
Beberapa saat kemudian akhirnya Ratu sampai di depan bandara dia berhenti sejenak sambil tertunduk memegangi lututnya yang terasa hampir copot karena berlari dalam jarak yang cukup jauh tanpa henti.
Bahkan kakinya sudah lecet karena dia berlari mengenakan sepatu hak tinggi.
"Hah... Hah.... Hah... Astaga, aku benar benar lelah, tapi aku harus segera mencari penerbangan menuju negera XX, aku tidak boleh lemah demi Zidan" gerutu Ratu menyemangati dirinya sendiri.
Beberapa kali Ratu merasakan sakit pada kakinya yang nampak lecet sebab sudah berlari cukup lama alhasil Ratu melepaskan sepatu hak tingginya dan dia berlari masuk ke dalam bandara tanpa menggunakan alas kaki.
Pada saat itu Zidan juga selesai mengganti pakaiannya dan mereka sebenarnya sempat berpapasan ketika Ratu tengah melepas hak tinggi dan Zidan berjalan melewati Ratu dengan santai sambil membawa kopernya.
Sayangnya Ratu juga tidak menyadari itu sebab banyak sekali orang yang berlalu lalang di sana, Ratu kembali berlari meski kakinya terasa sakit dia bertanya pada petugas di sana mengenai waktu penerbangan menuju negara XX di mana waktunya hanya tinggal sepuluh menit lagi dari sekarang.
"Apa pak, sepuluh menit lagi?" Ucap Ratu kaget.
Dia tidak memiliki banyak waktu, dan harus segera menemukan Zidan, Ratu berlari menuju tempat ruang tunggu di sana dan berteriak memanggil Zidan.
"Zidann.....dimana kau..." Teriak Ratu dengan mata yang mulai berkaca kaca karena dia tak kunjung melihat keberadaan Zidan di sekitar sana.
Ratu berjongkok dengan lesu dan dia tidak sanggup lagi menahan kesedihan dalam dirinya, Ratu tertunduk menyembunyikan wajah dia pada kedua lututnya dan mulai menangis terisak.
"Zidan maafkan aku hiks...hiks...aku tidak bisa menahan mu untuk pergi, bahkan aku tidak bisa melihat wajahmu untuk terakhir kalinya hiks...hiks.." gerutu Ratu frustasi.
Tanpa Ratu sadari tak lama semenjak dia berjongkok dan terisak sebenarnya Zidan lebih dulu sudah melihatnya ditambah suara teriakkan Ratu yang kencang memanggil namanya itu membuat Zidan segera menghampiri Ratu dan tidak tega melihat dia yang menangis terisak seorang diri di tengah keramaian.
Meski awalnya Zidan enggan untuk menemui Ratu namun pada akhirnya perasaan dia tetap tertuju dan menemui Ratu.
__ADS_1
Jika mengulurkan tangannya pada Ratu dan mengucapkan kata yang membuat Ratu langsung menaikkan kepalanya menatap pada Zidan.
"Hey berhenti menangis ayo bangun" ucap Zidan dengan uluran tangan,
Ratu sebenarnya merasa tidak percaya dia bisa melihat Zidan dan mendengar suaranya saat itu, namun dia yakin ketika Zidan menatapnya dengan lekat dia pun meraih ukuran tangan dari Zidan dan mereka kini berdiri saling berhadapan.
"Zidan tolong jangan tinggalkan aku, apa kamu harus sampai seperti ini hanya untuk menghindariku?" Ujar Ratu dengan mata yang sendu,
"Tentu saja tidak, aku pergi karena ini untuk perusahaan tidak ada kaitannya denganmu" jawab Zidan berbohong,
"Apa itu benar, apa aku harus mempercayaimu?" Tanya Ratu seakan masih menyimpan keraguan pada Zidan,
"Menurutmu bagaimana apa aku pernah berbohong padamu, jangan terlalu mengkhawatirkanku Ratu ini semua memang demi perusahaan dan sudah menjadi keputusanku" ucap Zidan dengan tegas.
Ratu memegang lengan Zidan dengan semakin erat seakan dia sangat takut kehilangan Zidan dan tidak mengijinkan Zidan untuk pergi jauh darinya.
"Karena aku tidak suka berpisah denganmu, aku takut keputusan yang sudah aku ambil akan goyah karena melihatmu di saat saat terakhir seperti ini" jawab Zidan sambil tersenyum menahan pilu.
Sebenarnya saat itu Zidan juga sangat berat untuk meninggalkan Ratu namun tidak ada alasan lagi untuk dia tetap tinggal di sampingnya, dan Zidan juga sudah memutuskan masa depan bagi dirinya sendiri dia sudah tidak bisa menarik kembali keputusannya meski Ratu meraung memintanya untuk tidak pergi.
