
"Iya Sayang?? By by.. Ummuaah" Sambut Marko membalas kata terakhir Vina diujung Telepon, setelah itu sambungan teleponpun berakhir.
Selesai berbicara ditelepon, Marko berjalan masuk kedalam rumahnya, kemudian dia melihat Pintu Kamar Ki Buyut dan beberapa orang-orangnya sudah terbuka sedikit.
Marko mendekati pintu kamar tersebut, kemudian dia sangat tercengang ketika dia melihat Ki Buyut, sedang dikelilingi oleh 4 orang saudara seperguruannya, mereka melakukan ritual pemanggilan Roh Jahat.
Dengan dikelilingi Kabut Hitam gelap, Ki Buyut bersama beberapa saudaranya, dibungkus oleh Kabut Hitam tersebut, dengan sebuah putaran tornado ditengah-tengah kabut hitam tersebut.
"Apa yang mereka lakukan? ilmu sihir apakah itu? Kenapa terlihat sangat mengerikan" Batin Marko sembari dia bergidik ngeri, dia melihat bulu tangannya berdiri dan merinding, sewaktu kabut Hitam itu berubah menjadi wajah sangat besar, dan memiliki tanduk dan taring sangat tajam.
Marko menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ketika dia melihat Wajah itu bergerak dan berkata "Kenapa Kalian memanggilku? Apakah sudah ada korban persembahan yang sudah kalian persiapkan untukku?" Kata Wajah itu yang terdengar sangat mengerikan, bagaikan suara dari alam kubur.
"Sudah Ada Tuan! Nanti malam kami akan membawamu ketempatnya" Jawab Ki Buyut dengan masih berlutut ditanah, dengan masih dikelilingi oleh saudara seperguruannya.
"Bagus! Kalian memang sangat patuh, kalian panggil saja saya nanti... hahaha" Kata Wajah itu sambil tertawa terbahak-bahak, yang membuat kamar itu sedikit bergetar.
Selesai berkata Wajah itu kembali menjadi kabut, kemudian dia langsung menghilang dalam sekejab.
Marko langsung perlahan meninggalkan tempat itu, di sangat takut dengan kabut itu yang berwujud menjadi kepala yang sangat besar, sedangian Ki Buyut dan Saudara seperguruanya, mereka tersenyum puas, karena sudah bertemu dengan Tuan mereka si Raja iblis.
Dikediaman Chandra, Lemon mengantar Dewi karena hari sudah menjelang sore, dan sebentar lagi malam.
Lemon berjalan masuk kedalam aula keluarga chandra, dia bersama Dewi. Lemon sengaja singgah dirumah chandra untuk mengecek keadaan Lili si Calon Mertua.
Sesampainya mereka diruangan Tamu, mereka hanya disambut oleh Lili, sementara Lemon menyapu dengan pandangannya keseluruh ruangan, namun dia tidak menemukan keberadaan Restu Chandra maupun Kenji.
"Nak Lemon, ternyata kalian bersama" sapa Lili berpura-pura tidak tahu hubungan anaknya dengan Lemon, si pria kurus dan miskin.
__ADS_1
"Iya Nyonya.. Kebetulan tadi saya menemani Non Dewi jalan-jalan kepantai, tapi sudah lupa waktu" Jawab Lemon sambil tersenyum.
"Oh iya tidak apa-apa, kalau Dewi pergi sama kamu, ibu gak khawatir" Kata Lili sangat singkat namun dipenuhi dengan beberapa makna.
"Nonang, Nang Non, siapa Nona mudamu, memangnya kamu pembantuku? Makanya ngomong seperti itu? Hah! Bukankah aku pernah bilang, kamu jangan memanggilku Non" kata Dewi kesal, sambil dia memonyongkan bibirnya.
"Tapi, kenyataannya memang begitu kan? Saya hari ini menjadi supir pribadimu" ujar Lemon dengan tertawa kecil.
"iiisss!. Kamu tu ya!" Dewi berkata kesal sambil dia menghentakan kakinya.
"Sudah! Sudah.. Kok kalian bertingkah seperti anal kecil sih?" Lili berkata menengahi mereka berdua.
"Tuan Patraik dimana nyonya? Kenapa dia tidak keliahatan" Lemon berkata sambil melihat kursi Restu Chandra, ingi mencari tau keberadaan orang tua itu.
