
Dia pergi ke bandara internasional dan segera pergi dengan penerbangan saat itu menuju negara asalnya, bahkan demi menghilangkan jejak kecurigaan dia sengaja memalsukan jam dan waktu keberangkatannya, sekretaris Diah sangat ahli untuk menghilangkan bukti dan jejak kejahatannya.
Sedangkan di sisi lain nyonya Wulan yang sudah selesai dengan pekerjaan di kantor cabang dan dia hendak pulang ke kediamannya dia seperti biasa menggunakan mobil kesayangannya yang biasa dia pakai selama ini dengan santai.
Awalnya nyonya Wulan tidak merasakan ada yang salah dengan mobilnya itu hingga ketika dia melewati sebuah jalan turunan dia mulai panik ketika rem yang dia injak sama sekali tidak berpungsi dan mobilnya terus melaju kencang sulit untuk dia kendalikan.
"Aahh....ah....apa yang terjadi dengan mobil ini... Tidak....tidakkk.....awasssss." teriak nyonya Wulan panik dan dia hampir menabrak seorang pengendara motor sehingga dia memalingkan mobilnya ke arah sambil sampai akhirnya menabrak bahu jalan dengan keras.
Kecelakaan pun tidak dapat dihindari, mobil yang di kendarai nyonya Wulan hancur parah pada bagian depannya dan nyonya Wulan mengalami cedera yang cukup serius pada kepala juga kakinya dia segera dilarikan ke rumah sakit oleh beberapa warga yang menolongnya pada saat kejadian tersebut.
Tak hanya ini polisi juga menemukan keganjalan dalam kecelakaan tunggal yang dialami oleh nyonya Wulan, pihak kepolisian menelpon pihak keluarga nyonya Wulan dan kebetulan nomor yang tertera paling depan dalam kontak panggilan nyonya Wulan adalah nomor sekretaris Han, sehingga polisi menghubunginya kepada nomor tersebut.
"Hallo, selamat sore, apakah benar ini dengan keluarga ibu Wulan?" Ucap polisi itu di sebrang sana,
"Iya, tetapi saya adalah sekretaris putranya, jika boleh tau siapa anda kenapa ponsel beliau ada pada anda saat ini?" Tanya balik sekretaris Han,
Polisi segera menjelaskan semua kejadian pada sekretaris Han dan mereka meminta agar perwakilan keluarganya datang mengurusi kasus ini dan mengurus mengenai penanganan nyonya Wulan yang tengah kristis di rumah sakit seorang diri.
Sekretaris Han sangat kaget mendengar kabar tersebut dan dia segera memberitau tuan Randi dengan terburu buru, awalnya sekretaris Han pikir tuan Randi akan sangat kaget dan khawatir pada nyonya Wulan namun hasilnya ketika dia sudah memberitau kabar tersebut, justru tuan Randi hanya menjawabnya dengan santai.
"Hah....dia kecelakaan, bahkan aku belum sempat memberinya pelajaran kenapa sudah ada yang menghukumnya itu tidak adil" jawab tuan Randi dengan sinis.
Sekretaris Han sungguh kaget dan heran bagaimana bisa reaksi tuan Randi sebagai putra kesayangan nyonya Wulan malah memberikan sebuah reaksi yang diluar ekspektasi.
"Tuan...apa anda sakit?, Apa anda tidak merasa cemas sedikitpun dengan keadaan nyonya Wulan?, Apa anda tidak mau segera berangkat ke negara XX untuk melihat keadaannya?" Tanya sekretaris Han bertubi tubi saking merasa heran,
"Tidak, untuk apa aku mengurusi orang sepertinya, jika dia mati sekalipun tidak ada hubungannya denganku" jawab tuan Randi tanpa melihat sekretaris Han sedikitpun,
"Ta...tapi tuan dia kan ibumu dia yang mengurusimu sejak kecil, setidaknya perlihatkan rasa balas budimu tuan!" Ucap sekretaris Han yang tidak terima,
Tuan Randi menatap sekretaris Han dengan tajam dan dia bangkit dari kursinya berjalan menghampiri sekretaris Han lebih dekat.
"Sekretaris Han kau tidak tau apapun tentang keluargaku, dia bukan ibuku dan semua kebaikannya demi harta bukan rasa kasih sayang yang tulus padaku, jadi jangan ikut campur urusan keluargaku!" Ancam tuan Randi memberikan peringatan,
"Tapi tuan polisi bilang kecelakaan ini adalah sabotase dari seseorang, saya curiga ini perbuatan sekretaris Diah, apa kau lupa dia juga mengincar hartamu, kita harus menyidiknya dengan jelas" ucap sekretaris Han yang berusaha membuat tuan Randi agar melihat keadaan nyonya Wulan.
