PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Berbicara Dengan Zidan


__ADS_3

Zidan menghentikan pekerjaannya dan dia menatap Ratu dengan lekat tatapan Zidan yang begitu lekat membuat Ratu menjadi semakin gugup.


"A..ahh..itu...Zidan kau tidak perlu menatapku seperti itu juga" ujar Ratu sambil menunduk,


"Cepat katakan apa yang mau kau bicarakan denganku waktuku tidak banyak" jawab Zidan dengan wajah yang serius,


Ratu pun menarik nafas dalam dan dia mengungkapkan semua pertanyaan di dalam hatinya saat itu juga.


"Zidan kenapa kamu menjauhiku dan kenapa bersikap dingin padaku?, aku ingin kamu bersikap baik seperti dulu padaku meski aku tidak menyukaimu seperti aku menyukai tuan Randi" ucap Ratu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa jeda.


Saat Ratu melontarkan pertanyaan tersebut Zidan seketika terdiam dan dia hanya terus menatap Ratu dengan wajah yang serius dan sorot mata yang cukup mencekam.


Ratu juga merasa kaget dengan tatapan tajam yang dia berikan kepadanya saat itu namun karena rasa penasaran dalam diri Ratu lebih besar dibandingkan rasa takutnya dia terus memberanikan diri untuk bertanya dengan lantang pada Zidan.


"Zidan aku tau mungkin kamu merasa kesal dan kecewa padaku karena aku tidak bisa menerima perasaanmu padaku dan aku minta maaf soal masalah file tadi pagi, jadi bisakah kamu memaafkanku untuk semuanya?" Ujar Ratu dengan wajah memohon,


"Maaf Ratu tapi sepertinya kita sudah di luar batas tidak seharusnya kamu berani bicara santai dengan atasanmu di lingkungan kantor seperti ini, sebaiknya kamu keluar sekarang juga atau aku sendiri yang akan menyeretmu" jawab Zidan dengan tatapan serius mengusir Ratu.


Ratu membelalakkan matanya dengan refleks dan dia sungguh tidak menyangka Zidan bisa berubah secepat ini menjadi seorang pria berhati dingin kepadanya, Ratu tidak bisa menerima semua itu dan dia masih bersih keras untuk terus meminta penjelasan dari Zidan secara langsung.


Bahkan ketika saat itu Zidan sudah mengusirnya dengan perkataan yang mengancam Ratu tetap menantang Zidan dan tidak mau bergerak sedikitpun dari posisinya saat itu.


"Aku tidak akan pergi kemanapun dan aku tidak perduli lagi dengan semuanya, jika kamu belum menjelaskan alasanmu berubah maka aku akan terus berdiri di sini" ujar Ratu dengan tekad yang kuat,


"Meskipun kau akan menyeretku keluar aku tidak keberatan mendapatkan perlakuan seperti itu dari sahabatku sendiri" tambah Ratu sambil menunduk lesu.


Dia sudah mempersiapkan diri untuk mendapatkan kemungkinan yang paling buruk ketika dia menentang ucapan Zidan saat itu.

__ADS_1


Sedangkan Zidan yang melihat Ratu begitu keras kepala dan tetap tidak ingin beranjak darinya, Zidan pun segera berdiri dan dia menghampiri Ratu sambil terus berjalan mendesak Ratu hingga dia terpentok ke dinding di sana dan tidak bisa berlari menghindari Zidan kemanapun lagi.


Melihat itu Ratu menjadi panik dia takut bahwa Zidan sudah benar benar berubah dan tidak seperti Zidan yang sebelumnya dia kenal.


"Zi..Zidan apa yang mau kamu lakukan padaku, bisakah kau berdiri lebih jauh dariku?" Ungkap Ratu sambil mendorong tubuh Zidan dengan perlahan untuk menjauhi dirinya,


Zidan memalingkan pandangannya sekilas lalu kembali menatap wajah Ratu dengan lekat.


"Ratu apa kau tidak mengerti bagaimana hancurnya perasaanku saat aku tau kamu lebih memilih tuan Randi di bandingkan aku yang selalu ada untukmu ha!" Ujar Zidan dengan wajah yang sudah tak terkontrol.


Ratu juga merasa semakin panik saat itu dan dia tidak bisa melakukan banyak hal selain mengikuti permainan yang dilakukan oleh Zidan, saat itu tiba tiba saja Zidan mencurahkan keluha kesahnya padanya layaknya seseorang yang tengah tak terkendali.


