PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Mencari Pekerjaan


__ADS_3

Ratu menarik nafas panjang dan dia menatap lekat kepada Mala sambil memegangi kedua pundaknya erat, barulah dia mulai bicara dan mengatakan semuanya.


"Mala...dia menyukai kakak, dia mengutarakan perasaannya pada kakak, kakak bisa melihat bahwa sorot matanya serius dan dia sangat tulus, tapi...." Ucap Ratu tertahan.


Mala membantu Ratu untuk duduk di kursi dan barulah dia kembali bertanya pada Ratu.


"Tapi apa kak?, Lalu apa jawaban kakak kepadanya?" Tanya Mala semakin penasaran,


"Kakak...tidak memberikan jawaban apapun padanya, jangankan untuk menjawabnya lidah kakak tiba tiba saja kelu dan tidak bisa digerakkan dia mengatakannya secara tiba tiba bagaimana kakak tidak kaget" jawab Ratu dengan ekspresi yang begitu kebingungan.


Mala langsung merasa lega dan menyandarkan tubuhnya di kursi dia sangat senang karena Ratu tidak membalas tuan Randi dengan jawaban yang akan membuatnya menyesal kemudian hari.


"Bagus kak kalau begitu, dan sebaiknya kakak harus memikirkan masalah tawarannya dengan baik" ucap Mala memberitahu,


"Iya tentu saja kakak aku memikirkannya, meski tidak di pikirkan juga tetap akan kepikiran, kepala kakak jadi pusing begini" ujar Ratu dengan memegangi kepalanya.


Bagaimana Ratu tidak pusing jika tiba tiba tuan Randi menyatakan perasaan kepadanya dan membujuk dia agar kembali bekerja bersamanya, Ratu sungguh tidak bisa membayangkan jika dia menerima perasaan tuan Randi dan kembali tinggal berdua bersamanya itu pasti akan membuat hubungan mereka canggung dan tidak nyaman.


Selain itu Ratu juga takut tuan Randi kembali melakukan kesalahan yang membuatnya lebih sakit hati dari sekarang, Ratu juga harus memastikan perasaannya sendiri apakah dia menyukai tuan Randi juga atau tidak.


Karena semenjak Zidan mengutarakan perasaan padanya lebih dulu dari tuan Randi kini rasanya hati Ratu terbelah dua di sisi lain dia bisa saja menerima tuan Randi dan memilih tetap tidak bekerja di perusahaan namun bagaimana dengan Zidan dia yang selama ini selalu membantunya dan menjadi pelindung baginya tidak mungkin Ratu menyakiti hatinya dengan menerima tuan Randi.


Mala terus menatap Ratu yang termenung begitu lama, meski Mala memahami kalau kakaknya itu tengah galau tapi dia merasa sedih melihat kakaknya melamun dan murung seperti itu.


"Kak....ayo bicara padaku, jangan berpikir keras sendirian, siapa tau aku bisa memberikan solusi untuk kakak" ucap Mala menawarkan diri,


Ratu pun memilih untuk membagi kegundahan hatinya dengan Mala dan dia meminta pendapat dari Mala.


"Mala menurutmu siapa yang lebih cocok dengan kakak diantara tuan Randi dan Zidan?" Tanya Ratu membuat Mala terkejut.


"Kenapa kakak jadi membahas kak Zidan?, Jangan bilang kalau kak Zidan juga menyatakan perasannya pada kakak?" Ucap Mala menebak,


"Iya itu benar, beberapa hari lalu Zidan juga sudah mengutarakan perasaannya pada kakak tapi kakak sama sekali tidak pernah menanggapi semuanya, karena kakak pikir hubungan kakak dengan Zidan hanyalah sahabat sejak lama kakak tidak mau jika nanti kakak bersamanya persahabat kakak dengannya justru malah hancur, itu yang kakak takutkan" jawab Ratu dengan lesu,


"Kak...aku rasa kakak sepertinya juga menyukai kak Zidan" jawab Mala membuat Ratu kaget dan langsung gugup,


"A..apa..yang kamu bicarakan, tidak mungkin kakak menyukainya" jawab Ratu mengelak.


