zidan karena terlalu malu dan canggung berhadapan dengannya.
Ratu berjalan terburu buru dan segera pergi ke ruangannya dia berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas dan membuangnya perlahan, Ratu terus saja mengulangi hal yang sama sampai dirinya bisa sedikit tenang.
"Ahhh... Bagaimana bisa Zidan menyukaiku dan dia menyatakannya secara blak blakkan bahkan di depan Mala ahhh bisa bisa aku akan diejek oleh Mala jika seperti ini, bagaimana juga aku harus menghadapinya mulai sekarang" ucap Ratu bingung sambil berjalan mondar mandir di depan meja kerjanya.
Sekretaris Han datang dan masuk secara tiba tiba ke dalam ruangan Ratu dan membuatnya kaget.
"Astaga.... Sekretaris Han kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, membuatku kaget saja" balas Ratu dengan wajah yang masih gugup.
Ratu takut sekretaris Han mendengar gerutuannya barusan dan itu akan sangat bahaya jika sampai sekretaris Han mengetahui kalau Zidan menyukainya, Ratu juga takut dia akan memberitahu orang lain dan menyebarkan rumor untuknya apalagi sekretaris Han kurang menyukainya.
Sekretaris Han berjalan mendekati Ratu dan dia menatap dengan penuh curiga sembari menyelidiki apa yang Ratu sembunyikan dan apa yang tengah dilakukan Ratu sampai dia bisa sekaget itu ketika mengetahui dirinya masuk ke dalam ruangan secara tiba tiba.
"Sekretaris Han tolong berhenti, kenapa kau menatapku seperti itu" ucap Ratu yang risih mendapatkan tatapan dari sekretaris Han yang seperti menyelidik,
__ADS_1
"Habisnya kenapa kau sekaget dan segugup itu saat aku masuk, mencurigakan saja" jawab sekretaris Han,
"Tidak ada apa apa, dan wajar saja kan jika aku kaget" tambah Ratu berusaha menyembunyikan ke gugupan nya.
Akhirnya sekretaris Han berhenti menatap selidik pada Ratu dan dia segera menyuruh Ratu untuk menemui tuan Randi karena banyak berkas yang harus dia periksa dan banyak tugas lain tentunya, di lihat dari wajah sekretaris Han yang sedikit ceria saat memberi tau perintah itu Ratu merasa ada yang tidak beres dan dia mulai waspada kalau kalau sekretaris Han akan mengacau dengan pekerjaannya hari ini.
Ratu pun segera pergi menemui tuan Randi ke dalam ruangannya, dan saat masuk rupanya di sana ada Zidan juga sekretaris nya, aku berusaha menyembunyikan permasalahan ku dengan Zidan dan bersikap profesional selama bekerja di sana, namun rasanya tuan Randi seakan sengaja menyuruhku menyeduh kopi dan memintaku untuk membantunya minum di hadapan Zidan, entah apa yang dia inginkan tapi aku sungguh tidak bisa menolak keinginannya itu.
Segera ku angkat gelas kopi itu dan meminumkannya pada tuan Randi yang masih sibuk berkutik di depan laptopnya sedangkan Zidan sibuk menjelaskan mengenai kerjasama diantara mereka
Masih sempat Ratu melihat Zidan yang menahan amarah dengan memegang bolpoin di tangannya dengan kuat, Ratu yang menyadari itu dia langsung menjaga jarak dari tuan Randi agar tidak mempengaruhi persentasi yang dilakukan oleh Zidan.
"Maaf tuan sebaiknya saya pergi dari sini dan anda fokus pada persentasinya" ucap Ratu dan segera keluar dari ruangan itu tak lupa membawa setumpuk berkas di tangannya.
Ratu merasa sangat lega setelah berhasil keluar dari ruangan itu dan dia berpapasan dengan sekretaris Han yang baru masuk ke dalam ruangan dan menatap sinis seperti biasa padanya.
"Hah.... Orang itu memang tidak ada habisnya, sampai kapan mau bermusuhan denganku" ucap Ratu pelan dan segera berjalan menuju ruangannya,
Ratu fokus memeriksa semua berkas dan memasukkan data data penting pada laptopnya banyak sekali pekerjaan yang harus dia lakukan hari ini dan sekretaris Han juga nampak sibuk mengatur jadwal yang sangat padat bagi tuan Randi sementara Ratu merasa kehadirannya di sini sebagai asisten pribadi tuan Randi hanya lebih mirip seperti baby sister bayi besar, dia hanya memeriksa dan memindahkan data pada berkas lalu selebihnya hanya menemani, mengantar dan mematuhi semua perintah tuan Randi yang kadang tidak masuk akal baginya.
Namun mau bagaimana lagi Ratu sangat butuh pekerjaan itu dia butuh banyak uang untuk membangun kembali bisnisnya yang padam dan untuk membiayai kebutuhan hidup dia juga Mala, masalahnya kini dia memiliki tanggung jawab atas masa depan Mala bukan hanya dirinya sendiri.
__ADS_1
Maka dari itu Ratu terus berusaha bersabar sampai jam istirahat tiba dia pergi ke kantin kantor yang terletak di lantai dua, saat tengah menikmati makan siangnya tiba tiba saja tuan Randi datang menghampirinya membuat para karyawan lain yang ada di sana menyingkir dan mempersilahkan jalan untuknya, aku juga tak terelakkan dari bisikan bisikan yang tak jelas karena melihat tuan Randi yang langsung duduk di depan mejaku.