PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Berduka cita


__ADS_3

Hanya butuh beberapa saat untuk awak media mendapatkan kabar duka tersebut dari keluarga Atmaja yang merupakan salah satu keluarga kaya raya dan terpandang di Negera XX, Zidan yang mendapatkan kabar tersebut dia segera memberitahu Ratu.


"Haallo...Ratu apa kau tau tentang kabar duka dari tuan Randi?" Ucap Zidan terburu buru berbicara di telpon,


Ratu yang baru mengangkat panggilan itu dia sungguh kaget dan segera bersiap siap untuk pergi ke pemakaman tuan Atmaja bersama Zidan, awalnya Ratu ingin pergi sendiri ke sana namun Zidan menawarkan tumpangan agar mereka juga bisa sampai tepat waktu, akhirnya Ratu pun menyetujui, dia juga merasa tidak enak karena meninggalkan kesan kurang baik sebelumnya dengan tuan Randi.


Mereka pergi bersama ke pemakaman tuan Atmaja saat mereka sampai di pemakaman rupanya semua sudah selesai dan hanya tersisa sekretaris Han yang berdiri di belakang tuan Randi juga nyonya Wulan yang menangis terisak diatas batu nisan suaminya.


Melihat pemandangan itu Ratu sungguh langsung teringat dengan kematian ayahku juga kepergian mamah Diva saat itu, Ratu sungguh turut berduka atas meninggalnya tuan Atmaja, Zidan dan Ratu berjalan bersama menghampiri tuan Randi dan nyonya Atmaja sekaligus menyampaikan bela sungkawa.


"Tuan Randi saya turut berduka cita atas kepergian tuan besar" ucap Zidan sambil menaruh untaian bunga tepat di bawah batu nisan mendiang tuan Atmaja,


"Saya juga turut berduka cita tuan, nyonya" ucap Ratu menimpali,


Nyonya Wulan begitu menerima ucapan dari Zidan namun sangat berbeda ketika dia melihat Ratu rasa kebencian dari matanya dapat terlihat jelas, dia bangkit berdiri dan langsung membentak Ratu dengan keras sembari mengusirnya.


"Untuk apa kau kemari, pergi kau j*lang sialan, aku tidak sudi makam suamiku didatangi wanita rendahan sepertimu!" Bentak nyonya Wulan sambil mendorong bahu Ratu dengan kuat,


Ratu bingung harus melakukan apa dia hanya bisa meminta maaf pada nyonya Wulan namun nyonya Wulan terus bersih keras mengusir Ratu rasa bencinya pada Ratu masih belum berubah hanya karena Ratu tidak terlahir dari keluarga kaya raya dan berada di level yang berbeda dengan dirinya.


"Ma..maaf nyonya tapi saya hanya..." Ucap Ratu tertahan karena Randi juga turut memotong ucapannya dengan keras,


"Cukup Ratu bisakah kau pergi sekarang, tolong jangan buat keributan di makam mendiang ayahku!" Bentak tuan Randi yang membuat hati Ratu sakit seakan tertusuk banyak duri kecil,

__ADS_1


Zidan yang melihat Randi membentak Ratu sekuat tadi dia langsung menarik Ratu dan mengajaknya untuk pergi dari sana dengan segera.


"Sudah Ratu sebaiknya kita pergi, tidak ada gunanya memberikan empati pada orang berhati batu seperti mereka" ucap Zidan sambil menuntun Ratu pergi dari area pemakaman.


Ratu tertunduk frustasi di sisi lain dia merasa kalut dan tak bisa membuat ibunya semakin sedih atau pun kesal namun di sisi lain dia juga menyadari sudah berlebihan dalam bersikap pada Ratu.


"Arghhh.....apa yang aku lakukan, dia pasti akan membenciku sekarang" gerutu Randi sambil menggosok belakang rambutnya cukup keras.


Randi membawa sang ibu untuk pergi dari sana karena cuaca sudah mulai gelap, meski nyonya Wulan terus menangis dia sengaja mengambil kesempatan emas dalam situasi tersebut untuk menjauhkan Randi dari Ratu.


"Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan Randi mengejar wanita murahan itu!" Gumam nyonya Wulan dengan hati jahatnya.


Randi bahkan tidak menyadari seperti apa ibunya sendiri dia hanya terus berusaha menenangkan sang ibu.


