
Mendapatkan bentakkan dari tuan Randi sekretaris Han tidak bisa berbuat apapun lagi jadi terpaksa dia harus menuruti segera apa yang diperintahkan oleh tuan Randi.
Meski sangat kesal dan dia begitu lelah sehabis menemui nyonya Wulan tapi tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.
"Tuan....tidak kah kau merasa kasihan, setidaknya biar kan aku untuk istirahat sebentar aku sangat lelah sekarang" ucap sekretaris Han dengan wajah yang memelas.
Sekretaris Han berusaha meminta rasa belas kasihan pada tuan Randi dan berharap dia bisa mendapatkan sedikit keringanan agar tidak membereskan semua kekacauan di ruangan itu seorang diri.
Namun rupanya upaya sekretaris Han tidak digubris sedikit pun oleh tuan Randi dan dengan lesu dia tetap harus membereskan semua kekacauan di dalam ruangan itu.
"Aishhh....tuan kenapa tidak ob saja sih yang membereskan ruangan anda, saya kan sekretaris bukan tugas saya membereskan semua ini" ucap sekretaris Han yang terus menggerutu,
"Han apa kau mau gajihmu aku potong seluruhnya!" Ancam tuan Randi yang berhasil membuat sekretaris Han seketika membungkam mulutnya.
Sekretaris Han mulai membereskan ruangan tersebut dengan di bantu tuan Randi sampai setelah beberapa menit kemudian mereka selesai membereskannya kembali ke tempat semula, sekretaris Han pun kembali duduk menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Hah...hah....akhirnya selesai juga, tuan bisakah saya beristirahat sebentar di ruangan saya sekarang badanku rasanya mau tumbang" ujar sekretaris Han sambil memegangi pinggangnya yang kesakitan.
Melihat sekretaris Han yang sudah sangat lesu akhirnya tuan Randi pun memperbolehkannya untuk kembali ke ruangan dia.
"Baiklah, kau boleh keluar sekarang tapi jangan lupa datang kembali ke mari saat jam makan siang aku mau menemui Ratu lagi" jawab tuan Randi yang membuat sekretaris Han begitu bahagia.
Tanpa basa basi lagi sekretaris Han langsung berlari secepat kilat menuju ke ruangannya dan dia mengistirahatkan tubuhnya di bangku kebesarannya dengan nyaman dan tenang.
Sekretaris Han tidak perduli sekalipun nanti tuan Randi ingin menemui Ratu lagi tapi yang terpenting baginya sekarang adalah dirinya sendiri.
"Ahhh....biarkan saja tuan Randi sekeras apapun berusaha aku yakin mereka itu tidak akan pernah bersama selama nyonya Wulan masih hidup" gumam sekretaris Han.
Sedangkan di sisi lain Ratu kini hanya fokus mengurusi ladang bunganya dan dia berusaha keras menjajakan bunganya dengan sepeda ke setiap pemuda pemudi juga para pasangan yang dia temui di taman kota, sejak pagi Ratu sudah berkeliling di sana dan pada awalnya sengaja Ratu membagikan bunga geratis untuk mengenalkan bunga bunga cantik miliknya pada orang orang.
Hingga setelah banyak orang yang tertarik barulah Ratu menaruh harga di setiap tangkai bunga itu. Ratu tau dia masih harus berjuang demi Mala meski semua uang kuliah Mala sudah dilunasi namun dia masih perlu mencari nafkah untuk makanan dan kebetulan mereka berdua.
"Bunga....bunga....bunga cantiknya...." Teriak Ratu yang berkeliling menggunakan sepeda dan menjajakan bunga,
Karena di taman tidak banyak pengunjung kali ini sehingga Ratu memutuskan berkeliling ke tempat lainnya hingga saat siang Ratu memutuskan untuk pulang karena dagangan bunganya sudah hampir habis, saat pulang Ratu mulai memasak dan menyajikan makanan untuk Mala sampai ketika dia tengah memasak menu terakhir Mala pun tiba di rumah.
"Kak, sedang masak apa wanginya enak sekali" ucap Mala menghampiri Ratu,
"Eh...kamu sudah pulang, ini kakak memasak sayur bayam kesukaanmu sengaja kakak menaruh banyak jagung di dalamnya kamu kan sangat suka" ucap Ratu memberitahu.
