
Sekretaris Han terperangah dan dia menatap pada Mala sambil menaikkan sebelah alisnya saking merasa herannya karena mendengar pertanyaan dari Mala.
"Ehh darimana kau tahu jika aku berlari karena ada hal penting?" Tanya balik sekretaris Han,
"Jadi maksudmu kau berlari hanya karena kau ingin?, bukan karena ada hal penting?, atau karena tuan Randi sudah kembali?" Jawab Mala penuh pertanyaan,
"Wahh di hebat bisa mengetahui hal yang terjadi hanya dengan melihatku berlari, apa dia ini peramal?" Gumam sekretaris Han.
"Sekretaris Han kenapa kau malah melamun atau jangan jangan kau berbohong padaku yah?" Bentak Mala mulai kesal,
"Apa maksudmu aku melamun dan terdiam karena merasa heran denganmu, bagaimana bisa kau menyimpulkan hal yang terjadi tanpa kau tau kebenarannya, aku berlari karena terburu buru untuk pergi ke apartemen ku, kenapa?, kau mau ikut denganku memangnya kau itu ekorku" jawab sekretaris Han berbohong.
"Aishh siapa juga yang ingin ikut denganmu, kalau begitu pergi saja aku hanya mencurigai mu, siapa yang tahu kau menyembunyikan sesuatu yang penting" balas Mala dengan sinis.
Sengaja Han melakukannya karena dia tidak ingin memberitahu siapapun mengenai kedatangan tuan Randi sebelum tuan Randi sendiri yang akan mengumumkan keberadaannya.
Setelah mendengar ucapan dari sekretaris Han akhirnya Mala pun terdiam dan dia tidak lagi terus mengikuti sekretaris Han, saat pintu lift terbuka Mala hanya diam sambil menundukkan kepalanya karena dia merasa lega namun tetap tak senang ketika mendengar penjelasan dari sekretaris Han.
Karena hati kecilnya tetap merasa bahwa sekretaris Han tidak berkata yang sebenarnya kepada dia.
"Kenapa aku merasa Han berbohong padaku yah, tapi apa iya untuk apa juga dia membohongiku?" Gumam Mala memikirkan,
"Heh kenapa kau diam termenung sana kembali aku akan segera pergi" ujar sekretaris Han dan langsung bergegas pergi dari sana.
Mala pun hanya bisa menghembuskan nafas lesu dan dia merasa sedikit tidak nyaman dengan perasaannya, meski begitu Mala tetap menuruti perintah sekretaris Han dan dia segera kembali ke lantai atas.
Sekretaris Han akhirnya bisa merasa lega setelah Malah tidak mencurigainya lagi, dia pun kembali berlari dengan cepat karena harus segera menjemput tuan Randi sedangkan waktu yang dia miliki tinggal beberapa menit lagi.
__ADS_1
Karena tertahan oleh Mala sebelumnya alhasil sekretaris Han tiba di bandara dengan terlambat dan dia tidak menemukan keberadaan tuan Randi hingga beberapa saat akhirnya dia mendapatkan panggilan dari tuan Randi.
"Hallo, tuan kau di mana saya sudah ada di bandara sekarang" ucap Han segera bertanya,
"Heh, apa kau bercanda ini sudah berapa menit kau sangat terlambat bagaimana aku akan menunggumu di sana tentu saja aku pulang sendiri, sudah kau kembali bekerja saja setelah selesai segera ke rumahku ada hal penting yang harus kita bicarakan" ujar tuan Randi.
Rupanya saat sepuluh menit berlalu dan sekretaris Han tak kunjung datang ke sana, tuan Randi memilih untuk pulang sendiri dengan menaiki taxi yang lewat di sekitar sana sebab dia sudah terlanjur kesal karena menunggu sekretaris Han yang tak kunjung datang.
Sesampainya di kediaman miliknya tuan Randi langsung menyuruh beberapa pelan rumahnya untuk menyiapkan sebuah kejutan untuk Ratu, entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh tuan Randi untuk Ratu yang pasti saat ini dia langsung menyiapkan banyak hal yang sangat detail dia persiapkan.
"Bi..tolong buatkan hiasan yang bagus dan istimewa seperti di foto ini, jangan lupa sediakan beberapa lampu yang cantik di taman pokoknya saya ingin sama persis dengan foto di sini" ujar tuan Randi memberikan perintah pada bi Mia yang merupakan kepala pelayan pilihan ibunya sendiri.
"Baik tuan saya akan melakukannya sesuai dengan yang anda inginkan" jawab bi Mia sambil membungkuk mengerti.
Bibi Mia pun segera pergi untuk mempersiapkan hal tersebut sedangkan tuan Randi pergi ke kamarnya dia membuka foto Ratu yang sudah dia simpan sejak lama di dalam ponselnya secara diam diam.
"Ratu aku akan pastikan kau tidak bisa menolakku kali ini" ujar tuan Randi dengan penuh keyakinan di dalam dirinya.
