
"Semoga saja dia tidak kenapa-kenapa disana" Restu Chandra berkata pasrah, ketika dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Lemon.
"Ayah! Tolong utus orang untuk membantunya! Apakah ayah lupa siapa yang telah menolong Ayah dan ibu?" Dewi berkata sangat berharap kepada Ayahnya, dan terlihat dari bola matanya, sudah muncul noda-noda air mata, namun dia tidak berani mengeluarkan Air Matanya didepan orang tuanya.
Melihat ekspresi anaknya, Restu Chandra menjadi merasa bersalah, sehingga dia berkata kepada Kenji: "Kenji! Kamu bawa orang-orangmu untuk membantu Tuan Lemon".
"Tuan Chandra, mohon maaf! Kalau bisa jangan mengirim orang-orang lagi disana, itu hanya menambah beban Tuan Lemon saja".
Mendengar hal itu, Restu Chandra hanya bisa menghela nafas panjang.
Kembali di Aula, dimana Lemon dan David Laiya masih bertatapan, kabut hitam mengeluarkan Aura Energi Qi yang sangat besar, raungannya sangat menggertakan hati.
David Laiya menerjangkan Kabut Hitam kearah Lemon, namun Lemon dengan kehebatannya, dia langsung memblokir Kabut Hitam, dengan Asap putih yang keluar dari dalam jari-jarinya.
Kabut Hitam langsung melahap, Asap putih yang terlihat hanya sedikit, namun apalah daya nasi sudah jadi bubur, Kabut Hitam langsung dihisap dalam pusaran Asap Putih bagaikan angin Tornado, yang membuat Kabut hitam meraung dengan sangat kencang, dan akhirnya dia hilang tersedot didalam Asap Putih tersebut.
David Laiya langsung terjatuh ketanah, dia sudah sangat banyak terkuras Energi Qi Esensialnya, dia berkeringat dingin, dan perlahan kesadarannya menjadi hilang.
David Laiya jatuh tersungkur ditanah, dan kemudian suara Jangkrik terdengar dari luar, menandakan sudah menjelang fajar.
Lemon hanya bisa menarik kembali, seluruh Qi Spiritual yang sudah dia lepaskan, dan dia melirik David Laiya yang sudah tergeletak, dia tidak berkata apa-apa.
Kemudian Lemon memutar tubuhnya, dan menyuruh Rius, untuk menguburkan semua Mayat, yang tergeletak ditanah supaya dikubur dengan layak.
Selesai berkata, Lemon langsung berbalik pergi dari tempat itu bersama Maret Silalahi, dia langsung pergi divilanya, diperumahan Villa Ginting.
Jam 9 dipagi hari yang cerah, Lemon berjalan memasuki Loby kampus, dia tiba-tiba dikagetkan dengan suara Bryan dari belakang.
"Heeiii.. Bang Broku! Kapan kamu pulang dari Puncak Gomo" dengan gaya anak gaul, bryan berkata sambil mendekati Lemon, kemudian dia merangkul Lemon.
Lemon hanya bisa tersenyum melihat Bryan, kemudian dia berkata: "Saya baru pulang 2 hari yang lalu".
__ADS_1
"Oh ya... Bagaimana Hubunganmu dengan Lea? Kapan kalian merayakan?" Lanjut Lemon berbasa-basi.
Lemon dan Bryan Calvin, berjalan memasuki pintu Masuk Kampus, kemudian mereka langsung menuju kantin.
Dikantin kampus, Lemon melihat berita di TV, tentang Kepala Keluarga Song, yang sudah berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, bersama Putrinya Tiwi Song dan Kepala Pelayan keluarganya Yupiter.
Lemon hanya bisa menghela nafas, ketika dia melihat berita, bahwa Valen Song sudah aman, dan yang menjadi dalang dari semua ini adalah Keluarga Laiya.
Berita penangkapan David Laiya, bersama dengan orang-orangnya, dalam sekejab berita itu meluas bagaikan sunami palu.
Yoel yang duduk diseberang meja Lemon, mengepalkan tinjunya ketika dia mendengar Keluarga Laiya telah ditangkap, atas tuduhan pembunuhan berencana, Yoel yang merupakan teman akarabnya Marko, merasa sangat geram melihat berita di TV, ditambah lagi omongan anak-anak kampus yang lain, yang terus menghujami keluarga marko dengan penghinaan.
Yoel yang sudah geram, dan tidak tahan mendengar kata-kata pihak lai, dia lebih memilih untuk pergi dari tempat itu.
