
Beberapa saat Ratu dan Zidan sampai di perusahaan pusat milik Randi Atmaja, nampak para pengusaha lain juga berdatangan ke sana, Zidan langsung masuk ke dalam gedung di dampingi oleh Ratu sebagai sekretarisnya, mereka juga masuk bersamaan ke dalam lift hingga tiba di ruang meeting, karena ini meeting penting yang akan membicarakan mengenai pengalihan seluruh aset kekuasaan juga semua warisan tuan Atmaja kepada putra tunggalnya yang tak lain tuan Randi Atmaja.
Semua petinggi perusahaan anak berkumpul di sebuah ruangan dengan meja yang datar dan panjang juga lebar, banyak bangku bersahaja rapih di sana dan semua sekretaris diberikan kursi tunggu tepat di luar ruangan tersebut, Zidan merapihkan setelan jasnya dan berpamitan pada Ratu sebelum masuk ke ruang meeting.
"Ratu..aku akan masuk ke dalam kamu tunggu di sini dengan baik, jika bertemu sekretaris Han kamu abaikan saja, lebih baik kita mengalah dalam situasi seperti ini, aku hanya takut itu akan berimbas pada perusahaan kamu mengerti kan" ucap Zidan memberi pengertian pada Ratu,
"Baik pak saya mengerti, anda tenang saja saya tidak akan membuatmu kecewa" jawab Ratu sambil tersenyum tulus,
Zidan pun segera masuk ke dalam ruangan bersama beberapa petinggi perusahaan lain, Ratu duduk di sana dengan banyak sekretaris yang berjajar, hampir semua sekretaris yang ada di sana kebanyakan adalah wanita dan mereka memakai pakaian yang sangat seksi, ada yang memperlihatkan dadany, pinggulnya yang ramping dan banyak lagi diantara mereka semua sepertinya hanya Ratu yang paling berpakaian tertutup juga terlihat sederhana.
Ratu menatap heran karena di sekelilingnya orang orang begitu tenang juga sangat tegang, Ratu hanya duduk dan terus mengawasi dalam diam.
"Kenapa auranya begitu mencekam begini, ini wajah mereka tegang semua karena melihat pakaian seksi para sekretaris wanita itu atau memang rapat ini sebegitu pentingnya" gumam Ratu memikirkan.
Saat tengah duduk dan melihat juga mengamati semua orang tak lama tuan Randi datang bersama sekretaris Han yang ada di sebelah kanannya juga nyonya Wulan di samping kirinya, saat mereka berjalan ke arah ruang rapat semua orang yang ada di sana menyamping dan berjajar rapih memberikan hormat.
Ratu sangat gugup ketika melihat tuan Randi berjalan menuju ke arahnya, Ratu tau tuan Randi hanya akan melewatinya namun entah kenapa dia sungguh merasa tidak enak, tuan Randi berjalan melewati Ratu dan hanya melihat sekilas pada Ratu dengan ujung matanya begitu sinis.
"Astaga....apa yang aku rasakan, ini lebih menakutkan dari menonton film horor" gumam Ratu dalam hati kecilnya.
Setelah rombongan tuan Randi masuk ke dalam ruangan dan rafatpun segera di mulai, semua sekretaris yang duduk menunggu di luar begitu tegang begitu pula dengan Ratu, dia juga ikut tegang karena mendapatkan informasi bahwa ada salah satu perusahaan yang akan di ambil alih oleh tuan Randi dan akan berhenti beroperasi, ketika Ratu melihat dari presentase keuntungan dan daya tahan perusahaan memang perusahaan milik Zidan adalah perusahaan yang banyak mengalami masalah terutama dalam proses pendanaan beberapa bulan lalu.
Bukan tanpa alasan Ratu bisa menyimpulkan semua itu, karena sebelumnya dia pernah bekerja di perusahaan pusat dan menjadi asisten tuan Randi tentu Ratu banyak menggeluti Arsip dan berkas berkas mengenai perusahaan lain yang meminta penandatanganan kontrak atau hal lain dengan perusahaan pusat, mengingat hal itu Ratu semakin cemas sedangkan dia tidak bisa melakukan apapun selain berdoa.
"Ya...ampun ini sudah berlalu dua jam lamanya, kenapa masih belum selesai juga" ucap Ratu sambil berjalan mondar mandir di depan pintu keluar ruang Rafat.
__ADS_1
Tiba tiba pintu ruang Rafat terbuka dan yang keluar ternyata sekretaris Han, Ratu hampir saja meloncat kaget karena dia pikir tuan Randi juga akan keluar dari sana setelah sekretaris Han namun untungnya tidak.
Sekretaris Han menatap sinis pada Ratu dan dia langsung berkata dengan gayanya yang sombong seperti biasa pada Ratu.