"Kak...berhenti membohongi perasaan kakak sendiri, kakak tidak mau menyesal kan jadi pilihlah diantara mereka yang memang kakak merasa nyaman ketika di dekatnya" ucap Mala memberikan pengertian.


Ratu diam sejenak dan dia memikirkan setiap momen ketida dia bersama Zidan Randi, ketika bersama Zidan dia bisa menjadi dirinya sendiri, dan dia bisa dengan leluasa meminta bantuan darinya, Zidan juga selalu ada di saat dia sulit dan tidak pernah membuatnya kesal atau menangis.


Sedangkan ketika dia berada di dekat tuan Randi jantungnya terasa berdebar lebih cepat dari biasanya dia terkadang merasa gugup dan malu saat tuan Randi menatapnya dengan lekat, tapi setiap kali mereka dekat selalu da masalah yang timbul entah dari sekretaris Han ataupun keluarga tuan Randi.


Ratu terus memikirkan masalah itu hingga kepalanya pusing dan terasa hampir meledak.


"Arghh.....sudahlah Mala kakak tidak mau memikirkannya lagi, terserah akan seperti apa nanti jadinya, kakak harus tidur sekarang" ucap Ratu dengan frustasi dan masuk ke dalam kamar.


Mala hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat karena dia juga merasa kasihan pada kakaknya itu tapi dia juga tidak bisa membantu apapun.


Meski sebenarnya Mala tau kalau kakaknya Ratu lebih condong menyukai tuan Randi tapi di mata Mala kak Zidan adalah yang tepat bagi kakaknya, selama ini yang Mala lihat Ratu lebih banyak terluka di banding bahagia ketika bersama tuan Randi namun ketika ada Zidan di sampingnya itu selalu membuat Ratu jauh lebih baik.


Mala juga merasa jika kakaknya bersama Zidan itu akan aman dan dia tidak perlu mencemaskan apapun berbeda dengan ketika Ratu bersama tuan Randi, Mala selalu merasa cemas dan penuh ketakutan terlebih sekretaris Han yang selalu mengganggu kakaknya.


Entahlah sekretaris Han itu memihak tuan Randi atau justru malah menjadi musuh bosnya sendiri karena dia selalu merasa tidak senang ketika tuan Randi mendekati Ratu.


"Aish....kenapa aku juga ikut ikutan pusing memikirkannya, sudahlah tidur dan berharap esok akan lebih baik" ucap Mala menggerutu sendiri dan ikut masuk ke kamarnya.


Malam itu Ratu tidur sangat larut karena ketika sudah masuk ke dalam kamar dia tetap tidak bisa berhenti memikirkan ucapan tuan Randi kepadanya.


Saking kepikirannya Ratu bahkan lupa kalau dia harus mengurusi tanaman bunganya dia bangun kesiangan dan saat sadar ternyata Mala sudah tidak ada di rumah.


"Aduh...Mala kemana?, Tidak mungkin dia ke kampus sebentar lagi kan dia wisuda dia juga sudah mendapatkan kelulusannya" ucap Ratu menggerutu sendiri dan kebingungan.


Ratu segera membersihkan dirinya dan saat selesai Mala sudah kembali ke rumah dengan membawa banyak belanjaan di tangannya, Ratu kaget dan langsung menghampiri Mala.


"Mala darimana saja kamu pagi pagi sudah tidak ada di rumah?" Tanya Ratu penasaran,


"Aku membeli makanan dan ini kak untuk nanti di acara wisuda" jawab Mala sambil memperlihatkan beberapa barang yang dia beli.


Ratu mengambil makanan yang Mala beli dan menaruhnya ke atas piring, merekapun sarapan bersama dan menikmati dengan penuh keceriaan, sampai Ratu mulai membicarakan hal serius dengan Mala.


"Mala karena sebentar lagi kamu wisuda, apa rencana yang sudah kamu buat untuk kedepannya?" Tanya Ratu,


"Mala sudah mempersiapkan beberap lamaran kak, nanti siang Mala akan pergi melamar pekerjaan pada beberapa perusahaan" jawab Mala memberitahu,


Tiba tiba saja sebuah ide muncul dalam kepala Ratu dan dia langsung mengatakannya pada Mala karena ide nya itu bersangkutan dengan Mala.