Sedangkan Ratu yang sudah berada di dalam mobil dengan Zidan dia terus termenung mengingat semua kejadian di pemakaman sebelumnya.


Zidan yang tengah menyetir dia melihat sekilas beberapa kali dan menyadari Ratu yang terus termenung dengan melihat keluar jendela dengan tatapan kosong.


Zidan berusaha menghibur Ratu dengan mengajaknya pergi ke sebuah tempat yang belum pernah Ratu datangi.


"Ratu bisakah kamu menemaniku pergi ke sebuah tempat" ucap Zidan meminta persetujuan,


"Ke mana?, Aku sedang tidak mood" jawab Ratu dengan lesu,

__ADS_1


"Ayolah Ratu, tempat itu sangat indah dan cocok untuk mendinginkan kepalamu, aku tau kamu pasti sangat terluka dengan ucapan nyonya Wulan" jawab Zidan berusaha membujuk Ratu,


"Aku tidak papa kok, tapi jika tempat itu memang bagus aku akan melihatnya" jawab Ratu yang akhirnya menyetujui,


"Baiklah kita akan ke sana sekarang" ucap Zidan menambah kecepatan mobilnya,


"Aku hanya tidak mau melihatmu sedih dan terluka seperti ini Ratu, aku janji akan menjagamu selalu, jika Randi tidak bisa memperlakukanmu dengan baik aku akan selalu berdiri di sampingmu dengan kokoh" gumam Zidan penuh tekad.


Zidan selalu mengkhawatirkan tentang Ratu karena dia tau betul bagaimana kondisi keluarga Atmaja setelah kepergian ayahnya tuan Randi, nyonya Atmaja yang tak lain adalah ibu kandung tuan Randi berubah yang tadinya wanita cantik nan lemah lembut kini sudah bertransformasi menjadi wanita galak dan berhati keras hanya dalam hitungan hari, dia hanya memintingkan bisnis juga kekuasaan di negara XX sama sekali tidak memperdulikan apapun selain kekuasaan


Zidan paham mungkin nyonya Atmaja hanya terpukul atas kepergian suaminya yang meninggal dalam usia yang masih muda dan dia meninggalkan istri bersama anak pertamanya begitu saja tanpa ada persiapan apapun dan nyonya Atmaja seakan mendapatkan tuntutan harus berperan sebagai ayah sekaligus ibu dalam membesarkan tuan Randi namun seiring berjalannya waktu keserakahan dan kesembongan mulai menyelimuti dirinya hingga dia telat berubah cukup jauh dari dirinya yang dulu.


Orang orang di dekatnya jelas menyadari perubahan itu namun tak ada satu pun diantara mereka yang mau menyadarkan atau sekedar mengingatkan hal baik pada nyonya Atmaja mereka terlalu takut untuk berkata dan mengusulkan pemikirannya, nyonya Atmaja bahkan semakin memanfaatkan kematian suaminya sendiri untuk menekan putranya tuan Randi agar patuh pada setiap perintahnya, dia memang ibu yang kejam.


Tak lama Ratu sampai di tempat tujuan yang Zidan maksudkan, Zidan membawa Ratu ke sebuah danau yang indah dan memiliki air jernih berwarna hijau, di sana juga terdapat perahu sewaan untuk setiap pengunjung yang mau menikmati matahari tenggelam diatas nampak tepat di tengah danau yang menenangkan.


Zidan mengajak Ratu agar mau menaiki nampan bersamanya.


"Ratu ayo ikut aku, kamu akan lebih rileks jika kita sedikit berjalan jalan mengelilingi danau ini" ajak Zidan sambil mengulurkan tangannya,


Ratu menerima uluran tangan Zidan tanpa banyak dan basa basi, mereka menaiki sebuah nampan yang berukuran sedang saat Ratu hendak memegang salah satu dayung di sana bahkan Zidan segera merampas dayung tersebut dan melarang Ratu untuk menggunakannya.


"Ratu sudah kau duduk dengan tenang biar aku yang akan mendayung sampai ke tengah danau" ucap Zidan penuh semangat,

__ADS_1


"Zidan apa kau yakin, kau akan kuat?, danau ini begitu luas" ucap Ratu merasa ragu,


"Apa kau meragukan kekuatanku tenang saja aku ini seorang laki laki sejati dan perkasa" jawab Zidan yang membuat Ratu tertawa kecil karena mendengar ucapannya.


__ADS_2