
Namun Tiba-tiba Patung sang petapa sudah berada tepat dibelakangnya, yang membuat Lemon terkejut hebat, dan tanpa memberi kesempatan, sang Patung Petapa mengibaskan tangannya, yang membuat Lemon kembali terbang masuk lebih dalam kearah Gua.
Ketika Lemon terjatuh ketanah, dia langsung tersungkur dan meringkuk bagaikan udang goreng, dia tidak bisa menebak kekuatan pihak lain.
Lemon merasakan seluruh internalnya telah patah dan tercabik-cabik.
Lemon telah berusaha berdiri namun dia tidak mampu, sehingga dia mengeluarkan Tombak Nias Selatannya yang ada disaku tempat penyimpanannya.
Tombak Pusaka Nias Selatan itu berwujud seperti Pen, dan ketika dia digunakan oleh sang pemiliknya makanya dia langsung berubah menjadi benda pusaka yang sangat sakti.
Lemon langsung melemparkan Tombak Pusakanya kearah Patung petapa, Tombak itu melesat bagaikan peluru, yang mengakibatkan tabrakan hebat dengan dentuman yang sangat menggelegar.
Asap menyebar kesegala arah, yang membuat tempat itu tertutupi dengan asap putih pekat, sehingga pandangan terhalang dengan permanen.
Lemon menggerakan tangannya dia berharap Senjatanya akan segera kembali, namun seberapa kuat dia memanggil, tetap saja tidak ada tanda-tanda senjatanya akan kembali.
Beberapa saat kemudian dari Gumpalan Asap tebal, terlihat sebuah sosok yang berjalan dengan tegak, ketika dia berjalan semakin dekat maka bau terlihat jelas penampakannya.
Lemon mengusap-usap matanya, kemudian dia menggeleng pelan, dia baru sadar patung petapa sudah memegangi tombak pusakanya, dan dalam satu gerakan, Tombak Pusaka Nias Selatannya hancur terbagi menjadi beberapa bagian.
Patung Petapa sekarang menatap Lemon bagaikan Dewa Pencabut nyawa, dia bergerak dengan pelan namun sangatlah menakutkan.
Lemon berusaha berdiri tegak, dengan sisa-sisa kekuatannya akhirnya dia berhasil mensejajarkan tubuhnya kembali.
Setelah mendapat pijakan kaki yang kuat, Lemon mengayunkan tangannya keatas langit, dia langsung mengeluarkan Jurus Naga Pencabut Nyawa.
Dengan kekuatan penuh Lemon langsung melesat kearah Patung petapa, dengan diikuti oleh sebuah sinaran cahaya.
"Boom" Suara Ledakan terdengar nyaring, yang membuat tempat itu bergetar hebat, sehingga mengakibatkan beberapa patung yang lain berjatuhan ketanah.
__ADS_1
Debu-debu memenuhi tempat itu, sehingga penglihatan menjadi samar dan tidak tembus pandang.
Lemon terbatuk-batuk, dengan memegangi dadanya yang sudah tidak terbungkus oleh kain, dan darah sudah mengalir dari dalam mulutnya.
Pakaian Lemon menjadi compang-camping, tidak kelihatan lagi bentuk semulanya, akibat ledakan karena tabrakan dengan patung petapa.
"Siaalann.. Aku ternyata kalah telak dengan kekuatan patung ini! Saya sudah mulai kehabisan tenaga menghadapi makhkuk ini" Gerutu Lemon dalam hatinya, dengan terus menatap kearah pihak lain, dan tangannya masih memegangi dadanya.
Lemon mengangkat tangannya keatas langit, dalam sekejab Pedang Emas nampak berkilau ditangannya, yang membuat tempat itu menjadi transparan karena sinar dari Pedang Emas.
Lemon menurunkan Pedang Emasnya dan menancapkan didepannya, dia bertujuan ingin menggertak pihak lain, namun tujuannya itu sia-sia, karena Patung Petapa sama sekali tidaklah bergeming.
Dengan munculnya Pedang Emas, 5% Kekuatan Lemon bertambah, karena tidak ada cara lain selain Lemon menggunakan sebagian kekuatan dari pedang emasnya.
"Uuhuk.. Uuhukk" Lemon terbatuk, kemudian dia langsung mendekati lagi patung petapa.
Lemon sudah mendapatkan sedikit kepercayaanya, sehingga dia langsung mengarahkan Pedang Emasnya kearah patung petapa.
Namun sebelum Pedang Emas mendarat ditempat tujuannya, terlebih dahulu Patung Petapa menggerakan tangan kanannya, dia langsung meraih Pedang Emas, bersamaan dengan dia menarik Lemon kepadanya.
