
"Guru.. Guru" Teriak orang-orang itu ketika mereka mendekati Ga Revons.
"Guru.. Apakah guru tidak apa-apa" seru seorang anak murid Ga Revons yang memiliki bentuk kepala Botak.
"Bodoh!! Bodoh kalian semua" Teriak Ga Revons ketika mendengar perkataan ana buahnya.
Kemudian dia melanjutkan "Kalian tidak berguna, kalian tidak bisa diandalkan!! Kenapa kalian baru datang sekarang!? Hah".
"Ma.. Maaf.. Maaf Guru! Kami tersesat didalam hutan ini, sehingga baru sekarang kami sampai" Ucap seorang ana Buah Ga Revons dengan suara gemetar.
"Heemmm.. Ayo kita kembali ke Kuil, kita sudah kehilangan barang langka itu" Ujar Ga Revons kesal kepada Anak Buahnya, ga Revons sengaja memarahi anak buahnya untuk menutupi rasa malunya.
Diperjalanan Lemon teringat dengan perjalanan mereka yang memakan waktu berhari-hari, sehingga dia menghentikan langkahnya, kemudian dia berkata kepada Maret.
"Sepertinya lebih baik kita menggunakan tenaga Naga Emas untuk menghemat waktu, karena kalau kita berjalan kaki, kita membutuhkan waktu beberapa hari untuk sampai di dermaga Pulau Tello" Ujar Lemon sambil menatap Maret Silalahi.
Maret Silalahi hanya menganggukan kepalanya, sambil dia melihat Lemon yang mengeluarkan Kabut Putih dari dalam jari-jarinya.
Dalam sekejab, Naga Emas sudah berdiri dihadapan mereka berdua.
__ADS_1
"Tuanku!! Apa yang ingin Tuan saya lakukan?" Tanya Naga Emas dengan Nada Suara yang gemuruh.
"Antarkan kami sampai kepinggiran Dermaga Pulau ini, supaya kami menghemat waktu dan tenaga" Kata Lemon dengan tegas.
"Baik Tuan! Dengan senang hati hamba akan melakukannya" Jawab Naga Emas sambil membungkukkan tubuhnya ketanah.
Lemon dan Maret Silalahi langsung melompat keatas punggung Naga Emas, Naga Emas langsung melesat terbang keatas langit bagaikan pesawat tempur Angkatan Udara.
Tidak membutuhkan waktu lama, Lemon dan Maret Silalahi mendarat dengan perlahan dipinggir Dermaga Pulau Tello.
Sehingga Lemon dan Maret Silalahi langsung berjalan dengan santai, setelah Naga Emas kembali kedalam jari-jarinya Lemon.
Lemon meminta Maret untuk memilih makan disebuah warung disamping dermaga itu, sebelum mereka naik keatas kapal.
Waktu terus berlalu, sudah waktunya Lemon dan Maret Silalahi menaiki kapal perintis yang menuju Dermaga Pelabuhan Kota Gowe.
Disamping Danau Nias dekat Villa Ginting, Berys bersama beberapa orang-orangnya masih menyelidiki keberadaan Lemon.
Berys sedang berdiri tegap menghadap kearah Danau Nias, tiba-tiba seorang anak buahnya berjalan dari belakang.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan Informasi tentang Anak itu?" Tanya Berys tegas tanpa menoleh kebelakang, dia masih tetap menatap lurus kedepan.
"Maaf Kakak Tuan! Masih belum ada Informasi tentang anak itu, saya sudah mendatangi kampusnya, namun dia sudah tidak kekampus sejak beberapa hari yang lalu" jawab anak buah Berys dengan hormat.
"Heemm... Sebaiknya kita tunggu saja selama beberapa hari kedepan, karena menurut firasat saya, saya rasa dia akan datang tidak lama lagi, namun sebelum dia kembali, sebaiknya kalian berlatih dengan baik, supaya kita bisa membawanya hidup-hidup ke Kuil Lembah Mondrowe" Ujar Berys tegas dengan masih menatap kearah Danau Nias.
Didalam Kediaman Chandra, Lili sedang mengusap-usap wajah cantik Dewi, yang sedang terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang.
"Ayah! Apakah sudah ada kabar dari Nak Lemon?" Tanya Lili kepada Restu Chandra.
"Heemm" Restu Chandra hanya bisa menghela nafas panjangnya, kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Masih belum ada bu, seharusnya dia sudah dekat hari untuk pulang, karena sesuai dengan janjinya, dia akan berusaha kembali dalam beberapa hari" Ujar Restu Chandra dengan wajah lesunya, kemudian dia melangkah duduk disamping putri simata wayangnya.
"Semoga saja Nak Lemon mendapatkan obat itu, saya tidak tahu harus bagaimana lagi jika nak Lemon tidak mendapatkan obat herbal itu" Kata Lili sangat lirih, dia sangat berharap ada Mukjizat dari sang Maha pencipta untuk kesembuhan putrinya itu.
"Ya sudahlah bu.. Kita lebih baik berdoa, semoga nak Lemon bisa mendapatkannya" Jawab Restu Chandra dengan santai.
Lili hanya bisa menganggukan kepalanya, kemudian mereka memilih untuk tidur, karena malam sudah semakin larut.
__ADS_1