PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 108. Melepas Rindu Lemon & Dewi


__ADS_3

Beberapa saat akhirnya Lemon berkata: "Aku bukannya tidak perhatian sama kamu, kamu juga tidak punya salah apa-apa, cuman" Lemon berhenti berkata, ketika dia mengingat kejadian didalam Gua.


"Bukan kah, aku sudah bilang sama kamu, sewaktu aku pergi, kalau aku akan pergi ke Gunung Mosoe!" Ujar Lanjut menjelaskan.


Dewi melepas pelukannya, kemudian dia menatap Lemon sambil berkata: "Iya.. Aku ingat! Kamu bilang kamu hanya pergi selama 2 hari? Tapi nyatanya apa? Kamu sudah menghilang selama hampir 3 bulan, kamu pikir aku tidak stres memikirkanmu siang dan malam?" Mata Dewi berkaca-kaca, ketika dia menatap Lemon.


Lemon hanya bisa menghela nafas panjang, sambil dia meraih Dewi kedalam Pelukannya "Maafkan aku, aku sudah membuatmu khawatir, tapi aku benar-benar tidak mengingat waktu, karena aku hanya terus berlatih dan terus berlatih didalam Gua" Lemon berkata dengan pelan ditelinga sang kekasih.


Setelah berpelukan cukup lama, Dewi akhirnya tersenyum ceria kembali, wajahnya baru terlihat merah merona, melihat Dewi yang sudah tidak lagi manja padanya, Lemon langsung berkata : "Malam ini aku akan mencoba mengobati Nyonya Lili, saya takut jika semakin lama untuk mengobatinya, maka akan membahayakan tubuhnya".


Dewi hanya menganggukan kepalanya, kemudian mereka kembali kedalam ruang tamu, Dewi dan Lemon kaget, ketika mereka nelihat Restu Chandra dan beberapa orang lainnya, masih duduk santai dan mengobrol bareng.


"Ibu! Tadi katanya duluan tidur? Tapi kok kalian masih berada disini sih" Tanya Dewi sambil menggelembungkan pipinya yang mulus itu.


"Yaah.. Gak jadilah, masa kita ninggalin Nak Lemon" Jawab Lili sambil tersenyum sambil dia melihat Lemon.


"Aaiiss.. Ibu emang!" Gerutu Dewi yang menghentakan kakinya, sambil dia berjalan duduk disamping ibunya.


"Ayah, Ibu, ada yang mau disampaikan Lemon kepada kalian" Kata Lemon santai.


Mendengar ucapan dari mulut Dewi, sontak saja Restu dan Lili kaget dan saling memandang satu sama lain, mereka mengira Lemon akan melamar Dewi, yang seketika wajah mereka yang tadinya tegang, berangsunr-angsur menjadi ceria dan tersenyum.


"Iya gak Apa-apa, kalau Nak Lemon ingin menyampaikan sesuatu, kami sudah siap mendengarkannya" Kata Lili dengan perasaan senang dicampur dengan percaya diri.


"Maaf Tuan Patriak, saya hanya mau sampaikan, kalau Malam ini, saya ingin menuntaskan pengobatan Nyonya Lili" Lemon berkata santai.


Mendengar pernyataan Lemon, sontak saja Restu Chandra dan Lili kecewa, namun mereka tidak menampakan kekecewaan itu dihadapan Lemon, mereka takut untuk menyinggung anak itu, bahkan apa yang dikatakan Lemon itu juga sangat berarti untuk Restu Chandra, karena Lemon ingin menuntaskan Pengobatan Lili istrinya.

__ADS_1


"Ohh.. Tidak masalah Tuan Lemon, silahkan saja" Restu Chandra berkata serba salah, sehingga dia memanggil Kenji untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan.


Lemon duduk dengan menyeruput Tehnya, kemudian dia memindai tempat itu, dengan kesadaran ilahinya, Lemon hanya mengerutkan keningnya, ketika dia mendapatkan Roh Jiwa itu, semakin memiliki kekuatan.


Lemon menggelengkan sedikit kepalanya, kemudian dia berjalan dihalaman rumah kediaman Chandra, yang terdapat banyak patung.


Lemon memindai satu patung, yang bermodel manusia dengan memegang pedang, Lemon kemudian mendekati dan menyentuh patung tersebut, namun tak disangka ketika Lemon menyentuh patung tersebut, seberkas cahaya yang berwarna hitam muncul dan menghantam dada Lemon.


