
Sementara di sisi lain tuan Randi yang menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi akhirnya sampai di depan rumah dan tuan Randi langsung keluar dari mobil saat di lihat kedua orangtuanya sudah berdiri tepat di depan pintu dengan membawa dua koper besar dia samping mereka, tuan Randi langsung datang menghampiri.
"Ayah... Ibu kenapa kalian tiba tiba sekali pulang ke sini?" Tanya tuan Randi dengan wajah yang gugup,
"Memangnya ibu tidak boleh memberikan kejutan pada putra ibu sendiri, sudahlah Randi cepat bawa kan koper ibu, ibu sudah sangat lelah" jawab ibu Wulan dan dia berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu bersama suaminya.
Randi mencoba untuk menahan kedua orangtuanya namun tidak bisa, untunglah kamar yang ditempati oleh Ratu bukan kamar yang biasa ditempati oleh kedua orangtuanya sehingga masalah Ratu yang tinggal bersamanya masih dapat Randi sembunyikan, malam itu Randi benar benar kacau dia langsung membereskan semua pakaian Ratu dan memasukkannya ke dalam koper saat tengah malam, Randi juga diam diam menyuruh sekretaris Han datang ke rumahnya untuk mengambil koper dan semua barang milik Ratu.
Tuan Randi tau ibunya sangat tidak menyukai Ratu bahkan terakhir kali Randi memperkenalkan Ratu pada kedua orangtuanya, ibunya bersikap kasar dan mengatai Ratu dengan perkataan yang kasar, Randi melakukan semua ini hanya takut Ratu akan mendapatkan masalah yang lebih serius dari ibunya.
Sedangkan sekretaris Han yang harus membawa barang barang Ratu terus saja menggerutu kesal.
"Aishh.. tuan aku kan sudah pernah bilang kau tidak boleh dekat dengan wanita menyebalkan itu begini kan akibatnya" ucap sekretaris Han,
"Sudah diam!, Cepat masukkan semua barangnya jangan sampai ibu atau ayahku mengetahui semua ini, bisa bisa dia akan marah besar" ucap tuan Randi dengan wajah yang panik.
Sekretaris Han langsung saja menuruti perintah tuan Randi dan dia segera meninggalkan tempat itu selesai dengan mengirimkan semua barang Ratu barulah tuan Randi bisa merasa tenang dan dia duduk di sofa sambil melepaskan jas miliknya.
"Ahhh... Akhirnya aman juga, aku bisa sedikit bersantai sekarang" ucap tuan Randi menyandarkan tubuhnya.
Sedang di sisi lain sekretaris Han yang uring uringan dan tidak tau harus kemana membawa barang milik Ratu, akhirnya sekretaris Han membawa barang itu ke apartemen miliknya, tanpa sekretaris Han ketahui Ratu yang dia tinggalkan di pinggir jalan saat ini masih berjalan seorang diri melangkahkan kaki tanpa tujuan sambil menunggu Mala yang menjemputnya, saat Mala tiba menggunakan gojek Ratu langsung berangkat dan sampai di rumahnya.
Mala yang melihat kondisi kakak nya sangat kacau dia hanya bisa diam dan menyajikan makanan untuk Ratu agar kondisinya bisa lebih baik, selesai membersihkan badan Ratu menolak untuk makan bersama Mala karena dia yang masih merasa kesal dengan apa yang sudah dia lalui hari ini.
Ratu langsung tidur di kamarnya dan Mala masih berusaha memaklumi keadaan Ratu karena dia juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya tersebut, sampai beberapa saat ponsel Ratu yang tertinggal di meja berdering, Mala pun menjawab panggilan itu karena dia tidak mau mengganggu kakaknya yang tengah ber mood buruk.
"Hallo..." Ucap Mala menjawab panggilan telpon,
"Heh... Barangmu ada padaku jangan lupa datang ke apartemenku di jln xxx lantai 7 nomor 7, jangan sampai telat dan kau tidak perlu datang ke kantor untuk sementara waktu sampai tuan Randi memutuskan" ucap sekretaris Han yang langsung bicara tanpa basa basi,
Mala yang mendengar itu dia hanya terus diam mendengarkannya dengan seksama.
"Heh... Kenapa kau tidak menjawab, apa kau tuli!" Bentak sekretaris Han karena tidak mendapat jawaban.
