
Melihat Steven yang sibuk bekerja alhasil Zidan pun lebih memilih untuk menyaksikan Steven bekerja dan dia hanya duduk bersantai di sofa tamu yang ada di ruangan Steven saat itu.
"Eh ..Han tumben sekali kau datang kemari ada apa?" Tanya Steven sedikit heran,
"Tidak ada aku hanya bosan saja" balasnya sambil menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya ke belakang.
Steven yang sedang fokus dengan pekerjaannya dia pun tidak terlalu memperdulikan Zidan sehingga dia membiarkan Zidan begitu saja.
Cukup lama Zidan diam sambil menatap kosong ke atas langit langit ruangan Steven, sampai beberapa saat kemudian Zidan merasa kesal karena Steven mengabaikan keberadaannya, dia pun langsung menghampiri Steven dan menariknya keluar dari ruangan itu untuk menemani dia menghirup udara segar.
"Steven, ayo ikut aku..." Ucapnya sambil menarik lengan Steven dengan paksa.
Steven juga tidak bisa menolak karena meski dia berontak Zidan tetap menariknya lagi dan lagi, alhasil Steven pun menurutinya meski harus meninggalkan sejenak pekerjaannya yang masih menumpuk.
Rupanya saat itu Zidan membawa Steven ke sebuah cafe yang sering dia datangi belakangan ini ketika tengah pusing dengan permasalahan hidupnya ataupun masalah kantor.
Nampak wajah Zidan sudah merah merona dan matanya mulai berkaca kaca, Steven yang melihat itu dia sangat kebingungan dan hanya bisa menaikkan sebelah alisnya sambil langsung bertanya mengenai keadaan Zidan.
"Ehh.... Zidan ada apa denganmu kenapa tiba tiba seperti ini?" Tanya Steven sambil menatap ke segala arah karena di cafe tengah banyak orang.
Jujur saja Steven merasa malu apalagi saat Zidan tiba tiba menangis sambil menundukkan kepalanya dia begitu frustasi dengan perasaannya sendiri.
"Aku tidak tahu ada apa dengan diriku, aku juga bingung harus bagaimana menghadapinya" balas Zidan di sela tangisannya,
Steven menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan setelah mendengar ucapan dari Zidan kini Steven mengira bahwa Zidan mengalami masalah yang besar dalam hidupnya, sebab selama mereka berteman ini adalah pertama kalinya Steven melihat seorang Zidan yang terkenal begitu tenang menangis tanpa rasa malu seperti ini.
Steven yang merasa iba dengan keadaan Zidan dia pun menepuk pundak Zidan beberapa kali dan memberikan ketenangan untuknya.
"Sudah....sudah... Kau bisa menceritakan semua masalahmu padaku aku akan berusaha untuk membantumu, cepat katakan jangan terlihat lemah begini kau memalukan tahu tidak!" Katanya sengaja dibarengi candaan,
__ADS_1
Zidan pun mulai mengangkat kepalanya dan dia tersenyum tipis mendengar ucapan Steven kini Zidan berusaha untuk menenangkan dirinya dan bicara dengan perlahan mengenai permasalahan cintanya dengan Ratu, Steven yang saat itu baru tahu jika Zidan menyukai Ratu sedalam itu dia hanya bisa terperangah dan tidak menyangka semua itu bahkan bisa terjadi pada laki laki sebaik Zidan.
"Wahh.... Ya ampun jika Ratu bisa menolak laki laki sebaik kau bagaimana denganku yang sudah tercoreng ini" ucap Steven sambil menggelengkan kepalanya,
"Heh kau ini bagaimana sih aku menceritakan semuanya padamu agar kau memberikan solusi padaku, supaya aku bisa cepat melupakan Ratu bukan malah kau balik curhat padaku!" Bentak Zidan merasa kesal,
"Hehe.... Maaf aku kan terbawa suasa, lagi pula cara terbaik melupakan seorang perempuan ya dengan mencari gantinya" jawab Steven memberikan saran idenya,
"Maksud kau aku harus mencari wanita lain, iya?" Tanya Zidan memperjelas,
"Aishh ... Kenapa kau bicara terlalu keras bikin malu saja" gerutu Steven sambil memberikan kode pada Zidan.
