PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Mendengar Berita


__ADS_3

"Baiklah aku mengerti, kamu bisa membicarakannya dulu dengan Mala, tapi aku sungguh sangat berharap kamu bisa kembali bekerja denganku, mari kita pertahankan perusahaan ini bersama dan tunjukan pada tuan Randi bahwa kamu juga bisa menjadi sukses dengan caramu sendiri, aku akan selalu ada untukmu Ratu" ucap Zidan dengan menggenggam tangan Ratu cukup erat.


Ratu mengangguk dan memahami semuanya dia pun berpamitan karena harus segera pergi dari sana dan tidak ada yang bisa dibicarakan lagi diantara mereka.


Saat sampai di kediamannya nampak tidak ada siapapun di rumah dan pintu pun terkunci sehingga Ratu segera menelpon Mala dan menanyakan keberadaannya.


"Hallo, Mala kamu di mana?" Tanya Ratu,


"Aku sedang di kebun kak di sini coba berbalik aku bisa melihatmu dari sini" jawab Mala di balik telpon,


Ratu pun membalikkan badannya dan menatap jauh ke arah kebun bunga yang terbentang tak jauh dari halaman rumahnya ternyata memang Mala tengah berada di ujung kebun bunga tersebut, nampak dia melambaikan tangan pada Ratu menunjukkan bahwa dia ada di sana, Ratu membalas lambaian tangannya dan segera berjalan menghampiri Mala.


"Mala ngapain siang begini kamu memetik bunga?" Tanya Ratu dengan heran,


"Aku mau memanen beberapa bunga untuk di pajang di luar toko, bukankah kakak ingin toko kita segera buka" jawab Mala sambil terus sibuk memetik bunga bunga cantik yang sudah mekar,


Ratu menghembuskan nafas dengan berat dan membantu Mala memanen beberapa bunga lainnya.


"Seandainya Mala tau kalau aku mendapatkan tawaran kerja lagi di perusahaan Zidan apa dia akan kecewa padaku karena tidak melanjutkan usaha bunga ini lagi" gumam Ratu memikirkan.


Mala menatap Ratu yang terlihat jelas memetik bunga sambil melamun sehingga Ratu justru malah memetik bunga yang belum mekar dengan sempurna, tatapannya sangat kosong dan Mala segera menegur Ratu lalu mengajaknya untuk menyelesaikan pekerjaan memetik bunga.


"Kak...ada apa denganmu kenapa malah memetik bunga yang belum siap panen, ayo sebagainya kita istirahat dulu" ucap Mala sambil menarik Ratu keluar dari kebun bunga.


Mala dan Ratu duduk di pinggiran teras rumah mereka dan Mala membereskan bunga bunga yang sudah di letik sebelumnya lalu memasukkannya ke dalam rumah dan kembali ke luar dengan membawa dua gelas air dingin di tangannya.


Salah satunya Mala berikan kepada Ratu karena dia tau Ratu nampak begitu kelelahan.


"Kak...ini minum dulu, kakak pasti cape kan habis pulang dari kantor kak Zidan langsung membantuku memetik bunga" ucap Mala sambil memberikan segelas air tersebut.


Ratu mengambilnya seraya tersenyum manis dan segera meneguk air itu hingga habis setengahnya, setelah itu Ratu kembali menatap ke arah hamparan kebun bunga yang cukup luas dia kembali memikirkan mengenai tokonya yang bahkan belum sempat berdiri dengan sukses namun sudah banyak halangan dan ke dalam untuk memajukannya.


"Kak...ada apa kenapa sedari tadi kakak melamun, apa lagi yang kakak pikirkan?" Tanya Mala,


"Mala jika kakak kembali bekerja dengan Zidan apa kamu tidak keberatan harus mengurusi toko bunga kita seorang diri?" Tanya Ratu mulai mengutarakannya pada Mala,


Mala tersenyum menanggapi ucapan Ratu dan dia sudah paham saat Ratu melontarkan pertanyaan tersebut, Mala mendekati Ratu dan memegang tangannya dengan erat.


