
Suara ketukan pintu dari luar membuat nyonya Wulan langsung menutup laptop dan segera pergi menjauh dari meja kerja Randi lalu menyahut mempersilahkan masuk.
Saat pintu terbuka rupanya itu hanya sekretaris Han yang hendak mengambil beberapa berkas tertinggal di ruang tersebut, sekretaris Han sama sekali tidak merasa curiga ketika melihat laptop tuan Randi yang tadinya terbuka kini menjadi tertutup dan mati.
"Ehh... Kenapa laptopnya jadi tertutup?, Aneh. Ahh sudahlah tuan pasti sudah menungguku" gerutu sekretaris Han sambil segera mengambil file dan keluar dari sana.
Nyonya Wulan merasa lega karena dia tidak dicurigai dan dia pun segera kembali membenarkan laptop pada posisi semula hingga tidak meninggalkan jejak sedikitpun.
*****
Di sisi lain Ratu yang nampak begitu canggung ketika berhadapan dengan Zidan karena dia sudah menolak Zidan sebelumnya.
Kini Ratu harus menemani Zidan meeting dan semua pekerjaan berjalan dengan lancar hari ini adalah harus yang begitu bagus karena Zidan mendapatkan keberuntungan dengan berhasil mendapatkan investor terbesar bagi proyek terbarunya yang digarap bersama dengan Steven.
Meeting barusan tidak hanya dihadiri oleh Ratu dan Zidan namun Steven juga hadir di sana begitupun beberapa pemimpin perusahaan lain yang bekerja sama dalam proyek tersebut.
Setelah meeting selesai dan berjalan lancar Steven begitu puas dan dia nampak penuh semangat sampai mengajukan ide untuk merayakan keberhasilan mereka dalam bisnis saat ini.
"Ahhh...akhirnya kita berhasil menarik investor terbesar, aku sangat lega sekarang" ucap Steven sambil tersenyum puas,
"Jangan puas lebih awal kau masih harus terus meninjau proyek tersebut jangan sampai mengecewakan para investor!" Ucap Zidan dengan serius.
"Eh....Zidan bagaimana kita rayakan keberhasilan ini dengan makan malam bersama jangan lupa kau juga ajak Oma Rika makan bersama kita, aku juga sudah lama tidak bercengkrama dengan Oma mu" ucap Steven mengutarakan ide nya,
Zidan tiba tiba menatap Ratu dengan tatapan yang canggung dan Steven kebingungan melihat mereka yang saling tatap dengan canggung tanpa berkata sedikitpun satu sama lain.
"Ehh...kalian ini kenapa?, Aku perhatiin sepertinya kalian tidak saling menegur sejak tadi, apa kalian bertengkar?" Tanya Steven sambil kebingungan sendiri,
__ADS_1
"Tidak, kita tidak bertengkar" ucap Ratu dan Zidan yang menjawab ucapan Steven secara bersamaan,
"Aish....kenapa kalian harus sekompak itu menjawab pertanyaanku, bikin aku kesal saja!" Jawab Steven yang cemburu,
"Sudahlah Steven terserah kau saja, mari kita rayakan di restoran biasa nanti aku akan ajak Oma bersamaku" ucap Zidan sambil langsung berlenggang pergi tanpa berkata apapun pada Ratu.
Ratu juga merasa sedikit sedih karena tiba tiba saja sikap Zidan kepadanya berubah semenjak kejadian penolakkan darinya saat itu.
Ratu hanya bisa menarik nafas panjang dan membuangnya sekaligus, dia tertunduk lesu dan berpamitan pergi ke pada Steven untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Haaah...saya juga harus kembali bekerja, permisi kak" ucap Ratu berpamitan.
Saat hendak pergi Steven menahan lengan Ratu dan Ratu kaget sambil menatap lengannya yang dipegangi oleh Steven secara tiba tiba, Steven pun menyadari tatapan Ratu dan segera melepaskan genggamannya.
"Ahh...maaf aku cuman mau tanya apa kamu juga akan datang di acara perayaan nanti malam?" Tanya Steven pada Ratu sambil meminta maaf,
"Loh, kenapa Ratu apa karena kamu dan Zidan sedang ada masalah?, Kenapa kalian sangat aneh hari ini?" Ucap Steven bertanya dengan dugaan yang dia rasakan,
"Tidak kok kak, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pak Zidan, hanya saja saya harus menyiapkan untuk acara wisuda Mala ke esokannya, saya juga akan meminta cuti untuk besok kepada pak Zidan karena harus menemani Mala sebagai walinya di kampus" jawab Ratu mengatakan alasannya dengan jujur.