Saat itu beberapa pengunjung lain di cafe memang menatap ke arah mereka karena Zidan yang bicara terlalu keras sehingga membuat Steven malu dan tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Iya... Iya...aku akan bicara lebih pelan, tapi siapa yang bisa menggantikan posisi Ratu di hatiku, dia cinta pertamaku dan sulit untukku membuka hati bagi orang lain" tambah Zidan mengeluh.
Kedua pria malang itu pun saling memeluk diri mereka masing masing dan meratapi nasibnya yang sama sama gagal untuk memiliki Ratu.
Meski semua orang berkata bahwa cinta tidak harus memiliki namun cinta seperti itulah yang paling menyiksa dan menyakitkan sebab rasanya tidak akan pernah hilang namun orang tak akan tergapai.
*****
Di sisi lain Mala yang masih sangat kesal dengan tingkah Han yang bisa bisanya berperasangja buruk kepadanya padahal dia sudah berniat baik memberikannya minuman dingin sebagai tanda terimakasih, kini Mala terus meluapkan kekesalannya seorang diri di dalam ruangan sekretaris sambil mencoret coret buku di tangannya.
"Arghh....dasar manusia menjengkelkan, kepala batu, wajah datar...aishh aku benar benar menyesal sudah bersikap baik padanya, kalau tau begini aku tidak akan melakukan hal seperti tadi!" Gerutu Mala sambil terus mencoret bukunya.
Setelah beberapa saat Mala mulai meredakan emosinya dan dia melanjutkan tugasnya untuk menyusun jadwal meeting Zidan satu Minggu ke depan, Mala begitu serius melakukannya karena ini adalah tugas pertama yang normal dilakukan oleh seorang sekretaris.
Selesai mengerjakan tugas itu Mala sangat mengantuk sampai dia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
__ADS_1
"Ahhh....tidur di sini sebentar tidak masalah kan" gumam Mala dan langsung menutup matanya.
Mala tidak sadar dia tertidur pulas di sana karena badannya yang terlalu lelah, saat itu semua karyawan yang lembur sudah pulang dan hanya tersisa dua orang yang tak lain adalah Mala juga Han.
Bahkan saat itu Han sudah selesai dengan pekerjaannya hari ini dan dia keluar dari ruangan saat melihat ke arah ruangan Mala yang masih menyala awalnya Han pikir Mala lupa mematikan lampu ruangannya dia pun memutuskan untuk pergi dan mematikan lampunya.
"Dasar cewek tomboi itu, ceroboh sekali membiarkan lampu ruangannya sendiri menyala" gerutu Han sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Mala.
Rupanya saat dia masuk nampak Mala yang tertidur dengan laptop masih terbuka dan menyala di depannya, Han kembali menggelengkan kepala dan dia mengerutkan bibirnya menahan kekesalan.
"Aishh...sekarang aku ragu apa tuan Randi memilih orang yang tepat di posisi ini atau tidak" tambah Han sambil menepuk keningnya sendiri cukup kuat.
Han menghampiri Mala dan membangunkannya perlahan tapi sudah beberapa kali Han membangunkannya Mala tetap tidak mau bangun dia hanya bergumam sesekali dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Hey.... Bangun!, Cepat bangun apa kau mau menginap di sini semalaman heyy...." Ucap Han sambil menggoyangkan lengan Mala,
"Kak aku sangat mengantuk eumm.." balas Mala yang masih enggan membuka matanya,
Saat itu Han sudah sangat jengkel dan dia tidak bisa menahan kesabarannya lagi, akhirnya Han pun pergi mengambil air dan mencepretkannya ke wajah Mala beberapa kali sambil berteriak memanggil nama Mala.
"Mala....bangun!, Heyy cepat bangun!" Teriaknya sampai Mala pun langsung terperanjat berdiri dengan linglung,
"Ahh...ada apa?, Apa?" Ucap Mala bertanya tanya dengan fikiran yang belum fokus,
Melihat wajah Mala yang linglung seperti itu Han tidak bisa menahan tawa dan dia langsung tertawa lepas sambil menaruh gelas berisi air meja, dia tertawa terbahak bahak melihat wajah Mala yang kebingungan sambil membersihkan wajahnya yang basah.
"Ahaha....haha...wajahmu itu lucu sekali...hahaha" tawa Han yang begitu renyah,
Sedangkan Mala kebingungan karena menyadari tiba tiba wajahnya menjadi basah dengan air padahal dia rasa sebelum tertidur dia tidak mencuci wajahnya dahulu.
__ADS_1