"Mala bagaimana kalau kamu saja yang menerima tawaran kerja dari tuan Randi, bukankah perusahaan impianmu adalah perusahaan Atmaja, apalagi perusahaan yang di pimpin tuan Randi adalah perusahaan pusat" ucap Ratu memberikan usulannya,


"Ahaha....bagaimana aku bisa bekerja di sana kak, kakak saja tidak mau kan bekerja di sana, lagi pula aku tidak papa kalo tidak bekerja di sana, masih banyak perusahaan lain kan" jawab Mala menolaknya,


"Mala jangan bicara begitu, kakak memang tidak ingin bekerja di sana karena itu bukan impian kakak, berbeda denganmu kamu sangat menginginkannya sejak dulu maka kamu harus mengusahakannya, meski di sana tidak ada lowongan baru tapi tuan Randi sendiri membutuhkan asisten untuk membantunya, kamu harus mau ini kesempatan besar untukmu" ucap Ratu yang begitu antusias,


"Kak bolehkan aku bekerja dengan kak Zidan saja, rasanya bekerja di sana jauh lebih menyenangkan dan bersahaja bukan" jawab Mala yang masih menolak untuk bekerja dengan tuan Randi.


"Mala dengarkan kakak, kamu kuliah untuk mengejar mimpimu setelah kesempatan datang apa kamu akan menyia nyiakannya hanya karena ada hal pribadi?, Kamu harus belajar profesional karena semua itu bersangkutan dengan mimpimu, kakak akan berusaha bicara pada tuan Randi untukmu" ucap Ratu membujuk Mala lagi,


"Baiklah tapi aku melakukan semua ini demi kakak bukan karena mimpiku aku sudah tidak memimpikan perusahaan itu lagi" jawab Mala yang masih enggan mengakuinya,


"Baiklah iya, kalo gitu kakak akan mengatur pertemuan dengan tuan Randi" jawab Ratu dengan senang.


Akhirnya usaha Ratu dalam membujuk Mala tidak sia sia, meski butuh banyak proses agar Mala mau melakukannya tapi semua usaha itu terbayarkan karena Mala mau melakukan semua itu, meski Ratu tau pada akhirnya pasti akan ada sekretaris Han sebagai penghalang dari rencananya namun mengingat semua ini adalah impian Mala, Ratu akan memperjuangkan semua itu apapun caranya melebihi dia memperjuangkan keinginan dan mimpinya sendiri.

__ADS_1


Ratu mengirimkan sebuah pesan singkat pada tuan Randi secara langsung dan tuan Randi begitu senang saat pertama kali mendapatkan pesan dari Ratu karena dia pikir Ratu sudah menjawab pertanyaan darinya.


"Ahaha...aku yakin dia tidak bisa menolak pesonaku" ucap tuan Randi dengan penuh percaya diri.


Sampai saat dia membuka pesan itu dan membacanya perlahan dia mulai semakin penasaran dan dia sangat percaya diri pada dirinya sendiri yang begitu antusias dan penuh semangat saat mendapatkan pesan itu sebelumnya.


"Tuan...bisakah kita bertemu di restoran biasa, ada yang ingin aku bicarakan padamu" isi pesan dari Ratu yang membuat tuan Randi semakin bersemangat dan begitu bahagia.


Mendapatkan pesan itu dari Ratu, tuan Randi langsung tersenyum lebar hingga membuat sekretaris Han hampir gila karena melihat tingkah tuannya sendiri yang sering berubah rubah dalam beberapa waktu yang singkat.


"Tuan sekarang aku mulai takut denganmu" ucap sekretaris Han merinding ngeri,


"Haha...Han aku sedang bahagia sekarang batalkan meeting nanti siang dan kita akan pergi ke restoran biasa, persiapkan semuanya dengan baik akan ada kejutan besar untukku" ucap tuan Randi yang begitu percaya diri bahwa Ratu akan menerima tawarannya.


Saat itu tuan Randi mengira kalau Ratu akan menerima cintanya dan akan kembali berada di sampingnya, maka dari itu dia begitu antusias dan penuh semangat mempersiapkan diri juga tempat pertemuan mereka.


