PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 76. Eben Haezer Terhempas


__ADS_3

Hasrat mengantarkan Lemon keVillanya, kemudian tidak menunggu lama, Lemon kembali bersama Hasrat pergi ke Hotel Soechi.


Karna Waktu masih belum sampai, Lemon dan Hasrat memilih untuk duduk santai, sambil menikmati Pemandangan Malam dikota Gowe, karena mereka berdua berada dilantai paling tertinggi di Hotel Soechi.


Tiba-tiba dari ujung ruangan, terdengar suara langkah kaki orang banyak, yang mengakibatkan seluruh Hotel berguncang hebat.


Ardin Kenzo, Eben Haezer dan Murni Halawa, mereka berjalan bersama memasuki ruangan, yang sudah dipersiapkan sejak awal.


Mereka menyapu seluruh ruangan itu, kemudian mereka tertegun ketika melihat hanya ada 2 orang dihadapan mereka, namun orang itu tidak memiliki identitas untuk bertemu dengan mereka.


Kemudian tanpa menggubris kedua orang yang mereka lihat, Ardin Kenzo bersama rekannya langsung duduk dimeja bundar, yang terdapat diruangan VIP tersebut.


Eben Haezer melihat Jam dipergelangan tangannya, kemudian dia berbisik kepada Ardin, "Inspketur! Kenapa Lemon tidak muncul, atau jangan-jangan dia takut menemui kita, karena dia memang dalang dari kehancuran Keluarga Valen Song"


"Benar! Saya juga berpikiran seperti itu, kehancuran kelurga Song merupakan suatu perencanaan yang Masif, karena mengingat kekuatan Keluarga Song yang hebat, tidak mungkin bisa hancur hanya dalam satu malam saja" Murni Halawa berkata datar.


"Apakah Pak Inspektur sudah membuat Janji dengannya kan?" Eben berkata dengan wajah penasaran.


"Sudah, katanya dia akan datang jam 8 tepat, tapi kenapa masih belum datang juga?" Ardin berkata menggerutu, sambil dia membuang asap rokoknya diatas langit.


"Coba telpon kembali, biar jelas! Jangan dia permainkan kita dengan menunggunya sampai lebaran monyet" Murni berkata tegas.


Ardin langsung meraih ponselnya, kemudian dia langsung menelpon Lemon, "Dir.. Dirr" Suara Telpon masuk.


Namun mereka tiba-tiba mendengar ada suara panggilan telepon masuk, kemudian mereka melihat arah sumber suara itu, mata mereka semua terbelalak ketika Lemon mengangkat HPnya.


"Hallo" dengan tatapan mencibir, Lemon menatap kearah mereka.

__ADS_1


"Apakah saya habis mabuk ya? Ataukah saya lagi bermimpi" Ardin berkata dalam hatinya, namun tiba-tiba dia menampar pipinya sendiri.


Ardin merasakan sakit, sehingga dia kembali membantin dalam hatinya "ternyata ini nyata".


Hasrat Naibaho memutar tubuhnya, dia melihat kearah Ardin dan teman-temannya, sementara Lemon hanya membuang seyuman dingin, kemudian dia berkata: " Apakah kalian dari Inspektur Kepolisian?" Selesai berkata Lemon langsung berjalan kearah mereka.


Eben menatap Lemon dari ujung kaki sampai ujung kepala, kemudian dia mencibir "Mana mungkin seorang bocah bisa terlibat dalam masalah keluarga Song".


Mendengar pihak lain mengatainya, Lemon langsung menjetikan jarinya kearah Eben, yang membuat Eben seketika terlempar kebelakang, sekitar 4 meter.


Kemudian meja-meja menjadi berterbangan, Karena terhempas akibat tubuh Eben, bahkan Meja Marmer yang sangat mahal, ikut terbelah menjadi 4 bagian.


Ardin dan Murni serta tim mereka, sangat terkejut tak percaya, dengan kejadian yang terjadi didepan mereka, mulut mereka terbuka lebar menyaksikan Eben menabrak Meja tanpa apa-apa.


Eben berdiri setelah dia terhempas ketanah, kemudian dia memuntahkan seteguk darah segar, yang membuat wajahnya menjadi pucat bagaikan es.


Namun Lemon tidak menanggapinya, dia hanya melirik kearah mereka dengan acuh tak acuh, kemudian dia mengangkat sebelah sudut bibirnya "Makanya jangan terlalu banyak membual, dan jangan menilai orang dari luarnya saja".