"Kak...jadi karena hal itu kakak melamun sedari tadi dan memasang wajah menyedihkan ini?, Dengarkan aku kak, aku memang sejak awal sangat senang mengurusi toko itu tentu saja aku tidak keberatan untuk menjaganya" jawab Mala dengan tulus,


"Tapi bagaimana dengan cita cita mu untuk bekerja di perusahaan tuan Randi?" Tanya Ratu mengkhawatirkan keinginan Mala,


"Untuk apa aku bekerja dengan orang seperti dia, sudah jelas sebelumnya dia menolakku kan jadi untuk apa aku berusaha agar bisa di terima bekerja di sana, lebih baik membesarkan bisnis sendiri kan kak" jawab Mala dengan penuh keyakinan,


Ratu mulai memperbaiki posisi duduk ya dan dia menghadap dengan tegak ke arah Mala, dia mencoba menanyakannya lagi untuk meyakinkan dirinya dan Mala.


"Mala apa kamu sungguh tidak papa, kamu sudah kuliah bertahun tahun agar bisa bekerja di sana, tapi sekarang malah harus menjalankan toko bungaku apa kamu tidak keberatan sama sekali?" Tanya Ratu lagi,


"Haha...kak wajahmu ini sangat lucu, aku benar benar yakin aku akan membuat toko bunga kita semakin sukses kakak tenang saja bekerja di sana bukan cita citamu lagi, mimpiku sudah berubah sekarang mimpiku menjadi orang sukses dan membahagiakan kakakku tercinta" jawab Mala yang mengundang senyum bahagia dari keduanya.


Mereka saling berpelukan dan melimpahkan kasih sayang satu sama lain, meski mereka bukan saudara kandung namun kedekatan dan kasih sayang diantara keduanya sangat terlihat jelas begitu tulus dan sempurna.


Ratu merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan Mala meski dia telah kehilangan Seli sosok sahabat terbaik yang selalu ada di sampingnya dulu, tapi dengan adanya Mala dia benar benar melengkapi hidup Ratu yang dulu kesiapan menjadi jauh lebih berwarna saat ini.


Mala mengajak Ratu untuk masuk ke dalam rumah karena udara di luar sudah mulai dingin dan hari hampir berganti menjadi malam.


Saat Mala menyalakan televisi sebuah berita muncul dan menayangkan pemberitaan tentang kebangkrutan perusahan ST group yang dipimpin oleh Steven sebagai warisan dari ayahnya yang sudah meninggal satu tahun yang lalu.


Mala sangat kaget melihat berita tersebut karena dia tau dengan jelas dulu sebelum bertemu dengan Ratu perusahaan ST adalah salah satu perusahaan yang ingin dia injak sebagai tempat kerjanya di kemudian hari.


"Hah...tidak menyangka salah satu perusahaan terbesar di negara ini saya bisa bangkrut secepat ini, padahal dulu aku tidak pernah berpikir perusahaan sebesar itu bisa bangkrut bahkan hingga tujuh turunan sekalipun, wahhh....ini kabar yang luar biasa" ucap Mala berbicara sendiri.


Ratu yang penasaran dengan apa yang ditonton Mala dia segera menghampirinya dan ikut bergabung, saat menatan layar televisi Ratu sangat kaget hingga menjatuhkan piring berisi cemilan yang hendak dia berikan pada Mala.


"Brakkk....." Suara piring yang jatuh ke lantai,


"Ya ampun kak awas hati hati sini biar aku saja yang bersihkan kak duduk dulu" ucap Mala sambil segera membawa sapu dan membersihkan pecahan piring itu.


