
"Mu.. mungkin mereka lagi sibuk Tuan, tapi mereka semua didalam kok, untuk menyambut kedatangan kita" Jawab Wandi dengan terbata, dia sedikit gemetar karena takut Pria Tua disampingnya tersinggung.
"Aahh.. Nacu! ndra niha da'a, ufaigi ira da'a, ira niha Fio.. (Ahh.. Orang ini sepertinya mereka tidak menghargai kedatangan Tamu)" Balas Pria Tua itu dengan ketus.
Tidak lama kemudian Kenji keluar dari dalam Rumah, dia langsung menghampiri dokter wandi dan pria tua yang bersamanya.
"Salam Hormat Tuan? Silahkan masuk kedalam, Tuan Patriak Chandra sedang menunggu didalam" Sambut Kenji dengan penuh hormat.
Dokter Wandi hanya menganggukan kepala, kemudian dia mengajak pria tua itu untuk masuk kedalam rumah kediaman Chandra.
Setelah mereka semua masuk kedalam Aula besar kediaman Chandra, Lemon sedang duduk disofa sambil dia memegang gelas tehnya.
Lemon tidak melirik kedatangan mereka sama sekali, dia hanya terus menatap lurus kedepan dengan wajah acuh tak acuh.
Dr wandi melirik Lemon yang sedang asik duduk santai dan menyeduh teh miliknya, Dr Wandi mengerutkan keningnya kemudian dia mengangkat sedikit sebelah bibirnya.
"Ternyata! Bocah ingusan ini berani menunjukkan mukanya didepan Kepala Keluarga Chandra" Kata Dr Wandi Mencibir.
"Siapa yang kamu bilang Bocah?? Hah" Pria Tua disebelah Dr Wandi angkat bicara.
Dr wandi menatap kearah Lemon sambil mengangkat tangannya "Maaf Tuan! Yang saya maksud Bocah! Ana yang sedang duduk disofa itu".
"Heemm.. Untuk apa dia datang kemari?" Pria Tua itu bertanya sambil dia mengangkat sudut bibirnya.
"Saya juga kurang tahu Tuan" jawab Dr Wandi dengan cepat.
"Itu Tuan Lemon! Dia datang kemari untuk mengobati penyakit Nona Muda keluarga Chandra" Kata Kenji singkat menanggapi pertanyaan pria tua yang sedang berdiri menatap Lemon.
"Ciihh... Seumur-umur, saya tidak pernah dihadapkan dengan seorang Bocah Kecil yang masih ingusan, mana mungkin bocah seperti itu tahu soal medis.. Sangat lucu!" Cibir Pria Tua dengan menyeringai.
"Lebih baik kita langsung melihat kondisi Nona Muda, tidak ada gunanya kita terus membahas anak kecil ini" kata Dr Wandi kepada Pria Tua.
"Baik" jawab pria tua singkat, kemudian dia langsung mengikuti Dr Wandi dan Kenji untuk menuju lantai atas kekamar Dewi.
__ADS_1
Lemon hanya bisa menekan amarahnya, sewaktu dia mendengar pihak lain berkata tentangnya dengan kata-kata penghinaan.
"Biarlah mereka mencobanya, apakah mereka mampu mengobati penyakit itu" seru Lemon yang bergumam dalam hatinya.
Restu Chandra dan Lili, mempersilahkan Dr Wandi dan Pria Tua itu untuk memeriksa kondisi Dewi.
Pria Tua memegangi tangan Dewi, dengan menyeringai dia sedikit tersenyum kecut, dia tertarik dengan gadis cantik yang sedang telentang dihadapannya.
"Tubuh yang sangat indah! Sayang sekali kalau dilewatkan untuk tidak dinikmati" Kata-Kata Pria Tua itu didalam Hatinya.
Pria Tua itu berhenti sejenak untuk mencari alasannya supaya bisa berduaan dengan Dewi.
"Ehhemm.. Eheemm.. Em begini! Menurut dengan pengamatan saya, Nona ini telah terjerat roh jiwa yang sangat Kuat, jadi saya tidak bisa melakukan Ritualnya kalau banyak orang, kalau bisa semuanya keluar, saya takut Roh Jiwa didalam Tubuhnya akan mengamuk, dan bisa-bisa menelan korban" Kata Pria Tua itu berusaha meyakinkan.
"Loh.. Kok bisa seperti itu? Apakah kami atau saya tidak bisa menemaninya? Jawab Lili dengan sedikit ada rasa khawatir terpancar dari Nada Suaranya.
Restu Chandra sedikit panik, karena bagaimanapun dia mengelak dia tetap tidak punya alasan untuk itu, karena sebelumnya dia sudah meminta tanggapan Lemon terkait pengobatan Dr Wandi, kemudian dia sudah meyakinkan Lemon akan Dr Wandi yang bekerja secara Profesional.
Restu Chandra menghela Nafas Panjang, kemudian dia berkata "Kalau tidak ada jalan lain tidak masalah, asalkan Anak Bisa Sembuh dari Komanya".