"Oohh Iya.. Tadi siang mereka pergi ke Tempat pembangunan Pabrik, karena disana telah terjadi kecelakaan, ada beberapa karyawan telah meninggal dunia, dan puluhan lainnya mengalami patah tulang" Lili menceritakan dengan wajah sendu.
"Bukankah Hasrat telah menyetujui Proposal mereka, lalu kenapa perusahaan Chandra masih kekurangan Dana?" Kata Lemon membantin dalam hati.
"Bu!" Rengek Dewi yang masih berdiri disebelah Ibunya. Lili langsung menatapnya dengan tatapan penasaran, lalu berkata: "Kenapa Nak?".
Dengan senyuman yang tidak bisa diartikan, Dewi melihat Ibunya kemudian dia menatap Lemon, kemudian dia kembali menatap Ibunya sambil berkata: "Bu.. Apakah Ibu gak marah? Karna aku dan Lemon pa. pacaran" Kata Dewi terbata.
Mendengar pernyataan Dewi kepada Ibunya, sontak saja wajah Lemon menjadi tercengang, dia tidak menyangka Dewi akan senekat itu.
Lemon hanya bisa menundukan kepalanya, karena dia sangat merasa malu kepada Lili ibunya Dewi, untunglah hanya Lili yang berada disitu, jadi tidak banyak mata yang memandangnya.
Lili hanya hanya tersenyum, kemudian dia duduk disofa yang berada disebelahnya, ketika dia mendengar pernyataan dari mulut Dewi. Sedangkan Lemon hanya bisa mengutuk kelakuan Dewi barusan, dia menggertakan giginya dengan mulut Dewi yang Ember itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Ibu Lili marah, tentu saya akan mati bunuh diri" Batin Lemon dalam hatinya, karena dia sadar akan perbedaan dirinya dengan Dewi.
"Kalau ibu sih, gak apa-apa, ibu setuju! Saya kira Ayahmu juga bakal setuju, karena Nak Lemon mampu menjagamu" Kata Lili sambil memandang Dewi, yang membuat Hati Lemon yang deg degan, dalam sekejab berangsur-angsur pulih kembali.
Sementara Dewi yang mendengarkan Persetujuan dari ibunya, dia langsung kegirangan melompat dari tempatnya, kemudian dia melangkah disamping ibunya yang sudah duduk disofa.
Dewi memeluk ibunya sambil mencium pipi ibunya yang sudah mulai tua itu, lalu dia berkata: "Makasih ya Bu? Aku senang banget dengar ibu merestui hubungan kami".
"Iya..iya.. Ibu percaya kok sama Nak Lemon" sambil dia melihat Lemon, yang sudah duduk dan menundukkan kepalanya karena merasa malu.
Lili mengusap punggung putri kesayangan itu, ketika Lemon berkata: "Makasih ya Nyonya, Nyonya sudah mengjinkan saya untuk bisa bersama Non Dewi..eh.. Dewi" kata Lemon dengan suara terbat-bata.
"Nak Lemon tidak usah gugup seperti itu, saya bahkan kami sekeluarga sangat bersyukur, jika Nak Lemon bisa menjaga Dewi, karena Dewi merupakan anak satu-satu kami, jadi kami berharap dia tidak memilih laki-laki yang tidak bisa bertanggungjawab" ucap Lili dengan senyuman yang sangat bahagia, terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Baik Nyonya saya berjanji akan selalu menjaganya dimasa depan" Ujar Lemon dengan jujur.
"Baiklah! Ini merupakan berita baik dikeluarga kita, jadi apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya Lili yang membuat Dewi dan Lemon melongo bagaikan orang yang idiot.
Lemon dan saling tatapan, karena mereka masih belum memiliki jawaban dari pertanyaan ibundanya itu.
"Loh.. Kok kalian diem sih? Maksud ibu.. Apakah kalian tidak punya rencana, misalnya lamaran dan terus tunangan, atau langsung menikah! Kan tidak mungkin kalian hanya terus pacaran" Ucap Lili panjang lebar, yang semakin membuat Dewi dan Lemon pusing sendiri.
Dewi yang baru tersadar dari keterkejutannya langsung berkata kepada ibunya "Buu... Kami kan masih kuliah! Jadi kami masih belum punya rencana untuk menikah" kata Dewi menjelaskan.
"Oh iya ya! Ibu sampai lupa, maklumlah sudah mulai tua" ujat Lili melongo, yang membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak.
Mereka yang masih tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba mereka terkejut ketika HPnya Dewi berdering.
__ADS_1