Saat Mala sibuk membereskan pecahan piring di lantai Ratu terduduk dengan lemas dan matanya terus menatap ke arah televisi yang heboh memberitakan kebangkrutan perusahaan ST group dan Steven yang jatuh sakit di duga diracuni oleh istrinya sendiri.


Mendengar pemberitaan itu Ratu semakin kaget dan syok dia bahkan sampai menutupi mulutnya yang terperanga dengan kedua tangan dan air mata yang mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya yang mulus.

__ADS_1


"Tidak...tidak...mungkin...berita ini pasti bohong" ucap Ratu begitu histeris dan dia sangat tidak percaya semua itu terjadi pada Steven.


Mala kaget dan bingung mihat kakaknya begitu histeris dan menangis secara tiba tiba, Mala segera membuang pecahan piring itu lalu mulai menghampiri Ratu dan memeluknya untuk menenangkan Ratu meski saat itu Mala belum tau kenapa kakaknya tiba tiba seperti itu.


Setelah Ratu sedikit tenang barulah Mala memberanikan diri untuk bertanya.


"Kakak...apa yang terjadi kenapa kakak tiba tiba menangis seperti ini, apa kakak terkena pecahan kaca tadi, apa ada yang luka?" Tanya Mala dengan cemas,


Ratu terdiam sejenak dia menguatkan dirinya sendiri sebelum menceritakan semuanya pada Mala, sampai akhirnya Ratu berhasil menenangkan dirinya sendiri dan dia menceritakan secara singkat bahwa dia mengenal Steven penerus perusahaan ST group yang di kabarkan keracunan dan mengalami kebangkrutan di televisi barusan.


"Kak...apa kakak benar benar mengenal tuan muda Steven yang tampan itu, hmm sayangnya dia memiliki istri yang seperti iblis, semua orang tau dia jahat tapi kenapa tidak ada yang berani bertidak padanya aku sangat heran dengan orang orang itu" ucap Mala yang begitu kesal saat membicarakan Astrid.


"Seandainya Mala tau bahwa dulu aku dan Steven pernah bersama dan orang yang dia benci itu adalah Kakak tiriku yang menghancurkan hidupku" gumam Ratu menahan luka yang selama ini berusaha dia kubur sangat dalam.


Mala langsung terdiam karena melihat Ratu yang tidak menjawab dan menanggapi lagi ucapannya.


"Kakak....kakak...apa kakak baik baik saja, dari mana kakak mengenal tuan Steven?" Tanya Mala lagi,


Ratu bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Mala dia memang sudah sedikit menceritakan bahwa dia mengenal Steven tapi Ratu tidak bisa menceritakan semuanya pada Mala itu hanya akan membuat dia membuka luka lama dan Ratu sangat benci akan hal tersebut, sehingga Ratu memutuskan untuk menceritakan sedikit saja pada Mala.


"Kakak....itu, dulu kakak mengenal kak Steven karena dia adalah kakak tingkat di universitas tempat kakak kuliah, dan universitas tersebut adalah milik keluarga Zidan sedangkan tuan Randi kakak hanya mengenalnya saat magang, mereka bertiga itu bersahabat tapi entah kenapa sekarang seperti musuh" jawab Ratu menjelaskan.


Mala hanya mengangguk dan dia juga tidak menyangka ternyata kakaknya itu sangat populer ketika kuliah, dan bahkan mengenal ketiga orang berpengaruh di negara ini sekaligus.


"Wahh...kakak hebat sekali bisa dekat dan mengenal ketiga orang paling berpengaruh di negara ini, pasti dulu kakak kuliah di tempat orang orang kaya iya kan" ucap Mala menduga,


"Tidak kakak masuk ke sana hanya karena keberuntungan saja" jawab Ratu menanggapi sambil tersenyum.


Ratu tidak mau Mala mengetahui kalau dulu dia juga pernah menjadi salah satu orang terpandang dan bisa memiliki apapun yang dia inginkan hanya dengan menunjuk jari, Ratu rasa itu hanyalah masa lalu dan tidak perlu untuk mengungkitnya lagi.