Tiba-tiba dari Arah Pintu Kantin, Bintang Kampus datang bersama bestinya, mereka berjalan kearah Bryan dan Lemon.
Lemon tidak melihat kedatangan kedua Gadis itu, karena Lemon sibuk mengerjakan tugas-tugas pribadinya, yang akan diserahkan hari ini.
Seketika Lemon melihat sumber suara itu, dia terkejut melihat Dewi dan Lea sudah duduk diseberangnya.
Dewi tidak berkata apa-apa, dia hanya terus menatap Lemon, yang laki-laki itu sangat terlihat misterius didalam hatinya.
Lemon menghentikan kegiatannya menulis, kemudian dia menatap Dewi dengan senyumannya, yang sangat tampan itu bila diperhatikan dari jarak dekat.
"Ciihh" Dewi langsung membuang mukanya, ketika Lemon menatapnya dengan senyuman.
Melihat tingkah bintang kampus itu, Lemon langsung teringat dengan perkataannya kemarin, bahwa pagi ini dia menunggunya ditaman kampus, mengingat hal itu Lemon langsung bergegas ketaman kampus.
Sembari Lemon berdiri, dia berbisik "Saya Tunggu ditaman kampus" kemudian dia langsung pergi.
Dewi langsung beranjak pergi, tanpa dia mengucapkan satu katapun kepada temannya.
__ADS_1
Sesampainya mereka berdua ditaman, Lemon yang sudah duduk dikursi, dia mempersilahkan Dewi untuk duduk, namun Dewi tidak mau duduk, dia memilih untuk berdiri dibelakang Lemon, dengan tangan menyilangkan didada.
"Baiklah kalau kamu tidak mau duduk, saya juga tidak mau berbicara dengan hantu" Lemon berkata datar.
Mendengar ancaman dari Pihak lain, Dewi menggertakan giginya dengan menghentakan kaki, dia duduk dikursi disamping Lemon, dengan membanting tubuhnya dengan kasar.
Sekitar lima menit, mereka hanya bisa mematung tanpa berkata satu yang lain.
Lemon membuka suara dengan bertanya "Sekarang? Katakan apa yang ingin kamu katakan, karna saya tidak punya banyak waktu".
"Aiiss... Belum menjadi apa-apa sudah sangat sibuk" Dewi mencibir acuh tak acuh.
"Terserah Nona Putri saja, yang jelas saya katakan apa yang sebenarnya" Lemon menjawab dengan senyuman.
"Saya Minta maaf kalau selama ini, saya terlalu jahat sama kamu"
Sebelum Dewi selesai berkata, Lemon langsung memotong perkataannya.
"Kamu tidak pernah jahat sama saya!" Lemon berkata asal, sambil dia memajukan tubuhnya kedepan, dia menatap Dewi yang begitu manis, yang sedang asik berbicara disampingnya.
Dewi menjadi salah tingkah, ketika dia melihat menatap seperti itu, dengan senyuman Lemon yang menggoda, dia menjadi kehilangan kendali, Dewi langsung menamparkan dengan Lembut Pipi Lemon.
Seketika Lemon tersentak, kemudian dia memegang pipinya yang baru saja di tampar dengan lembu oleh Dewi "iihh.. Kamu kenapa kasar begitu sih?? Sakit tau!" Lemon berkata merengek sambil menggoda Dewi.
"Makanya... Kamu jangan menatapku seperti itu, saya bisa lebih keras dari itu loo" Dewi berkata sambil tersenyum-senyam, sambil menggelembungkan pipinya.
"Sepertinya hari ini kamu sangat senang ya? Kenapa? Apa kamu sudah mendapatkan nilai bagus dari Pak Rahmat?" Lemon berkata melempar.
"iihh.. Mana mungkin saya dapat nilai bagus dari pak rahmat, kamu tau sendiri kan, pak rahmat itu orangnya killer" Dewi berkata tanpa sengaja dia menatap Lemon dengan senyuman.
"Saya mau berterimakasih, karena kamu sudah menyelamatkan Mama dan bapakku, mungkin kalau tidak ada kamu... Saya tidak tau apa yang akan terjadi sama mereka berdua" Dengan wajah polosnya, Dewi berkata sambil meneteskan Air Mata harunya.
__ADS_1
"Kamu tau darimana saya menyembuhkan Mama dan papamu? Perasaan, saya tidak pernah melakukannya? Lagian kamu tau sendiri kan, saya ini hanyalah seorang pengecut" Lemon berkata dengan main-main.