Tanpa dia ketahui padahal Ratu hanya ingin membicarakan mengenai lowongan pekerjaan untuk Mala agar dia bisa bekerja di perusahaan itu.


Sepanjang waktu tuan Randi terus tersenyum pada semua orang yang dia temui dan dia sudah tidak sabar menunggu waktu siang untuk menemui Ratu.


Hingga saat waktunya tiba tuan Randi langsung berpakaian sangat rapih dan modis dia juga menyuruh sekretaris Han untuk memesan ruangan VIP di restoran tersebut untuk pertemuannya dengan Ratu, bahkan sekretaris Han sedikit kesal karena dia merasa Ratu tidak penting lagi bagi perusahaan.


"Huuh...apa bagusnya sih wanita lemah seperti Ratu, kenapa tuan Randi begitu menyukainya" gerutu sekretaris Han yang masih terus uring uringan sendiri.


Sekretaris Han sudah menyelesaikan semua yang di minta tuan Randi dan kini mereka pergi ke restoran dan menunggu kedatangan Ratu di sana, tak lama Ratu datang bersama Mala dan dia di sambut dengan hangat oleh pelayan restoran sesuai dengan perintah dari sekretaris Han sebelumnya.


Saat pertama kali mendapatkan pelayanan yang begitu luar biasa tentu saja Ratu dan Mala merasa bingung mereka saling tatap satu sama lain karena kebingungan namun terus mengikuti pelayan tersebut hingga semua kebingungan mereka berdua terbayar ketika melihat tuan Randi yang duduk di salah satu meja.


"Ratu...kamu sudah sampai, silahkan duduk" ucap tuan Randi menarik kursi untuk Ratu.


Di sana hanya ada dua kursi yang satu di duduki oleh tuan Randi dan yang satunya oleh Ratu, sedangkan Mala hanya bisa berdiri bersampingan dengan sekretaris Han, keadaan mereka saat itu lebih mirip seorang penjaga satu sama lain.


Tapi Ratu juga tidak bisa berbuat apapun karena itu sudah pilihan dari tuan Randi jadi dia menghargainya.


"Tuan kenapa anda memilih tempat ini untuk pertemuan kita, saya kan sudah bilang bahwa saya datang dengan Mala" ucap Ratu menanyakan,


"Mala bisa duduk di meja lain bersama sekretaris Han jadi apa masalahnya" jawab tuan Randi sambil memberikan kode pada sekretaris Han agar membawa Mala pergi dari sana.


Sekretaris Han pun langsung menarik Mala dan membawanya dengan paksa menuju salah satu meja lain yang tak jauh dari tuan Randi dan Ratu.


"Mala ayo kita akan menunggu mereka selesai bicara di sana, Ratu kamu tenang saja aku akan menjaga adikmu hehe" ucap sekretaris Han berpura pura ramah.


Mala ingin memberontak tapi dia tidak bisa melakukannya karena di sana banyak pengunjung lain yang bisa membuat dia malu jika membuat keributan.


Saat sudah duduk bersama sekretaris Han barulah Mala menggerutu kesal dan menatap dengan tajam pada sekretaris Han tanpa berkedip sedikitpun.


"Heh...kenapa kau malah menarikku, aku lebih baik berdiri di sana dari pada duduk di sini dengan orang sepertimu!" Bentak Mala dengan kesal,


"Kalau kau tidak mau, silahkan kembali ke sana maka kau hanya akan mengacaukan rencana tuan Randi" ujar sekretaris Han.


"Oke aku akan tetap di sini bersamamu, tapi aku akan terus memperhatikan kakakku, jangan harap tuan mu itu bisa mencelakainya!" Ucap Mala memperingati,


"Heh...lagi pula tuan Randi itu menyukai kakakmu mana mungkin dia melukainya, apa kau ini buta?" Jawab sekretaris Han nampak begitu sinis.


Mala mengabaikan ucapan sekretaris Han dan dia terus menatap dengan tajam ke meja yang di duduki oleh Ratu bersama tuan Randi nampak di sana Ratu mulai mengeluarkan pembicaraan lebih dulu.


