
Meski Ratu memang menyukai tuan Randi namun sikap tuan Randi kepadanya memang cukup menyebalkan selama ini bahkan sampai sekarang Ratu juga masih belum memutuskan dengan baik apa dia sungguh akan menerima tuan Randi atau tidak, terlebih saat mengingat kondisi Zidan yang seperti sekarang, itu malah membuat Ratu pusing dan kebingungan untuk memilih salah satu diantara mereka berdua.
Cukup lama tuan Randi mengoceh berbicara sendiri sampai kemudian dia sudah puas mengeluarkan semua unek unek dan kekesalannya karena Ratu yang mengangkat telponnya cukup lama, namun saat dia berhenti bicara tuan Randi baru sadar jika sedari tadi tidak ada jawaban dari Ratu dan dia kembali berteriak dengan kesal.
"RATU!, kau tidak mendengarkan ucapanku yah?" bentak tuan Randi di balik telpon,
Ratu mulai kembali mendekatkan ponsel ke pada telinganya karena merasa tuan Randi sudah berhenti mengoceh namun baru saja dia mau menempelkan ponsel di telinga dia sudah mendapatkan bentakkan yang seakan membuat telinganya sakit saat itu juga.
"Ya ampun tuan apa yang salah denganmu kau hampir membuat telingaku benar benar tuli!" Jawab Ratu sambil memegangi telinganya,
"Semua itu juga karenamu yang menjawab panggilanku begitu lama dan sekarang kau mencoba mengabaikan semua ucapanku" balas tuan Randi merajuk,
"Tuan maaf kan aku tadi aku sedang bekerja dan tidak bisa mengangkat telpon dengan segera apa hanya karena hal seperti itu kau harus semarah ini denganku?" Ujar Ratu meminta maaf.
Ratu lebih memilih mengalah karena dia tengah malas untuk berdebat dengan tuan Randi, pasalnya masalah dia dengan Zidan saja belum sepenuhnya selesai dia tidak mau harus ditambah dengan perdebatan tuan Randi yang hanya membuatnya semakin pusing.
Tuan Randi yang mendengar ucapan Ratu meminta maaf lebih dulu kepadanya dia pun mulai melunak dan dia langsung merubah sikapnya seketika.
"Baiklah karena kau sudah minta maaf terpaksa aku akan memaafkanmu tapi jika itu terjadi lagi aku akan pastikan akan langsung terbang ke sana dan menemuimu secara langsung, apa kau mengerti!" balas tuan Randi mengancam Ratu,
"Iya tuan tentu saja aku akan segera mengangkat panggilan darimu, dan jika kau ingin kembali ke sini silahkan saja apa hubungannya denganku?" Ujar Ratu yang kembali membuat tuan Randi menjadi naik pitam,
"Heh, tentu saja ini ada hubungannya denganmu apa kau lupa dengan perjanjian diantara kita?" Bentak tuan Randi membuat Ratu tertegun memikirkan,
__ADS_1
"Memangnya aku punya janji apa denganmu tuan?" Tanya Ratu dengan polosnya,
"Ohh, bagus kau benar benar melupakannya aku akan segera menemuimu dan memberikan hukuman yang pantas untukmu, awas saja kau!" Ucap tuan Randi dan dia langsung mematikan panggilannya sendiri.
Ratu hanya mengerutkan dahinya dan merasa bingung dengan janjinyang dikatakan oleh tuan Randi kepadanya, Ratu pun berusaha mengingat semuanya sampai ketika dia sadar Ratu langsung merasa lemas dan terduduk di kursinya dengan lesu.
"Astaga, Ratu apa kau ini bod*h. Arghhh dia pasti tidak akan mengampuniku kali ini, apa yang harus ku lakukan jika dia benar benar datang ke sini sekarang" gerutu Ratu merasa resah.
Ratu terduduk lesu dengan kepala yang dia simpan di atas meja dan merenung seharian, sedangkan Zidan yang berada di ruangannya dia sudah merasa jauh lebih baik saat ini.
Zidan mulai merasa bahwa dia sudah waktunya menerima semua kenyataan bahwa Ratu tidak akan menjadi miliknya sampai kapanpun.
"Harusnya aku sadar lebih awal, dan menerima tawaran ibuku saat itu. Maafkan aku Ratu aku harus menjauhimu sampai aku benar benar bisa melupakan dirimu" gumam Zidan dengan wajah yang tak kalah menyedihkan.