Senyum merekah di wajah mereka berdua dan Mala membantu Ratu menyajikan makanan hingga mereka duduk berhadapan dan mulai menyantap makanan berdua.
"Kak...Minggu depan Mala wisuda dan ini pengumuman kelulusannya, Alhamdulillah Mala lulus dengan nilai yang tinggi" ujar Mala memberikan kabar baik.
Ratu sangat senang dan dia langsung membuka surat yang diberikan oleh Mala sebelumnya dengan antusias.
"Wahhh ...... Mala kamu ini hebat sekali bahkan dulu kakak tidak bisa mendapatkan nilai sempurna seperti ini, kalau begini kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih bagus kedepannya" ucap Ratu begitu bahagia,
Selang beberapa saat Ratu baru sadar kalau untuk wisuda membutuhkan banyak uang pasti pihak kampus juga akan meminta biaya iuran, sedangkan saat ini Ratu hanya memegang sedikit uang dari hasil penjualan bunganya yang tidak seberapa, dia pun melamun memikirkan bagaimana caranya bisa menghasilkan uang lebih banyak untuk wisuda Mala.
Mala yang mihat kakaknya tiba tiba saja terdiam dia juga merasa heran dan cemas sehingga langsung menanyakan begitu saja.
"Kak....ada apa kenapa tiba tiba kakak termenung?" Tanya Mala dengan penasaran.
Ratu tidak bisa memberitau apa yang sedang mengganggu pikirannya pada Mala sehingga terpaksa dia harus berbohong pada Mala.
"Ahh....tidak Mala, kakak hanya sedang berpikir sepertinya rasa makanan ini ada yang kurang iya kan" ucap Ratu memalingkan pembicaraan.
Mala mengerutkan kedua alisnya dan dia segera mencicipi makanan yang di maksud oleh Ratu namun saat dia merasakannya rasanya sangat enak dan baik baik saja dia pun mulai merasa aneh dan menaruh curiga pada Ratu.
"Kak...katakan yang sebenarnya apa yang sedang kakak pikirkan?" Tanya Mala lagi merasa penasaran,
"Tidak Mala kakak sungguh tidak memikirkan apapun, kamu jangan khawatir berlebihan begitu ayo cepat kita makan saja" ucap Ratu yang berusaha menyembunyikan semuanya.
Mala tidak bisa berdebat dan memaksa Ratu lagi karena dia paham jika sudah bertanya dua kali dan Ratu tetap tak berkata jujur mungkin sesuatu itu memang tidak ingin diketahui oleh siapapun, walau Mala merasa bingung dan cemas tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
Sampai ketika mereka selesai makan pintu rumah di ketuk dengan keras dan terdengar teriakan tuan Randi lagi dari luar.
"Tok.....tok....tok....Ratu aku datang lagi, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi saja tolong keluar sebentar...." Teriak tuan Randi sambil terus mengetuk pintu beberapa kali.
Ratu dan Mala kaget saat mendengar suara tuan Randi dan merekapun terburu buru mengintip lewat jendela depan untuk memastikan, dan ternyata dugaannya memang benar itu adalah tuan Randi bersama sekretaris Han yang berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.
"Mala bagaimana ini, kenapa mereka bisa kembali lagi ke sini?" Tanya Ratu merasa kebingungan,
"Tenang saja kak, aku akan mengurus mereka berdua kakak tetap di dalam saja dan jangan pernah ke luar kecuali sesuatu yang bahaya menimpaku" ucap Mala sambil menggulung lengan bajunya,
"E...e...eh ..tunggu Mala sebaiknya kita jangan menghiraukan mereka, biarkan saja mereka berdiri di sana sampai mereka lelah, kakak yakin nanti juga mereka akan pergi dengan sendirinya" ucap Ratu menahan Mala karena tidak mau ada keributan di sana.
Terakhir kali ada tuan Randi dan sekretaris Han, Mala begitu emosi dan hampir memukul sekretaris Han lagi, Ratu hanya khawatir jika Mala tidak bisa mengontrol emosinya dan sampai meluncurkan pukulan pada salah satu mereka pasti tuan Randi akan memberikan pelajaran atau bahkan menjebloskan Mala ke penjara.
Itu yang membuat Ratu takut dan akhirnya menahan Mala agar tidak pergi ke luar menemui mereka.
