
Karen tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya berdiri mematung menyaksikan adegan aksi dihadapannya.
Lemon tidak berkata apa-apa, dia berjalan kearah Kasir, untuk membayar seluruh tagihan makanan mereka, sekaligus biaya kerusakan fasilitas hotel akibat kejadian barusan.
Setelah selesai membayar biaya tagihannya, Lemon kembali menghampiri Mawar dan yang lainnya.
"Sepertinya kita akan makan bersama lagi dilain waktu, saya harus pergi sekarang" Lemon berkata santai.
"Ia..ia Kak. Pasti.. Terimakasih untuk waktunya hari ini" Junis berkata sambil tersenyum.
Mawar juga ikut berkata mengucapkan terimakasih, karena Lemon sudah membantu dan menghadiri pertemuan mereka.
Setelah itu Lemon langsung berpamitan, tanpa dia melihat Karen yang sedang duduk mematung.
Tidak lama kemudian, setelah Lemon sudah pergi dari tempat itu, Karen baru tersadar dari Lamunannya sambil berkata: "Dimana dia".
Mendengar Karen berkata seperti itu, Junis dan Mawar saling memandang.
"Apa maksudmu.. Siapa dia? Kami tidak mengerti" Mawar berkata penasaran.
"Si Bocah kurus itu, yang telah memukul Farel pacarku.." Karen berkata asal-asalan.
"Oh.. Maksudmu Kak Lemon..??" Junis berkata jujur.
"Iya..ia betul..!! Dimana dia" Karen bertanya kepada Junis.
"Untuk apa kamu mencarinya..?? Bukankah kamu tidak suka padanya..?" Mawar berkata sambil menyeduh Teh miliknya.
"Saya ingin berterimakasih padanya, karena dia telah menolong saya barusan..!!" Karen berkata sungguh-sungguh.
"Dia sudah pergi sejak dari tadi" Junis berkata jujur.
"Apakah kamu tahu alamatnya" Karen bertanya kepada Mawar.
"Saya tidak tahu alamatnya, lebih baik sekarang kita pergi, nanti kita bicarakan hal itu" Mawar berkata sambil berdiri dan memanggil pelayan.
Namun pelayan mengatakan bahwa semua biaya tagihan mereka, sudah dibayarkan oleh Tuan Lemon.
Tidak berkata apa-apa, Mawar Junis dan Karen langsung meninggalkan tempat itu.
Ditempat lain, Lemon masuk kedalam kamar Asramanya, tiba-tiba dari belakang Dennis memanggilnya.
"Hei Mon.. Darimana saja kamu hari ini..??" Denis bertanya penasaran.
"Ahh.. Saya habis ketemuan sama teman-temanku, sewaktu SMA dulu" Lemon menjawab dengan santai.
Lemon pergi bersama Dennis, untuk duduk santai ditaman Asrama, mereka memainkan sebuah lagu dengan diikuti petikan Suara Guitar Dennis.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan sore hari, Lemon langsung bergegas membersihkan diri, karena malam ini dia makan bersama keluarga Song.
"Dirr..dirr..dirr..." Suara Hp Lemon terdengar diatas Meja.
__ADS_1
"Halo kak.. Ini saya Tiwi.. Apakah kakak sudah siap..!!" Suara Tiwi terdengar dari ujung Telepon.
"Sudah Non.." Jawab Lemon pelan.
"Ok Kak.. Saya OTW kesana" Selesai berkata sambungan Telepon langsung terputus.
Tidak menunggu lama, Tiwi sudah sampai didepan Gerbang pintu Asrama, dan Lemon sedang menunggunya dengan santai.
Lemon dan Tiwi langsung bergegas pergi setelah Naik Mobil.
Tiba-tiba mobil mereka terhenti, karena sudah sampai di persimpangan Lampu Merah.
Lemon yang sedang santai duduk disebelah pengemudi, dia sedang memainkan Handphonenya, Tiwi hanya tersenyum-senyum memperhatikannya.
Disebelah Mobil yang ditumpangi Lemon, tiba-tiba berhenti Mobil BMW Keluaran terbaru, mobil itu sejajar dengan Mobil yang ada Lemon.
Didalam Mobil tersebut ada 2 orang Gadis cantik, yaitu Dewi dan Lea.
Dewi tiba-tiba menoleh di mobil sebelah, yang berada di sebelah mereka, dia tiba-tiba terkejut melihat sosok Lelaki yang dia kenal, berada didalam Mobil tersebut bersama dengan seorang gadis.
Dewi menurunkan Kaca Jendela Mobilnya, untuk memastikan sosok yang ada disebelahnya itu.
Tiba-tiba Lemon melihat sebelahnya, dan dia terkejut ketika melihat Dewi yang sedang menatapnya.
Lemon langsung menurunkan Kaca Jendela Mobil dan menyapa Dewi:
"Heeiii... Dewi, Kebetulan sekali ya.. Kita bareng dipersimpangan kayak gini" Lemon berkata sambil tersenyum.
Dewi tidak berkata apa-apa, namun dia hanya menatap tajam kearah Lemon.
"Eehh... Tidak Tidak...!! Kamu salah paham, ini namanya Nona Tiwi, Tiwi Song" Lemon berkata memperkenalkan Tiwi, sambil mengangkat tangannya.
"Tidak perlu memperkenalkan, saya sudah tahu" selesai berkata Dewi dan Tiwi menginjak Pedal Gas dengan kecepatan tinggi, sehingga mereka bagaikan balapan dijalanan yang ramai.