"Oh begitu ya, sayang sekali tapi syukurlah kalau ternyata itu bukan karena Zidan" jawab Steven merasa lega.
Ratu pun melanjutkan jalannya dan pergi menuju ruang kerja dia.
Meski dia memang sudah berencana akan cuti namun sejujurnya Ratu bisa saja hadir dalam acara perayaan malam ini namun mengingat sikap Zidan yang menjadi dingin kepadanya Ratu merasa tidak enak dan dia pikir harus memberikan waktu untuk Zidan.
"Apa penolakkanku padanya semenyakitkan itu untuk Zidan?, Kenapa kini aku justru merasa bersalah kepadanya padahal aku sudah menjelaskan semuanya dengan sangat halus, hmm" gerutu Ratu sambil duduk dengan lesu di bangku ruang kerjanya.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Zidan yang biasanya selalu sering memanggil Ratu dan meminta bantuan untuk membantunya merapihkan berkas atau sekedar menyedihkan kopi kini tidak ada satu perintah pun yang Ratu dapatkan dari Zidan.
Hal itu semakin membuat Ratu heran dan kebingungan dia ingin datang menemui Zidan menanyakan masalah ini sekaligus meminta izin cuti kepadanya untuk besok, namun rasanya Ratu ragu dan takut untuk pergi menemui Zidan, dia hanya takut kedatangannya semakin membuat Zidan sakit hati dan teringat akan kejadian di danau saat itu.
Ratu memang tidak menyukai Zidan melebihi kasih sayang seorang sahabat ke pada sahabat baiknya, tapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia memang sangat mengkhawatirkan Zidan saat ini.
Ratu sadar dia tidak bisa terus diam saja dan membiarkan hubungannya semakin renggang dengan Zidan, dia pun memberanikan diri pergi menemui Zidan dan saat masuk ke dalam ruangan itu, semangat menggebu di dalam hati Ratu sebelumnya tiba tiba saja hilang ketika dia sudah melihat wajah Zidan yang murung.
"Asihh....kenapa harus begini, saat melihat wajahnya semangat dan kepercaya dirianku tiba tiba saja menghilang, sekarang harus bagaimana menghadapinya" gumam Ratu sambil berjalan pelan dengan gugup menghadap Zidan di depan meja kerjanya.
Lama Ratu hanya berdiri saja di depan Zidan yang hanya terhalang meja, dan saat itu Zidan juga diam karena dia tengah sibuk menatap layar laptop di hadapannya hingga tidak menyadari jika orang yang menghadapnya saat itu adalah Ratu.
Sampai beberapa saat ketika Zidan merasa mulai aneh karena orang di hadapannya tidak kunjung bicara padanya dia pun mengangkat kepala dan melihat Ratu yang berdiri tertunduk di depannya.
"Ratu, aku pikir orang lain. Ada apa menemuimu saat ini aku belum membutuhkan bantuanmu" ucap Zidan secara langsung,
"Ah... Bukan itu pak saya kemari hanya untuk meminta izin cuti besok" jawab Ratu langsung mengutarakan niatnya,
Zidan langsung membuka matanya lebar dan dia sangat kaget ketika mendengar Ratu izin cuti untuk pertama kalinya, selama ini dia pikir Ratu sangat menikmati bekerja bersamanya sehingga hal itu yang membuat Zidan heran.
Sebenarnya saat itu, Zidan ingin menanyakan alasan Ratu mengambil cuti untuk esok hari namun rasa gengsi dan pertahanan dirinya lebih kuat dari pada ke ingin tahuan dia sehingga dia pun tidak berani untuk menanyakannya langsung ke pada Ratu saat itu.
"E..eu...ya sudah, saya mengijinkanmu dan kamu bisa cuti besok, hanya satu hari kan" jawab Zidan sambil kembali berpura pura fokus dan bekerja pada laptopnya.
Padahal saat itu pekerjaannya sudah selesai, hanya saja dia terus berpura pura sibuk karena masih belum siap menatap Ratu dan berkomunikasi dengan dia seperti sebelumnya.
Rasanya Zidan merasa sangat malu ketika bertemu Ratu apalagi berbicara dengannya dia sungguh berniat untuk merelakan Ratu untuk Randi namun tiap kali menatap Ratu keinginan Zidan untuk memilikinya seakan tidak bisa dia tahan.
__ADS_1
Itulah yang membuat Zidan memilih untuk menjaga jarak lebih dulu dengan Ratu, agar dia bisa benar benar melupakan Ratu dan merelakannya untuk orang yang juga dicintainya.