
"Maaf Tuan! Apakah kami bisa bertemu dengan Saudara Dewi" Lea berkata sambil menundukkan kepalanya dihadapan Restu Chandra.
"Eemm.. Sebenarnya boleh saja, cuman! Dia sedang dalam masa pengobatan yang dilaksanakan oleh Nak Lemon" ucap Restu Chandra menjelaskan dengan santai.
Mendengar nama Lemon, Bryan dan teman-temannya saling bertatapan, mereka tidak menyangka Lemon sudah kembali dari Pulau Tello.
"Ooooww.. Begitu ya Tuan!" Ucap mereka bertiga bersamaan.
"Iya! Nak Lemon sudah kembali berapa hari yang lalu dari Pulau Tello, dan sekarang dia sedang mengobati Nak Dewi" ungkap Restu Chandra dengan keriput diwajahnya terlihat sangat berkerut.
Bryan dan Teman-temanya, hanya bisa duduk disofa dihadapan Patriak Chandra, ketika Restu Chandra mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Uhuuk.. Uhuuk" terdengar suara Dewi batuk-batuk, namun dia masih terlihat samar dibawah bungkusan kabut putih.
Lemon mengangkat tangannya dari bahu Dewi, sehingga seketika Kabut Putih langsung tertarik kembali kedalam jari-jari Lemon.
Perlahan Lemon membuka matanya, begitu juga dengan Dewi dia membuka matanya perlahan, dan terlihat wajahnya sudah merah merona kembali cerah seperti dahulu kala.
Lemon menghela nafas lega, ketika dia melihat Dewi menggerakan tubuhnya seperti biasa.
"Nak!! Apa kamu sudah baikan?" Tanya Lili penasaran dengan wajah sendunya, dia langsung melompat ketempat Dewi dan memeluk anak simata wayangnya itu.
Dewi membalas pelukan sang ibu, dengan senyuman sumringah dia berkata: "Aku sepertinya baik-baik saja bu" suara Dewi terlihat tegar.
Lemon langsung berlalu pergi meninggalkan mereka berdua, ketika dia melihat Dewi dan sang Ibu melepas rindu, dengan saling berpelukan erat.
Lemon sengaja memberi waktu untuk Lili, agar dia leluasa berkata-kata kepada Dewi.
Sesampainya Lemon dia Aula utama, dia sangat terkejut ketika melihat teman-temannya, sedang duduk disofa dengan wajah penasaran menantikan sesuatu.
"Wooii.. Ngapain kalian bermuram durja seperti itu? Hah! Apa kalian sedang sakit?" Kata Lemon dengan candaan karena dia merasa lucu ketika melihat teman-temannya sedang menunggu sesuatu.
"Ooww.. Bang bro! Ternyata kau sudah kembali dari Pulau Tello" Sahut Bryan dengan langsung memberikan salam tos kepada Lemon
Begitu juga dengan Dennis sang sahabat Lemon, "Kenapa kamu tidak bisa dihubungi, nomor tidak aktif" Dennis juga angkat bicara menyerbu Lemon.
"Sorry Bro... Aku sudah lupa membawa HP, sehingga aku tidak bisa dihubungi" jawab Lemon santai, yang membuat teman-temannya menjadi menggerutu sendiri.
"Tuan Lemon! Bagaimana dengan Non Dewi? Apakah pengobatannya sudah selesai?" Ucap Kenji bertanya dengan hormat.
__ADS_1
"Oh iya.. Saya lupa! Non Dewi sudah pulih kembali seperti dulu, dia sekarang sedang istirahat dikamarnya" jawab Lemon santai.
Restu Chandra yang mendengar hal itu, dia langsung terkejut hampir melompat dari kursinya, dalam sekejab dia langsung berdiri.
"Apakah saya boleh melihatnya" tanya Restu Chandra penasaran.
"Iya silahkan Tuan, dia sedang bersama nyonya besar" sahut Lemon cepat.
Restu Chandra langsung berjalan dengan kaki ringan, dia langsung menuju lantai atas kekamar Dewi, begitu juga Lea, Bryan dan Dennis.
Mereka semua mengekori Restu Chandra dari belakang, sementara Kenji juga ikutan mengekor dari belakang mereka.
Lemon hanya bisa menghela nafas lega, dia akhirnya berhasil meracik obat untuk Dewi dan sudah berhasil memulihkan Dewi, tidak sia-sia perjuangannya selama ini.
Dia kemudian menghempaskan tubuh kurusnya disofa, kemudian mengesap teh yang ada dicangkir disebelahnya.
Kembali didalam kamar, setelah Lili melepaskan pelukannya, Dewi menoleh dan menyapu seluruh isi ruangan dengan pandangannya, namun dia tidak menemukan siapa-siapa disana.
