
Keesokan Harinya...
Lemon langsung menghubungi Kenji dan beberapa sahabatnya, dia memberitahukan keberadaan Dewi supaya mereka langsung datang keVila untuk menjenguknya dan sekaligus meminta Keluarga Chandra untuk menjemputnya.
Lemon yang semakin frustasi dengan kondisi Dewi, dia tidak tega melihat Dewi yang sekarat jika terus-terusan berada didalam Vilanya.
Sekitar Jam 8 Pagi, Keluarga Chandra dan beberapa sahabat mereka yang lain sudah tiba di Vila Lemon.
Lili langsung menyerbu anaknya ketika dia sampai diVila Lemon, namun yang tak disangka adalah Dewi tidak bereaksi sama sekali, sehingga Lili merasa sedih ketika melihat kondisi Dewi yang sudah tidak sadarkan diri atau koma.
Lilo menatap Lemon sambil berkata "Nak Lemon! Apa yang telah terjadi padanya? Kenapa dia tidak sadarkan diri?" Sambil mata yang berkaca-kaca Lili bertanya kepada Lemon.
"Tolong Ibu tenangkan pikiran! Saya berharap kita semua menghadapi hal ini" Dengan Pelan Lemon menceritakan seluruh kejadiannya, hingga Dewi sampai tidak sadarkan diri.
"Oh Jadi begitu ya Bang Bro! Apakah tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya?" Tanya Bryan Calvin yang berdiri sejajar dengan Kenji.
"Iya Nak Lemon! Tolong carikan cara lain untuk kesembuhan Dewi" Restu Chandra angkat bicara.
"Heemm" Lemon menghela nafas kasar, kemudian dia berkata "Saya akan pergi kesuatu tempat dalam 2 hari lagi, jadi saya berharap dia dijaga dengan tenang tanpa ada gangguan sedikitpun, saya berjanji akan berusaha mengambil Ginseng Seribu tahun dipedalaman hutan Pulau Tello, walaupun nyawaku menjadi taruhannya" Tegas Lemon dengan tatapannya yang tajam, sambil mengepalkan tinjunya.
Setelah beberapa saat Dewi akhirnya dibawa kembali dikediaman Keluarga Chandra, dengan kondisi masih tidak sadarkan diri.
"Tolong antarkan saya besok ke Pelabuhan, dan cari tahu tentang keadaan di Pulau Tello" Lemon berkata kepada Hasrat Naibaho.
"Baik Tuan, saya akan melakukannya dengan teliti" Jawab Hasrat Naibaho. "Heemm" Lemon hanya menjawab dengan deheman dan dia mengibaskan tangannya menyuruh Hasrat Pergi.
Lemon hanya bisa menghela nafas panjang, ketika dia melihat Dewi dibawa dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Didalam penjara David Laiya menonton berita, tentang Keluarga Laiya yang sudah menghilang dalam jangka waktu sehari saja.
__ADS_1
"Siapa lagi yang sudah melakukan ini?" Kata David Laiya didalam hati, sambil dia menundukkan kepalanya karena dia merasa panik.
Sementara didalam rumahnya, Vina dikejutkan dengan siaran berita, yang memberitakan tentang keadaan Keluarga Laiya yang sudah berantakan, dia menelisik setiap foto sudut ruangan, namun dia tidak menapatkan keberaaan Marko.
Dengn gigi gemetaran Vina mengambil HPnya dia langsung menelpon Marko, namun beberapa kali dia hubungi tetal tidak ada jawaban.
"Mungkin aku sebaiknya pergi kesana, aku harus memastikan Marko baik-baik saja" kata Vina dalam hati, dia terlihat sangat khawatir dengan Marko.
Tidak menunggu lama Vina langsung meraih tas kecilnya, kemudian dia OTW dikediaman Keluarga Laiya.
Sesampainya dikediaman Keluarga Laiya, Vina berjalan dengan tergesa-gesa menuju kedalam, namun dia ditahan oleh beberapa Polisi yang sudah menyegel dengan Garis Polisi.
"Maaf Mbak.. Tidak diijinkan siapapun Masuk kedalam, kecuali ijin dari Kepala Inspektur" Seorang Polisi Penjaga bertahan kepada Vina.
Ardin Kenzo keluar dari dalam rumah setelah melakukan penyelidikan, dia bersama dengan Eben Haezer.
"Apakah kamu tidak mengenal siapa pelaku itu?" Tanya Ardin kepada salah satu pelayan Keluarga Laiya, yang selamat karena berada diluar pagar.
