PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Randi dan nyonya Wulan


__ADS_3

Oma Rika bisa melihat langsung betapa sedihnya wajah Ratu apalagi saat tadi dia melihat Ratu berdiri dengan lesu di depan ruangan kerja Zidan, Oma Rika semakin yakin bahwa Ratu merasakan kesedihan yang lebih dari pada dia kehilangan Zidan sebab mungkin Ratu tidak akan bisa menghubungi Zidan lagi setelah ini.


"Zidan kamu mungkin salah karena telah mengambil keputusan itu. Hmm" gumam Oma Rika merasa sedih.


Ratu hendak pergi kembali ke ruangannya setelah memastikan Oma Rika sudah duduk dengan nyaman di ruangan tersebut.


"Kalau begitu aku pergi dulu, Oma jika ada yang tidak Oma mengerti panggil aku saja dengan telpon ini maka Ratu akan segera datang" ucap Ratu dengan senyum yang manis seperti biasanya.


Oma Rika mengangguk dan Ratu segera keluar meninggalkan ruangan itu. Saat itu Ratu sengaja segera pergi dari sana karena dia tahu pasti ada hal penting yang akan dibicarakan oleh Oma Rika bersama Steven dan mungkin mereka tidak ingin Ratu ada untuk menguping mereka.


Sehingga Ratu lebih sadar diri sejak awal dan memilih untuk menghindar dengan sendirinya lagi pula kini Zidan juga sudah pergi tidak ada yang bisa dia lakukan selain bekerja dengan lebih baik lagi untuk membantu Oma Rika di perusahaan.


Sementara Steven segera menghampiri Oma Rika setelah memastika Ratu benar benar sudah pergi dari ruangan tersebut.


"Oma apa Oma memikirkan hal yang sama denganku tentang Ratu?" Ujar Steven pada Oma Rika dengan tatapan serius,


"Aishh pikiran apa?, Kau ini sudah bereskan saja semua urusanmu lalu pergi jemput putriku di bandara" ujar Oma Rika memberikan perintah.


Steven pun segera pergi dan menuruti perintah Oma Rika meski dia merasa sedikit malas untuk melakukannya sebab dia sangat canggung jika bertemu dengan ibunya Zidan.


"Baik Oma aku akan pergi menjemputnya" jawab Steven dengan lesu dan pergi tanpa semangat.


"Aishh anak itu masih belum berubah biar Mira menjewernya nanti" ucap Oma Rika sambil menggelengkan kepalanya.


******

__ADS_1


Di sisi lain tuan Randi tengah makan siang bersama nyonya Wulan dan kini kondisi nyonya Wulan sudah jauh lebih baik meski dia sudah tidak dapat berjalan lagi seperti dulu, namun walau begitu Randi masih berusaha dan terus mengusahakan agar kaki Oma Rika dapat digunakan berjalan lagi olehnya.


Dalam kesempatan itu tuan Randi segera memanfaatkannya untuk berbicara mengenai kepergiannya yang akan segera kembali ke negara XX dan memimpin lagi perusahaan yang sudah dia bangun sejak nol hingga sebesar sekarang.


"Ibu ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu dan ini mengenai pekerjaanku juga Ratu" ucap tuan Randi dengan wajah serius.


Awalnya dia masih sedikit gugup dan merasa ragu jika nyonya Wulan sudah memberikan izin serta dukungan padanya untuk mengejar Ratu maka dari itu tuan Randi sengaja mengajaknya makan malam kali ini, khusus untuk membicarakan hal tersebut agar lebih santai.


Nyonya Wulan menatap wajah tuan Randi yang nampak tegang meski tuan Randi begitu kejam dan selalu melemparkan tatapan dingin dan tajam kepada orang lain namun dia tidak bisa menyembunyikan apapun ketika di hadapan orang yang dia sayangi termasuk pada nyonya Wulan sendiri.


Sehingga melihat ekspresi putranya seperti itu nyonya Wulan langsung memulai pembicaraan dan menanyakannya lebih dulu pada putranya itu.


