PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Memaafkan


__ADS_3

Perlahan Randi menghembuskan nafas dengan berat lalu diam mulai memutuskan untuk memberikan kesempatan dan memaafkan kesalahan ibunya.


"Baiklah...ibu kali ini aku maafkan dan aku akan berikan kesempatan bagi ibu untuk kembali memimpin perusahaan ini, namun jika sekali saja ibu mencoba berkhianat kepadaku lagi, sungguh aku tidak akan segan untuk menghancurkan mu, dan jangan harap kau akan menjadi bagian keluarga Atmaja!" Jawab Randi dengan penuh peringatan.


Mata nyonya Wulan seketika berbinar dan dia tidak sanggup menahan haru, dia tersenyum dengan air mata yang keluar karena kebahagiaan, Randi yang melihat itu dia juga merasa iba serta tidak tega dan dia segera menghampiri nyonya Wulan lalu memeluknya dengan erat sambil mengusap lembut punggung nyonya Wulan untuk memberikan ketenangan.


"Hiks...hiks...terimakasih sayang, terimakasih banyak kamu masih mau menerima permintaan maaf dari ibu, kali ini ibu sungguh merasa malu dan menyesali semuanya" ucap nyonya Wulan dalam pelukan tuan Randi.


Tuan Randi segera melepaskan pelukannya dan dia mulai bicara pada nyonya Wulan dengan senyum tipis dan nada suara yang tegas juga terdengar begitu bijaksana.


"Tidak papa, semuanya sudah berlalu dan bagaimanapun kamu adalah orang yang sudah merawatku, anggap saja ini balasan atas jasamu selama ini" jawab tuan Randi sambil berbalik kembali duduk di bangku ke besarannya.


"Randi segeralah kamu kembali ke negara XX, biar ibu yang mengurus permasalahan perusahaan ini, karena semua ini juga ulah ibu dan biarkan ibu memperbaikinya. Kejar Ratu nak, ibu sudah mengijinkannya dia wanita yang baik untukmu ibu tidak akan mempermasalahkan apapun lagi" ujar nyonya Wulan memberikan dukungan.


Tuan Randi yang mendengar itu seakan dia tidak percaya dan menatap dengan penuh keheranan dalam beberapa saat ke pada nyonya Wulan.


Bahkan dia juga kembali bertanya dengan nada yang tinggi karena masih merasa heran dan kaget.


"Apa?, I..ibu... Ibu sungguh mendukungku untuk bersama Ratu?, Apa ini sungguhan?" Tanya tuan Randi dengan kaget dan membelalakkan matanya.


Nyonya Wulan hanya mengangguk sambil tersenyum lebar menanggapi pertanyaan dari tuan Randi, dan tuan Randi langsung tersenyum begitu senang, dia langsung berjingkrak kegirangan lalu menggenggam kedua lengan nyonya Wulan sambil berjongkok di hadapannya.

__ADS_1


"Ibu terimakasih, aku akan mengejarnya mulai sekarang aku tidak akan mengecewakanmu, dan kau tidak bisa mengubah ucapanmu barusan" ucap tuan Randi samb terus tersenyum bahagia,


"Iya... Tentu saja ibu tidak akan mengubahnya ibu merasa bersalah kepada Ratu, saat itu ibu membencinya hanya karena keadaan dia yang berbeda dengan kita, ibu juga terhasut oleh sekretaris Diah karena ibu mengira Ratu hanya memanfaatkan mu, tapi kini ibu sudah sadar sekretaris Diah bukanlah orang yang baik dan ibu juga curiga mungkin dia juga yang membuat ibu kecelakaan" ucap nyonya Wulan yang tiba tiba kembali sedih saat mengingat kecelakaan yang merenggut kakinya hingga tidak bisa berjalan lagi untuk selamanya.


Tuan Randi segera menghibur nyonya Wulan dan mengajaknya bicara agar tidak terus berlarut larut dalam kesedihan yang mendalam.


Meski awalnya tuan Randi tidak berniat mempermasalahkan ini kepada sekretaris Diah namun mengingat sekretaris Diah justru malah semakin berani bahkan sudah hampir memfitnah Ratu kini tuan Randi tidak bisa tinggal diam dan membiarkannya hidup bebas begitu saja di luar sana.


"Ibu... Lupakan semuanya dan mari kita buat awal baru, aku akan mengurus sekretaris Diah dengan caraku sendiri" ucap tuan Randi sambil tersenyum.


Nyonya Wulan mengangguk dan akhirnya kini mereka sudah kembali akur seperti sedia kala, kasus kecelakaan juga masih terus di selidiki oleh pihak kepolisian namun tuan Randi tidak bisa memberikan sepenuhnya masalah kecelakaan ini kepada polisi.