Ratu masih terpikir mengenai pemberitaan di televisi sebelumnya dan dia segera menelpon Zidan untuk menanyakannya dengan jelas.


"Hallo, Zidan apa kamu sedang sibuk?" Tanya Ratu,


"Tidak memangnya ada apa kamu tiba tiba menelponku?" Tanya balik Zidan,


"Aku ingin tanya apa pemberitaan di tv mengenai Steven itu sungguhan?, Jika benar bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Ratu mengutarakan kecemasannya,


"Iya itu benar, dan Steven sudah baik baik saja jika kamu ingin menjenguknya aku bisa mengantarmu besok, sekalian aku juga akan mengantarkan beberapa barang padanya" jawab Zidan menawarkan,


Panggilan pun terputus, Mala yang mendengarkan pembicaraan itu dia justru malah ingin ikut bersama Ratu untuk menjenguk Steven, karena Mala mengaku dia sangat ingin melihat wajah asli Steven yang sangat dia idolakan sejak dulu.


"Kak aku ingin ikut menjenguk kak Steven yah, aku sangat menyukainya, aku ingin melihat wajah tampannya secara langsung, aku mohon kak tolong bawa aku juga yah" ucap Mala memohon dengan memasang puppy eyes yang membuat Ratu tidak bisa menolak,


"Baiklah iya...besok kita pergi menjenguknya bersama" jawab Ratu yang membuat Mala sangat senang dan gembira.


Ratu hanya tertawa sejenak melihat reaksi Mala yang begitu senang saat dia mengijinkan Mala untuk ikut menjenguk Steven bersamanya besok, pasalnya Ratu juga baru tau kalau adiknya itu ternyata mengidolakan sosok Steven sampai berlebihan seperti itu, memang Steven adalah pria sempurna dia baik hati dan pasangan yang di idamkan banyak wanita kalau tidak sehebat itu tidak mungkin Ratu juga dulu sempat menyukainya.


Bahkan sampai sekarang mungkin perasaan itu masih ada di dalam ruang khusus yang ada di dalam hati Ratu, hanya saja kebersamaan diantara mereka sudah tidak mungkin terjadi lagi, sebab Ratu tidak ingin memiliki pasangan yang sudah di pakaian oleh orang yang paling dia benci dan pembunuh ayahnya sendiri.


"Mengapa aku tidak bisa melupakan dia meski dia sudah banyak membuat luka yang tidak pernah sembuh pada hatiku" gumam Ratu kembali teringat kenangan buruknya di masa lalu.


Karena tidak ingin melihat Mala melihatnya lemah dan menangis Ratu segera pergi masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya Ratu beralasan kalau dia lelah dan ingin tidur lebih awal padahal dia hanya membutuhkan waktu sendiri dan menangis melepaskan semua beban yang dia tahan dan sembunyikan selama ini.


Ratu menangis terisak sambil menutup mulutnya dengan selimut yang tebal agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat Mala curiga padanya.


"Maaf Mala, maaf kan kakak, hingga saatnya tiba... Kakak akan memberitahukan semua asal usul kakak dengan jelas kepadamu, untuk sekarang kakak belum bisa menceritakan semua luka itu" gumam Ratu dalam hatinya.


Bertahun tahun menahan luka dan berusaha menyembuhkannya seorang diri tentu menjadi sebuah tantangan dan cobaan yang begitu sulit bagi Ratu, selama ini kehilangan banyak orang yang sangat dia sayangi hanya karena Astrid, bahkan Ratu belum bisa bertemu kembali dengan Seli sahabat terbaiknya.


Saking merasa sedih, Ratu hingga ketiduran dalam posisi menyamping dan memeluk guling dengan seluruh tubuh yang ditutupi sempurna dengan selimut tebal kesayangannya.