"Tuan sebenarnya saya mengajak anda bertemu bukan untuk menjawab pertanyaan anda kemarin, masalah itu saya rasa, saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk memutuskannya" ucap Ratu berkata jujur,


Mendengar itu tuan Randi langsung berubah menjadi lesu karena pada awalnya dia begitu penuh keyakinan kalau Ratu akan menjawab pernyataan dia sebelumnya dan ternyata dugaan dia salah jadi wajar baginya jika kecewa pada ekspektasi dirinya sendiri.


"Lalu kalau bukan masalah itu, apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya tuan Randi penasaran,


"Ini masalah Mala, bisakah Mala menggantikanku untuk bekerja di perusahaanmu, dia pasti mau bekerja sebagai apapun, aku janji dia akan bersikap lebih baik lagi terhadapmu dan sekretaris Han" ucap Ratu menjelaskan semua maksud dan tujuannya,


Tuan Randi membelalakkan matanya lebar, dia kaget dan tidak menyangka ternyata Ratu ingin menemuinya hanya demi hal tidak penting seperti itu, bahkan dia sudah rela membatalkan meeting penting dengan klain hanya demi menemui Ratu, tapi yang dia dapat hanya pembicaraan yang menyebalkan.


Tuan Randi langsung berubah drastis wajahnya yang berseri dan penuh semangat langsung berubah masam dan murung rasa tidak senang dalam hatinya sangat tergambar jelas dan Ratu menyadari perubahan sikap tersebut dengan baik.


"Tuan.....jadi bagaimana, apa kamu mau menerima Mala untuk bekerja denganmu?" Tambah Ratu kembali bertanya,


"Tentu saja tidak, yang aku mau itu kamu, bagaimana bisa digantikan oleh orang lain, sekalipun dia adikmu aku tetap tidak bisa terlebih lagi dia selalu bertengkar dengan sekretaris Han, apa kamu pikir mereka bisa menyelesaikan tugas bersama jika hubungan diantara mereka separah itu" ucap tuan Randi menolaknya dan menunjuk ke arah Mala dan sekretaris Han yang duduk berjauhan dan saling tatap seperti musuh besar.


Ratu menepuk jidatnya pelan, dia sadar memang Mala tidak bisa berbaikan dan akur dengan sekretaris Han tapi dia harus berusaha untuk Mala agar bisa bekerja di perusahaan impiannya.


Ratu hanya ingin mewujudkan keinginan adik kecilnya dan membuat dia selalu merasa bahagia, satu satunya cara adalah dengan memberikan pekerjaan yang memiliki masa depan cerah bagi Mala agar kelak saat dia sudah tidak ada Mala bisa menjalani hidupnya dengan baik, bahkan lebih baik dari kehidupannya ketika bersama dia selama ini.


Ratu tidak menyerah dan dia kembali memohon kepada tuan Randi agar bisa menerima Mala untuk bekerja di perusahaannya.


"Tuan saya mohon, tolong berikan Mala kesempatan lagi pula tidak mungkin untuk aku kembali lagi bekerja di sana lagi, jadi aku ingin Mala menggantikanku aku yakin semakin lama Mala dan sekretaris Han akan berbaikan mereka bisa menjadi rekan yang luar biasa suatu saat nanti" ucap Ratu berusaha membujuk tuan Randi.


Randi menatap lekat pada Ratu dan dia merasakan kesungguhan yang diminta oleh Ratu demi adiknya namun dia hanya takut sekretaris Han akan merasa tertekan jika dia menerima Mala sebagai asisten pribadinya menggantikan Ratu.


"Maaf Ratu tapi aku tetap tidak bisa, jabatan itu hanya cocok untukmu saja selebihnya aku tidak memerlukan seorang asisten dari pada harus orang lain yang melakukannya, kecuali kalau Mala mau bekerja di departemen mungkin di sana ada lowongan sebaiknya kamu cari tau sendiri saja dan biarkan adikmu itu berusaha sama seperti pelamar kerja lainnya" ucap tuan Randi yang tetap dengan pendirian pertamanya.


Ratu pun menyerah dia tidak bisa lagi membujuk tuan Randi dan membantu Mala mendapatkan pekerjaan yang baik untuknya namun Ratu akan lebih berusaha lagi.