Mala langsung mematikan panggilan itu dan dia berdecak kesal mengetahui kakaknya ternyata diperlakukan seburuk itu saat bekerja bersama Randi selama ini.
"Euhhhh...siapa sih orang itu berani beraninya dia membentak kakakku dan bicara sekasar itu, aku ingin memukulnya" ucap Mala menggerutu kesal.
Mala menaruh kembali ponsel itu di atas meja dan segera masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Saat ke esokan paginya Mala sengaja berangkat ke alamat yang dia dengar dari panggilan telpon semalam, Mala sengaja tidak memberi tau Ratu masalah panggilan semalam karena dia pikir kakaknya juga masih butuh istirahat sekaligus Mala ingin menghajar langsung pria di balik panggilan telpon tersebut.
Sesampainya di gedung apartemen Mala langsung mengumpulkan niatnya dan pergi ke lantai 7 lalu mencari pintu nomor 7 juga sampai saat dia menemukannya Mala langsung menekan tombol bel di samping pintu dan mengetuknya keras beberapa kali, rasanya Mala sudah tidak sabar lagi untuk menghajar pria tersebut.
Sampai saat pintu terbuka tanpa aba aba Mala langsung menghajar sekretaris Han sampai pukulannya tepat mengenai wajah sekretaris Han dan mengakibatkan hidungnya mengeluarkan darah.
"Bukk...." Suara pukulan Mala yang lumayan keras menghantam wajah sekretaris Han.
Sekretaris Han kaget dan tak sempat menghindar dia menundukkan kepalanya dan memegangi hidupnya sampai saat dia mengangkat kepala dan melihat di tangannya ada darah, sekretaris Han langsung lemas dan jatuh pingsan.
"Da...darah" ucap sekretaris beberapa saat sebelum pingsan,
"E ..e...eh kenapa dia?" Ucap Mala sedikit panik.
Mala menahan badan sekretaris Han yang hampir jatuh ke belakang dia memapah badan sekretaris Han dengan sekuat tenaga dan menidurkannya di sofa apartemen tersebut, Mala sedikit bingung dan panik karena sekretaris Han yang tak sadarkan diri padahal dia merasa pukulannya tadi tidak terlalu kuat.
"Aishh....dasar pria lemah begitu saja sampai pingsan aku kan hanya memukulnya sedikit" gerutu Mala dengan wajah yang cemberut.
Mala berusaha membangunkan sekretaris Han dengan mendekatkan minyak kayu putih ke hidung sekretaris Han hingga beberapa saat akhirnya dia sadar, saat matanya membuka sempurna dan melihat Mala yang berjongkok di depannya sekretaris Han langsung terperanjat bangkit dan berteriak tak karuan.
"Arhkkk...pergi...pergi sana, apa yang kau lakukan padaku?" Bentak sekretaris Han yang berteriak histeris.
"Aish... DIAM!" Bentak Mala dengan sorot mata tajam dan dalam,
Sekretaris Han gemetar ketakutan dan dia perlahan duduk dengan baik di hadapan Mala.
"Heh kau ini pria atau wanita sih, cemen! ini bersihkan hidungmu jorok sekali" ucap Mala sambil memberikan tisyu pada sekretaris Han.
Han yang baru sadar tadi hidungnya berdarah dia langsung bergegas lari ke kamar mandi dan membersihkan hidungnya lalu sekretaris Han datang menemui Mala dengan salah satu hidung yang dia sumbat dengan tisyu pemberian Mala.
"Heyy... Kau ini siapa sih, seenaknya memukulku, aku bisa melaporkanmu yah!" Bentak sekretaris Han mengancam dan siap siap mengeluarkan ponselnya.
Mala yang melihat sikap sekretaris Han yang begitu penakut dia justru semakin menyukai hal itu dan tak sabar untuk mempermainkan balik seorang sekretaris Han yang sombong itu.
"Silahkan saja, sekali kau tekan ponselmu akan aku patahkan satu jari tanganmu bagaimana?, itu setimpal bukan" ucap Mala bangkit berdiri dan berjalan sambil meremaskan jari jarinya.
Tingkah Mala berhasil membuat nyali seorang sekretaris Han ciut seketika dia langsung melempar ponselnya ke sopa dan mengangkat kedua tangannya ke atas seakan menyerah pada Mala.