******


Di sisi lain Astrid yang sudah berada di negara C tepatnya di sebuah hotel mewah dia terpaksa harus menyamar karena semua pemberitaan sudah masuk ke dalam pemberitaan internasional dan bahkan sudah viral di berbagai media online, dia terpaksa harus memakai topi hitam dan masker bahkan kacamata untuk menutupi wajahnya ketika dia pergi keluar.


"Aishh....sialan, bagaimana dia berani melaporkanku ke polisi dan menyebarkan berita seperti ini, bahaya jika sampai ada orang yang mengenali wajahku" gerutu Astrid dengan kesal.


Dia berbelanja dengan terburu buru karena mendengar seorang pria bertanya mengenai dirinya bahkan sampai menempelkan poster yang terdapat Gambir dirinya di berbagai tembok samping jalan.


Astrid bahkan sangat terkejut karena pencarian itu sudah sampai ke tempat di mana dia tinggal, terpaksa saat itu juga Astrid bergegas dari hotel tersebut dan berusaha kabur dari beberapa orang yang menurutnya mencurigakan.

__ADS_1


Tanpa dia ketahui sebenarnya Zidan sudah memerintahkan banyak orang bayaran kepercayaannya untuk menyelidiki Astrid dan sejak awal Astrid terbang ke negara C orang kepercayaan Zidan berhasil mengikutinya namun kehilangan jejak saat mencari tempat tinggalnya.


Kini secara diam diam salah satu orang suruhan Zidan sudah berhasil menemukan Astrid dan terus mengikutinya hingga ketika berada di jalanan yang cukup sepi mereka langsung meringkus Astrid dengan cepat dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Untuk sementara mereka berhasil menyekap Astrid di dalam mobil dan segera memonter dia lalu melaporkannya pada Zidan. Zidan tersenyum senang dan dia mengirimkan foto tersebut kepada Steven mereka sudah berhasil meringkus Astrid dan Zidan langsung menyuruh anak buahnya itu untuk membawa Astrid kembali ke negara XX saat itu juga.


"Bagus...kalian bawa dia kembali kemari biar aku yang menyerahkannya langsung ke kantor polisi" ucap Zidan dengan perasaan yang puas,


"Baik tuan" jawab orang tersebut.


Astrid terus berontak meski mulutnya sudah dilakban dan matanya ditutup kain hitam, mereka sungguh berhasil membawa Astrid naik ke dalam pesawat tanpa mendapatka kecurigaan dari siapapun karena sebelumnya, para orang suruhan itu sudah mengancam Astrid.


"Siapa kalian sebenarnya, lepaskan aku....aku akan membayar kalian jauh lebih mahal dari orang yang menyuruh kalian untuk menangkap ku!" Bentak Astrid berusaha memprovokasi para bodyguard terlatih tersebut,


"Hahaha....setelah bangkit, masih sanggup membayar kami anda bercanda nyonya Astrid!" Jawab salah satu bodyguard tersebut sambil tertawa.


Astrid tidak berhasil memprovokasi mereka dia hanya bisa menuruti semuanya meski terus berusaha berontak, karena jumlah orang orang tersebut sangatlah banyak sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk Astrid melarikan diri, hingga dia sampai di negara XX dia langsung di bawa ke sebuah rumah kosong yang sudah di siapkan oleh Zidan sebelumnya.


Setelah membereskan semua pekerjaannya Zidan pergi menjemput Steven dan membawanya ke rumah kosong tempat para bodyguard sudah menyekap Astrid, Zidan sengaja membawa Steven ke sana menggunakan kursi roda karena saat itu Steven masih belum pulih secara total.


Saat melihat Astrid yang di ikat di sebuah bangku dengan matanya yang ditutup kain dan pakaiannya yang sudah berantakan Steven begitu puas akhirnya dia bisa bebas dari genggaman iblis jahat seperti Astrid.