"Ratu apa kau tau seberapa besar perasaanku padamu?, kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk bersanding di sampingmu?, kenapa Ratu, cepat jawab aku!" Bentak Zidan sambil mencengkram kedua bahu Ratu dengan erat.


Ratu terus berusaha tenang agar dia bisa berpikir dengan jernih dan melarikan diri dari sana sebelum Zidan semakin tidak terkendali.


Perlahan Zidan pun melepaskan cengkeramannya dari kedua bahu Ratu dan dia duduk di sofa dengan tertunduk lesu dan menyedihkan.


Ratu tidak tega melihat keadaan Zidan yang begitu kacau hanya karena dirinya dia juga merasa sangat bersalah karena seakan selama ini seperti memberikan harapan pada Zidan, sehingga membuatnya semakin sakit saat ini.


"Zidan tolong lupakan saja aku, aku ini bukan wanita yang baik untukmu kau bisa mendapatkan wanita lain yang jauh lebih sempurna dan lebih baik untukmu. Tolong jangan menyakiti dirimu sendiri dengan seperti ini" ungkap Ratu memohon dan menenangkan Zidan.


Saat Ratu hanya berniat menenangkan Zidan dengan menggenggam tangannya tiba tiba saja Zidan justru malah menjatuhkan kepalanya pada pangkuan Ratu.


"Ehh...apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Ratu dengan kaget,


"Biarkan seperti ini untuk beberapa saat, aku hanya ingin merasakan ketenangan saat tidur di pangkuanku dengan begitu aku janji akan bersikap seperti biasa lagi padamu meski itu membuatku semakin mencintaimu" ungkap Zidan sambil menutup matanya.

__ADS_1


Ratu hanya bisa tertegun mendengar pengakuan dari Zidan selalu bisa mendengarkan hatinya dan semakin merasa bersalah karena tidak bisa menerima perasaannya meski sekeras apapun Zidan sudah berusaha dan banyak berkorban untuknya.


"Maafkan aku Zidan aku memang wanita yang buruk untukmu, kau tidak pantas mendapatkan wanita sepertiku" gumam Ratu dalam hati kecilnya.


Ratu membiarkan Zidan terus tertidur dengan lelap untuk beberapa saat dipangkuannya saat itu, Ratu menganggap semua itu adalah bentuk balas budinya kepada Zidan dan untuk menebus rasa bersalahnya selama ini.


Cukup lama mereka berdua dalam posisi itu hingga dering ponsel milik Ratu membangunkan Zidan dan dia segera membenarkan posisinya.


Ratu berusaha untuk memastikan panggilan telponnya namun saat melihat itu panggilan dari tuan Randi dia menjadi gugup dan kebingungan di mana jika dia mematikan panggilan itu sudah pasti tuan Randi akan marah besar padanya sedangkan jika mengangkatnya kini dia tengah bersama Zidan.


Ratu hanya takut itu akan membuat kondisi Zidan semakin memburuk dan malah kembali menjaga jarak dan bersikap seperti sebelumnya lagi.


Ratu hanya menatap telponnya yang terus berbunyi sampai Zidan menyuruh dia untuk segera mengangkat panggilan itu.


"Angkat saja aku tidak keberatan, aku sudah baik baik saja, dan kembalilah ke ruanganmu" ucap Zidan sambil berdiri dan kembali pada kursinya.


"Aa..ahh, baiklah aku pergi dulu" jawab Ratu sambil berjalan terburu buru keluar dari ruangan itu.


Saat sudah berada di ruangannya Ratu langsung mengangkat panggilan telpon dari tuan Randi dengan perasaan sedikit gugup karena tuan Randi yang langsung membentaknya dengan nada yang cukup menyebalkan bagi Ratu.


"Ratu apa yang membuatmu begitu lama mengangkat panggilan dariku!" Bentak tuan Randi dengan suara keras yang hampir membuat Ratu tuli karena saking kerasnya bentakkan dari tuan Randi.


Saat itu juga Ratu langsung menjauhkan telpon dari telinganya dan dia hanya membiarkan tuan Randi mengoceh sendirian tanpa mendapatkan balasan darinya sedikitpun.


"Aishh....kenapa dia menjadi merepotkan seperti ini" gerutu Ratu dengan kesal.


Meski Ratu memang menyukai tuan Randi namun sikap tuan Randi kepadanya memang cukup menyebalkan selama ini bahkan sampai sekarang Ratu juga masih belum memutuskan dengan baik apa dia sungguh akan menerima tuan Randi atau tidak, terlebih saat mengingat kondisi Zidan yang seperti sekarang, itu malah membuat Ratu pusing dan kebingungan untuk memilih salah satu diantara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2