"Oke...oke...aku tidak akan melaporkanmu, tapi apa mau mu sebenarnya!" bentak sekretaris Han dengan gemetar ketakutan.
__ADS_1
Mala sengaja tidak menjawab dan terus berjalan dengan tatapan sinis dan senyum kecil yang diangkat pada ujung bibirnya,
"He...hey...berhenti jangan mendekat atau aku akan melawanmu mau tidak mau!" ancam sekretaris Han sambil memasang kuda kuda seakan akan dia mau memukul Mala.
Mala tertawa lepas melihat ekspresi sekretaris Han yang begitu ketakutan padanya, wajahnya yang nampak panik juga badannya yang gemetar hebat sungguh bertolak belakang dengan ucapannya sendiri yang seakan so berani mau melawan dirinya.
"Ahahaha....apa kau yakin masih memiliki energi untuk melawanku, menopang tubuh sendiri saja kau gemetar seperti itu, ucap Mala diiringi tawa menyeramkan bagi sekretaris Han.
"KA..kau ini siapa sih, apa yang kau inginkan" tanya sekretaris Han lagi,
"Aku mau barang kakakku!" bentak Mala melebarkan matanya,
"Ba.... barang apa yang kau maksud?, aku bahkan tidak tau dengan kakakmu" balas sekretaris Han yang tidak mengerti,
"Ratu kak Ratu Salsabila adalah kakakku, dan kau yang menyuruhku datang untuk mengambil barangnya, itulah kenapa aku datang!" jawab Mala menjelaskan semuanya masih dengan sorot mata tajam tanpa berkedip.
Sekretaris Han sudah tak sanggup menahan tubuhnya sendiri hingga saat mendengar nama Ratu di sebut oleh Mala dia semakin lemas dan jatuh tergeletak ke lantai, dia kaget dan baru tau kalau Ratu memiliki seorang adik yang sangar seperti wanita di hadapannya saat itu.
"KA....KA...kau..adiknya Ratu?" tanya sekretaris Han tidak percaya,
"Berhenti menatapku dengan wajah ketakutan begitu aku hanya mau mengambil barang kakakku, dan katakan pada tuanmu yang sialan itu, mulai sekarang dia tidak akan pernah bekerja lagi di perusahaannya apapun alasannya, APA KAU PAHAM!" ucap Mala berbicara santai dan diakhiri dengan bentakkan yang membuat sekretaris Han refleks langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya iya...aku paham" balas sekretaris Han,
"Lalu mana barang kakakku?" tanya Mala lagi,
"Itu barangnya sudah aku bereskan semua" jawab sekretaris Han sambil menunjuk ke pojok ruangan.
Mala segera mengambil semua barang milik Ratu dan dia membawa semua barang itu seorang diri, dia bahkan tidak perduli dan mengabaikan sekretaris Han yang masih terkulai lemas di bawah lantai dengan ketakutan.
Hingga saat Mala sudah mengambil semua barang Ratu, barulah sekretaris Han bisa bernafas lega dan dia segera menghubungi tuan Randi mengenai kejadian yang dia alami.
"Hallo tuan...tapi ada seorang wanita urakan yang mengacau di apartemenku, dia adalah adiknya Ratu dan mengancamku agar memberitahu padamu kalau Ratu tidak akan mau bekerja denganmu lagi" ucap sekretaris Han.
Randi kaget dan ingin sekali marah juga membentak sekretaris Han namun sayangnya saat itu dia tengah sarapan bersama dengan kedua orang tuanya sehingga Randi tidak bisa berbicara kencang dan kasar kalau tidak rahasianya akan terbongkar.
"Aishhh...dasar Han tidak becus menangani satu wanita kecil saja" gumam tuan Randi,
"Han kita bicara di kantor nanti!" ucap tuan Randi dengan nada yang datar dan menutup panggilan itu dengan kesal.
__ADS_1
Meski Randi menutupi semua kebenaran itu namun wajahnya tetap tidak bisa berbohong, wajah kesalnya itu terlihat jelas oleh ibu Wulan yang tengah makan berhadapan dengan tuan Randi, melihat ekspresi putranya berubah drastis setelah mengangkat panggilan telpon tentu saja ibu Wulan merasa curiga.