Sebab dia sudah mengetahui dengan pasti dan menggenggam bukti yang sangat kuat untuk nanti dia serahkan juga kepada pihak yang berwajib ketika dia sudah memberikan pelajaran yang setimpal kepada sekretaris Diah, tentunya hukuman itu akan sesuai dengan apa yang diperbuat sekretaris Diah kepada semua orang.


Saat itu nyonya Wulan sudah berniat membantu tuan Randi menyelesaikan banyak pekerjaan yang sempat terbengkalai namun tuan Randi segera menolak bantuan dari nyonya Wulan dia justru menyuruh nyonya Wulan agar segera pulang dan beristirahat sebab dia tidak bisa meminta seseorang yang masih sakit untuk bekerja.


"Randi biarkan ibu membantumu, lagi pula ibu hanya akan duduk dan memeriksa beberapa file berkas itu tidak akan menguras banyak energi" ucap nyonya Wulan yang masih bersih keras untuk membantu Randi bekerja,


"Tidak ibu, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat biar sekretaris Han yang mengantarmu nanti" jawab tuan Randi,


"Ibu tidak mau pulang Randi, di rumah tidak ada hal yang bisa ibu kerjakan kamu tau ibu kesepian karena tidak ada ayahmu dan kau juga jarang sekali menanyakan kabar ibu" balas nyonya Wulan sambil mengedepankan mulutnya.

__ADS_1


Nyonya Wulan masih terus memaksa dan menolak untuk pulang karena begitu alhasil tuan Randi juga tidak memaksanya lebih keras lagi dan mengijinkan nyonya Wulan untuk berada di kantornya namun tidak melakukan apapun sebab dia masih baru sembuh dan baru saja keluar dari rumah sakit.


"Baiklah ibu bisa diam saja di sana dan jangan coba coba untuk bekerja, ibu bisa mulai bekerja ketika sudah benar benar sehat, lagi pula aku juga masih sanggup untuk menangani semua pekerjaan ini" ucap tuan Randi mengijinkan.


"Iya ibu mengerti, ahhhh.... Ibu sudah sejak lama merindukan pemandangan kota yang nampak begitu indah dari atas gedung ini" ucap nyonya Wulan sambil menggusur kursi rodanya menuju jendela ruangan itu dan diam di sana memandangi pemandangan kota yang begitu padat.


Tuan Randi menatap sekilas dan dia tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya sampai tak lama sekretaris Han datang ke ruangan dan sudah menyelesaikan tugasnya lalu mereka pergi berpamitan pada nyonya Wulan karena akan pergi melaksanakan meeting dengan salah satu klain nya.


"Ibu aku akan pergi dulu, jika ibu bosan ibu bisa melakukan apapun yang ibu mau selama itu tidak membahayakan dirimu" pamit tuan Randi yang dibalas anggukkan oleh nyonya Wulan.


Tuan Randi pergi bersama sekretaris Han, dan selama Meeting sekretaris Han melihat tuan Randi kembali fokus dan bisa membuat semua para rekan bisnis mempercayai dan langsung setuju dengan presentasinya dalam waktu yang cepat.


"Sepertinya tuan Randi sudah berbaikan dengan nyonya Wulan, wajahnya kembali berseri lagi tidak sempurna sebelumnya" gumam sekretaris Han memikirkan.


Sedang di sisi lain nyonya Wulan tidak bisa melakukan apapun dia pun mengambil laptop di meja Randi dan mengutak ngatiknya, awalnya dia hanya ingin melihat beberapa video lama dan foto masa kecil Randi yang masih sering dia gendong.


Kebetulan laptop tersebut adalah laptop yang sering dia pakai sejak lama namun tidak sengaja dia justru malah menemukan rekaman video cctv yang menunjukkan sekretaris Diah sebagai pelaku tinggal yang menyabotase mobil miliknya secara sengaja.


"Apa jadi dugaanku benar, dia yang sudah melakukan semua ini kepadaku.....SEKRETARIS DIAH, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja!" Gerutu nyonya Wulan dengan geram dan mata yang membelalak ngeri.


Nyonya Wulan segera menyimpan video cctv itu dalam file cadangannya, dia juga merasa heran kenapa Randi tidak memberitahunya jika dia sudah mengetahui bahwa memang sekretaris Diah pelaku sebenarnya.

__ADS_1


"Aku yakin Randi punya caranya sendiri dan alasan sendiri mengapa dia belum memberitahukannya kepadaku" gumam nyonya Wulan yang mempercayai putranya.


Suara ketukan pintu dari luar membuat nyonya Wulan langsung menutup laptop dan segera pergi menjauh dari meja kerja Randi lalu menyahut mempersilahkan masuk.


__ADS_2