******
"Zidan apa kau mau menggantikan ibu untuk sementara waktu, ibu hanya ingin menghabiskan waktu sebentar dengan Oma, setelah perusahaan di dalam negeri berkembang kamu boleh kembali lagi ke sana kapanpun kamu ingin" ucap ibunya Zidan dalam sebuah panggilan telpon,
Saat itu di sana juga ada Oma Rika dan dia mendukung apapun keputusan Zidan sebab Oma Rika sudah mendengar bahwa Zidan ditolak oleh Ratu berkali kali, sehingga kali ini Oma Rika tidak mau memaksakan putranya untuk kembali mengejar perempuan yang memang tidak menyukai putranya itu, meskipun Oma Rika sangat menyukai Ratu tapi mau bagaimanapun dia tidak bisa memaksakan kehendak seseorang dan meski Zidan tak bersama dengan Ratu Oma Rika juga tidak membenci Ratu, dia tetap menyukainya sebagai bentuk menghormati keputusan keduanya.
Melihat Zidan yang selalu murung dan kehilangan fokus dalam dirinya ketika di tolak oleh Ratu, Oma Rika juga mendukung keputusan dari ibunya Zidan untuk mengirim Zidan menjauh dahulu dari Ratu sampai dia bisa menemukan wanita lain dan melupakan semuanya.
Karena bagi Oma Rika itu adalah cara terbaik untuk membuat Zidan menjadi lebih baik di kemudian hari, dan itu juga untuk perkembangan perusahaannya di masa depan, sebelum memutuskan kepergiannya Zidan sempat menolak karena dia merasa sulit untuk tidak melihat Ratu.
__ADS_1
"Maafkan aku Oma, ibu. Aku belum bisa meninggalkan Ratu biarkan aku menenangkan diri dulu dan mencari keputusanku sendiri" jawab Zidan menolaknya.
Tidak ada yang bisa memaksa Zidan setelah itu hingga hari di mana Zidan sudah mulai ikhlas pun tiba, dan hari itu adalah hari ini.
Zidan langsung menelpon ibunya dan mengatakan bahwa dia menyetujui rencana ibunya untuk mengirim dia ke perusahaan pusat dan ibunya yang akan meneruskan kepemimpinan di perusahaan itu, ibunya pun merasa senang karena akhirnya Zidan sudah bisa sedikit lepas dari Ratu meski belum sepenuhnya.
"Bu aku menyetujui rencanamu, aku akan terbang ke sana besok dan kau bisa kembali ke mari dikemudian" ujar Zidan lewat telpon,
"Wah, benarkah?. Ibu sangat senang mendengar keputusan bijakmu, kamu sudah dewasa sekarang ibu semakin menyayangimu" jawab ibu Zidan dengan gembira.
Zidan tidak banyak bicara dengan ibunya dan dia kembali menutup panggilan telpon tersebut lalu dia segera pergi keluar dari kantor untuk menemui Oma dan mempersiapkan keberangkatannya.
Zidan bahkan tidak memberitahu mengenai keberangkatannya itu karena dia tidak ingin melihat wajah Ratu di saat dia sudah yakin dengan keputusannya, melihat wajah Ratu hanya akan membuatnya kembali Ragu dan tidak bisa meninggalkannya.
Zidan mengintip Ratu dari balik jendela ruangannya dia menghembuskan nafas berat saat melihat Ratu yang terduduk dengan lesu di bangku kerjanya.
"Maafkan aku Ratu, aku tidak akan membencimu aku hanya ingin kita seperti dulu lagi, tapi itu sulit untukku saat ini" gumam Zidan lalu dia segera pergi meninggalkan perusahaan.
Zidan meminta bantuan staf lain untuk membantunya menyiapkan keberangkatan dan pengalihan kepemimpinan dirinya, seorang staf itu juga merasa heran karena tidak biasanya Zidan memerintahkan hal seperti ini kepada dirinya, sebab sudah sangat jelas jika tugas seperti ini hanya akan dilakukan oleh sekretarisnya Ratu.
Namun karena takut staf itu tidak mau bertanya dan hanya melaksanakan semua tugas yang diberikan oleh Zidan kepadanya dengan baik.
Setelah memutuskan semua urusan di perusahaan selesai Zidan langsung kembali ke rumah dan mengabari Oma mengenai keputusannya, Oma Rika jika langsung memeluk Zidan dia merasa sedih karena akan kembali berpisah dengan cucu semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Zidan jaga dirimu baik baik ketika di sana yah, kau harus lebih gemuk dari hari ini ketika nanti bertemu denganku lagi dan pastikan harus ada seorang wanita di sampingmu" ucap Oma Rika setelah memeluk Zidan beberapa saat.
"Iya Oma, kau tenang saja aku akan menjaga diriku dengan baik di sana" balas Zidan sambil tersenyum.