"Tapi kak mereka itu akan datang lagi dan lagi ke sini, mereka tidak akan berhenti mengganggu hidup kakak kalau kita tidak memberikan pembelajaran berharga bagi mereka" ucap Mala yang begitu kesal karena Ratu yang terus menahannya,
"Mala kakak mohon kamu tetap di sini saja, biarkan saja mereka ayo sebaiknya kamu membersihkan diri lalu istirahat saja di kamarmu kakak juga mau istirahat" balas Ratu sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Mala menghembuskan nafas kesal dan dia hanya bisa menuruti Ratu lalu segera membersihkan diri dan beristirahat, sudah beberapa menit berlalu namun suara tuan Randi masih saja terdengar sesekali.
"Ratu.... Aku sudah berdiri di sini selama tiga puluh menit lamanya, apakah kamu sekarang tidak berperasaan seperti ini!" Teriak tuan Randi lagi.
Ratu terus menutup kedua telinganya dengan bantal dia tidak mau mendengar ucapan tuan Randi ataupun sekretaris Han karena dia tau jika saja mereka berkata sesuatu yang membuatnya khawatir dia pasti tidak akan bisa menahan diri untuk memeriksanya langsung.
Sedangkan di sisi lain Mala sungguh sudah tidak tahan menahan dirinya lagi karena suara teriakkan tuan Randi juga sekretaris Han diluar itu sangat mengganggunya, untung saja rumah mereka berada di pojokan kebun bunga sehingga tidak ada tetangga yang bisa mendengar teriakkan tuan Randi karena jarak antara satu rumah ke rumah lain cukup jauh jika tidak pasti Ratu dan Mala sudah menyimpan malu dan mengganggu tetangga mereka karena ulah tuan Randi yang tidak berhenti berteriak.
"Aduhh.....kak...kak.....sepertinya aku tidak bisa terus diam seperti ini, sampai kapan mereka akan tetap berdiri di luar ini sudah hampir malam loh kak" ucap Mala yang sudah sangat jengkel,
"Mala kamu yang sabar yah, habisnya kita juga tidak bisa berbuat apapun lagi selain menghindarinya" jawab Ratu memelas,
Tuan Randi yang berada di luar dia mulai merasakan lemas pada kakinya begitu juga dengan sekretaris Han yang sudah duduk di bangku rumah Ratu sejak tadi siang bahkan dia membawa bekal makanan untuk bisa makan di sana dan menemani tuan Randi.
"Ekhmmm.....tuan ini sudah hampir larut apa kau masih mau tetap di sini, besok ada Rafat penting di perusahaan kau harus dalam keadaan yang baik" ujar sekretaris Han mengingatkan,
"Yahh....tuan terserah kau saja, bangunkan aku kalau kau sudah menyerah aku malas berteriak memanggil wanita menyebalkan sepertinya" ucap sekretaris Han sambil menutup matanya,
Melihat tingkah sekretaris Han yang malah bersantai dan tidur sementara dirinya terus berdiri di sana tentu tuan Randi merasa sangat kesal dan marah dia pun membentak sekretaris Han dengan keras serta menyuruh sekretaris Han agar ikut berdiri di sampingnya.
"Aish....sekretaris HAN, kau ini dasar tidak tau malu, cepat kau berdiri di sini dan teriakku Ratu sampai dia keluar, jangan harap kau bisa duduk apalagi bersantai seperti tadi jika Ratu tidak keluar!" Bentak tuan Randi dengan tatapan tajam,
Sekretaris Han langsung berdiri tegak dengan menelan susah payah salivanya, dia gugup dan sangat kaget melihat tuan Randi begitu keras membentak dan memarahinya hanya karena dia sedikit bersantai.
"Ratu Salsabila....keluar kau aku mohon untuk pertama dan terakhir kalinya padamu....hey ..cepat keluar aku bisa mati berdiri jika kau tidak keluar juga" teriak sekretaris Han yang sudah merasakan pegal pada betis kakinya.
Sekretaris Han sangat kesal dan dia menggerutu merutuki Ratu karena semua teriakkan yang dia lontarkan sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari Ratu.
"Aishh...dasar wanita menyebalkan itu, bagaimana ini aku bisa bisa tidak akan mampu berdiri lagi kalau harus terus berdiri begini" gerutu sekretaris Han.
Tuan Randi duduk di bangku mengistirahatkan kakinya yang sangat pegal dia juga memijat kakinya sendiri dengan perlahan dan kembali menatap sekretaris Han ketika dia merutuki Ratu, sehingga membuat sekretaris Han tidak leluasa dalam bicara.