Sekretaris Han pikir sejahat apapun nyonya Wulan selama ini dia tetap menjaga dan merawat tuan Randi dengan penuh kasih sayang dan selalu memperlakukan tuan Randi dengan sepenuh hatinya, meski dia di butakan oleh harta namun nyonya Wulan tidak sejahat itu untuk menelantarkan tuan Randi, itulah yang membuat sekretaris Han bersih keras agar tuan Randi mau melihat kondisi nyonya Wulan dan menemuinya segera.
Mendengar ucapan itu tuan Randi seketika berpikir dan dia merubah keputusannya, dia langsung menyuruh sekretaris Han agar menyiapkan keberangkatannya menuju negara XX esok hari dan segera menyelidiki kasus kecelakaan ibunya.
"Sekretaris Han ada benarnya aku tidak bisa membiarkan masalah ini terus berkembang besar, dan nyonya Wulan bagaimanapun aku masih memiliki hutang budi karena dia sudah merawatku sejak kecil" gumam tuan Randi yang mulai tersadar.
"Han segera siapkan keberangkatanku besok pagi, dan selidiki kasus kecelakaan itu secepatnya jangan biarkan pelakunya lolos dengan mudah!" Ucap tuan Randi memberikan perintah,
"Baik tuan saya akan mengurus semuanya" jawab sekretaris Han penuh semangat.
Randi pulang ke kediamannya lebih awal malam ini karena dia harus menyiapkan beberapa pakaian dan barang yang hendak dia bawa karena dia pikir akan membutuhkan beberapa waktu tinggal di sana sampai mendapatkan pencerahan tentang kasus tersebut.
__ADS_1
Saat tengah memasukkan beberapa barang ke dalam kopernya, Randi tiba tiba saja teringat dengan Ratu sudah beberapa hari ini dia tidak berhubungan dengan Ratu dan bahkan Ratu juga belum menjawab penyataan cintanya saat itu, masalah ingin memasukkan adiknya bekerja di perusahaan juga belum ada kabar lagi, Randi tidak sabar jika tidak menghubungi Ratu.
Dia mengambil ponsel nya dan menelpon Ratu saat itu juga, meski sudah dua kali melakukan panggilan telpon dan tidak mendapatkan jawaban namun Randi tidak putus asa dia mencobanya sekali lagi sampai akhirnya usaha tidak mengkhianati hasil, Ratu mengangkat panggilannya tersebut.
"Hallo....ada apa tuan Randi, kenapa anda menelpon semalam ini?" Tanya Ratu yang saat itu sudah ingin menutup matanya,
"Ahh...maaf mengganggumu apa tadi kau sudah tertidur?" Tanya balik tuan Randi karena mendengar suara Ratu yang seperti orang baru bangun tidur,
"Iya aku baru saja menutup mataku namun panggilanku terus membuatku terbangun dan aku harus mengangkatnya" jawab Ratu dengan jujur,
"Begini Ratu, aku akan pergi ke luar negeri besok untuk mengurusi beberapa urusan mendesak dan mungkin akan menetap beberapa waktu di sana, bisakah kamu memberikan jawaban mengenai pernyataan ku sebelumnya saat nanti aku kembali?" Ucap tuan Randi yang membuat Ratu kaget dan langsung terduduk dari ranjangnya.
Mata yang tadinya sayu dan mengantuk, otak yang setengah sadar kini tiba tiba langsung terbuka lebar dan sadar sepenuhnya dalam waktu yang singkat.
"HAH?, kenapa memintanya tiba tiba, memangnya kapan tuan akan kembali dari sana?" Ucap Ratu dengan nada suara yang tinggi,
"Apa kau sekaget itu yah, masalah kepulangan ku aku juga belum mengetahui pastinya tapi aku akan menghubungimu nanti" jawab tuan Randi,
Karena tidak ada pilihan lain dan Ratu kira tuan Rndi sungguh akan tinggal dalam waktu yang lama di sana, makanya dia memutuskan untuk menyetujui hal tersebut.
"Ahhh begitu rupanya, ya sudah aku tidak masalah setelah nanti anda kembali saya akan usahakan menjawab pernyataan anda sebelumnya" jawab Ratu menyetujui.