"Randi apa yang ingin kamu bicarakan sebenarnya, cepat katakan jangan ragu untuk membicarakannya dengan ibu" ujar nyonya Wulan sambil menaikkan alisnya merasa tidak sabar,


"Begini ibu, aku akan kembali ke perusahaan ku karena ada masalah dengan Ratu aku ingin menemuinya dan aku sudah tidak bisa menunggu jawaban darinya lagi, jadi apa kau bisa mulai memimpin perusahaan ini lagi?" Ungkap Randi mengutarakannya secara langsung,


Ini adalah sesuatu yang langka dan berharga bagi seorang tuan Randi meski dia juga merasa heran tapi dia juga ikut tersenyum bersamanya.


"Randi kenapa kau ikut tersenyum apa kamu paham apa yang ibu tertawakan ha?" Tanya nyonya Wulan menghentikan tawanya dan kembali berbicara serius dengan tuan Randi.


Mendapatkan pertanyaan itu refleks tuan Randi langsung menjawabnya tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Tidak memangnya kenapa?" Jawab tuan Randi dengan wajah yang polos,


"Ahahaha...kau sudah setua ini tapi masih bersikap seperti anak anak saja, kamu lucu sekali dengan ekspresi itu" ujar nyonya Wulan kembali tertawa renyah.

__ADS_1


Tuan Randi mulai merasa risih dan agak kesal dia pun meminta nyonya Wulan untuk segera berhenti tertawa dan menjawab ucapan dari dia sebelumnya karena tuan Randi sudah tidak sabar mendengar jawaban dari nyonya Wulan.


"Ibu sudah cukup, jangan meledekku lagi bagaimanapun aku ini anak yang kau besarkan semua yang ada padaku karena didikanmu jadi berhentilah mengejekku itu artinya kau sedang mengejek dirimu sendiri!" Ujar tuan Randi dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Akhirnya nyonya Wulan berhenti tertawa meski dia masih merasa geli dan sulit untuk menutup mulutnya namun melihat wajah Randi yang sudah tidak bisa diajak bercanda, nyonya Wulan pun terpaksa harus menghentikan kebahagiannya itu.


"Oke, baiklah baiklah ibu sudah berhenti kau ini sentimen sekali" kata nyonya Wulan sambil membenarkan posisi duduknya,


"Ibu cepat katakan jadi bagaimana apa kau sudah bisa mulai memimpin perusahaan ini atau tidak?" Kata tuan Randi kembali bertanya dengan serius,


"Randi kau jangan menatap ibumu dengan tatapan setajam itu, tentu saja ibu bisa dan sejak lama ibu juga sudah mampu kau saja yang terlalu mengkhawatirkan ibu" balas nyonya Wulan membuat tuan Randi senang.


Senyum kecil perlahan mengembang dan membentuk lengkungan yang terbesit sangat jelas di wajahnya.


"Heh, kau ini belum terlalu tua juga jadi jangan menahan kebahagiaanmu jika ingin tersenyum maka tersenyumlah jangan terlalu menjaga image" ujar nyonya Wulan.


Bukannya memperlebar senyumnya dan memperlihatkan rasa bahagia di hatinya, tuan Randi justru langsung merubah ekspresi pada wajahnya kembali datar dengan sorot mata tajam dan dingin, kelakuannya membuat nyonya Wulan menggelengkan kepala.


"Aishh anak ini bagaimana kau bisa memikat Ratu jika ekspresi pada wajahmu terus datar seperti itu" kata nyonya Wulan tak habis pikir,


"Walau aku tak tersenyum aku tetap terlihat tampan bahkan saat aku sakit dan di saat aku sudah tua nanti" jawab tuan Randi penuh percaya diri,


"Ya, terserah kau saja kepercayaan dirimu itu menular dariku juga" jawab nyonya Wulan yang sudah malas meladeni ke PD an putranya itu.


Mereka pun melanjutkan makan siangnya setelah memutuskan mengenai urusan tersebut lalu tuan Randi dan nyonya Wulan kembali ke perusahaan dan saat tuan Randi tengah memberikan tanda tangan untuk kembali memberikan kewenangan perusahaan pada ibunya lagi dia malah mendapatkan kejutan dari sang ibu.

__ADS_1


"Randi kemarilah dulu, ada hadiah istimewa yang mau ibu berikan untuk mu sekaligus calon menantu ibu" ujar nyonya Wulan memanggilnya.


Tanpa basa basi tuan Randi segera menghampirinya dan dia melihat sebuah kotak berukuran sedang telah ada di depan mejanya.


__ADS_2