PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab159. Lemon Kembali di Kota GOWE


__ADS_3

Keesokan harinya, cuaca yang sangat bagus dan indah, membuat perjalanan Lemon dan Maret Silalahi berjalan dengan mulus tanpa ada gangguan.


Mereka sampai di Kota Gowe sore pada hari, sehingga ketika mereka menginjakan kaki ditanah, mereka langsung menghubungi Hasrat Naibaho melalui Telepon umum untuk menjemput mereka di pelabuhan.


Satu Jam mereka sudah menunggu, Hasrat Naibaho akhirnya sampai didermaga Pelabuhan Kota Gowe.


"Salam Hormat Tuan! Mohon Maaf saya agak sedikit terlambat, karena diperjalanan ada sedikit kemacetan" Sapa Hasrat membungkuk sambil menyalami mereka berdua.


"Iya tidak apa-apa, sekalian kita berdua duduk santai sejenak menikmati suasana Dermaga ini" jawab Lemon enteng sambil dia melihat kearah Lautan yang luas.


"Ya Sudah! Sebaiknya kita berangkat sekarang" Sambut Lemon sambil berdiri.


Mereka semua langsung bergerak bergegas meninggalkan Dermaga Kota Gowe, Hasrat Naibaho duduk ditempat kemudi, sedangkan Maret Silalahi berada dicopilot.


"Bagaimana Tuan? Apakah Tuan Lemon sudah berhasil mendapatkan obat itu" Tanya Hasrat dengan suara santun, sambil dia melirik Lemon yang sedang menatap diluar jendela melalui Kaca Spion.


"Heemm.. Sudah!" Jawab Lemon singkat, sembari dia mengerutkan keningnya dan menganggukan sedikit kepalanya.


"Bagaimana dengan perkembangan Perusahaan? Apakah ada terjadi sesuatu?" Tanya Lemon dengan santai sambil melihat lurus kearah Hasrat Naibaho.


"Kabar Perusahaan Baik Tuan! Bahkan kita sekarang sudah menguasai 2 Propinsi Distrik Sisarahili Ewo, dan kita mendapatkan keuntungan dan perkembangan yang cukup signifikan" Jawab Hasrat dengan tatapannya lurus kedepan.


"Oh ya Tuan! Beberapa hari yang lalu, kepala keamanan Komplek Villa Ginting memberitahukan kalau ada beberapa orang yang sedang menyelidiki Kediaman Tuan Lemon, tapi sayangnya kepala keamanan tidak bisa menginterogasi pihak tersebut, karena mereka berlari bagaikan hantu, dan saya juga tidak bisa memberitahukan kepada Tuan Lemon karena Nomornya Tuan Lemon tidak bisa dihubungi" Ucap Hasrat Naibaho panjang lebar.


"Eemm" jawab Lemon hanya deheman dengan matanya yang sudah tertutup rapat.


"Itu orang-orang dari Lembah Kuil Mondrowe, mereka ingin terus mencariku karena menuntut balas" Sambut Lemon lagi.


Hasrat dan Maret saling bertatapan, ketika mereka mendengar Lemon memberi pernyataan, sementara mereka pikir Lemon sudah sangat terlelap tidur.


Mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala, karena mereka berdua sangat terkejut dengan kemampuan pendengaran Lemon yang bagaikan Malaikat.


Lemon sebenarnya sedang mengirimkan Jiwa Naga Emas untuk menyelidiki, sehingga Hasrat dan Maret menyangka dia sedang tidur terlelap.


Lemon langsung mengirimkan jiwa Naga Emas setelah dia mendengar penjelasan dari Hasrat Naibaho.


Lemon menghirup nafas dalam, ketika dia mencabut Jiwa Naga Emasnya, kemudian dia membuka matanya dan menatap kembali kearah luar jendela.

__ADS_1


Mobil yang mereka tumpang melaju dengan cepat, sehingga dalam waktu singkat mereka sudah memasuki Kota Gowe.


"Tuan! Kita langsung pergi kemana?" Tanya Hasrat dengan penasaran.


"Eemm... Kita langsung saja ke kediaman Chandra, aku ingin meracik obat itu malam ini" ujar Lemon santai.


"Baik Tuan! Siap laksanakan perintah" Jawab Hasrat dengan senyuman datarnya.


Hasrat langsung membelokan Mobil kearah Kediaman Chandra, dan tidak menunggu lama Mobil berhenti dihalaman yang luas.


Lemon segera turun dari Mobil, sementara Hasrat dan Maret Silalahi masih berada didalam Mobil.


"Kalian pulanglah, tapi ingat! Suruh Roy Hitler untuk datang kemari dan beberapa Master Taekwondo, untuk menjaga kediaman Ini selama aku melakukan proses peracikan" kata Lemon tegas.


"Baik Tuan! Saya akan langsung menyuruhnya dan orang-orang kita datang sekarang" Jawab Hasrat Hormat dengan tangannya masih memegangi kemudi.


Lemon hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia berbalik dan pergi.