Lemon langsung tertarik dengan sukarela kearah Patung Petapa, sehingga Patung Petapa mengibaskan tangan kanannya "Bruuk.. Bomm" Pukulan mendarat keperut dan dadanya Lemon, yang membuat Lemon terpental lagi dengan cukup jauh kebelakang.
Pedang Emas langsung terlempar kesisi lain, dengan langsung menancap ditanah.
Namun belum sempat Lemon mengambil udara segar, satu tendangan, dua tendangan dan beberapa pukulan lain, langsung dikerahkan oleh Sang Patung Petapa, yang membuat Lemon semakin merasakan Organ Internalnya bagaikan telah hilang.
"Duaar.. Bruuk.. Boom" Suara Pukulan terus bergema, yang membuat Suasana disekitar Mulut Gua menjadi Hening, tak ada lagi suara-suara hewan yang berkeliaran diarah sana.
Lemon hanya terus menatap Pedang Emasnya yang menancap ditanah dengan benar, sepersekian derik berikutnya tatapannya menjadi buram dan akhirnya dia tidak sadarkan diri lagi.
__ADS_1
Patung Petapa masih terus melakukan serangannya, sampai-sampai tempat Lemon berada menjadi berlubang sekitar setengah meter dalamnya.
Setelah Lemon tidak bergerak dan bernafas lagi, barulah Sang Patung Petapa menghentikan Aksinya, dia kemudian melompat keluar dari dalam lobang tempat Lemon berada saat ini.
"Kamu Jangan Gegabah dalam menghadapi Masalah, kamu harus mempelajari Medan tempat kamu berada" Suara Itu terbayang diingatan Lemon, karena sekarang dia berada didalam dimensi yang berbeda.
"Kekk... Kakek.. Kakek dimana? Kenapa saya tidak melihat Kakek!" Ucap Lemon sembari mencari-cari keberadaan sumber suara itu.
Lemon tidak menemukan keberadaan Sumber Suara tersebut, dia hanya bisa melihat cahaya dan suasana tempat yang putih, dia seakan berada di dalam ruangan berkontraskan putih.
"Kamu jangan mencariku, karena saya berada didalam dirimu, kamu harus mampu mengalahkan Egomu sendiri, barulah kamu belajar untuk menguasai keadaan disekitarmu" ujar Sang Kakek penuh dengan penegasan dan peringatan.
Kemudian Sang Kakek melanjutkan kata-katanya "Kamu Jangan memiliki hawa Nafsv untuk mengalahkan orang lain, karena kalau memiliki pemikiran seperti itu, kamu akan terbawa dengan suasana hati yang berkecambuh dan lupa dengan kelemahan pihak lawan, yang akan membawa dampak kelemahan pada dirimu sendiri".
"Baik Kek! Saya mengerti, mohon berkat dan doa suci dari kakek" Jawab Lemon dengan membungkukkan tubuhnya.
Setelah Lemon selesai berkata, tiba-tiba suasana yang begitu cerah berubah menjadi Gelap darah, Lemon hanya bisa mengerutkan keningnya dengan perasaan Heran.
Lemon melihat didepannya Lautan Darah Gelap yang dipenuhi dengan berbagai macam bung, dan kupu-kupu kecil yang berterbangan disegala arah.
Lemon berjalan menelusuri tempat itu, dia berharap mendapatkan petunjuk supaya bisa keluar dari dimensi itu.
Setelah berjalan beberapa meter, Lemon merasakan ada sebuah cahaya putih yang terlihat samar dari kejauhan, sehingga dia memperhatikan kearah cahaya tersebut dengan seksama.
Lemon terus mendekati sumber cahaya tersebut, setelah dia sampai didekat cahaya tersebut, dia melihat cahaya itu tengah berada disegerombolan kupu-kupu cantik, cahaya itu telah menempel disebuah bongkahan batu kecil sebesar telapak tangan.
Lemon menggerakkan tangannya, dia meraih cahaya tersebut yang membuat tanganya langsung bergetar hebat, kemudian dia langsung tersedot kedalam cahaya itu, dia dibawa kedalam dimensi lain.
Sementara kembali didalam Gua, Patung Petapa berjalan kembali ketempatnya, tiba-tiba dia melihat Sinar Putih yang sangat menyilaukan, sinar itu besar bagaikan sinar matahari disiang hari.
__ADS_1
Patung Petapa memutar badannya, dia memperhatikan asal sinar tersebut, namun dia terus menatap Ketika.