PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Siuman


__ADS_3

Ratu pun mengambil sebagian bunga dari buket bunga ayahnya dan Ratu langsung menaruhnya di bawah batu nisan makam mamah Diva.


"Mah...meski pun mamah bukan ibu kandungku tapi aku juga sangat menyayangimu, jangan khawatirkan tentang Astrid, mamah tidak bersalah atas apa yang dia lakukan, maka dari itu biarkan dia menanggung semua akibat perbuatannya sendiri" ucap Ratu sambil memegang batu nisan mamah Diva.


Selang beberapa saat Ratu pun segera bergegas pergi meninggalkan pemakaman dan mulai berangkat bekerja menuju perusahaan Zidan, saat baru sampai di ruangannya barulah Ratu memiliki waktu untuk memeriksa ponselnya dan betapa kagetnya dia ketika melihat banyaknya spam panggilan telpon dari tuan Randi dan terdapat beberapa pesan juga.


"Ya ampun ada apa tuan Randi sampai menelponnya segini banyaknya, apa terjadi sesuatu pada dia?" Gerutu Ratu merasa heran dan bingung.


Karena penasaran dan khawatir Ratu berusaha menelponnya balik tapi justru nomornya menjadi tidak aktif Ratu pikir mungkin karena itu masih cukup pagi dan tuan Randi pasti sibuk di jam segini dia pun hanya membalas pesan tuan Randi.


Tapi saat dia hendak mengetuk Ratu melihat bahwa pesan itu dikirim tadi malam dan ada notifikasi yang menunjukkan dia mengangkat satu panggilan dari tuan Randi tadi malam, Ratu berusaha mengingat ngingat lagi sampai akhirnya dia mulai tersadar.


"Astaga..... Apa orang yang menelponku tadi malam adalah tuan Randi?, Jika benar aaahhhh....aku sudah bicara apa saja kemarin aku tidak ingat karena terlalu mengantuk, aishh....bagaimana ini" gerutu Ratu merasa cemas tak menentu.


Begitulah Ratu dengan ucapannya sendiri dia bahkan tidak mengingatnya karena sakit mengantuk saat malam tadi.


Ratu bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya pada tuan Randi dia terus saja berjalan mondar mandir sambil memegangi ponselnya yang siap mengetuk sebuah pesan kepada tuan Randi namun belum juga Ratu mengetikkan sebuah kalimat seseorang datang ke ruangannya sehingga Ratu harus menyimpan ponselnya segera.


Saat itu banyak sekali jadwal yang harus di tata oleh Ratu agar Zidan bisa melaksanakan semua rapat sesuai dengan jadwal yang di inginkan klain, Ratu terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai dia mulai melupakan masalah tuan Randi dengan dirinya.


Sedangkan di sisi lain tuan Randi justru menunggu Ratu menghubunginya lebih dulu, dia yakin sekali setelah kejadian tadi malam pasti Ratu akan bertanya dan menghubungi dia lebih dulu namun sayangnya sudah beberapa menit dia menunggu tetap tidak ada satu balasan pesan pun dari Ratu.


Tuan Randi merasa frustasi dan dia melampiaskannya dengan pergi bekerja lebih awal hari ini, dia bahkan meninggalkan sekretaris Han yang masih tertidur lelap, tuan Randi pergi ke luar mencari udara segar dengan menyetir sendiri mobilnya sampai akhirnya di memutuskan untuk menjenguk nyonya Wulan yang masih tak sadarkan diri di rumah sakit.

__ADS_1


Awalnya tuan Randi merasa ragu ragu dan dia hanya berdiri di depan pintu ruang rawat.


"Apa dia pantas menerima belas kasihan dariku?" Gumam tuan Randi memikirkan.


Seorang suster datang hendak memeriksa keadaan nyonya Wulan dan terpaksa tuan Randi ikut masuk ke dalam ruangan karena tidak mau terjadi kecurigaan dari suster tersebut kepada dirinya, saat dia melihat wajah nyonya Wulan yang tanpa ekspresi dan diam tak bergerak hati tuan Randi mulai tergetar, rasanya dia tidak tega melihat keadaan nyonya Wulan yang terbaring lemah tak berdaya.


"Mengapa kau harus menjadi wanita jahat, padahal kau yang selalu memberiku pelajaran agar aku menjadi orang yang baik, kenapa aku harus di didik oleh orang sepertimu" gerutu tuan Randi dengan menahan air mata agar tidak jatuh dari pelupuk matanya.