Dewi menggelengkan kepalanya pelan, kemudian dia bertanya "Bu.. Lemon dimana? Kok dia menghilang" Wajahnya terlihat penasaran.
"Ibu juga tidak tahu Nak, mungkin dia kebawah untuk memberitahu Ayahmu" Ujar Lili santai.
"Nak! Kamu sudah pulih?" Tanya Restu Chandra dengan senyuman bahagianya, kemudian dia langsung menghampiri Dewi dan langsung memeluknya.
Dewi hanya bisa menganggukkan kepalanya, dengan berlinang Air Mata dia membalas pelukan sang Ayah.
"Iya Yah.. Aku sekarang sudah baikan, aku tidak merasa sakit lagi" Ucap Dewi dengan senyuman bahagia.
"Syukurlah Nak kamu sudah sembuh, kita harus mengucap syukur kepada sang maha kuasa, dan kita juga berterimakasih kepada Nak Lemon, karena berkat bantuannya kamu bisa pulih kembali seperti dulu" Ucap Restu Chandra sambil mengusap-ngusap punggung Dewi.
"Iya Yah" Jawab Dewi singkat, sambil dia mengusap air matanya yang mengalir dipipinya.
"Aku turut bahagia ya Dewi, karena kamu sudah sehat kembali seperti dahulu" Lea berkata sambil menitikan Air Mata sukacita.
Dewi langsung melepaskan pelukannya, kemudian dia langsung menoleh melihat Lea, dengan senyuman Lebarnya dia mengangkat tangannya memberikan tanda pelukan, yang langsung disambut oleh Lea dengan bergegas memeluk Dewi.
Beberapa orang memberikan semangat salam kepada Dewi, yang disambut Dewi dengan sukacita dan senyuman bahagia.
"Apa kalian melihat Lemon?" Tanya Dewi penasaran kepada semua orang, terlebih khusus kepada Sang Ayah.
__ADS_1
"Nak Lemon ada bawah, sedang duduk beristirahat" jawab Restu Chandra.
Dewi merasa lega karena mendengar Lemon masih berada disitu, dia menganggukan kepalanya pelan, dia hanya merasa takut jika Lemon sudah pergi.
"Aku Masih disini Tuan Putri" Sahut Lemon yang berjalan selangkah demi selangkah masuk kedalam Kamar.
"Ciihh" gerutu Dewi dengan memutar bola matanya, menandakan ketidak puasannya mendengar ucapan dari bibir Lemon.
"Aku Bukan Tuan Putri ya Om, Namaku Dewi Chandra" Ketus Dewi pura-pura ngambek, sambil dia memutar wajahnya kearah Jendela.
"Cieee... Non Putri Pura-pura Ngambek weeii... Padahal dalam hati Rindu berat" Ejek Lea sambil mencubit lembut lengannya Dewi.
"Tuan Patriak! Non Dewi sudah sembuh, jadi saya mohon Pamit" Kata Lemon sambil menundukkan sedikit kepalanya.
"Eemm.. Kenapa Nak Lemon buru-buru, kita sebaiknya makan malam saja disini, berhubung ini sudah mau hampir malam" Jawab Lili dengan penuh harap.
"Maaf Nyonya, terimakasih atas tawarannya, tapi saya harus pergi ada sesuatu yang harus saya selesaikan" Sambut Lemon dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa? Kamu kelihatan tergesa-gesa begitu? Apakah seseorang menungguu disana? Hah" Tiba-tiba Dewi berkata dengan nada suara yang menggerutu.
Wajah semua orang tercengang, mendengar ocehan Dewi yang sangat sungguh-sungguh itu.
"Mungkin Tuan Lemon ada keperluan penting, makanya dia akan sangat terlihat tergesa-gesa" dijawab cepat oleh Restu Chandra.
"Sudahlah Ayah! Biar saja dia pergi, mungkin seseorang itu lebih penting dibandingkan kita disini" Ujar Ketus oleh Dewi.
Lemon hanya bisa menghela nafas panjang ketika dia mendengar perkataan Dewi.
Dennis berjalan didekatnya Lemon, kemudian dia berbisik "Kamu jangan Egois, Dewi itu lagi butuh kamu disampingnya, kenapa kamu malah pergi, sih".
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Lemon lirih sambil berbisik
"Heemm.. Kamu memang dasar Es Balok, yaah.. Kamu harus turutilah, apa yang dia inginkan" ujar Dennis berbisik lagi.
Dennis melanjutkan "Kamu memang gak peka dengan perasaan wanita".
"Kamu tahu darimana cara-cara itu, Memangnya kamu sudah pernah pacaran?" Tanya Lemon sambil melihat kearah Dennis.
"Eemm..yah.. Memang sih.. Aku belum pernah pacaran, tapi! Aku sering membaca NovelToon, tentang Cerita-cerita Romantis ala-ala korea gitu" Jawab Dennis dengan gelagapan.
__ADS_1