"Tuan Patriak! Serahkan semuanya sama saya, saya sudah puluhan tahun mengobati penyakit seperti ini, jika dilakukan dengan penuh ketelitian maka percayalah Penyakit Anak Anda dalam sekejab akan sembuh" Kata-Kata Pria Tua itu terlihat sangat Tulus tanpa ada sedikitpun maksud jahat.
"Ayah.. Saya tidak percaya dengan ucapan orang tua ini, bagaimana kalau dia macam-macam sama anak kita?" Bisik Lili ditelinga Restu Chandra dengan penuh kekhawatiran.
"Hahah.. Nyonya terlalu mencurigai saya, asalkan Nyonya Tahu bahwa saya sudah menjadi Tabib Selama puluhan tahun, saya tidak pernah melakukan hal-hal yang menjijikan" Pria Tua itu terkekeh Geli ketika dia mendengar Bisikan Lili kepada Restu Chandra.
"Oh.. Tidak, Tidak Tuan! Istri saya salah bicara, Mohon maafkan dia" Restu Chandra langsung memotong kata-kata Pria Tua itu.
Kemudian dia langsung menarik tangan istrinya "Ayo semuanya!! Tinggalkan Ruangan ini biarkan Tuan Tabib melakukan pengobatannya" Ucap Restu Memberikan perintah kepada semua orang yang berada didalam kamar itu.
Semua orang-orang keluar dari dalam kamar Dewi, tinggal menyisakan Pria Tuan dan Dr Wandi dan beberapa bawahannya.
"Kenapa kalian masih disini?? Saya kan sudah bilang? Supaya tidak satu orangpun yang masih tinggal didalam kamar ini, karena Roh Jiwa yang ada didal Tubuh ini sangatlah Kuat" kata Pria Tua yang dipenuhi dengan Modus.
__ADS_1
"Ba.. Baik Tuan" Jawab Dr Wandi Singkat, sehingga dalam hitungan detik mereka semua sudah meninggalkan Kamar itu.
Setelah semua orang sudah meninggalkan kamar itu, Pria Tua itu tersenyum dengan penuh bangga kemudian dia memandang Dewi yang sedang tak sadarkan diri.
"Sangat sempurna! Aku sangat beruntung hari ini.. Hahaha" Pria Tua itu berkata lirih sambil mendekat kearah Dewi yang sudah terbaring diatas tempat tidur.
Di Aula utama keluarga chandra, Lemon masih sedang duduk dengan menutup matanya, dia sedang memulihkan tenaga dalamnya, karena beberap hari terakhir dia sudah banyak kehilangan Energi Qi Esensialnya.
Reatu Chandra bersama dengan istrinya, mereka menghentakan tubuh mereka diatas Sofa tepat didepan Kursi Lemon.
Lemon terkejut ketika dia mendengar suara hentakan didepannya, dia membuka matanya dengan pelan.
Matanya sangat terkejut melihat Restu Chandra dan Lili sedang duduk disofa dengan wajah sembabnya.
"Kenapa Tuan dan Nyonya keluar? Bukankah Dewi sedang diobati?" Ucap Lemon dengan rasa penasaran.
"Iya Nih.. Saya kurang tahu kenapa kami semua disuruh keluar oleh Tabib itu, katanya dia tidak bisa melakukan pengobatan kalau masih banyak orang disampingnya, karena dia takut Roh Jiwa itu mengambuk dan mengakibatkan korban yang lain" Ujar Lili dengan nada tidak tenang, dia terlihat sangat panik dengan keadaan seperti ini.
Mungkin kalau Lemon yang melakukan hal demikian, Lili tidak akan merasa keberatan dan risih sama sekali.
Namun sekarang kenyataanya sudah sangat jauh berbeda, sehingga dia terlihat sangat Muram tanpa ada sedikit terpancar senyuman yang bahagia.
Lemon hanya menautkan keningnya, dia sejenak menyandarkan punggungunya disofa, kemudian dia berpikir sejenak.
Kemudian Lemon mengedarkan kesadaran ilahinya, dia ingin memastikan tentang apa yang akan direncanakan oleh pria Tua itu.
Karena walaupun Lemon tidak melihatnya sewaktu dia datang tadi, namun Lemon mencium bau yang tak sedap dari tubuh Pria Tua itu, dia terlihat seperti berasal dari Kuil Penyembah Setan atau Roh jahat.
Tanpa semua orang sadari, Lemon sudah memasuki kamar tempat Dewi sedang terbaring.
Pria Tua tidak menyangka Lemon akan mampu menggunakan kesadaran ilahinya, karena sewaktu dia melihat Lemon tadi, dia tidak bisa mencium kekuatan Lemon yang sebenarnya, karena Lemon sudah menyembunyikan kekuatannya.
Dr wandi yang duduk disofa yang berseberangan dengan tempat Lemon duduk.
__ADS_1