PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Kepergian Tuan Atmaja


__ADS_3

Ratu terus memikirkan masalah tuan Randi entah kenapa saat jauh darinya dan mendengar kedatangan ibu tuan Randi, Ratu merasa sangat cemas, dia hanya takut jika sampai ibunya tuan Randi mengetahui kedekatan antara dia dan tuan Randi masih terjalin karena sebelumnya Ratu masih bisa mengingat dengan jelas terakhir kali ibu tuan Randi sangat membencinya saat tuan Randi memperkenalkan dia.


"Ahhh...ayolah Ratu untuk apa mengkhawatirkan pria pecundang sepertinya" ucap Ratu sambil berjalan kembali ke mejanya.


Ratu melanjutkan pekerjaannya hingga jam kerja selesai dia segera berbenah dan hendak langsung pulang ke kediamannya, Zidan datang dan menawarkan tumpangan namun Ratu menolaknya dengan halus karena dia tidak mau merepotkan Zidan terus, dia juga tidak mau terlalu dekat dengan Zidan dalam situasi seperti ini.


"Ratu ayo aku antar pulang, jalur kita kan juga searah" ajak Zidan,


"Ahh...terimakasih, tapi aku bisa pulang sendiri" jawab Ratu sambil tersenyum,


"Ratu apa kau sedang menolak tawaranku?" Tanya Zidan dengan teliti,


"Aku hanya tidak mau merepotkanmu, sudah kamu pergi saja sebentar lagi gojek pesananku juga akan tiba tidak mungkin aku membatalkannya" jawab Ratu yang membuat Zidan menurut.


Walau Ratu sudah menolaknya Zidan tetap tak berdiam diri atau pun meninggalkan Ratu begitu saja dia dengan setia ikut menunggu sampai gojek pesanan Ratu tiba, bahkan tanpa Ratu ketahui Zidan mengikutinya sepanjang jalan sampai dia tiba di rumahnya dengan aman, setelah melihat Ratu sudah masuk ke dalam rumahnya dengan selamat barulah Zidan bisa merasa tenang dan dia kembali ke rumahnya.


Zidan merasa kerenggangan antara Ratu dan tuan Randi adalah kesempatan baginya untuk mencuri hati Ratu, tapi ketika melihat tatapan Ratu padanya masih sama seperti dulu Zidan mulai ragu untuk terus memaksakan diri mengejar Ratu.


"Sampai kapan Ratu akan sadar bahwa aku jauh lebih mengutamakan dia dibanding tuan Randi yang seperti boneka ibunya itu" gerutu Zidan sambil duduk di sofa rumahnya.


Sedangkan di sisi lain kedua orang tua tuan Randi tengah mempersiapkan masalah penerimaan dan hak waris bagi putra sulungnya, ayah tuan Randi juga datang ke perusahaan yang dikelola oleh putranya tersebut, sebagai seorang ayah tuan Atmaja begitu tegas dan berwibawa dia memeriksa semua pekerjaan Randi selama ini dalam mengurus perusahaannya dan dia berdecak kagum saat melihat saham perusahaan yang terus meningkat pesat dalam genggaman putranya.

__ADS_1


"Randi ayah bangga denganmu, mungkin jika ayah akan segera mati ayah tidak akan khawatir meninggalkanmu dan ibumu" ucap tuan Atmaja sambil menepuk pundak tuan Randi,


"Ayah semua ini berkat didikanmu dan ibu, aku sangat menghormati kalian jadi tolong ayah jangan bicara demikian" jawab tuan Randi penuh rasa hormat pada ayahnya,


"Randi jika suatu saat ayah meninggal, ayah hanya ingin kau menjaga ibumu seperti ayah melindunginya selama ini" ucap sang ayah menatap serius,


"Tentu saja ayah tanpa kau meminta aku akan melakukannya" jawab Randi dengan tegas.


Saat seorang ayah dan anak tengah berbincang mengenai pekerjaan dan harta mereka tiba tiba sebuah ponsel berdering membuat kedekatan mereka terhenti, ayah tuan Randi segera mengangkat telpon tersebut dan saat mendengar kabar dari panggilan telpon matanya membelalak sempurna dan dia membentak orang di sebrang telpon tersebut dengan penuh emosi yang tak terkendali.


"APA?, Induk perusahaan di negara C mengalami kekacauan bagaimana itu bisa terjadi?....penggelapan dana perusahaan?" Bentak tuan Atmaja yang begitu kaget dan dia memegangi dadanya dan mulai merasakan sesak juga sakit di area jantungnya.