"Baiklah jika itu keputusanmu, tapi jika nanti Mala berhasil melamar ke perusahaanmu tolong jangan persulit dia hanya karena dia adalah adikku, dan tolong jangan menilai dia berlebihan dia tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan diantara kita" ujar Ratu dengan tegas,


"Kau bisa mempercayaiku soal itu, tapi aku tidak tau dengan sekretaris Han, karena dialah yang akan mengurus masalah karyawan baru nantinya mungkin dia juga akan hadir sebagai penyeleksi wawancara para calon karyawan baru, sebaiknya kamu memohon padanya bukan padaku" jawab tuan Randi lalu pergi meninggalkan Ratu begitu saja.


Saat itu sekretaris Han langsung berlari menyusul tuannya dan mereka pergi begitu saja, Mala segera menghampiri Ratu yang nampak diam termenung setelah kepergian tuan Randi.


"Kakak....ada apa?, Apa pembicaraannya tidak berjalan baik?" Tanya Mala menduga duga,

__ADS_1


"Tidak papa hanya saja kakak rasa tuan Randi sedikit kesal dengan kakak mungkin karena kakak belum menjawab pertanyaannya" jawab Ratu menceritakan.


Mala pun mengibur Ratu dan mengajaknya untuk pulang dan beristirahat, setelah melihat Ratu yang diperlakukan seperti tadi oleh tuan Randi, rasanya Mala merasa tidak terima meski dia tidak bisa mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi saat Ratu dan tuan Randi bicara di restoran tadi, namun ekspresi wajah Ratu sudah bisa mengartikan semuanya.


Mala bisa memahami semuanya dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan melibatkan kakaknya Ratu untuk mengurusi masalah pekerjaan dan mimpinya.


"Mulai sekarang aku akan berani mengejar mimpiku sendiri, aku tidak akan membuat kakak sedih lagi" ucap Mala bertekad pada dirinya sendiri.


Karena gagal meminta bantuan tuan Randi dan membujuknya agar mau menerima Mala akhirnya Ratu pun mengajak Mala kembali pulang ke rumah dan mereka sama sekali tidak banyak berbicara setelah pulang dari restoran.


Sedangkan tanpa diketahui oleh Ratu Mala sudah mengirimkan lamaran pekerjaan ke perusahaan tuan Randi dan beberapa perusahaan besar lainnya secara diam diam, sebenarnya sejak awal Mala sudah tau kalau perusahaan tuan Randi tengah mencari karyawan yang bersedia di tempatkan di departemen arsip sehingga Mala memutuskan untuk melamar pekerjaan itu.


Ratu merasa sedikit sedih karena dia gagal membantu adiknya agar bisa bekerja di perusahaan yang dia impikan sejak lama.


"Ahhh...aku tau bagaimana perasaan Mala sekarang, pasti dia sedih maafkan kakak yah Mala kakak tidak berguna" ucap Ratu dengan menunduk lesu duduk di ranjang kamarnya.


Saat itu Mala tak sengaja mendengar gerutuan Ratu dan dia langsung menerobos masuk ke dalam kamar lalu memeluk Ratu dari samping.


"Kakak...apa yang kau bicarakan, aku sangat bahagia dan bersyukur memiliki kakak sepertimu, kenapa kau merasa gagal menjadi kakakku kau itu kakak terhebat di dunia jadi tolong jangan bicara seperti itu, jangan terlalu mencemaskanku aku sudah dewasa aku akan menentukan jalanku sendiri" ucap Mala sambil tersenyum hangat,


Ratu mengusap lembut kepala Mala dia sangat senang setidaknya dia tau kalau Mala tidak terlalu merasa sedih mungkin hanya Ratu yang terlalu mencemaskan adiknya itu.


"Ya sudah ayo kita makan bersama, dan besok kakak akan membantumu mencari pekerjaan di tempat lain" ucap Ratu kembali bersemangat,


"Eh tidak perlu kak, aku sudah memasukkan banyak sekali lamaran ke berbagai perusahaan lewat email, jadi aku tinggal menunggu kabar baiknya saja" jawab Mala membuat Ratu kaget dan tak percaya,


"Mala apa kau benar adikku, aaahhh kamu ini sangat cerdas...kalau tau begini kakak tidak perlu memohon pada pria menyebalkan itu seperti tadi, itu sangat melukai harga diri kakak" ucap Ratu dengan wajah yang sedikit ditekuk.