Hasrat Naibaho dan Maret Silalahi langsung menancap Gas meninggalkan kediaman Rumah Restu Chandra.


Lemon berjalan masuk kedalam Aula besar rumah keluarga Chandra.


"Nak Lemon!" Seru Lili dengan suara yang besar, dia masih memegangi secangkir Teh untuk Restu Chandra.


Lemon tersenyum kecil ketika dia melihat Restu Chandra dan Lili, kemudian dia berkata "Salam Hormat Tuan Patriak" Lemon membungkuk kemudian dia berjalan menghampiri kedua orang tua itu.


Lemon langsung menyalami mereka berdua, dengan tatapan penuh semangat Lili terus memeluk Lemon dengan penuh harap.


Lemon tersenyum sumringah kepada Lili sambil dia berkata "Nyonya jangan khawatir, saya sudah mendapatkan bahan Obat untuk Dewi".


"Iya.. saya sudah menebak bahwa Nak Lemon pasti bisa mendapatkan bahan obat itu" Kata Lili dengan mata yang sangat terlihat bahagia.


"Ya Sudahlah.. Silahkan Nak Lemon duduk dulu, karena Sepertinya kamu kelelahan dalam perjalanan" Ucap Restu Chandra yang sedang berdiri disamping Lemon dan Lili.


"Iya Tuan" sahut Lemon dengan menganggukkan kepalanya, kemudian dia langsung duduk disofa.


Lemon menyeduh Teh yang dibawakan oleh pelayan, dia kemudian menghela nafasnya sambil menatap langit-langit ruangan itu.

__ADS_1


Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah Pintu, Kenji berjalan dengan tergesa-gesa kearah Restu Chandra.


Restu Chandra yang melihat kedatangan Kenji, dia langsung menyerbu pertanyaan dengan pertanyaan penasaran.


"Kenapa kamu tergesa-gesa? seperti yang dikejar-kejar hantu" kata Restu Chandra kepada Kenji.


"Em..emm" sebelum Kenji berkata-kata, dia tiba-tiba melihat Siluet Lemon.


Kenji terlihat sangat terkejut ketika dia memutar pandangannya kepada Lemon, dia hanya bisa mengangguk dan memberi salam kepada Lemon.


"Salam Tuan Lemon! Eemm.. Ternyata Tuan Lemon sudah ada disini" kata Kenji Lirih.


Lemon hanya melemparkan senyum tipisnya kepada Kenji, kemudian dia berkata "Salam Juga Tuan Kenji! Kenapa Tuan Kenji kelihatannya gugup seperti itu?".


"Em..emm.. Sa..saya tidak kenapa-napa Tuan! Cuman saya lagi ada Informasi yang sangat penting untuk diberitahukan kepada Patriak Chandra" Jawab Kenji dengan nada terbata-bata.


"Katakan apa yang ingin mau kamu katakan, karena saya masih ada kesibukan yang lain" kata Restu Chandra terlihat penasaran.


"Tuan! Dokter Wandi menelepon saya, dia mengatakan kalau beliau sudah mendatangkan Dokter dari luar Negeri, untuk mengobati penyakit Non Dewi" jawab Kenji dengan jujur.


"Heemm.. Dokter Wandi, bukankah dia sudah mengalah dengan kondisi yang dialami Nak Dewi, kenapa dia terus memaksakan diri" gumam Chandra dengan lirih.


Kemudian Restu Chandra melanjutkan "Lalu dimana Dr Wandi sekarang?".


"Dia sudah sampai dibandara bersama dengan Dokter yang dari luar Negeri itu Tuan, mungkin beberapa saat lagi dia akan tiba disini" Ujar Kenji dengan wajah serius.


"Heemm" Restu Chandra hanya bisa berdehem sambil dia memutar pandangannya melihat Lemon.


"Bagaimana Menurut Tuan Lemon?? Saya tidak bisa berbuat apa-apa soal ini, karena mengingat reputasi Dokter Wandi sangat tinggi dikota Gowe" tanya Restu Chandra kepada Lemon.


Lemon hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya, lalu dia berkata: "Biarkanlah mereka mencobanya, saya tidak masalah".


Tidak menunggu lama, suara deru mobil terdengar berhenti didepan Loby Rumah Keluarga Restu Chandra.


Turun seorang pria Tua yang sudah hampir 60 Tahun, dengan Pakaian Kasualnya serba Putih seputih salju, dengan Jenggotnya yang terlihat panjang dan putih, sorot matanya terlihat tegas menandakan dia juga termasuk seorang Ahli Seni Bela diri.


Disamping orang Tua itu, berdiri Dokter Wandi dan beberapa Asisten, yang membawa barang-barang bawaan.

__ADS_1


Pria Tua itu melihat keseluruhan bangunan yang berdiri kokoh dihadapannya, kemudian dia menyeringai dengan mengulas senyuman sinisnya.


"Wandi!! Heso sokhe omo da'a? Hana le ifaondrage ita (dimana yang punya rumah? Kenapa dia tidak menyambut kedatangan kita)" Kata Pria Tua itu dengan tegas.


__ADS_2