PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 94. Pendeta Rusli dari Kuil Maifu


__ADS_3

Setelah Marko mengepalkan tinjunya kearah Dewi, Marko menarik lengan Vina dan langsung pergi dari tempat itu.


Vina tidak berkata apa-apa, karena dia tidak alasan untuk membantu Marko, sehingga dia hanya menjadi penonton dan pendengar setia saja.


Setelah Marko menghilang dari tempat itu, Dewi berbalik dan melihat Dennis, kemudian dia berkata; "Apa Kamu tidak apa-apa?" Tanya Dewi sambil tersenyum.


"Oh.. Aku.. Aku tidak apa-apa" Jawab Dennis singjat, kemudian dia melanjutkan "Oh Ya.. apakah Kamu tau dimana Lemon sekarang?" Tanyanya penuh rasa penasaran.


"Heemm.. Aku juga gak tau, dimana dia sekarang!! Tapi yang jelas dia sekarang lagi berada diluar kota" jawab Dewi sambil menghela nafas panjang, dan menggelengkan kepalanya kepada Dennis.


"Ya Sudahlah kalau begitu, kami pamit mau pulang keasrama" Denis berkata kepada Dewi.


"Okey.. Kalian hati-hati dijalan" Jawab Dewi sambil tersenyum sumringah.


Dikantin Kampus, Marko mengepalkan tinjunya sambil berkata: "Apakah Mungkin Lemon yang melakukan ini semua kepada keluargaku?" Mako berkata sedikit, karena dia berkata hanya untuk dirinya dan Vina.


"Ya Sudah! Kita coba cari tahu, apakah benar Lemon yang dikampus ini! Atau ada Lemon yang lain" Vina berkata menghibur Marko, sambil dia mengelus-elus lengannya Marko.


"Saya harus pastikan hal ini, dan saya harus meminta pertanggungjawaban " Marko berkata dingin, sambil mencekeram mejanya.


Di Lembah Mondrowe, Fanolox melemparkan Cangkir kopinya, kemudian dia menatap Berys dan beberapa bawahan mereka yang lain.


"Hanya membunuh lalat busuk, kalian tidak mampu! Kurang ajar!!" Fanolox langsung menendang Berys yang sudah berlutut ditanah, dengan sudah tidak berdaya.


Berys langsung terhempas ketiang aula, dia menanbrak tiang itu dengan suara gedebuk, kemudian dia memuntahkan seteguk darah.


"Kalian telah mencoreng nama perguruan Lembah Mondrowe, bagaimana kita akan menatap orang-orang ketika berita ini sudah tersebar, aahh... Sangat memalukan" ketus Fanolox dengan menggertakan giginya.

__ADS_1


"Plok Plok, Plok" suara tepuk tangan terdengar, ketika Fanolox sedang menggertakan giginya.


"Saudara Fanolox terlalu berlebihan! Jangan menangkap burung diluar sarangnya, tapi tangkaplah dia didalam sangkarnya, pastilah dia akan bertekuk lutut dihadapanmu" seorang pria tua yang mengenakan Jubah Taois, dengan janggutnya yang putih dan kalung biksu tergantung dilehernya.


Fanolox langsung membalikan tubuhnya, ketika dia mendengarkan ada pihak lain yang bersuara, kumudian dia membungkuk hormat "Salam Tuan Pendeta Rusli, angin apa yang membuat Tuan pendeta datang ke Lembah kami yang kecil ini" Tanya Fanolox dengan hati-hati.


Pendeta Rusli berasal dari Kuil Maufa, dia sengaja datang kelembah Mondrowe, karena dia telah mendengar kabar tentang anggota Lembah Mondrowe yang kalah ditangan seorang anak muda.


"Hehehee.. Saudara Fanolox terlalu sungkan, saya hanya datang hanya sekedar jalan-jalan saja"


Pendeta Rusli menjawab dengan santai, kemudian dia duduk dikursi kayu yang sudah tersedia.


Fanolox menyuruh pelayan, untuk menyiapkan Kopi Sidikalang untuk Pendeta Rusli, kemudian Fanolox menyuruh Berys untuk pergi mengobati luka-lukanya.


"Sebenarnya ada tujuan apa Pendeta Rusli datang menemui kami?" Fanolox berkata santai dan penuh hormat.


"Itu hanya masalah kecil pendeta, tidak musti harus pendeta rusli turun tangan dengan anak ingusan seperti itu" Fanolox berkata tersenyum, sambil meraih cangkir kopinya.