Mereka tertawa bersama dan Ratu tidak mengkhawatirkan lagi mengenai Mala ketika dia sudah wisuda nanti, Ratu juga sedang berusaha mengumpulkan uang untuk acara wisudanya nanti, namun karena Ratu masih memiliki sedikit tabungan dia bisa sedikit bersantai.


"Kakak...jika aku bekerja nanti bagaimana denganmu?, Apa yang akan kamu lakukan kedepannya?" Tanya Mala yang mulai mencemaskan kakaknya,


"Kakak akan membuka kembali toko bunga kita, ya meskipun tidak akan sebesar sebelumnya tapi mungkin pendapatan dari sana bisa sedikit menambah biaya hidup kitu untuk beberapa saat, kakak juga masih ada sedikit tabungan untuk acara wisudamu, kamu pakai yah" ucap Ratu sambil memberikan uang itu pada Mala.


"Kak....apa apaan ini aku sudah membayar semuanya jadi kakak ambil kembali uang ini, kakak hanya perlu datang sebagai wali dariku jangan memikirkan apapun lagi semuanya sudah aku bereskan sejak lama" jawab Mala sambil tersenyum dan mengembalikan uangnya pada Ratu.


Ratu terdiam dan dia merasa bingung dari mana Mala mendapatkan uang untuk wisudanya sedangkan yang Ratu tau Mala sama sekali tidak bekerja dan setiap hari sibuk kuliah dan mengurus ladang bunga bagaimana dia bisa menghasilkan uang untuk membayarnya, Ratu pun segera menanyakan keresahan dalam hatinya pada Mala saat itu juga.


"Mala tunggu, dari mana kamu mendapatkan uangnya?" Tanya Ratu menaruh kecurigaan,


"Tentu saja hasil menjual bunga habisnya dari mana lagi" jawab Mala dengan santai sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya,


Ratu kaget dan tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Mala.


"Menjual bunga?, Maksudmu bagaimana?, Jadi selama ini kamu menjual bunga tanpa sepengetahuan kakak, lalu bagaimana dengan kuliahmu Mala?" Tanya Ratu mulai salah paham.


Mala menghentikan makannya dan menelan semua makanan di mulutnya sebelum dia menjelaskan semuanya pada Ratu.


"Bukan kak, aku hanya menjual bunga pada teman teman kampusku, mereka yang memesan rangkaian bunga padaku meski awalnya aku tidak niat jualan tapi setelah aku pikir lagi rasanya sayang jika ditolak, ya sudah aku membuatkannya untuk mereka, eh ternyata teman yang lain juga tertarik akhirnya aku jualan di kampus, dan rektor juga tidak keberatan dengan itu, jadi semuanya aman aman saja" jawab Mala menjelaskan dengan santai.


Akhirnya Ratu bisa menghembuskan nafas lega karena ternyata Mala tidak seperti yang dia pikirkan sebelumnya.


"Ahh....syukurlah kalau begitu, kakak kita kamu menjual bunga dengan berkeliling dan tidak kuliah" ucap Ratu mengucapkan ketakutannya,


"Aku tidak mungkin melakukan itu, karena aku tau kakak tidak akan mengijinkannya" jawab Mala yang sudah mengerti,


"Yah....baguslah kamu benar benar sudah desawa kakak senang mendengarnya" jawab Ratu dengan bahagia.


Di sisi lain tuan Randi yang marah besar dan merasa kesal sepulang dari pertemuannya dengan Ratu dia bahkan menunggu Ratu menghubunginya yang tak kunjung datang juga, hal itu membuat tuan Randi semakin jengkel dan dia terus membuat semua karyawan mengulang kembali semua laporan yang sudah dibuat.


"Arghhh.....bagaimana bisa dia mengabaikan pernyataan ku dan malah meminta agar adiknya yang menggantikan, aku itu butuh dia bukan adiknya...." Bentak tuan Randi sambil berjalan mondar mandir di depan meja kerjanya dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


Sekretaris Han yang sudah tidak aneh melihat pemandangan itu dia hanya bisa duduk sambil menghembuskan nafas kasar berkali kali.