"Kalau kau begitu berat meninggalkanku kenapa kau harus mengambil keputusan ini, kenapa Zidan?" Tanya Ratu lagi yang seakan tidak bisa menerima keputusan yang diambil oleh Zidan,
"Karena aku harus melakukannya, Ratu jaga dirimu baik baik selama aku tidak ada, aku harus pergi sekarang" balas Zidan sambil mengusap pucuk kepala Ratu dengan lembut.
Ratu tak bisa menahannya lagi dia langsung memeluk Zidan dengan erat dan menahan matanya agar tidak menangis, ini adalah hari yang paling menyedihkan dibandingkan saat dia disakiti berkali kali oleh Astrid dan kehilangan kak Steven sebelumnya.
__ADS_1
Dadanya terasa sangat sesak dan air mata mulai menetes sedikit demi sedikit dari pelupuk matanya hingga jatuh membasahi pipi dan mengenai bahu Zidan.
Saat itu Zidan tidak bisa membalas pelukan Ratu saking dia menghormatinya seorang perempuan yang dia cintai, dia juga tidak ingin membuat Ratu merasakan lebih banyak kesedihan karena kepergiannya.
"Zidan aku mohon kepadamu sekali lagi, tolong jangan pergi aku membutuhkanmu begitu juga dengan yang lainnya" ucap Ratu memohon.
Zidan melepaskan pelukan Ratu darinya dan dia memegangi kedua bahu Ratu cukup erat, Zidan berusaha meyakinkan Ratu bahwa semua akan tetap baik baik saja meski ada atau tidaknya dia di samping Ratu.
"Dengarkan aku baik baik Ratu, orang baik di dunia ini masih banyak dan aku hanya sebagian kecil dari mereka, kamu akan menemukan seseorang yang lebih bertanggung jawab dan lebih mencintaimu di banding aku, percayalah aku juga tidak akan tinggal selamanya di sana ada masanya aku juga akan kembali. Berhentilah menangis dan memohon, sebab aku tidak bisa mengabulkan apapun saat ini" kata Zidan dengan hati yang gemetar karena dia juga sudah mati matian menahan air matanya sendiri.
Ratu hanya berdiri dengan tatapan sayu dan sisa isak tangis di matanya, dia mengangguk dan berusaha tersenyum meski hatinya jelas menolak untuk melakukan itu.
Zidan pun pergi darinya perlahan namun pasti, Ratu terus menatap kepergian Zidan hingga dia benar benar masuk ke dalam sana dan tidak terlihat di pandang mata, setelah Zidan pergi Ratu masih tidak bisa bergerak dari posisinya dia melamun dan menunggu di sana berharap Zidan akan kembali padanya.
Sedangkan di sisi lain sebelum naik ke atas pesawat Zidan sudah mengirimkan pesan pada Steven agar dia menjemput Ratu dan menitipkan Ratu pada Steven untuk menjaganya, setelah mengirimkan pesan itu tanpa menunggu balas dari Steven Zidan langsung mematikan ponselnya dan dia pergi menaiki pesawat dengan menghembuskan nafas kasar dan menguatkan dirinya.
Beberapa menit sudah berlalu dan sebuah pesawat yang dinaiki oleh Zidan sudah terbang dari bandara, Ratu bergetar dan dia menangis tersedu sedu sambil meratapi kepergian Zidan yang entah kapan akan kembali lagi di sampingnya.
Ratu kembali berjongkok dan menangis tanpa henti di tengah tengah banyaknya orang yang berlalu lalang di sana.
Sedangkan Steven yang saat itu baru saja selesai menghadiri rapat penting di kantornya dia baru memeriksa ponselnya lagi dan matanya langsung membelalak saat membaca pesan singkat dari Zidan, Steven sangat murka dan dia berusaha menelpon Zidan namun sayangnya nomor Zidan sudah tidak dapat dihubungi.
"Steven maaf karena aku harus pergi ke perusahaan pusat dan bergantian kepemimpinan dengan ibuku, kerjasama kita akan tetap berjalan meski tanpa aku, tolong jemput Ratu di bandara di mungkin dia masih ada di sana saat kau melihat pesan ini, jaga dia seperti aku pernah menjaganya dulu, aku hanya mempercayaimu" isi sebuah pesan teks dari Zidan yang membuat Steven langsung berlari menuju mobilnya dan pergi ke bandara saat itu juga.
"Dasar bocah sia*an, dia pergi begitu saja tanpa memberitahuku dan dia malah meninggalkan Ratu di bandara seorang diri, aishh awas saja kau Zidan sampai kau kembali aku akan menghaj*rmu sampai puas!" Gerutu Steven dengan kesal.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Steven terus merasa geram dengan perbuatan Zidan yang tidak memberitahukan masalah keberangkatannya kepada dia dan meninggalkan Ratu sendirian di bandara.