
Ratu pun mulai mengistirahatkan tubuhnya dia menutup mata dengan perlahan dan mulai tertidur lelap.
Di samping itu, Zidan bahkan sama sekali tak bisa beristirahat dia sungguh merasa sedih meski sudah tau apa jawaban yang akan dia dapatkan dari Ratu sebelumnya.
Zidan tau bahwa selama ini hanya dia yang terus menaruh harapan bagi dirinya sendiri, dia sadar bahwa semua perasaan dalam dirinya kepada Ratu hanya bertepuk sebelah tangan, namun dia tetap berusaha dan berharap akan adanya keajaiban, tapi nyatanya dia tetap tidak mendapatkan keajaiban itu.
*****
...Belajar dari Zidan....
...*Jangan terlalu berharap pada manusia karena hakikatnya, manusia terkadang mengecewakan!...
...Kamu boleh mencintai siapapun yang kamu sayangi, tapi kamu juga harus ingat bahwa sampai kapanpun kamu tidak bisa memaksanya untuk membalas perasaanmu, setulus apapun cinta yang kau berikan kepadanya, hatinya akan tetap milik orang yang dicintainya!*...
*****
Di tengah kelam dan gelapnya malam Zidan duduk seorang diri di bangku taman yang ada tepat di depan halaman rumahnya, duduk seorang diri dan menyandarkan tubuhnya kebelakang dengan kepala yang ditengadahkan ke langit, dia menatap indahnya langit malam yang menjernihkan pikiran dan menenangkan hatinya.
Setidaknya hanya dengan menatap langit tanpa bintang membuat dia merasa bahwa tidak hanya dia yang kesepian dan sedih malam itu.
"Bahkan langit seakan turut merasa iba padaku yang hanya mengharapkan Ratu mencintaiku, kenapa aku harus bodoh seperti ini?, Sudah jelas Ratu kini hanya menyukai Randi, aku tidak pernah bisa memiliki kesempatan untuk di sukai olehnya, dulu dia menyukai Steven, ku pikir kedepannya aku lah yang dicintainya namun aku salah lagi kini justru Randi yang mendapatkannya dan aku tetap menjadi pengecut di belakang layar" gerutu Zidan dengan pelan dan dia menutup matanya.
Zidan merasakan terpaan angin malam yang sejuk masuk menyelusup melalui sela sela pakaiannya, rasa dingin tidak dia ibahkan hanya kepahitan dalam hatinya yang sulit membuatnya untuk bangkit.
Apalagi mengingat di dalam rumahnya kini ada Oma Rika, Zidan tidak mau memperlihatkan wajah menyedihkannya kepada Oma Rika yang sangat dia sayangi.
"Aku sudah cukup menyedihkan sekarang, aku juga tidak bisa menyeret orang lain untuk ikut bersedih karena nasibku ini" gumam Randi sambil mulai memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
Randi mulai mengusap wajahnya dan dia menyiapkan mental sejenak sebelum masuk ke dalam rumah, dia menghirup udara malam dan menghembuskan ya beberapa kali hingga dia mulai merasa tenang.
"Aahhh....ayolah Zidan kau harus semangat!" Ucap Zidan sambil masuk ke dalam rumah.
Zidan langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan rapat mungkin di dalam kamar Zidan juga kembali bersedih, kenyataannya meski dia terus berusaha sangat baik untuk menyembunyikan keadaan dia dari Oma Rika, tetap saja sebenarnya sedari tadi Oma Rika sudah memperhatikannya dari jauh lewat jendela kamarnya yang menghadap ke arah bangku taman tersebut yang membuat Oma Rika bisa dengan mudah melihat betapa kusut dan menyedihkannya wajah cucu kesayangan dia itu.
"Ada apa dengan anak itu, wajahnya kusut sekali sudah seperti lap kotor saja" ucap Oma Rika sambil memperhatikan Zidan yang saat itu masuk ke dalam rumah.
Niat awalnya Oma Rika ingin bertanya namun sayangnya Zidan sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya sehingga Oma Rika juga tidak berani kalau harus memintanya datang hanya untuk menjawab pertanyaan yang bisa saja bagi dia akan menyakitkan.
"Ahhh....sudahlah lebih baik aku tidak ikut campur dengan urusan anak itu terlalu banyak, selagi perusahaan baik baik saja aku yakin dia bisa menjadi pria dewasa yang baik dan bijaksana" tambah Oma Rika dan kembali menutup pintu kamarnya.
*****
Tuan Randi yang menutup panggilan video secara tiba tiba dengan ekspresi wajah datar dan dingin sebenarnya dia juga merasakan detak jantung yang sulit untuk dia kendalikan maka dari itu dia mematikan panggilan video dengan cepat bahkan sampai mengabaikan jawaban dari Ratu atas ucapannya itu.
Tuan Randi segera membenahi pekerjaannya yang sempat tertunda dan dia lanjut memikirkan ide untuk memberikan pelajaran berharga bagi sekretaris Diah karena sudah berani beraninya mencoba memfitnah Ratu dan memprovokasi dirinya dengan Zidan.