Lemon terpental jauh kebelakang, yang membuat Lemon menabrak sebuah Guci besar, dan dalam sekejab Guci itu langsung hancur berkeping-keping.


Kenji sangat terkejut, ketika dia melihat Lemon yang jatuh dengan suara gedebuk, Kenji membantu Lemon untuk berdiri.


"Apa yang terjadi?" Tanya Dewi bersama keluarga yang lain, mereka berlari menghampiri Lemon ketika mereka mendengar suara Guci yang pecah.


Lemon langsung melihat kearah Dewi dan keluarganya, kemudian dia menatap Restu Chandra sambil berkata: "Maaf Tuan Patriak, sepertinya Patung itu telah dirasuki ratusan Roh Jiwa, patung itu harus segera kita Musnahkan".


Lemon mengangkat tangannya keatas langit, kemudian Pedang Emas muncul digenggamannya, Lemon langsung mengarahkan pedang emas.


Pedang Emas menyala-nyala diatas langit, dan berdengung bagaikan bernyanyi, terlihat petir menyala diujung pedang Emas.


Lemon mengarahkan pedang emas kearah Patung itu, dalam sekejab patung itu hancur menjadi abu, suara ledakan bergema diseluruh tempat itu.


Tiba-tiba gumpalan kabut hitam keluar dari dalam patung itu, kemudian berdiri tinggi diatas langit, Lemon dan orang-orang menengadah keatas untuk melihat Kabut hitam tersebut.


Lemon mengarahkan kembali pedang emasnya kearah kabut hitam itu, dengan diikuti salakan petir yang bagaikan Arus Listrik, kemudian "Boom" suara ledakan terdengar, menghantam dibawah kaki Kabut Hitam.


Namun ledakan itu sama sekali tidak berdampak pada kabut hitam, yang membuat Lemon mengarahkan lagi pedang emasnya, namun seberapa kuat Lemon mengeluarkan kekuatannya, kabut hitam itu tetap saja tidak goyah.

__ADS_1


Lemon mengerutkan keningnya, ketika air terus mengalir dari dahinya, yang dalam sekejab dia menggerakan jari-jarinya, dan terlihat kabut putih mengelilingi tangannya.


Kabut putih itu perlahan berubah menjadi bola kecil, yang jika diperhatikan dari kejauhan bagaikan kelereng kecil, dan dalam sekejab Lemon langsung melemparkan kabut putih itu kearah Kabut Hitam.


Ketika Kabut putih menabrak kabut hitam tersebut, raungan suara yang sangat mengerikan menggelegar ditempat itu, semua orang menutup telinganya masing-masing, terkecuali Lemon dia tidak kena dampak dengan suara tersebut.


Kabut Hitam itu tiba-tiba berubah wujud,


Menjadi manusia namun wajahnya sangat mengerikan, bagaikan monster yang sudah hancur karena terbakar.


"Haaii Bocah! Beraninya kau mengganggu ketenangan kami? Kau harus mati ditanganku" Monster itu berkata dengan suara seraknya, bagaikan suara roker yang sering manggung di lapangan adam malik.


"Heem.. Lebih baik kalian pergi, sebelum jiwa-jiwa kalian itu saya musnahkan untuk selamanya" Lemon berkata mencibir.


"Dasar anak ingusan! Berani menggertak Jenderal kaisar" Monster itu berkata dengan tataoan membunuh, kemudian dia menghentakkan kakinya ketanah, yang membuat tempat kediaman Restu Chandra bergetar hebat.


Monster itu langsung mengeluarkan Pedangnya, yang sama persis dengan pedang emas Lemon, namun pedangnya seluruhya berwarna hitam gelap.


Lemon dan Monster Hitam saling menyerang, dengan pedang diletakan ditangan mereka berdua berlari bagaikan angin, sehingga dalam hitungan detik suara dentuman terdengar.


"Bruuks Bruukks" Suara pedang Emas dan pedang hitam yang saling bertabrakan diatas langit, dengan kemampuan yang terlihat seimbang.


Lemon menyerang dengan pedangnya, namun dia memutar tubuhnya, tiba-tiba dia menggunakan kakinya, dia menendang monster itu.


Kaki Lemon terasa hampa, ketika kakinya mendarat dibagian perut Monster itu, yang membuat Lemon terjungkal dan jatuh ketanah, yang membuat monster itu tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaa.. Dasar Bocah Ingusan! Beraninya bermain-main denganku!" Kata Monster itu mencibir.

__ADS_1


__ADS_2