Melihat tuan Randi yang melemparkan tatapan tajam pada dirinya sekretaris Han langsung kembali berdiri tegak dan berteriak memanggil Ratu lagi.
"Ratu....tolong aku....tuan Randi bisa membuatku berdiri di depan rumahku semalaman aku tidak akan kuat kau juga yang akan repot nantinya, tolong keluar dan bicaralah dengan tuan Randi sebentar...." Teriak sekretaris Han meminta belas kasihan dari Ratu.
Meski sekretaris Han sangat menjaga gengsi terlebih pada Ratu, namun kali ini dia menyerah karena sudah tidak ada cara lain lagi selain cara tersebut untuk membuat Ratu merasa kasihan padanya dan mau menemui tuan Randi walau sebentar.
Ratu mendengar teriakkan sekretaris Han dan dia mulai merasa bingung juga bimbang, Mala mengetahui apa yang Ratu rasakan dan dia segera berbicara pada Ratu.
"Kak, kakak kenapa?, Kalau kakak khawatir pada sekretaris Han apa tidak sebaiknya melihat dia sebentar, aku rasa tuan Randi memang akan berusaha keras untuk menemuimu" ucap Mala memberikan opininya,
"Baiklah kakak akan menemuinya, tapi kakak tidak akan kembali padanya untuk saat ini" jawab Ratu dengan tekad yang sudah kuat,
Mala menanggapinya dengan anggukkan dan dia mengantar Ratu ke depan pintu tepat saat pintu terbuka sekretaris Han sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri dan dia jatuh tersungkur ke lantai, sedangkan tuan Randi langsung datang menghampiri Ratu.
__ADS_1
"Ratu, akhirnya kamu mau menemuiku, Ratu tolong dengarkan penjelasan ku saat itu aku tidak bermaksud mengusirmu tidak sama sekali" ucap tuan Randi dengan terburu buru.
Sedangkan Mala langsung membantu sekretaris Han untuk berdiri dan mendudukkannya di kursi.
"Euhhh....kau ini berat sekali, badanmu sispex dan bagus tapi kenapa kau lemah seperti ini berdiri beberapa menit saja sudah tumbang pria macam apa" ucap Mala menyepelekan,
"Heh memangnya jika kau berdiri di sana dan harus berteriak keras selama yang aku rasakan tadi, kau akan kuat juga?" Ucap sekretaris Han membalikkan,
"Ya..tidak, tapi aku tidak akan selemah kau" jawab Mala yang masih dengan nada kesal,
Tuan Randi menarik lengan Ratu dan membawanya sedikit menjauh dari Mala juga sekretaris Han, tuan Randi terus berusaha meminta maaf dan membujuk Ratu agar dia mau kembali bekerja bersamanya sekaligus dia mengutarakan perasaannya pada Ratu.
"Ratu....aku mohon aku tau aku salah dan aku minta maaf padamu, tolong kembali ke perusahaan dan tinggal lah bersamaku lagi" ucap tuan Randi memohon,
"Maaf tuan tapi saya tidak bisa, kau tau kan janjimu sebelumnya padaku aku sudah memberikan kesempatan itu padamu tapi kau tidak menggunakannya dengan benar, jadi sekarang diluar batas kesabaranku" jawab Ratu menolaknya dengan halus,
Meski begitu tuan Randi tidak menyerah dengan mudah dia tetap berusaha membujuk Ratu lagi.
"Ratu...apa kau tidak merasa penasaran kenapa aku selalu mengejarmu dan memperlakukanmu berbeda dengan yang lain termasuk dengan sekretaris Han?" Ucap tuan Randi membuat Ratu bingung,
"Memangnya kenapa?, Bukankah itu karena aku asisten pribadimu sebelumnya?" Jawab Ratu berusaha menebak,
"Itu memang benar tapi ada hal lain, aku melakukan semuanya karena aku menyukaimu Ratu, sejak pertama aku melihatmu aku sudah tertarik padamu, aku tau kau berbeda dan dari banyaknya wanita yang berusaha dekat padaku aku hanya menyukaimu Ratu, sungguh aku hanya menyukaimu tolong beri aku kesempatan sekali lagi saja" ucap tuan Randi kembali memohon dengan memegang kedua lengan Ratu dengan erat.