Randi merasa senang dan dia meminta agar Ratu menepati janjinya dan tidak mengecewakan dia dengan keputusan yang akan Ratu ambil.
"Baiklah, Ingat janjimu sendiri dan tolong jangan mengecewakanku dengan jawabanmu nanti, selamat malam Ratu" ucap tuan Randi lalu menutup panggilannya,
"Aishh....dia menyukaiku tapi sikapnya ini tidak seperti orang yang tengah mengejarku berbeda sekali dengan Zidan... Ehhh kenapa aku membandingkannya dengan Zidan?, Astaga Ratu otakmu memang sudah waktunya istirahat" gerutu Ratu sambil kembali berbaring tertidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Berbeda dengan Ratu yang nampak pusing dan frustasi karena mendapatkan pernyataan cita dari dua laki laki sekaligus dalam waktu yang berdekatan justru tuan Randi berjingkrak kegirangan karena Ratu sudah menyetujui keinginannya dia sudah sangat tidak sabar menunggu waktu itu tiba.
"Aahhh..yes...yes.....yes...akhirnya ada kejelasan kapan dia akan menjawab perasaanku" ucap tuan Randi sambil berjingkrak kegirangan sendiri.
Meskipun dia tidak tau jawaban apa yang akan Ratu berikan padanya nanti, namun rasa percaya diri dalam dirinya tentu saja membuat tuan Randi tidak mengkhawatirkan hal itu.
"Hah, aku yakin dia pasti akan menerima perasaanku dan kita bisa menjalin hubungan yang bahagia hingga menikah dan memiliki keturunan aku sudah sangat menantikan semua itu, senang sekali bisa membayangkannya dari sekarang, itu meringankan banyak beban di pundakku" tambah tuan Randi berbicara sendiri sambil melanjutkan mengemasi barangnya ke dalam koper.
Malam itu tuan Randi bisa menikmati tidurnya dengan nyenyak tanpa banyak beban dalam kepala yang selalu menghantuinya setiap malam, dan untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia.
Sayangnya dia tidak bisa benar benar menikmati waktu istirahat yang sangat langka dan berharga seperti itu terlalu lama, waktu bergulir begitu cepat dan pagi mulai menyapa, tuan Randi sudah bersiap siap sejak pagi pagi buta dan dia segera berangkat ke bandara bersama sekretaris Han.
Mereka kini sudah mulai menaiki pesawat dan duduk di bangkunya masing masing sebelum mematikan ponselnya tuan Randi masih sempat mengingat untuk mengirim pesan pada Ratu terlebih dahulu.
"Ratu jangan lupa dengan janjimu semalam aku akan menagih janji itu nanti, pastikan kau tidak mengecewakanku, dan jangan lupa untuk terus merindukanku" isi pesan tuan Randi.
Ratu yang di jam segitu masih sibuk berkutik di dapur menyiapkan sarapan untuknya dan Mala tentu tidak sempat melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya, saat itu dia menyimpan ponsel tergeletak di atas meja makan begitu saja, dan saat sibuk menyajikan makan banyak sekali pesan masuk sehingga dering di ponsel begitu nyaring membuat Mala penasaran siapa saja yang mengirim pesan kepada kakaknya di waktu sepagi itu.
Diam diam Mala melihat ponsel kakaknya dan kebetulan pesan paling akhir dari tuan Randi, Mala langsung tersenyum curiga dan saat melihat nama tuan Randi tersemat paling atas dia hampir membuka pesan tersebut namun untunglah Ratu berhasil merampas ponsel itu dengan cepat sehingga Mala tidak sempat melihat isi pesan yang masuk.
__ADS_1
"Mala apa yang kamu lakukan mengintip pesan di ponsel orang lain, itu tidak sopan!" Ucap Ratu menasehati,
"Hehe....maaf kak, habisnya pagi pagi begini sudah banyak saja pesan yang masuk pada ponsel kakak, Mala jadi kepo maaf yah kak janji deh Mala tidak akan seperti itu lagi" jawab Mala meminta maa dan mengakui kesalahannya.
"Awas yah, lain kali jika kamu ketahuan seperti ini lagi kakak akan menghukummu dengan berhenti memberikan uang saku padamu" ancam Ratu agar membuat Mala jera,
"Ahh...jangan begitu dong kak, aku kan sudah janji tidak akan melakukannya" jawab Mala sambil memasang wajah memelas,
"Iya iya sudah ayo makan, kakak akan langsung bekerja, karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan kamu habiskan sarapan sendiri yah, jangan lupa jaga toko bunga dengan baik" ujar Ratu lalu langsung berpamitan.
