
Zidan pun mulai tersadar dan dia menelan salivanya dengan kuat, dia kaget mendengar pernyataan dari Ratu yang menyebutkan bahwa dirinya berharga bagi Ratu, mendengar itu harapan Zidan semakin tumbuh pada Ratu, dia semakin percaya diri bahwa Ratu pasti akan menerimanya.
******
Saat itu juga Zidan langsung berubah menjadi gugup dan dia merapihkan rambutnya untuk menenangkan dirinya.
"A..ahh....baiklah aku tidak akan seperti itu lagi lain kali, maafkan aku Ratu" ucap Zidan sambil tersenyum menatap sekilas ke arah Ratu.
Ratu pun bisa sedikit tenang, karena Zidan sudah mulai bersikap seperti biasa lagi kepada dirinya, sesampainya di kantor Zidan meminta Ratu untuk membantu dia menata beberapa berkas untuk presentasi pada perusahaan luar negeri yang akan berinvestasi pada perusahaan nya esok hari.
Karena itu perintah mengenai pekerjaan, Ratu menurutinya tanpa banyak bertanya dan dia terus fokus menatap semuanya sambil memeriksa kembali semua berkas tersebut dengan baik dan teliti.
Tanpa Ratu sadari Zidan sedari tadi sudah menatapnya secara diam diam, dia tidak sabar ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya dan menunggu waktu agar segera pulang dan menanyakan jawaban Ratu mengenai pernyataan perasaan yang dia lakukan sebelumnya.
"Aishh...kenapa jam ini lama sekali bergeraknya, aku sudah tidak sabar" gerutu Zidan pelan sambil memukul jam tangannya.
Ratu yang akhirnya berhasil menyelesaikan tugas dari Zidan dia segera memberikan semua berkas itu kepada Zidan dan dia pamit untuk kembali ke ruangannya, Ratu sama sekali tidak sadar bahwa sedari tadi Zidan memperhatikannya dengan begitu lekat.
Ratu masuk ke dalam ruangannya dan mulai duduk mengistirahatkan tubuh di bangku kebesaran dia, Ratu hanya menikmati masa masa menyenangkan bekerja di perusahaan Zidan dan melakukan semuanya dengan tenang.
"Ahh....aku sangat suka bekerja di sini, tidak ada satu pun pengganggu yang akan membuatku kesal atau membuatku dalam bahaya, aku akan terus bekerja di sini sampai aku bosan hehe" ucap Ratu sambil tersenyum.
Melihat ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan waktunya pulang Ratu segera membereskan tas kerjanya dan keluar dari ruangan, saat baru keluar rupanya Zidan juga baru saja keluar dari ruangannya sehingga mereka saling bertemu.
"Ehh...Zidan kamu juga mau langsung pulang?" Tanya Ratu mulai bicara santai lagi karena takut Zidan kembali merajuk,
__ADS_1
"Ahh...iya, bukannya kita ada janji kan sebelumnya kamu tidak lupa kan" jawab Zidan mulai mengingatkanku,
"Aishh...aku lupa harus menjawab masalah itu pada Zidan sekarang, bagaimana aku menyampaikan padanya" gumam Ratu merasa kebingungan,
Ratu hanya membalasnya dengan senyuman garing sambil memegang tas slempang ya dengan erat, Zidan tiba tiba menggenggam lengan Ratu dan menariknya segera berjalan masuk ke dalam lift, Ratu tidak bisa menolak karena sebelumnya dia juga sudah menyetujui masalah itu, Ratu hanya terus berjalan bersama Zidan dan Zidan yang tidak melepaskan genggamannya pada lengan Ratu sampai mereka masuk ke dalam mobil dan Zidan bahkan membuka kan pintu mobil untuk Ratu.
Saat itu Ratu merasa sangat canggung dia hanya diam selama perjalanan dan dia juga sama sekali tidak tau ke mana Zidan akan membawanya sampai ketika dia mulai mengenai sebuah jalan yang pernah dia lalui.
"Ehh... Bukannya ini jalan menuju danau itu yah?" Ucapku menduga,
"Iya kamu benar, kita akan pergi ke danau itu lagi, bukankah saat itu aku mengungkapkannya di sana, maka kamu juga harus menjawabnya di tempat yang sama, kamu tidak keberatan kan?" Balas Zidan sambil meminta pendapatku,
"Ahh...tidak, sama sekali tidak keberatan lagi pula suasana dan tempat di sana cukup bagus aku menyukainya" jawab Ratu membalasnya diiringi senyuman tipis,
Sebenarnya saat itu Ratu sungguh merasa bingung dia tidak mau mengecewakan Zidan namun dia juga tidak bisa menerimanya begitu saja, meski Ratu tau seberapa baik Zidan padanya tapi tetap saja Ratu masih merasa bingung siapa yang harus dia pilih diantara keduanya, mereka mengungkapkan perasaan di waktu yang berdekatan dan kini Ratu sudah harus membuat keputusan.