Tiwi merasakan rasa tidak senang dari Dewi, karna Dewi dan Tiwi merupakan Teman satu sekolah SMA dulu, dan mereka merupakan saingan dalam merebut pemilihan, Putri tercantik Bintang Sekolah.
Melihat kecepatan mobil yang tinggi, Lemon tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa mengencangkan seatbelnya.
Dewi dan Tiwi sama-sama tidak mau mengalah, ketika tiba dijalan yang ramai, Tiwi menyalip Dewi yang membuat Dewi tertinggal jauh dibelakang.
"Sial...!! Dasar Wanita ******" Dewi membantin tangannya di setir mobilnya.
"Sudahlah Dewi, kamu jangan terlalu memikirkannya" Lea membujuk Dewi.
"Awas saja dia..!! Saya pasti membalasnya" Dewi berkata sambil menggertakan giginya.
Lemon dan Tiwi sampai didepan Rumah Kediaman keluarga Song, Rumah keluarga Song terlihat sangat besar, dengan dipenuhi Lampu-lampu hias.
Rumah Keluarga Song sangat besar dan bertingkat.
Tiwi mengajak Lemon masuk kedalam rumahnya yang sangat luas itu.
__ADS_1
Valen Song menyambut Lemon didepan Pintu Aula: "Salam hormat Tuan Lemon" Valen Song menyambut Lemon.
"Salam Tuan Patriak Song" Lemon membungkuk memberi hormat.
"Hahahaaa... Tidak usah terlalu segan Tuan Lemon, anggap saja rumah sendiri" Valen Song berkata sambil tertawa.
Valen Song mengajak Lemon keruang tamu, dan langsung menyuruh Pelayan untuk menyeduhkan Teh.
"Bagaimana kabar Tuan Patriak, apakah tuan masih diganggu oleh orang-orang itu..??" Lemon berkata santai kepada Valen Song.
"Untuk sementara, masih belum Tuan..!! tapi saya tidak tahu bagaimana kedepannya" Valen Song berkata tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu" Lemon berkata santai.
Tidak berselang lama, makanan istimewa sudah memenuhi meja makan, Valen Song langsung mengajak Lemon untuk makan bersama.
Ditempat lain dikediaman Restu Chandra, Dewi duduk diatas tempat tidurnya, dia masih berwajah kusam, karena mengingat kejadian antara dirinya dan Tiwi, ditambah lagi Lemon yang sudah bersama dengan Tiwi.
"Saya tidak boleh kalah dengan Tiwi Song, apalagi kalau sempat dia mendapatkan perhatian Lemon" Dewi berkata dalam hatinya.
Dewi meremas bantal yang ada dipangkuannya sambil berkata: "Lemon itu Juga, bisa-bisanya dia bersama wanita gila itu" Dewi semakin menggertakan giginya.
Dari luar pintu terdengar langkah kaki mendekati pintu kamarnya.
"Tok Tok Tok".. Suara pintu diketuk dari luar.
Dewi langsung bergegas turun dari atas tempat tidurnya, dia langsung berjalan membukakan pintu.
Setelah dia membuka pintu, dia melihat ibunya sedang berdiri, dan membawa sebuah Gaun Warna Jambu yang sangat Cantik.
"Eehh.. Ibu.. Apa yang ibu bawa??" Dewi bertanya dengan menyunggingkan senyumnya.
"Ini loh ndo.. Gaun ini adalah pemberian Nenekmu pada saat ibu masih gadis dalu, Ibu ingin kamu memakainya nanti, pada saat kamu mengikuti hari-hari istimewa dalam hidupmu" Ibunya berkata dengan suara ayu.
"Baik Bu.. Pasti saya akan memakainya" Dewi berkata tersenyum sambil mengambil Gaun dari tangan ibunya.
"Kamu kenapa wajahnya kusam begitu? Apakah kamu ada masalah? Atau hal lain, kamu bicara sama ibu!".. Ibunya berkata sambil memegang wajah putri simata wayangnya itu.
"Ibu ini ada-ada saja!!" Dewi mengelak.
Lili merangkul anaknya itu, kemudian mereka duduk ditepi tempat tidurnya Dewi, mereka bercerita sambil berpelukan.
"Ibu... Kapan Tuan Lemon memeriksa penyakit ibu lagi? Tuan Lemon kan sudah berjanji untuk datang kembali" Dewi bertanya kepada ibunya.
"Iya Nak.. Tuan Lemon memang sudah berjanji, tapi harinya tidak tentu, karna dia masih banyak urusan" Lili berkata sambil membelai Rambut Anaknya itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, apakah kamu ingin bertemu dengan Tuan Lemon? Saya takut kalau kamu bertemu dengannya, kamu bisa jatuh hati padanya" Lili berkata tersenyum dan sambil bercanda.
Dewi menegakkan Tubuhnya sambil memegang tangan ibunya, dia memandangi wajah ibunya yang sudah mulai keriput itu.
"Saya penasaran dengan Tuan Lemon itu, karna saya ada teman Kuliah yang bernama Lemon, Tapi.." Dewi memalingkan pandanganya ketika dia berkata tapi.
__ADS_1
"Tapi apa" tanya ibunya Lili.
"Tapi, dia tidak tahu masalah pengobatan, bahkan dia itu seorang pria pengecut, kurus dan miskin" Dewi mengatakan dengan sungguh-sungguh.