"Han....apa kau hanya bisa diam membisu begitu, bantu aku pikirkan bagaimana caranya agar Ratu mau kembali ke sampingku" ucap tuan Randi meminta bantuan sekretaris Han,


"Maaf tuan tapi anda tau saya tidak menyukainya bagaimana saya bisa membantu anda dalam hal ini, saya tidak bisa" jawab sekretaris Han menolak,


"Aishh....dasar kau aku ini bosmu kenapa kau tidak menuruti perintahku, keterlaluan" jawab tuan Randi sambil mengurut dahinya merasa pusing.


Dalam situasi genting seperti itu justru nyonya Wulan malah menelpon sekretaris Han di waktu yang tidak tepat saat itu ponsel sekretaris Han yang ditaruh diatas meja bergetar dan berbunyi hingga membuat tuan Randi tidak sengaja melihat nama nyonya Wulan yang melakukan panggilan pada sekretaris Han.


Melihat itu tuan Randi langsung mengerutkan kedua alisnya bersamaan dan dia menatap ke arah sekretaris Han dengan penuh kecurigaan karena tidak biasanya ibu dia berhubungan dengan sekretaris Han.


Sekretaris Han yang melihat itu dia terburu buru mengambil ponselnya dan belum sempat mematikan panggilan itu, tuan Randi langsung dengan cepat merampas ponsel itu kembali dan mengangkat panggilan itu lalu mendengarkan nyonya Wulan yang bicara pada sekretaris Han dengan tenang.


"Sekretaris Han....kenapa kau tidak melapor padaku mengenai Randi, bagaimana apa kau sudah membereskan wanita sialan itu?, sekretaris Han apa kau masih di sana?, Ingat perjanjian kita atau aku akan memecatmu!" Ancam nyonya Wulan yang terdengar oleh tuan Randi dengan jelas,


Tak lama panggilan terputus karena sepertinya nyonya Wulan tengah sibuk dengan pekerjaannya, tuan Randi langsung melemparkan ponsel itu pada sekretaris Han dan berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam yang membuat sekretaris Han bergetar ketakutan.


"Aishh...kenapa aku sial sekali sih, kenapa nyonya Wulan pake nelpon lagi, bagaimana sekarang" gumam sekretaris Han sambil menggigit bibirnya sendiri dan merasa gugup.


"Sekretaris Han!, Apa maksud dari ucapan ibuku, apa yang kau rahasiakan dariku?" Bentak tuan Randi dengan serius dan kemarahan di dalam matanya sudah tergambar sangat jelas,


Sekretaris Han menelan salivanya dengan kuat dan dia bergeser menjauh dari tuan Randi karena terlalu takut dengan tatapan matanya yang begitu menusuk padanya.


"A..a...begini tuan saya mau membicarakannya pada anda tapi belum ada waktu yang tepat saja....jadi kau tenang dulu dengarkan penjelasanku dulu" ucap sekretaris Han sambil berusaha menenangkan tuan Randi.


Tuan Randi memberikan kesempatan pada sekretaris Han untuk menjelaskan semuanya karena mengingat kesetiaannya setelah bertahun tahun bekerja padanya.


"Baiklah ayo cepat kau katakan semuanya dan jangan coba coba menipuku atau selama nya aku akan menjadi musuh bagimu di masa depan!" Ancam tuan Randi,


Sekretaris Han sangat takut mendapatkan ancaman itu, lagi pula sejak awal dia juga tidak ada niatan untuk menyembunyikan semua ini dari tuan Randi hanya saja sekretaris Han juga lupa karena dia terlalu sibuk mengurusi urusan lain terlebih masalah tuan Randi dengan Ratu yang membuat dia juga harus ikut turun tangan membujuknya.

__ADS_1


Sekretaris Han menjelaskan semua kejadian yang dia alami mulai dari nyonya Wulan yang menemuinya di restoran dan perjanjian yang nyonya Wulan lakukan dengannya termasuk adanya sekretaris Diah yang menjadi asisten pribadi nyonya Wulan saat ini, dan kecurigaan dia sendiri pada sekretaris Diah.


__ADS_2