Beberapa saat mereka hanya berdiam diri dan Zidan mulai kembali mengungkapkan perasaannya kepada Ratu.
"Ratu, aku sungguh menyukaimu sejak lama dan aku yakin kamu juga tau mengenai itu, jadi bagaimana jawabanmu sekarang aku hanya butuh jawaban dan kejelasan darimu" ucap Zidan dengan sorot mata yang penuh harapan,
Ratu menatapnya dengan bingung dia sungguh sulit menyusun kalimat yang baik agar tidak menyinggung Zidan dan melukai perasaannya.
"Eumm....Zidan aku tau kamu menyukaiku dan kamu begitu baik padaku selama ini, namun aku juga tidak bisa membohongi perasaanku apa lagi memberikan harapan lebih kepadamu, aku sungguh minta maaf, aku...aku....belum bisa menyukai siapapun saat ini" jawab Ratu sambil menunduk.
Ratu bahkan tidak berani menatap raut wajah Zidan karena dia sudah tau Zidan pasti akan merasa kecewa dengan jawabannya.
__ADS_1
Saat Ratu tertunduk lesu setelah menjawab pernyataan Zidan dengan beberapa penjelasan namun rupanya Zidan hanya tersenyum menanggapi jawaban dari Ratu.
"Hey...Ratu kenapa kamu menunduk apa kamu tidak mau melihat wajahku, aku tidak keberatan dengan jawabanmu karena aku tau ini yang akan aku dengar darimu, namun bodohnya aku tetap saja mengutarakan perasaanku padamu dan berharap kau akan menerimaku" jawab Zidan yang nampak menyembunyikan kekecewaan dan kesedihannya.
Ratu mengangkat kepalanya dan saat tatapannya bertemu dengan mata Zidan meski mulutnya tersenyum Ratu tetap tau bahwa sorot mata Zidan adalah sebuah kekecewaan dan kesedihan, Ratu sungguh merasa bersalah dan dia memeluk Zidan dengan refleks.
"Ratu apa yang kamu lakukan?" Tanya Zidan kebingungan karena Ratu tiba tiba memeluknya,
"Zidan maafkan aku, aku tau kamu kecewa aku sungguh merasa bersalah padamu, aku menyayangimu karena kamu sahabat yang baik bagiku, aku tidak bisa jika tidak menyayangimu tapi aku juga bingung mengapa aku tidak mencintai orang sebaik kamu" ucap Ratu sambil memeluk Zidan dengan erat.
"Seandainya kamu tau perlakuanmu memelukku seperti ini membuatku semakin sulit melepaskan mu Ratu" gumam Zidan di dalam hati kecilnya.
Zidan tersenyum dan dia mengusap lembut kepala Ratu dia tidak mau Ratu merasa sedih apalagi merasa bersalah padanya, karena Zidan juga paham jika perasaan memang tidak bisa dipaksakan kemana dia harus berlabuh, bisa disayangi sebagai seorang sahabat oleh Ratu itu juga sudah cukup bagi Zidan.
Tanpa mereka berdua sadari sekretaris Diah diam diam mengikuti mereka sejak mereka keluar dari perusahaan dan sekretaris Diah berhasil memotret foto ketika Ratu memeluk Zidan dan juga sebuah video potongan yang tidak selesai saat Ratu mengatakan bahwa dia menyayangi Zidan.
Senyum jahat dan licik mengembang di wajah picik seorang sekretaris Diah, dia menggunakan nomor asing yang baru saja dia gunakan lalu dengan sengaja mengirimkan semua foto juga video yang sudah dia edit sebelumnya kepada Randi, setelah itu dia langsung pergi dari sana dengan hati yang puas karena berhasil memfitnah Ratu.
"Hah, siapa suruh kau berani beraninya menggoda pria idamanku, maka rasakan akibatnya aku akan membuat kau dibenci oleh semua lelaki yang menyukaimu!" Ucap sekretaris Diah dengan seringai jahatnya.
Setelah sedikit tenang Ratu mulai melepaskan pelukannya dan kini dia justru merasa malu karena meneteskan air mata hanya karena dia tidak bisa menerima perasaan Zidan kepadanya.
"Ratu apa kamu menangis?" Tanya Zidan sambil memperhatikan wajah Ratu,
"Ouh....tidak, untuk apa aku menangis, bukankah seharusnya kamu yang menangis sekarang?" Jawab Ratu membalikkan untuk menutupi air matanya yang terlanjur sudah ketahuan,
__ADS_1
"Ratu aku tidak secengeng itu, setidaknya aku tau kamu menyayangiku, meski aku tidak bisa menjadi pasanganmu namun kamu akan tetap menjadi orang yang aku cintai, dulu sekarang bahkan nanti" jawab Zidan membuat Ratu semakin merasa tidak enak.