"Ha....aku tidak akan membiarkan jal*Ng iblis itu hidup dengan tenang ataupun lolos dengan mudah dari genggamanku!" Ucap tuan Randi dengan senyum mengerikan dan tatapan penuh misteri.
Selesai membereskan pekerjaannya tuan Randi kembali pulang ke kediamannya saat baru membuka pintu dan berjalan di ruang tengah dia melihat beberapa foto keluarganya yang terpampang sangat indah di dinding, tuan Randi berjalan menghampiri ke letak di mana salah satu foto keluarga di simpan.
Dia tersenyum pahit sambil mengusap bingkai foto yang menunjukkan wajah sang ayah di dalam foto tersebut.
"Ayah...aku akan menjadi seperti ayah dan aku tidak akan pernah menduakan orang yang aku cintai meski itu keinginan dari wanitaku sendiri, aku tidak akan membiarkan kesalahan yang pernah kau perbuat terjadi pada diriku!" Ucap tuan Randi lalu pergi ke kamarnya.
Dia segera membersihkan diri dan mulai beristirahat dengan tenang.
__ADS_1
Memang sulit untuk menjadi seorang tuan Randi, dia harus menjalani kehidupan dengan banyaknya permasalahan dan ujian dalam hidupnya, sejujurnya menjadi orang biasa justru lebih menyenangkan dan lebih memiliki banyak waktu dengan orang orang terdekat.
Dibandingkan dengan kehidupan orang kaya maupun pembisnis yang tengah merintis usahanya sendiri, orang orang seperti tuan Randi bahkan hanya memiliki sedikit waktu ketika siang dan hanya tertidur saat malam.
Tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan, apalagi tuan Randi tidak begitu dekat dengan kedua orangtuanya terlebih kepada ayahnya mereka hanya berbicara jika itu terkait bisnis, tuan Atmaja dulu juga memang terlalu disibukkan dengan pekerjaannya mengurusi perusahaan pusat yang menggaji puluhan ribu orang.
Ke esokan paginya tuan Randi sudah bersiap untuk pergi ke perusahaan dan mengerjakan semua kerjaannya yang begitu menumpuk karena kini dia harus menjalani dua perusahaan sekaligus, alhasil tuan Randi mulai merasakan frustasi karena dia sungguh begitu sibuk harus memimpin kedua perusahaannya itu ditambah perusahaan anak yang lainnya.
Di sisi lain tuan Randi juga mulai berharap nyonya Wulan agar segera sembuh setidaknya jika nyonya Wulan sudah bisa kembali ke rumah dia tidak akan se sibuk ini mengurusi semua pekerjaannya seorang diri.
Kini ketika tidak ada nyonya Wulan yang bisa membantunya dan sekretaris Han yang masih berjaga di rumah sakit tuan Randi hanya bisa berdecak kesal melihat begitu banyak nya pekerjaan yang harus dia kerjakan.
"Aaahhh....aku harus lebih semangat lagi" gerutu tuan Randi dan mulai menyelesaikan semua pekerjaannya sedikit demi sedikit.
Di rumah sakit sekretaris Han juga mencemaskan tuan Randi karena dia lebih tua jika selama ini tuan Randi selalu meminta bantuannya ketika memimpin perusahaan di negara X apalagi sekarang harus mengurusi dia perusahaan sekaligus, sekretaris Han tau itu pasti akan membuatnya semakin sibuk dan dia meminta izin kepada nyonya Wulan agar dia bisa pergi membantu tuan Randi dan melayaninya.
"Eumm...nyonya apa saya boleh keluar sekarang, saya hanya khawatir tuan Randi pasti kesulitan mengurusi pekerjaan di perusahaan seorang diri" ucap sekretaris Han meminta izin.
Nyonya Wulan menatapnya tersenyum lalu tiba tiba saja nyonya Wulan bangkit dari ranjang dan meminta sekretaris Han mengambilkan kursi roda untuknya, sontak itu membuat sekretaris Han kaget.
"Sekretaris Han, tolong bawakan kursi roda otomatis untukku" ucap nyonya Wulan,
"Eh...kursi roda?, Untuk apa nyonya anda kan belum sembuh total" jawab sekretaris Han sedikit kaget,
"Aku sudah merasa sehat kok, lagi pula dokter berkata besok sudah bisa pulang jika pulang lebih cepat satu hari pasti tidak masalah" jawab nyonya Wulan bersih keras,
"Tidak nyonya anda tidak bisa menyimpukannya seperti itu, tuan Randi sudah..." Balas sekretaris Han yang terpotong,
__ADS_1
"Sudah jangan banyak bicara kalau saya tidak segera membantu Randi mungkin nanti salah satu perusahaan hanya akan tinggal nama, dia sama sekali tidak mengetahui apapun mengenai perusahaan pusat, dia akan mendapatkan banyak kesulitan jika aku tidak membantunya" pungkas nyonya Wulan.