"Kalau boleh tahu? Nama anak itu siapa? Kemudian dia berasal dari perguruan mana?" Pendeta Rusli berkata penasaran.


"Namanya Lemon, dia seorang Mahasiswa dikota Gowe, dia berasal dari Desa Tora, dia Kuliah dikota Gowe, karena mendapatkan Beasiswa anak tidak mampu" Fanolox menjelaskan panjang lebar.


'Heemm.. Apakah selemah itu anggota Lembah Mondrowe, sampai-sampai mereka tidak bisa mengatasi anak itu?" Pendeta Rusli berkata datar.


"Oh tidak tuan Rusli, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menaklukan anak itu, dan membawanya di Lembah ini, karena salah satu petarung terbaik Lembah Mondrowe telah mati ditangannya" Fanolox berkata jujur, dengan wajahnya merah padam.


Mendengar seseorang telah mati ditangan Lemon, seketika bibir Pendeta Rusli sedikit gemetar, kemudian dia langsung meraih cangkir kopinya, supaya getaran sudut bibirnya tidak kelihatan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu boleh menghubungiku!" Ucap pendeta Rusli yakin.


"Baik Pendeta, saya pasti akan mengingatnya" Fanolox berkata sambil membungkuk sedikit.


Selesai berkata, Pendeta Rusli langsung bergegas pergi dari Perguruan Lembah Mondrowe, didalam perjalannya Pendeta Rusli mengerutkan sedikit keningnya, kemudian dia berkat dalam hati: "Anak itu pasti memiliki kekuatan yang tersembunyi, tidak mungkin dia bisa mengalahkan petarung terbaik, dari lembah mondrowe kalau kekuatannya biasa-biasa saja".


Rusli semakin yakin kekuatan Lemon, karena dia telah menyelidiki dari berbagai tempat, dan banyak yang mengatakan bahwa kekuatan Lemon setara dengan Kungfu Master di Kuil Silewe.


Pendeta Rusli hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian dia bergumam "Andai Saja dia bergabung dengan Kuil Maufa, pastilah Kuil Maufa menjadi nama Kuil yang tertinggi dikota ini".


Kemudian dia melanjutkan : "Saya harus menemui anak itu, karena dimasa depan, dia pasti akan menjadi yang tidak bisa tertandingi" Pendeta Rusli langsung kembali Ke Kuilnya, berhubung waktu sudah menunjukan sore hari.


Dirumah Dinas Walikota, Daran Zebua sebagai kepala Pelayan Walikota, datang dengan langkah yang terburu-buru, kemudian dia membungkuk hormat setelah sampai dihadapan Walikota.


"Salam Hormat Tuan! Saya mendapatkan kabar kalau nona Dian sudah kecelakaan, dia sekarang berada dirumah Sakit Thomson" Daran melaporkan keadaan Dian, Dian sudah ditabrak oleh seseorang yang tidak diketahui, ketika dia menyeberang jalan bersama Farel.


"Ya Tuhan! Ayo cepat kita kesana! Segera sediakan mobil" Teriak Ibu Triska, ibu triska adalah Istrinya Walikota dia sekarang berumur 55 tahun.


Walikota bersama istrinya dan ditemani oleh Daran Zebua, mereka langsung bergegas pergi ke RM Thomson, sehingga hanya dalam waktu setengah jam mereka sudah sampai.


Ibut Triska langsung bergegas naik lift bersama suaminya, setelah mereka sampai didepan Ruang IGD, mereka menemukan Farel yang sedang cemas, dia duduk dengan wajah pucatndan panik, dia mengusap-ngusap wajahnya dengan dipenuhi penyesalan.


"Nak! Apakah kamu temannya Dian?" Tanya Ibu Riska Santun.


"i..iya.. Iya bu, saya adalah temannya, kami tadi bersama di jalan, ketika tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dengan memakai sepeda motor" Farel menjelaskan panjang Lebar.


"Ya Sudah! Kita tunggu saja apa kata Dokter, mudah-mudahan dia baik-baik saja" Ibu Triska berkata panik, dengan *******-***** kedua telapak tangannya, beserta jari-jarinya yang masih terlihat mulus itu.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Dokter keluar dari ruangan IGD, dan dengan cepat ibu triska dan semua rombongan walikota, langsung menerjang menghampiri dokter itu.


__ADS_2