PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 100. Tabib Alvin Mengobati Devi Laoli


__ADS_3

"Maaf Pak Kepala, saya tidak mengerti dengan apa yang Kepala Suku katakan barusan, karena saya tidak merasa saya berasal dari keluarga kerajaan, saya itu berasal dari Keluarga terpencil dari Desa Tora" Ungkap Lemon dengan wajah serius.


"Apa yang saya katakan ini, itu adalah pesan dari Nenek moyang kami, karena mereka percaya akan ada seorang titisan dari Dewa Perang, yang akan membantu suku kami dari ancaman monster, monster yang berada di dalam Gua dibalik Air Terjun" Kepala Suku berkata dengan jujur.


Lemon hanya bisa menggelengka kepalanya, dengan perasaan seribu tanya, dia semakin ingin tahu siapalah dirinya itu sebenarnya.


Lemon bersama kepala mengobrol lama, hingga Devi sudah bangun dari ketidaksadarannya.


Devi tidak bisa menggerakan tubuhnya, karena seluruh kekuatan Qi Esensilanya sudah habis terkuras, karena melawan Monster Ular Raksasa tadi.


"Nal! Kamu sudah bangun?" Tanya Linda ibunya Devi.


"Bu.. Apa saya masih hidup?" Tanya Devi sambil membuka matanya, yang sangat terlihat sayu itu.


"Bu? kenapa tubuh saya, sepertinya tidak bisa saya gerakan" Tanya Devi dengan Wajah Panik.


"Eemm.. Ibu tidak tahu soal itu, nak! Biar saya panggilkan Ayahmu.. Tunggu sebentar" Linda berkata sambil melangkah pergi, mencari kepala suku.


Devi hanya merengek kesakitan, ketika dia melihat punggung ibunya pergi.


"Ayah.. Ayah!" Panggil Linda dengan suara yang terengah-engah.


"Ada Apa Bu? Kenapa kamu ngos-ngosan, seperti yang lagi dikejar Hantu?" Tanya Kepala Suku dengan wajah Panik.


"Devi Anak kita!" Kata Linda. "Kenapa dengan Devi bu? Bukankah dia baik-baik saja?" Kepala Suku berkata dengan perasaan bingung.


"Tidak Yah.. Devi sudah sadar, tapi katanya seluruh badannya sangat terasa sakit" ungkap Linda kepada sang kepala Suku, sebagai suaminya itu.


"Ohh".. Semua orang berkata Oh, ketika mendengar berita yang disampaikan Linda tidak menghawatirkan.


Mendengar Devi sudah sadarkan diri, dan kondisinya sedang tidak baik-baik saja, tanpa meminta ijin dan menghiraukan orang lain, termasuk kepala suku dan Lemon, Ucok langsung melompat dari tempatnya, dia berlari menuju gubuk tempat Devi Laoli istirahat.

__ADS_1


Semua orang hanya bisa menggelengkan kepala, ketika melihat sikap Ucok yang sangat khawatir terhadap keselamatan Devi.


Lemon yang masih belum mengerti apa-apa, dia mengajukn pertanyaan kepada Kepala Suku " Maaf Pak Kepala, ada masalah apa? Siapa Devi? Kelihatannya dia sedang tidak baik-baik saja".


"Oh.. Maaf Tuan Muda, saya lupa memberitahukan kepada anda, bahwa Gadis yang Tuan selamatkan itu, dia beranama Devi dan dia merupakan anak saya satu-satunya" Kepala Suku menjelaskan kepada Lemon, karena dia tahu Lemon tidak mengerti apa-apa.


"Oohh..tidak masalah Pak Kepala, saya mengerti kok, lebih baik kita lihat Kondisinya sekarang" kata Lemon mengajak Pak Kepala Suku.


Lemon bersama kepala suku, bergegas melangkah pergi melihat Kondisi Devi Laoli.


Ucok langsung memeluk Devi, ketika dia telah sampai digubuk Devi, dengan wajah yang sangat cemas dia berkata "Devi! Bagaimana keadaanmu? Kenapa saya dengar kamu tidak bisa bergerak".


Devi langsung mendorong tubuh kekar Ucok, ketika Ucok langsung memeluknya ketika dia datang.


Kepala suku telah sampai ditempat Devi berada, kemudian dia langsung duduk disamping anaknya itu.


"Nak.. Apa yang kamu rasakan?" Kepala Suku bertanya dengan wajah penasaran.


Kepala suku mengalirkan hawa Qi miliknya kepada Devi, supaya Devi bisa mendapatkan kekuatannya kembali.


Namun seberapa kuat Qi yang disalurkan oleh Kepala Suku, tetap saja Devi masih tidak menunjukan gejala kekuatannya akan pulih.