Mala melambaikan tangannya pada Ratu dan kembali menikmati sarapannya seorang diri, lalu setelah beres sarapan Mala langsung pergi ke toko bunga dan mulai membuka toko lalu membereskan semua pot di sana, menatanya dengan rapih dan cantik sehingga bisa memikat banyak pembeli.
Sedangkan Ratu baru saja sampai di perusahaan Randi dan dia yang tidak sempat sarapan memutuskan pergi ke sebuah swalayan untuk memberi roti sebagai menu sarapannya, Ratu membawa sebungkus Roti tersebut dengan minuman botol yang dingin, Ratu memakannya di ruangan dia seorang diri sampai tiba tiba kedatangan Zidan mengagetkannya.
"Pak, ada apa anda sampai harus datang ke ruanganku?" Tanya Ratu dengan menutup mulutnya yang tengah mengunyah roti,
"Apa kamu sedang sarapan?, Kenapa tidak mengajakku?" Tanya Zidan sambil menatap sisa roti di meja Ratu.
Ratu langsung menyingkirkannya karena malu dia ketahuan sarapan di dalam ruangannya secara diam diam.
"Ahhh.... Maaf pak saya pikir anda tidak akan mau memakan sarapan murah seperti ini" jawab Ratu beralasan.
Padahal memang dia tidak berniat mengajak Zidan sarapan bersamanya, lagi pula kini hubungan mereka bukan sekedar sahabat saja melainkan rekan bisnis, seorang bos dengan sekretarisnya tentu Ratu juga harus bersikap profesional dan menjaga jarak agar tidak ada kesalah pahaman dengan karyawan lain jika dia terlalu dekat dengan Zidan.
Ratu bersikap seperti itu hanya untuk berjaga jaga dia tidak mau pengalamannya dahulu bersama tuan Randi terulang kembali dengan Zidan itu akan membuatnya sulit saat di tempat kerja.
Zidan juga sebenarnya paham dan tadi dia hanya menggoda Ratu saja dan penasaran dengan jawaban yang akan Ratu berikan padanya jika dia menanyakan hal itu.
"Ahaha...Ratu kamu ini serius sekali, dan kenapa terus berbicara formal padaku padahal hanya ada kita berdua di sini" jawab Zidan dengan tawa yang renyah,
"Maaf pak tapi meski di sini hanya ada kita berdua tapi ini masih lingkungan kantor kan jadi saya sudah sepantasnya memanggil anda bapak sebagai atasan saya dan bersikap profesional ketika bekerja, saya harap anda tidak tersinggung dan dapat mengerti maksud saya" ucap Ratu sambil membungkuk memberi hormat,
Lagi lagi Zidan hanya bisa menahan tawa ketika mendengar ucapan dan cara bicara Ratu yang masih terasa asing di telinganya, biasanya Ratu bersikap dan bicara begitu santai padanya bahkan dia hanya memanggil nama kepadanya meski tau usianya sedikit lebih tua dari Zidan.
"Ahhh...sudahlah silahkan lanjutkan sarapanmu kalau datang ke ruanganku ada beberapa urusan yang perlu kita bahas untuk rapat pagi nanti" ucap Zidan lalu pergi dari ruangan Ratu.
Ratu merasa sangat lega ketika Zidan sudah keluar dari ruangannya bahkan dia sampai berjalan mengikuti Zidan dan memastikan sampai Zidan benar benar masuk kembali ke dalam ruangannya barulah Ratu masuk lagi dan bisa duduk dengan tenang sambil menghabiskan sisa roti tadi.
Setelah selesai mengisi perut, Ratu langsung membereskan pakaiannya yang sedikit berantakan dan bersiap siap pergi ke ruangan Zidan.
"Ayo Ratu...semangat....." Ucap Ratu berseru menyemangati dirinya sendiri.
Setelah menghirup udara dengan panjang dan melepaskannya dengan lega Ratu langsung melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan Zidan.
"Pak.... Ini mengenai berkas materi yang nanti akan di bahas dengan perusahaan dari luar negeri untuk investasi proyek baru bersama perusahaan kita dan kerja sama langsung dengan perusahaan pak Steven" ucap Ratu sambil memberikan sebuah berkas dalam map biru,
Zidan mengambil map tersebut dan segera memeriksanya dia membaca dengan teliti dari awal hingga akhir baru setelahnya dia menandatangani berkas tersebut.
__ADS_1