"Heh...minggir kau ini menghalangi jalanku, sebentar lagi rafat akan selesai jangan menghalangi jalan orang orang bermartabat lainnya!" Ucap sekretaris Han dengan bengis,
"Ya ampun sekretaris Han biasa saja, aku juga sudah menyingkir kok" jawab Ratu dengan kesal,
"Kantor ini sudah tidak pantas menerima penghianat sepertimu" ucap sekretaris Han yang membuat Ratu kebingungan,
"Sekretaris Han, aku mungkin orang miskin tapi kenapa kamu bicara seperti itu, apa maksudmu, siapa yang penghianat?" Ucap Ratu membentak balik,
"Kau...., Kau tau tuan Randi menyukaimu sejak lama tapi kenapa sekarang kau malah bekerja bersama sahabat yang tuan Randi tidak sukai, apa itu bukan penghianat namanya" ucap sekretaris Han lalu pergi begitu saja meninggalkan tempat itu.
"Apa maksudnya sekretaris Han bicara seperti itu bahkan di depan banyak orang, mereka jadi menatapku dengan tatapan aneh begitu gara gara dia" gerutuku masih tidak mengerti,
Saat aku tengah termenung memikirkan semuanya tiba tiba pintu ruangan Rafat kembali terbuka dan dari sana banyak orang orang keluar satu persatu termasuk Zidan yang keluar paling akhir di ikuti dengan tuan Randi juga ibu Wulan di belakangnya.
Saat mereka berjalan tepat di depan Ratu ibu Wulan menghentikan langkahnya sehingga membuat tuan Randi juga terhenti sedangkan Zidan memang hendak menghampiri Ratu.
"Zidan dengan baik baik jika kamu masih mau mempertahankan perusahan peninggalan ayahmu itu, jangan jadikan orang sembarangan sebagai sekretaris mu atau saya akan mencabut semuanya dengan mudah kapanpun saya mau!" Ucap ibu Wulan yang terdengar seperti mengancam Zidan dan menyindir Ratu.
"Baik nyonya, saya mengerti" jawab Zidan sambil membungkuk di ikuti dengan Ratu.
Tuan Randi yang berada di samping ibu Wulan tidak ikut angkat bicara sedikitpun, mereka berlalu begitu saja setelah mendapatkan jawaban dan hormat dari Ratu juga Zidan.
__ADS_1
Setelah kepergian mereka Ratu langsung berkata dengan Zidan masalah keresahan yang dia rasakan begitu juga dengan Zidan.
"Ratu...pak" ucap mereka berkata bersamaan.
"Iya, ada apa?" Jawab Zidan memberikan luang pada Ratu lebih dulu,
"Tidak...bapak saja lebih dulu, apa yang mau bapak sampaikan?" Jawab Ratu balik bertanya,
"Ratu aku minta maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa membuatmu tetap bekerja denganku lagi, dan aku rasa akan sulit untukmu mencari pekerjaan di kantor lain meskipun keahlianmu sangatlah bagus dan berpotensi baik bagi perusahaan" ucap Zidan sambil menunduk lesu.
Sebenarnya Zidan sangat tidak tega harus berkata seperti itu pada orang yang dia cintai terlebih dia sudah pernah berjanji pada Oma Rika bahwa dia akan selalu melindungi Ratu, bahkan Zidan sudah bertekad pada dirinya sendiri namun kenyataannya kini dia pun tidak bisa melindungi Ratu sepenuhnya.
Mendengar ucapan dari Zidan Ratu langsung paham dia tidak lagi berniat menanyakan apa yang sebelumnya hendak dia sampaikan pada Zidan.
"Tidak heran tadi nyonya Wulan bersikap seperti itu, Zidan aku tidak keberatan dengan semua keputusanmu" ucap Ratu dengan senyum tulus di bibirnya,
"Ratu aku minta maaf karena tidak bisa menepati janjiku sendiri padamu" ucap Zidan memegang lengan Ratu dengan erat dan penuh rasa bersalah,
"Zidan tidak ada yang salah, kamu bahkan tidak melakukan kesalahan apapun padaku, kamu tidak perlu terus melindungiku dan menjagaku setiap saat, selama ini aku sudah sangat bersyukur atas keberadaanmu di sisiku, adanya Oma dan Tante juga kamu dalam hidupku itu adalah hal paling membuatku bahagia, jadi jangan pernah meminta maaf padaku akulah yang berterimakasih atas semua kebaikanmu selama ini" jawab Ratu begitu lembut memberikan penjelasan pada Zidan.
Mendengar semua kelapangan hati Ratu, itu justru membuat Zidan lebih merasa bersalah karena tidak bisa melindungi dan membantu Ratu lagi, semua ini karena dirinya yang belum bisa menjadi sosok sekuat ayahnya dahulu dalam urusan bisnis.
"Ratu aku janji, aku akan berusaha membesarkan perusahaanku dan mengembalikan semua dana dari tuan Randi, setelah itu aku akan membawamu kembali padaku, bertahanlah Ratu aku tidak akan membiarkanmu menderita lebih lama lagi di bawah tekanan tuan Randi" ucap Zidan sambil memeluk Ratu dengan erat.
Ratu benar benar terharu mendengar ucapan Zidan bahkan dalam kondisi perusahaan yang krisis seperti ini, Zidan masih saja memikirkan tentang Ratu dan terus berupaya demi membela dan melindunginya, tanpa sadar air mata menetes perlahan dari pelupuk matanya dan Ratu segera menghapus air mata itu sebelum Zidan sempat untuk melihat.
__ADS_1