Lemon hanya bisa mengerutkan keningnya, ketika dia memindai Devi dengan kekuatan Buku Mata Dewanya.


Kepala Suku berkeringat dingin, seluruh pakaiannya telah basah kuyup karena keringat, dia menggerakan seluruh energinya untuk menambah kekuatan Devi.


"Pak Kepala, jangan terlalu memaksakan mengeluarkan Qi esensialmu, karena dia hanya masih kelelahan, dan ada sedikit retakan pada sebagian sum-sum tulangnya" Lemon berkata santai kepada Kepala Suku.


"Tau apa anda tentang Pengobatan, apakah anda seorang tabib?" Ucok berkata dengan nada dingin, dia melotot dan mengangkat tubuh kekarnya ketika berkata kepasa Lemon.


"Jangan kira anda memiliki kehebatan setara dengan kekuatan Naga, maka anda dengan seenaknya, mengatakan tulang non Devi ada yang patah" seorang warga teman Ucok berkata menimpali.

__ADS_1


Mendengarkan ocehan mereka semua, Lemon hanya bisa memberikan senyuman sumringahnya, yang membuat wajah kurusnya itu terlihat tampan.


Devi yang terbaring di tempat tidurnya, tidak telalu menghiraukan perdebatan orang-orang itu disampingnya, dia hanya terus merengek kesakitan, karena Kepala Suku masih saja menyalurkan Qi miliknya kedalam Tubuh Devi.


"Bagi saya, penyakit nona muda ini hanyalah masalah sepele, dia bisa sembuh hanya dalam sekejab" Lemon berkata datar.


"Sombong sekali.. Anda sepertinya terlalu membual dan bermimpi disiang bolong, harusnya anda mampu membedakan, mana kekuatan Qi sejati dan mana yang disebut dengan pengobatan" ucok berkata meremehkan, dengan dia mengangkat sedikit sudut bibirnya.


Kemudian Ucok berkata lagi, sambil dia melihat temannya "Tolong Kamu Panggilkan, Tabib Alvin, biarkan dia memeriksa kondisi nona Devi".


"Baik" Orang itu berkata sambil menganggukan kepalanya, dan dalam sekejab dia bergegas pergi cari Tabib Alvin.


Lemon yang melihat sikap dari Ucok, dia hanya duduk dan berdiam diri, kemudian dia melangkah pergi kesamping gubuk, kemudian dia mendapatkan Pohon Mangga Madu, sehingga dalam sekejab dia memetik Mangga Madu dan menikmatinya.


Tidak berselang lama, Tabib Alvin sampai ditempat gubuk Devi terbaring, kemudian Tabib Alvin memindainya dengan Mantranya, yang membuat Tabib Alvin sedikit mengangkat sudut bibirnya, dia tersenyum bangga.


"pak Kepala Suku tidak perlu terlalu cemas, ini hanyalah sebuah masalah kecil" Tabib Alvin berkata dengan arogan.


"Mohon lakukan yang terbaik Tabib, suami saya sudah melakukan yang dia mampu, namun Anak saya ini masih saja belum merasakan akibatnya" Linda berkata dengan mata yang masih berliang air mata.


"Betul Tabib! Pak Kepala Sudah berbuat semampu tenaganya, namun Non Devi masih belum menunjukan tanda-tanda" Ucok ikut menimpali kata-kata Linda, kepada Tabib Alvin.


"Eeemm.. Akan saya coba berbuat semaksimal mungkin, karena saya sudah sering menangani masalah ini, dan tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, pasien sudah sembuh total" Kata Tabib Alvin.


Kepala Suku dan beberapa warga yang berdatangan, karena mendengar berita tentang kondisi Devi Laoli yang mangalami kritis, mereka semua hanya menggelengkan kepala, karena mereka semua menaruh harapan satu-satunya kepad Tabib Alvin.


Lemon yang berada diluar, dia tidur telentang diatas batang kayu besar yang sudah telentang diatas tanah, sambil dia memakan Mangga madunya, namun dia tiba-tiba teringat dengan Dewi, kemudian dia meraba saku celananya ingin melihat Ponselnya.


Setelah meraba saku celananya, Lemon baru menyadari kalau tas sudah tertinggal diluar Gua bersama HPnya dan beberapa peralatan lainnya.


"Entah berapa lama saya sudah berada ditempat ini? Pasti Dewi sudah panik untuk mencariku, tapi bagaimana caranya untuk saya bisa tersambung dengannya, sementara saya beberapa hari lagi saya baru bisa keluar dari tempat ini.. Hufft" Lemon membantin dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2