PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
TERLAMBAT KE KANTOR


__ADS_3

Ratu pun pulang ke rumah secepat mungkin untuk melihat kondisi sang ibu sebab dia merasa sedikit khawatir dengan ibunya karena kondisinya belum stabil sepenuhnya, Ratu mengayuh sepedanya dengan secepat dan sekuat yang dia bisa, saat tiba tiba sampai di rumah Ratu buru buru masuk ke dalam rumah dan dia berteriak mencari sang ibu, sampai mamah Diva keluar dari kamar dengan berjalan perlahan dan menyauti teriakan Ratu padanya, saat melihat mamah Diva yang baik baik saja barulah Ratu merasa plong dan dia tidak khawatir lagi, Ratupun memapah mamah Diva dan mendudukannya di kursi.


"Mah bagaimana apa kondisi mamah sudah enakan sekarang?," tanya Ratu pada mamahnya.


"Alhamdulillah sayang mamah sudah enakkan kok, kamu kenapa pulang jam segini bukannya harus kerja yah?," tanya mamah Diva merasa heran karena putrinya pulang saat masih siang.


Saat mendengar pertanyaan dari mamah Diva, Ratu baru ingat bahwa dia harus ke kantor sekarang juga dan saat melihat jam ditangannya Ratu langsung panik dan berpamitan tergesa gesa pada mamah Diva karena dia sudah tidak punya banyak waktu lagi.


"Ahhh...astaga mah, aku lupa saking khawatirnya tadi sama mamah," ucap Ratu sambil buru buru memakai sepatunya.


"Mah aku pergi yah, jaga diri mamah baik baik, bye mah," ucap Ratu sambil segera pergi dari pekarangan rumah itu.


Mamah Diva hanya bisa tersenyum dengan menggelengkan kepalanya saat melihat putri angkatnya itu begitu mementingkan dirinya bahkan sampai melupakan pekerjaannya sendiri seperti itu, rasanya senang dan bahagia karena bisa kenal dan menjadi ibu dari Ratu, namun tidak bisa dipungkiri mamah Diva juga merasa sedih saat mendapatkan perhatian yang amat sangat manis dari Ratu karena dia selalu berpikir dan mengharapkan perhatian itu datang dari Astrid putri kandungnya.


"Hmmm andai Astrid yang seperti ini padaku, tapi rasanya sekarang tidak mungkin dia sudah gelap dengan harta, semua ini juga karenaku," ucap mamah Diva setelah melihat kepergian Ratu.


Diperjalanan Ratu terus saja mengayuh sepedanya dengan kuat walaupun kakinya sudah sangat terasa pegal namun dia harus tetap mengayuh dengan stabil tanpa mengurangi kecepatan karena dia tidak mau sampai terlambat bekerja. Dan ternyata sekuat apapun dia mengayuh sepeda itu dengan kakinya tetap saja dia terlambat 10 menit sampai di kantor, Ratu benar benar merasa takut dan gugup namun dia tetap memberanikan diri datang ke kantor, Ratu langsung meminta maaf pada rekan kerjanya yang lain karena dia terlambat datang, merekapun memakluminya dan Ratu langsung saja bekerja seperti biasa dengan tekun dan serius, keringat yang bercucuran didahinya tidak dia hiraukan karena dia harus tetap bekerja.


Sampai tiba tiba Cici berjalan ke arahnya dan meminta Ratu untuk pergi ke ruang CEO Randi, Ratu pun segera pergi menemuinya, dia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan sebelum mengetuk pintu ruang CEO, beberapa saat setelah dia mengetuk pintu itu 3 kali barulah ada sautan dari dalam yang menyuruhnya masuk.

__ADS_1


"Permisi pak ada yang bisa saya bantu?," tanya Gina menawarkan bantuan.


"Tentu saja ada, makanya saya menyuruhmu kemari," ucap Randi dengan dinginnya.


"Apa yang harus saya lakukan pak?," tanya Ratu dengan sopan.