Steven sangat marah dan dia sampai meneteskan air mata sambil bergetar hebat mengepalkan kedua lengannya dengan kuat, dia berteriak membentak Astrid dengan sangat kuat hingga membuat Zidan juga kaget karena itu pertama kalinya dia melihat Steven semarah itu.


"Arkhhh....Astrid...dengarkan aku kau sudah menghancurkan hidupku dan keluargaku kau sudah membunuh ayah dan ibuku, aku tidak akan membiarkanmu hidup!" Bentak Steven dengan tatapan tajam yang mengerikan.


"Steven...Steven....aku mohon tolong maaf kan aku, aku sungguh tidak bermaksud begitu, aku tidak membunuh mereka sungguh tolong percaya padaku Steven, tolong lepaskan aku" ucap Astrid yang masih tidak tahu malu untuk meminta tolong pada Steven yang sudah dia racuni.


Steven mendekati Astrid dan saat salah satu bodyguard hendak menahannya Zidan segera menahan bodyguard tersebut dan memberikan kode agar membiarkan Steven mendekatinya.


"Hahaha....apa kau bilang, kau meminta aku untuk menolongmu?, Setelah apa yang kau lakukan padaku selama ini bahkan terakhir kali saat aku memohon padamu kau malah telah meracuniku dan hampir membuatku terbunuh di tanganku jika saja Zidan tidak menyelamatkanku malam itu" ucap Steven dengan berderai air mata.


Dia sungguh tidak bisa memaafkan semua perbuatan Astrid Steven melampiaskan amarahnya dia menampat kedua pipi Astrid dengan keras dan dia mendorong kursi yang di duduki Astrid hingga terjungkal ke belakang dan kepala Astrid mengelurkan darah, sementara Astrid terus memohon ampun dari Steven dan saat Steven hendak melayangkan pukulan lagi terhadap Astrid Zidan langsung menahannya dengan cepat.


"Steven.... Berhenti, jangan mengotori tanganmu dengan membunuhnya cukup cepat di sini, biarkan dia membusuk di penjara agar dia mendapatkan hukuman yang setimpal, ayo kita kembali" ucap Zidan menenangkan Steven.


Untunglah Steven menurut dan Zidan mendorong kursi roda Steven membawanya kembali ke rumah sakit, sebelumnya Zidan sudah memerintahkan para bodyguard suruhannya untuk menyerahkan Astrid ke pihak polisi dan meramoas semua uang yang dibawa oleh Astrid agar dia tidak bisa menyuap siapapun untuk membantunya.


Malam itu juga Astrid sudah berhasil di jebloskan ke penjara dan para wartawan banyak berkumpul di kantor polisi, pemberitaan menyebar dengan cepat dan saat Zidan hendak menutup semua berita itu Steven menahannya dan dia sengaja membiarkan semua orang tau tentang kejahatan yang dilakukan oleh Astrid.


"Steven aku akan menutup semua pemberitaan ini untukmu" ucap Zidan,


"Tidak Zidan, biarkan semua orang mengetahui kejahatannya aku yakin dengan begitu dia tidak akan berani kabur atau melakukan hal lain" ucap Steven menahan Zidan.


Karena itu keinginan Steven, Zidan menurutinya dan dia menyuruh Steven agar beristirahat dan tidak memikirkan hal mengenai perusahaan lagi.


"Steven sebaiknya kamu pulihkan dirimu, masalah perusahaan kita bisa memperbaikinya lagi nanti, kau harus kembali seperti Steven yang aku kenal dahulu" ucap Zidan,


Steven mengangguk dan dia sempat meminta maaf juga berterimakasih kepada Zidan karena sudah mau membantunya di saat terpuruk dan dalam keadaan yang sangat sulit seperti ini.