Tak lama tuan Randi melihat tangan nyonya Wulan bergerak seakan memberikan respon atas ucapannya, Randi kaget dan dia bahagia, meski dia merasa kecewa namun rasa sayangnya kepada nyonya Wulan masih tersisa, dia langsung berteriak memanggil dokter untuk segera memeriksanya.


Saat dokter tiba nyonya Wulan mulai membuka matanya perlahan dan dia tersenyum menatap ke arah Randi dengan senyuman yang lembut, dokter sibuk memeriksa keadaannya dan dia mulai menyampaikan kondisi nyonya Wulan pada tuan Randi dan mengajaknya untuk ikut bersama dia.


"Tuan saya harus berbicara dengan anda di ruangan saya" ucap dokter,


Nyonya Wulan hanya menatapnya tanpa berkata kata, mungkin dia masih sangat lemas dan tidak memiliki cukup energi untuk berbicara dan banyak bergerak.


Sejujurnya Randi sendiri merasa sedikit khawatir karena nyonya Wulan sama sekali tidak bicara padanya ketika dia sudah sadarkan diri dari koma.


"Dokter apa yang terjadi dengannya, kenapa dia hanya menatapku, kenapa dia tidak berbicara?" Tanya tuan Randi dengan penasaran,


"Itu hal biasa yang terjadi pada orang ketika dia baru saja bangun dari koma nya, nyonya Wulan membutuhkan banyak istirahat agar dia memiliki energi untuk bergerak dan berbicara, namun masalahnya adalah...." Ucap dokter tertahan.


Melihat raut wajah dokter yang berubah menjadi sedikit murah dan menatapnya dengan tajam, Randi semakin merasa cemas dan tidak sabar mendengar penjelasan selanjutnya dari sang dokter tersebut.

__ADS_1


"Dok....ada apa?, Jelaskan saja pada saya bagaimana kondisi dia sebenarnya?" Tanya tuan Randi mendesak,


"Nyonya Wulan mengalami kelumpuhan permanen, kedua kakinya tidak akan dapat digunakan lagi, akibat dari kecelakaan tersebut membuat banyak kerusakan jaringan dalam tubuhnya yang membuat kakinya lumpuh total, dan saya rasa itu akan sulit bagi ibu anda menerima kenyataannya, diharapkan anda dapat menenangkan beliau ketika nanti dia mulai menyadarinya" jawab dokter dengan serius dan wajah yang lesu,


Randi sangat kaget mendengar semua itu dan matanya langsung berubah merah menyala menahan amarah, dia mulai menyimpan dendam yang besar pada sekretaris Diah yang telah berani mencoba mencelakai ibunya.


"Sekretaris Diah.... Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja!" Gumam tuan Randi dengan menggigit giginya sangat kuat.


Randi langsung keluar dari ruangan dokter dan dia memukul dinding rumah sakit dengan sangat kuat sampai meninggalkan bekas merah pada tangannya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk melampiaskan semua emosinya.


Meski dia juga membenci ibunya atas semua kebohongan yang dia sembunyikan darinya dan atas apa yang sudah direncanakan nyonya Wulan untuk mengambil alih hartanya tapi bagaimanapun ikatan batin antara Randi dan nyonya Wulan tetaplah sangat kuat, nyonya Wulan sudah mengurusi Randi sejak dia baru lahir dari rahim sang ibu hingga sebesar sekarang.


Dan selama ini nyonya Wulan mendidik serta merawatnya dengan penuh kasih sayang tentu saja Randi tidak akan tega jika ada orang yang berani mencelakainya.


"Dia memang pantas mendapatkan hukuman tapi hanya aku yang bisa mencelakainya!" Gerutu tuan Randi dengan mengepalkan kedua lengannya sangat kuat.


Dering ponsel mulai berbunyi dan itu panggilan telpon dari sekretaris Han, tuan Randi segera mengangkatnya.


"Tuan....kau ada di mana saya mencari kau di rumah tapi tidak ada, mobil juga hilang apa kau yang menggunakannya?" Tanya sekretaris Han dengan cemas.


"Cepat datang ke rumah sakit, nyonya Wulan sudah sadar kau harus mendampinginya" jawab tuan Randi tanpa basa basi dan langsung menyuruh sekretaris Han datang ke sana.


Sekretaris Han sangat senang mendengar kabar tersebut, dia langsung menuruti perintah tuan Randi dan pergi terburu buru menuju rumah sakit, dia pergi menggunakan salah satu mobil yang ada di garasi tuan Randi dan mobil yang dia pakai adalah salah satu koleksi tuan Randi yang tidak pernah ada siapapun yang berani memakainya.

__ADS_1


__ADS_2