Tuan Randi melihat ayahnya kesakitan dan tiba tiba kehilangan kesadaran begitu saja setelah mendengar kabar dari panggilan telpon yang singkat dia segera bergegas meminta tolong dan berteriak sangat keras,


Mereka dengan gesit membawa tuan Atmaja menuju rumah sakit terdekat dan sekretaris Han memberitahu nyonya Wulan mengenai kecelakaan ini, saat ibu tuan Randi sampai di rumah sakit dia langsung menangis menghampiri tuan Randi.


"Randi apa yang terjadi dengan ayahmu nak?, Kenapa dia bisa tiba tiba drop seperti ini...hiks...hiks.." ucap ibu Wulan,


"Dokter masih memeriksanya Bu, tenangkan dirimu dulu" jawab tuan Randi sambil memeluk sang ibu,


Tak lama Dokter keluar dengan wajah yang lesu dia terus menunduk dan menghadap ke pada Randi juga ibunya, mereka langsung berdiri dan ibu Wulan tergesa gesa menanyakan keadaan suaminya.

__ADS_1


"Dok....dokter bagaimana dengan keadaan suami saya, dia memiliki riwayat jantung tidak mungkin tadi dia terkena serangan jantung kan dok?" Tanya ibu Wulan,


"Anda benar nyonya, tuan Atmaja mengalami serangan jantung dan tekanan darah yang tinggi secara bersamaan sehingga itu menyebabkan kerusakan fatal pada sistem kerja saraf juga otaknya" ucap Dokter tertahan,


"Tapi dia baik baik saja kan Dok?" Tanya ibu Wulan lagi yang sudah sangat cemas,


"Maaf nyonya...tuan...tapi nyawa tuan Atmaja tidak bisa diselamatkan" jawab dokter yang membuat ibu Wulan tak percaya dan dia tak sadarkan diri saat itu juga,


Randi yang juga kaget dan seperti bak di sambar petir dia jatuh terduduk di lantai merasakan kakinya yang gemetar dan lemas mendapatkan kabar bahwa ayahya meninggal dunia hanya dalam hitungan menit, sekretaris Han membawa ibu Wulan ke ruang rawat dan meminta beberapa perawat untuk menjaganya sedangkan dia kembali menghampiri tuan Randi yang masih tak berkutik di tempatnya.


"Tuan saya turut berduka cita tapi anda harus kuat demi ibu anda" ucap sekretaris Han sambil membantu tuan Randi bangkit berdiri dan mendudukkannya di kursi,


Untuk pertama kalinya Randi meneteskan air mata dan dia tertunduk lesu, Randi marah dan begitu kesal, dia memerintahkan sekretaris Han agar mencari tau permasalahan mengenai perusahaan induk di negara C, dan penyebab semua kekacauan terjadi.


"Han....cari tau siapa dalang dari runtuhnya induk perusahaan di negara C!" Ucap tuan Randi dengan wajah dingin yang membuat sekretaris Han bergidik ngeri.


Randi berusaha menutupi semua kesedihan di dalam dirinya ucapan sang ayah sebelumnya ketika berbincang dengan dia seakan adalah sebuah pertanda dan pesan terakhir dari ayahnya, tuan Randi sudah menjelaskan dirinya dan berjanji demi mendiang ayahnya bahwa dia akan selalu menjaga dan menomor satukan sang ibu bagi dirinya.


Randi segera mengurus pemakaman sang ayah hari itu juga, banyak orang berdatangan ke pemakaman ayahnya karena dulu sang ayah adalah sosok pemimpin yang bijak sana dan baik hati, dia selalu rendah hati kepada para karyawannya dan dia bahkan tidak pernah memaksa Randi agar mendapatkan kekasih yang sesuai dengan kriterianya, ayahnya juga adalah satu satunya orang yang bisa membela dia dari paksaan sang ibu yang selalu menuntutnya agar cepat menikah dan memiliki anak.


Randi sungguh sangat terpukul dengan kepergian ayahnya dia tidak bisa berkata apapun selama proses pemakan sang ayah hingga ibunya yang sudah sadar dan dan terus memaksa ingin melihat jasad suaminya untuk terakhir kali, Randi membiarkan sang ibu untuk melihat wajah ayahnya sebelum dikafani dan dia segera menarik sang ibu ke dalam pelukannya setelah beberapa saat ibunya menatap wajah pucat sang ayah.

__ADS_1


"Ibu semua ini sudah takdir aku janji akan menjagamu seperti ayah melindungimu selama ini" ucap Randi sambil memeluk sang ibu dengan erat.


__ADS_2