"Tolong semirkan sepatu saya yang ada di rak sana, lakukan dengan baik dan harus sampai mengkilat, apa kau paham!," ucap Randi dengan sedikit meninggikan suaranya pada Ratu.


"Baik pak," ucap Ratu sambil mengangguk patuh.


Ratu pun segera berjalan ke arah rak kecil yang ada di pojok ruangan itu, dan saat dia membuka rak tersebut, Ratu sangat kabum karena rak minimalis tempat penyimpanan sepatu itu ternyata setelah dia buka dalamnya cukup luas dan muat beberapa pasang sepatu di dalamnya, karena ada 5 pasang sepatu di dalam rak itu, Ratupun bertanya pada Randi sepatu mana yang akan dia semirkan.


"Semua," jawab Randi padat dan jelas.


Ratu termenung dan membuka mulutnya besar dengan refleks.


"Hah!, tu...tuan, tapi kan ini sepatunya ada 5 pasang, butuh waktu lama untuk menyemirnya sampai mengkilat seperti yang anda mau, bagaimana kalau saya bawa saja sepatunya ke dapur dan saya akan menyemirnya di sana," ucap Ratu meminta izin.


"Tidak bisa, aku tau alasan semacam ini kalau di dapur kamu akan meminta bantuan ob lain iya kan?," bentak Randi bertanya dan menduga duga.

__ADS_1


"Eh...tidak tuan saya sama sekali tak ada niatan seperti itu, ini tugas saya dan saya akan melakukannya sendiri," ucap Ratu langsung mengelak.


"Ya sudah kerjakan saja di sini," jawab Randi sambil terus fokus pada laptopnya.


Ratupun menarik nafas panjang dan membuangnya kasar berkali kali Ratu menahan emosinya yang menggebu, dan dia berpamitan keluar untuk mengambil alat smir sepatu dahulu namun Randi menghentikannya.


"Heh, mau kemana kau?," bentak Randi tanpa menatap ke arah Ratu sedikitpun.


"Saya mau ke dapur tuan mengambil alat smirnya," jawab Ratu.


"Tidak perlu aku punya alat smir sendiri ambil di laci itu," ucap Randi sambil menunjuk ke sebuah laci.


"Baik pak," jawab Ratu dengan kesalnya dan meledek Randi sesekali dengan mulutnya.


Tanpa Ratu sadari Randi sebenarnya memperhatikan dia sedari tadi dengan ujung matanya dan ketika Ratu menatapnya Randi terus berpura pura sibuk dengan laptopnya yang bahkan tidak menyala karena batrainya habis.


Ratu pun segera mengbil alat semir tersebut dan mulai menyemir sepatu dengan penuh semangat dan sampai mengkilat, menyemir satu pasang sepatu saja membutuhkan waktu cukup lama untuk Ratu apalagi ini 10 pasang sepatu bisa dibayangkan betapa pegalnya tangan Ratu yang harus terus menggosoknya sampai mengkilat apalagi tangannya yang akan hitam karena semiran dan beberapa semprotan, tapi Ratu tidak menyerah dia terus saja menyemir dengan serius tanpa melirik lagi ke arah Randi, sedangkan Randi yang merasa aman karena Ratu sangat serius mengerjakan tugas darinya, Randipun menutup laptopnya dan menatap Ratu dengan lekat sambil tersenyum senyum sendiri di atas kursi kebesarannya sedangkan Ratu duduk bersimpuh di lantai dengan sepatu yang berserakan di sekitarnya.


Karena rambutnya yang panjang terurai dan tadi Ratu tidak sempat mengikatnya dahulu sebelum kesini, itu membuat Ratu terganggu dan terus saja sesekali tangannya itu menahan rambutnya agar tidak menjuntai ke depan alih alih membuat rambutnya ke belakang Ratu malah membuat jidat dan pipinya hitam terkena kotoran dari tangannya, Randi yang melihat wajah Ratu sedikit cemong diapun berusaha menahan tawa sekuat mungkin karena pemandangan itu sangat lucu baginya.

__ADS_1


"Fettf..freffff ......," suara Randi yang menutup mulutnya untuk menahan tawa.


__ADS_2