Ratu diam termenung mendengarkan tuan Randi mengungkapkan perasaan kepadanya dia bingung harus merespon seperti apa, dan Ratu juga bingung apa yang harus dia katakan sekarang.
"Apa maksudmu tuan?, Tolong jangan berbohong seperti ini hanya untuk membujukku kembali bekerja di perusahaanmu, aku tidak sepenting itu bagi perusahaan" jawab Ratu berpura pura tidak mengerti.
Tuan Randi menunduk sejenak dan dia mengangkat kepalanya menatap dengan lekat kedua mata Ratu dan berusaha menyampaikan semua perasaan tulus yang ada pada hatinya untuk Ratu.
"Ratu...apa wajahku seperti aku sedang berbohong atau bercanda padamu?, Aku sungguh serius dan tolong pikirkan itu aku akan menunggumu selama apapun kamu memikirkannya" ucap tuan Randi diakhiri dengan senyuman yang melengkung lebar di bibirnya.
Ratu hanya diam karena dia terlalu kaget mendengar semua itu yang begitu tiba tiba baginya, tuan Randi mengajaknya kembali menghampiri tempat dimana sekretaris Han dan Mala berada karena dia rasa pembicaraannya pada Ratu sudah cukup, tuan Randi yakin Ratu pasti akan memikirkan semua ucapan yang sudah dia sampaikan sebelumnya.
Saat mereka berdua kembali ke teras rumah, sekretaris Han masih sibuk berdebat dengan Mala, hingga tuan Randi mengajak sekretaris Han untuk pergi dari sana.
"Sekretaris Han ayo kita pergi" ajak tuan Randi,
Sekretaris Han mendadak senang dan bersemangat dia langsung bangkit berdiri menghampiri tuan Randi.
"Heh...kau awas saja kau...aku akan membalasnya nanti!" Ancam sekretaris Han sambil menunjuk Mala.
"Hah...silahkan saja, aku akan menunggumu sampai kau bisa melawanku, tapi jika nanti kau tetap kalah dariku aku akan memukulimu sampai kau tidak bisa melihat bentuk wajahmu lagi!" Jawab Mala balik mengancam.
Ancaman Mala sukses membuat sekretaris Han bergetar ketakutan dan dia berdiri di belakang tuan Randi seakan meminta perlindungan.
Saat mereka hendak pergi lagi lagi tuan Randi menolah ke arah Ratu dan kembali berbicara mengingatkan masalah yang mereka bicarakan sebelumnya.
"Ratu.... Tolong pikirkan dengan baik, aku sungguh sungguh soal hal itu" ucap tuan Randi untuk ke sekian kalinya dan dia pun masuk ke dalam mobil bersama sekretaris Han.
Ratu segera masuk ke dalam rumah dan dia langsung meneguk air minum di dalam gelas dalam sekali tegukan, itu membuat Mala terperanga dan membelalakkan matanya sempurna.
"Kak...apa yang dibicarakan tuan Randi denganmu sampai kamu seperti ini?, Apa dia mengancam mu?" Tanya Mala dengan penasaran dan cemas,
"Tidak Mala ini lebih menakutkan dan membingungkan dari apapun" jawab Ratu sambil menggelengkan kelapanya keras,
"Habis itu apa lagi?, Kak tolong cepat katakan dengan jujur padaku, jangan buat aku khawatir begini" ucap Mala yang sudah tidak sabar,
Ratu menarik nafas panjang dan dia menatap lekat kepada Mala sambil memegangi kedua pundaknya erat, barulah dia mulai bicara dan mengatakan semuanya.
"Mala...dia menyukai kakak, dia mengutarakan perasaannya pada kakak, kakak bisa melihat bahwa sorot matanya serius dan dia sangat tulus, tapi...." Ucap Ratu tertahan.
Mala membantu Ratu untuk duduk di kursi dan barulah dia kembali bertanya pada Ratu.
"Tapi apa kak?, Lalu apa jawaban kakak kepadanya?" Tanya Mala semakin penasaran,
__ADS_1
"Kakak...tidak memberikan jawaban apapun padanya, jangankan untuk menjawabnya lidah kakak tiba tiba saja kelu dan tidak bisa digerakkan dia mengatakannya secara tiba tiba bagaimana kakak tidak kaget" jawab Ratu dengan ekspresi yang begitu kebingungan.