
Saat Ratu tengah duduk termenung kebingungan sambil membersihkan bekas pecahan pot dan tanah coklat yang berserakan di lantai, Mala yang baru saja tiba dia sungguh kaget dan langsung membantu Ratu untuk berdiri sejenak dan menceritakan kejadian yang sudah terjadi pada tokonya.
"Astaga... Kak Ratu apa yang terjadi, ayo aku bantu kakak duduk dulu saja" ucap Mala sambil memapah Ratu,
"Kakak apa yang sebenarnya terjadi bisakah kakak memberitahuku" ucap Mala meminta penjelasan.
Ratu mengangguk dan dia mulai menceritakan semua kejadian barusan, dia bingung entah darimana perempuan itu datang, namun dia merasa bahwa perempuan itu juga tidak pernah datang dan membeli bunga dari tokonya, tapi Ratu juga tidak bisa membuktikan itu sebab dia pikir siapa tau wanita itu datang ke toko di saat Mala yang melayaninya.
Mala merasa sangat kesal dan mengerutkan kedua alisnya bersamaan dia sangat tidak terima Ratu diperlakukan seperti itu, dan dia langsung saja menggerutu kesal.
"Kak apa kakak masih ingat wajah wanita itu aku akan mencari dan menghukumnya, dia tidak bisa membuat rumor seperti itu seenaknya dan dia harus bertanggung jawab pada toko kita" ucap Mala penuh emosi,
"Sudahlah Mala, lagi pula kita juga tidak tau ke mana wanita itu pergi, dan sekarang toko juga sudah rugi besar aku tidak bisa menutupi semua kerugiannya" ucap Ratu yang sudah pasrah.
"Kak jangan berkecil hati tidak papa pakai saja uang kuliah Mala sebagai modal untuk toko ini, Mala tidak papa kalau tidak lanjut kuliah" ucap Mala mencoba memberikan solusi,
"Tidak Mala, biaya kuliahmu itu sudah janjiku, aku tidak bisa mengambilnya kembali, kakak bisa mencari pekerjaan lain untuk mengumpulkan modal agar toko ini bisa buka kembali, kamu juga sebaiknya fokus saja kuliah masalah biaya kakak yang akan menyelesaikannya" ucap Ratu menolak dan meyakinkan Mala meski dirinya sendiri masih kebingungan harus mencari uang ke mana.
Mala sebenarnya sangat kesal dan dia merasa sudah menyulitkan Ratu karena sekolahnya tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak.
Terpaksa Mala hanya bisa mengangguk dan menuruti ucapan Ratu dia pun membantu Ratu membersihkan semua kerusakan dan kekacauan di dalam toko hingga selesai, merekapun kembali ke rumah dan saat melihat hamparan kebun bunga yang cukup luas Ratu mulai berpikir untuk menjual kebun bunga itu, demi menyelamatkan tokonya namun Ratu juga kembali berpikir jika dia menjual kebunnya itu lantas dia harus memasok bunga dari orang lain dan itu akan memakan banyak modal lagi.
Ratu duduk di teras rumahnya menatap ke depan dengan kosong, sedangkan Mala ikut merasa sedih dengan kejadian yang menimpa Ratu, meski mereka hanyalah rekan kerja namun karena kebaikan Ratu yang mau menampung Mala dan menguliahkannya mereka sudah seperti kakak dan adik.
Mala juga terus memperhatikan Ratu yang termenung menatap jauh ke depan hamparan bunga yang lumayan luas.
Hingga saat malam tiba dan Mala sudah terlelap tidur Ratu baru ingat dengan tawaran yang diberikan Randi pagi tadi, dia kembali memikirkan ucapan Randi yang mengatakan bisa membayar gajihnya sebagai asisten pribadi lebih besar dari gajih sekretaris Han, Ratu rasa dia bisa kembali bekerja dengan Randi dan kembali sedikit bersabar atas perlakuan sekretaris Han dan Randi yang kadang membuatnya sebal dan naik darah.
__ADS_1
"Apa aku harus menerima tawaran tuan Randi yah, tapi kelakuannya apa aku bisa menahannya, terlebih sekretaris Han yang selalu menyebalkan itu" gumam Ratu memikirkan.
Pusing memikirkan tawaran Randi, Ratu memutuskan untuk meminta pendapat pada Mala keesokan pagi, meski berusaha keras untuk tertidur namun tetap saja Ratu tidak bisa tidur nyenyak dia bangun pagi pagi dan segera menyiapkan sarapan untuknya dan Mala.