Di sisi lain Ratu sudah kembali bekerja di perusahaan dan dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini namun sayangnya tiba tiba saja dia mendapatkan panggilan dari nyonya Merisa dan Ratu segera pergi menemuinya di ruangan presdir.
"Tok....tok....tok" suara ketukan pintu yang diketuk oleh Ratu dengan perlahan,
"Masuk" jawab nyonya Merisa dari dalam ruangan,
Saat pertama kali masuk ke dalam sana Ratu sudah tersenyum melihat nyonya Merisa namun ada yang berbeda dari raut wajah nyonya Merisa padahal saat makan siang bersama beberapa jam lalu nyonya Merisa begitu bersahaja dan sangat ramah dengannya namun kali ini seakan nyonya Merisa tengah sedih atau murung.
"Permisi Nyonya apa yang anda ingin saya lakukan?" Ujar Ratu segera bertanya,
__ADS_1
"Ahh Ratu kemarilah, saya ingin meminta maaf kepadamu sebelumnya" ucap nyonya Merisa dengan wajah yang seperti kebingungan,
Ratu nampak kebingungan dan dia mengerutkan kedua alisnya bersamaan karena dia merasa takut dan gugup saat melihat raut wajah nyonya Merisa yang bisa berubah seketika dalam waktu yang cepat.
"Nyonya ada apa, kenapa anda terlihat bingung dan ragu?" Ujar Ratu kembali bertanya,
"Bukan begitu Ratu hanya saja, perusahaan ini mengalami sedikit kerugian karena proyek yang dikelola oleh Steven kehilangan salah satu investor dan itu membuat perusahaan ini sulit untuk bangkit kembali terlebih Zidan tidak ada di sini" ungkap nyonya Merisa.
Aku kaget dan tidak menyangka perusahaan yang Zidan perjuangan selama ini kini kembali mengalami permasalah yang sulit bahkan di bawah kepemimpinan ibunya sendiri.
"Ba...bagaimana bisa ini terjadi nyonya?" Tanya Ratu seakan tidak percaya,
"Semua ini karena mereka tidak cukup mempercayai Steven sebab kasus lamanya dengan Astrid, ini memang sulit untuk diterima masyarakat dan wajah jika semua ini terjadi, jadi Ratu saya memutuskan untuk menarik perusahaan Steven dan menyatukannya dengan perusahaan ini agar proyek tetap berjalan sesuai dengan rencana awal dan investor lainnya tidak akan kecewa" tambah nyonya Merisa melanjutkan,
"Itu keputusan yang bijak nyonya" balas Ratu yang masih tidak memahami dampak sebenarnya dari hal tersebut,
"Iya hanya itu satu satunya cara dan jika kedua perusahaan di satukan maka beban Steven akan menjadi beban saya juga jadi saya tidak memiliki cukup dana untuk memberikan upah untukmu dan beberapa karyawan lain, saya mungkin akan bekerjasama dengan Steven dan dia yang akan menggantikan posisimu, saya minta maaf Ratu saya sungguh berat hati melakukan ini namun tidak ada cara lain yang bisa saya lakukan" balas nyonya Merisa mengungkapkan niat awalnya.
Ratu terdiam sejenak lalu dia tersenyum membalas ucapan nyonya Wulan, meski hatinya hanya sakit dan dia paham ke mana maksud dari perkataan nyonya Wulan saat ini, tapi dia juga tak bisa berbuat banyak, Ratu juga tidak ingin perusahaan yang sudah dikembangkan dan di perjuangkan mati matian oleh sahabatnya Zidan harus bangkrut dengan cara semenyedihkan ini.
Alhasil Ratu hanya bisa menerimanya dengan lapang dada lagi pula Zidan sudah banyak membantunya, mungkin dengan ini dia bisa membalas semua kebaikan Zidan setidaknya untuk mempertahankan perusahaan itu.
"Nyonya tidak masalah saya paham dengan kondisi perusahaan saat ini, dan anda tidak perlu merasa bersalah ataupun tidak enak hati dengan saya, saya akan baik baik saja" ujar Ratu menjawabnya.
Nyonya Merisa merasa terharu dengan jawaban dari Ratu padahal dia pikir pada awalnya Ratu akan marah ataupun tidak menyukai keputusannya namun rupanya dugaan dia salah besar karena Ratu justru malah menerimanya dengan mudah dan memahami keputusannya.
"Ratu dengan sikapmu yang sebaik ini justru saya semakin merasa bersalah padamu, maafkan saya Ratu" tambah nyonya Merisa sambil memegangi kedua lengan Ratu dengan erat,
__ADS_1
"Tolong jangan seperti ini nyonya, saya sungguh baik baik saja perusahaan ini sangat penting untuk Zidan saya juga tidak ingin melihat perusahaan ini dalam kesulitan" ujar Mala sambil membalas genggaman dari nyonya Merisa.