"Apakah kamu tau dimana keberadaan Marko?" Tanya Eben Haezer dengan ekspresi serius, karena bagaimanapun dia adalah kaki tangan dari David Laiya, sehingga dia wajib menjaga keselamatam Marko.
"Ma,, Ma,, maaf Tuan! Tu.. Tuan Marko telah terbawa dalam pusaran tornado itu bersama dengan seluruh orang-orang yang berada dikeluarga ini" Pelayan itu berkata sambil memejamkan matanya, dia ngeri mengingat kejadian yang dia saksikan didepan matanya sendiri.
Mendengar penjelasan dari pelayan itu, Vina dan Eben Haezer langsung pucat, mereka tidak menyangka Marko akan mengalami Nasib seperti itu.
Vina hanya bisa menatap kearah rumah itu dengan sendu, matanya meneteskan Air bening yang keluar perlahan-lahan.
Eben Haezer juga merasa lemas ketika dia mendengar hal itu, dia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Apakah kamu yakin! Semua orang hilang didalam pusaran Tornado itu" Ardin Kenzo bertanya dengan wajah serius.
__ADS_1
"Iya Pak Inspektur.. Benar!" Jawab Pelayan dengan wajah serius.
Ardin Kenzo hanya bisa mengerutkan keningnya, ketika dia memahami seluruh keterangan dari Pelayan itu, karena keterangan Pelayan itu ibarat sebuah mimpi.
"Apakah Mungkin ditempat ini,? terjadi fenomena alam! Adanya Pusaran Tornado" Kata Ardin dalam hati, dengan dipenuhi ribuan pertanyaan.
Tiba-tiba HPnya Ardin berdering, kemudian dia langsung menjawab "Hallo ini siapa?". "Apakah saya berbicara dengan Inspektur kepolisian Kota Gowe?" Seseorang berkata dari dalam sambungan telepon.
"Iya saya Ardin Kenzo, kepala Inspektur Kepolisian dikota Gowe, kalau boleh tahu saya berbicara dengan siapa?" Sambut Ardin dengan Santun, karena dia takut pihak lain adalah seseorang yang memiliki jabatan penting.
"Emm.. Saya adalah Menteri BUMN dari Pusat Kota, saya mendengar kejadian yang menimpa keluarga Laiya, saya harap kamu bisa profesional dalam melakukan penyelidikan dengan baik dan tepat waktu" Menteri BUMN berkata kepada Ardin dengan memberi perintah.
"Ba.. Baik Tuan Menteri! Saya berjanji akan melakukan penyelidikan secara profesional dan dalam jangka waktu yang cepat" Ardin Kenzo berkata terbata menjawab perkataan dari menteri BUMN.
"Baik!! Saya lihat kinerjamu dalam jangka 2 hari kedepan, kalau tidak! Kamu lebih baik dipindahkan ke Pulau Hinako" Titah Menteri BUMN tegas.
Selesai berkata sambungan teleponpun langsung terputus, Ardin Kenzo hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar.
Ardin menatap Eben lalu berkata "Ayoo!! Kita kerahkan seluruh Intel untuk melakukan penyelidikan, dan suruh seluruh anak buahmu untuk menyelidiki kasus ini dalam waktu satu hari saja, karena kalau tidak! Kamu akan saya pindahkan kepedalam Pulau Tello".
Sontak saja Eben Haezer sangat tercengang, ketika dia mendengar ucapan Ardin barusan, yang membuat dia semakin tertekan dan frustasi "Siap Komandan!! Saya akan bekerja semaksimal mungkin" Jawab Eben.
Ardin Kenzo langsung meninggalkan tempat itu, setelah dia memberikan perintah kepada Eben Haezer.
Sementara Vina bertanya kepada Pelayan keluarga Laiya, yang menjadi saksi itu "Pak! Apakah bapak yakin Marko hilang dalam pusaran Tornado itu".
Pelayan itu menatap Vina dengan seksama, karena dia samar-samar dengan perawakan Vina, karena dia sempat melihat Vina bersama dengan Marko beberapa waktu yang lalu.
"Nona temannya Tuan Muda Marko kan?" Tanya Pelayan itu, pelayan itu bernama Pak Dedi. "Iya Pak.. Betul saya temannya kak Marko" langsung disambut oleh Vina.
__ADS_1
"Maaf Non.. Saya Dedi, salah satu pelayan di keluarga Laiya, Eemm.. Memang betul Non! Tuan Muda Marko hilang ketika tersapu oleh Pusaran Tornado Kabut Putih" Jelas Pak Dedi kepada Vina.
Vina mengernyit ketika dia mendengarkan ucapan pak Dedi.