"Pagi... Kak" ucap Mala yang baru keluar dari kamarnya,
"Ayo sarapan dulu" ucap Ratu sambil menyajikan makanan,
"Eumm makanan buatan kakak sangat enak seperti biasanya" ucap Mala sambil menikmati sarapannya,
"Mala kakak ingin meminta pendapatmu, bagaimana jika kakak bekerja di perusahaan tuan Randi?, Ucap Ratu meminta pendapat Mala.
"Ohok... Ohok... Apa?, Kakak mau bekerja di tempat orang sombong seperti mereka?" Teriak Mala yang membuat Ratu menaikkan alisnya kaget,
"Iya habisnya sekarang ini mau mencari pekerjaan kemana lagi, gaji di sana besar loh, jadi kakak rasa bisa menahan kesabaran" ucap Ratu menjelaskan,
"Kak Mala sih terserah kakak selama kakak merasa nyaman ya oke saja, tapi jika kakak tidak menyukai bekerja di sana sebaiknya jangan, aku tidak mau melihat kakak menderita" ucap Mala sambil memegang tangan Ratu dan tersenyum lembut.
Ratu senang mendengar ucapan Mala yang ternyata memberikan respon yang baik, akhirnya Ratu sudah memutuskan untuk menemui Randi ke kantornya pagi itu juga, Ratu pergi ke kantor Randi bersama dengan Mala yang hendak pergi kuliah.
Sesampainya di depan perusahaan Ratu mencoba menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan, dia menguatkan diri dan mentalnya untuk menyambut kembali pekerjaan yang sangat dia benci sebelumnya. Ratu masuk dan berbicara dengan resepsionis lalu mereka meminta Ratu untuk menunggu sebab Randi tengah sedang melakukan Rapat yang penting.
Ratu pun hanya bisa duduk menunggu di kursi yang tak jauh dari meja resepsionis tersebut, sampai beberapa saat kemudian Zidan masuk ke dalam perusahaan dan dia yang melihat Ratu segera menghampirinya.
"Ratu kenapa kau ada di sini?" tanya Zidan membuat Ratu sedikit terkejut.
"Ahh... Zidan aku pikir siapa, aku ada sedikit urusan dengan tuan Randi makanya aku datang ke sini" jawab Ratu jujur,
__ADS_1
Zidan menatap lekat ke arah Ratu dari atas hingga bawah, melihat penampilan Ratu yang begitu rapih Zidan pun mulai berpikir.
"Jangan bilang kamu mau bekerja lagi dengan dia" ucap Zidan mencurigai,
"Dugaanmu benar, aku memang... " Jawab Ratu yang terhenti karena sekretaris Han yang memanggilnya,
"Hey... Ratu kau dipanggil tuan Randi cepatlah ikut aku" ucap sekretaris Han dengan nada yang begitu aneh,
"Maaf ya Zidan aku harus pergi" ucap Ratu tergesa gesa.
Dia segera berjalan menyusul sekretaris Han dan mereka masuk ke dalam lift menuju lantai atas dimana ruangan Randi berada.
Saat di dalam lift beberapa kali sekretaris Han menyindir Ratu karena dia sempat berbicara dengan Zidan di lantai dasar sebelumnya.
"Pagi pagi sudah mendapatkan santapan besar, pasti kau senang kan bertemu dengan pak Zidan" ucap Sekretaris Han dengan sinis,
"Terserah kau mau mengatakan apa tentangku dan Zidan aku tidak perduli, dan aku hanya merasa aneh kenapa kau sangat membenciku sekretaris Han?" ucap Ratu sambil menatap tajam.
Sekretaris Han seketika diam dan dia menjadi gugup sampai saat lift terbuka dia malah pergi dan memalingkan pembicaraan begitu saja.
hai readers jangan terimakasih atas kesetiaan kalian yang masih stay di karyaku yah, dan aku mohon bantuannya untuk mampir juga ke karyaku yang lain diantaranya;
Gadis jutek bertemu Pangeran tampan
the curse of the black mermaid
Dendam yang tak sampai
__ADS_1
thanks for support 🙏🥰
jangan lupa tinggalkan jejak comment, rate, and like yah guys, salam hangat dari Author Per La Felicità 🤗