Saat ini bagi Steven menyesal juga tidak berguna dan tidak akan bisa merubah apapun sebelumnya dia berniat mempertahankan nyawa sang ayah dengan menikahi Astrid namun nyatanya sang ayah tetap meninggal, lalu dia di desak oleh ibunya agar tetap.bertahan dengan Astrid demi perusahaan namun nyatanya, ibunya sendiri meninggal karena kecelakaan yang direncanakan eh Astrid juga.


Alhasil semua kekayaan yang dia miliki tiba tiba saja berhalih tangan menjadi milik Astrid di saat dia berontak dan ingin menceraikan Astrid justru malah kejadian seperti inilah yang terjadi, dia sendiri hampir kehilangan nyawanya karena semua kecerobohan dan keputusan yang salah berkali kali yang telah dia lakukan karena terus diancam oleh Astrid, bahkan Steven selalu menolak ketika Zidan hendak membantunya.


Semua itu jelas ada alasan karena Steven tidak mau Zidan terbawa kedalam masalahnya dia tau seberapa kejamnya Astrid jika dia membiarkan Zidan membantunya di saat dia tau Perusahaan Zidan juga tengah tertekan oleh nyonya Atmaja bisa saja Zidan ikut hancur sepertinya, maka dari itu Steven sempat menolak ketika Zidan hendak membantunya.


"Aku sudah bebas dari wanita iblis itu, maaf kan aku ayah, ibu seandainya dulu aku mendengarkan ucapan Ratu dan Zidan, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini, mungkin kalian masih ada di sampingku" gerutu Zidan sambil mengurut keras jidatnya hingga meninggalkan bekas merah.


Zidan sungguh menyesali semuanya namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur, keputusan yang sudah kita ambil tidak akan pernah bisa kita tarik kembali, sua yang sudah hilang akan tetap pergi.


Saat itu bukan takdir yang tidak adil dengan Steven namun keragu raguan lah yang menyebabkan dia termakan oleh rayuan Astrid juga tekanan dari ibunyalah yang membuat dia harus menuruti Astrid hingga terjerat selamanya hingga semua benar benar hancur.


Steven terus menangis karena tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas semua keputusan yang pernah dia ambil di masa lalu, bahkan dia terus menangis hingga tertidur, Zidan tidak bisa meninggalkan Steven dalam kondisi kacau seperti itu, dia takut Steven akan bertindak konyol dan membahayakan hidupnya sendiri ketika frustasi seperti saat ini.


Akhirnya Zidan memutuskan untuk menginap di rumah sakit dan menjaga Steven hingga pagi, dia adalah sosok sahabat yang setia dan luar biasa. Bahkan Zidan rela tidur di sofa kecil yang tersedia di ruangan itu tanpa selimut hanya untuk menjaga Steven.


Meski awalnya Oma Rika tidak mengijinkan Zidan untuk ikut campur pada masalah Steven dan Astrid namun setelah Oma Rika membaca pemberitaan pada artikel di ponselnya Oma Rika bisa langsung menebak dengan telat bahwa semua itu adalah perbuatan putranya Zidan.


"Zidan....Zidan...dasar anak itu, dia selalu tidak mendengarkan ku, untunglah satu wanita iblis sudah dipenjara" gerutu Oma Rika sambil menatap layar ponselnya,


Oma Rika tau karena sudah dua hari Zidan tidak pulang ke rumah bahkan tidak menghubunginya sama sekali, sehingga dapat di simpulkan memang Zidanlah yang ada di.balik keberhasilan penangkapan Astrid di luar negeri.

__ADS_1


Karena Oma Rika pikir tidak mungkin para polisi itu benar benar mencari Astrid hingga ke luar negeri dan memukulinya sampai babak belur seperti itu, Oma Rika mengembangkan senyum di wajahnya dia merasa bangga dan senang karena memiliki cucu yang baik dan bertanggung jawab seperti Zidan.


"Oma bangga padamu Zidan, kamu persis seperti kedua orangtuamu yang selalu ingin membantu orang" tambah Oma Rika sambil menatap foto keluarga nya.


__ADS_2