Mata semua orang tertuju kearah Lemon, mereka tidak menyangka kekuatan Lemon bagaikan kekuatan Dewa Hades.


"Apakah anda saudara Lemon?" Ardin berkata setelah dia berdiam diri selama beberapa menit.


"Iya benar, dan saya sudah menunggu kalian satu jam lalu, namun apa yang terjadi, kalian malah menghinaku" Lemon berkata dingin.


"Maaf Tuan Lemon, itu hanyalah kesalahan kecil, saya berharap saudara Lemon tidak memasukannya kedalam hati" Ardin berkata memohon.


"Heemm... Saya bukan orang Pendendam, saya orangnya luges, saya memang tidak menganggapnya apa-apa, karena teman saudara itu, kekuatanya tidak sesuai dengan ucapannya" Lemon berkata dengan wajahnya sedikit memelas.

__ADS_1


"Ayoo.. Saudara, kita duduk" Ardin mempersilahkan Lemon setelah dia meminta maaf.


Lemon mengikuti apa yang dikataan Ardin, mereka sama-sama duduk disofa, yang sudah disiapkan oleh pelayan hotel.


"Mohon maaf saudara, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" Ucap Ardin Kenzo.


"Boleh? Asalkan saya mengerti dan bisa menjawabnya" Lemon menjawab.


"Eeemm.. Begini saudara, menurut data yang kami terima, Saudara Lemo termasuk salah satu, Oknum yang menyembunyikan Patriak Valen Song, sehingga Valen Song mengalami luka lebam, akibat perbuatan saudara" Ardin menjelaskan panjang lebar.


"Pak Inspektur, saya rasa anda sudah termakan isu, saya rasa data anda yang anda punya tidak valid, sehingga menimbulkan keterangan yang berandai-andai, kenapa anda bisa menjustice seseorang, tanpa anda melakukan penyelidikan tahap demi tahap" perkataan Lemon seketika membuat wajah ardin membara.


Emosi ardin meluap-luap, bagaikan luapan sunami aceh, namun dia menekan emosinya itu karena dia takut, dia tidak bisa mengontrol emosinya, sehingga menimbulkan kegaduhan yang tidak berarti.


"Ini juga hasil Investigasi kami dilapangan saudara, saya harap saudara Lemon mampu mengolah kata demi kata, sehingga orang lain tidak menjadi risih mendengarnya" Ardin berkata santai yang dipenuhi dengan teka-teki.


"Bukankah Valen Song dan seluruh keluarga besarnya masih hidup? Kenapa anda semua tidak langsung bertanya kepadanya, sehingga semua rasa penasaran anda dapat terjawabkan dalam sekejab mata, dari pada sama saya anda bertanya! Apalah yang mau saya ceritakan kepada kalian, sementara saya tidak ada ditempat kejadian pada waktu itu, ini kan merasa aneh" Lemon berkata menghela nafas, sambil dia menggelengkan kepalanya.


"Heeii.. Bocah sialan! Kamu jangan terlalu banyak omong kosong, cepat kamu akui perbuatanmu! maka hukumanmu menjadi ringan dan kamu akan diadili sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku" Eben Haezer berkata dengan emosi yang sangat terbakar.


"Kalian semua! Tangkap dia, jangan biarkan dia lolos dari tempat ini, dan buat dia mengakui segala perbuatannya" Eben terus memprovokasi para bawahannya untuk menangkap Lemon.


Dalam sekejab seluruh para bawahan Ardin dan Eben termasuk orang-orang Murni Halawa, mereka menghadang Lemon dengan tongkat Listrik ada ditangan mereka masing-masing.


Lemon hanya tersenyum sumringah, ketika dia memperhatikan para bawahan yang ingin menangkapnya, kemudian dia berkata acuh tak acuh: "Apakah kalian hanya berjumlah seperti ini? Saya ragu kalian tidak akan mampu melakukannya".


" Sudah! Jangan hiraukan omong kosongnya, ayoo.. Kita serbu saja dia" seorang bawahan berkata berteriak.

__ADS_1


Mereka semua bergerak menyerang Lemon, namun dalam sekejab semua tongkat listrik yang ada ditangan mereka, sudah bertumpuk menjadi satu bagian saja.


__ADS_2