PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 45. Gunung SILEWE


__ADS_3

Setelah melihat kekuatannya sudah melewati tahap Proses Inedia, sekarang dia pada tahap Dasar pembentukan Tubuh nyata.


Lemon merasa sangat senang dan bahagia, mengingat kekuatannya semakin hari semakin bertambah, namun itu masih jauh dari targetnya, karena dia pada BULAN DUA BELAS pada saat Bulan PURNAMA dia akan pergi ke Gunung SILEWE untuk mencari MATA AIR NAGA.


Tiba-tiba Lemon melirik Pohon besar yang berada tepat disampingnya, kemudian dia mendekati Pohon tersebut, dia berkata dalam hati "Saya mau mencoba peningkatan kekuatan saya yang baru".


Selesai berkata Lemon melepaskan satu pukulannya, dia meninju bagian batang Pohon besar itu.


"Kreek, Kreek" Suara Retakan terdengar, Pohon besar itu langsung tumbang seketika.


Wajah Lemon berseri-seri, setelah melihat kekuatannya sudah mengalami peningkatan yang sangat pesat.


Kemudian dia berjalan kearah Rumahnya, mengingat dia hari ini pergi ke Puncak Gomo, untuk mengikuti pelelangan GINSENG 100 TAHUN besok.


Sesampainya didalam Rumah, Lemon melihat meja dan kursi yang sudah hancur dan terbakar, karena akibat kekuatan semburan api dari Naga Emas semalam.


Lemon mengambil ponselnya, kemudian dia melihat No Hp Rina, setelah mendapatkan nomornya Rina, Lemon langsung melakukan panggilan telepon.


Setelah tersambung, suara merdu terdengar dari ujung telepon "Hallo Tuan Lemon.. Apa yang bisa saya bantu..??" Rina berkata sangat hormat dari ujung telepon.


"Tolong suruh bagian Teknis Perabotan, untuk datang nanti dirumah saya, kemudian mengganti barang-barang yang sudah rusak" Lemon berkata dengan tegas.


"Baik Tuan.. Nanti saya suruh mereka untuk datang" Selesai berkata Rina langsung mematikan sambungan Teleponnya.


Merasa semuanya sudah beres, Lemon dengan tergesa-gesa langsung pergi ke kamar Mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai mandi, tiba-tiba Hp Lemon berdering, Lemon mengangkat Telepon tersebut, Hasrat Naibaho.


"Halo Tuan.. Saya menjemput Tuan dimana??" Hasrat Naibaho bertanya diujung telepon.


"Jemput Saya di Komplek Perumahan Villa Ginting, Rumah yang terletak dibukit atas Dekat Danau" Lemon berkata santai.


"Baik Tuan" selesai berkata Hasrat Naibaho langsung OTW kearah Perumahan Villa Ginting.


Lemon beres-beres mempersiapkan barang-barangnya, karena dia tinggal selama beberapa hari di Puncak Gomo.

__ADS_1


Lemon juga tidak lupa untuk menelpon teman karibnya Dennis, Lemon memberitahukan bahwa dia akan pergi ke Puncak Gomo selama beberapa hari kedepan, dan meminta sahabat karibnya itu untuk meminta izin kepada Dosen mata kuliah.


Tidak berselang lama kemudian, Hasrat Naibaho sudah sampai didepan Rumah Lemon, Hasrat Naibaho sangat terkejut ketika melihat Rumah Lemon yang begitu Megah, Halamannya sangat luas ditambah lagi udaranya sangat segar karena berada dipuncak.


"Ayo Tuan.. Kita berangkat" Hasrat Naibaho berkata sambil membungkuk kepada Lemon.


Selesai memasukan segala sesuatu keperluan mereka kedalam Bagasi Mobil, Hasrat Naibaho langsung menancap Gas meninggalkan Komplek Perumahana Villa Ginting.


Ditempat lain disebuah rumah yang terlihat biasa saja, rumah itu tidak terlalu besar namun halamannya dipenuhi bunga dan pohon cemara, seorang Lelaki Paruh baya yang berusia 40 tahunan, memasuki halaman rumah dengan kaki tergopoh-gopoh, matanya sayu-sayu dan merah.


Pria paruh baya itu bernama Mentos, dia berjalan memasuki rumahnya dengan berjalan terhuyung-huyung, kemudian dia membukakan pintu, namun karena pintu itu sudah mulai tua dan rapuh, pintu itu langsung terlepas dari bingkai Pintu ketika didorong oleh Mentos.


Mentos menyapu dengan matanya seluruh isi rumahnya, namun dia tidak menemukan istri dan anaknya, yang membuat dia menjadi marah dan murka.


"Kemana orang-orang gil* ini pergi..?? Apakah mereka tidak tahu kalau saya sudah pulang" Mentos berkata sambil mencari istri dan anaknya diseluruh sudut rumah.


Mentos duduk dikursi Kayu yang berada disudut ruangan, kemudian dia tertidur tanpa berusaha mencari lagi istri dan anaknya.


Dari pintu depan rumah pak Mentos, seorang Gadis Cantik bersama Perempuan yang berusia 40 tahunan, berjalan masuk kedalam rumah.


Gadis itu adalah Vina dan perempuan tua yang bersamanya adalah Ibunya, yang bernama Rossi.


"Heemm Dasar lelaki tidak tahu diri, bisanya dia hanya Mabuk dan Main Judi saja" Ibu Rossi berkata sangat marah.


"Sudahlah bu,... Ibu jangan terlalu banyak bersuara, ingat apa kata dokter tentang penyakit ibu" Vina berkata membujuk ibunya.


Vina takut ibunya akan sakit lagi, karena mereka barusan dari rumah sakit untuk memeriksa kondisi ibunya.


Ibu Rossi sakit Darah Tinggi, yang mengakibatkan dia tidak boleh banyak pikiran, dan marah-marah.


"Ibu sudah sangat tidak tahan lagi dengan kelakuan Ayahmu itu, sudah bertahun-tahun sikapnya tidak pernah berubah" Ibu Rossi berkata sambil matanya mengeluarkan Air Mata.


Vina memapah ibunya duduk dikursi sofa, yang sudah terlihat sudah mulai tua dan kusam, kemudian Vina langsung berjalan kedapur, untuk mengambilkan ibunya Minuman untuk meminum obatnya.


Pak Mentos perlahan-lahan membuka matanya, dia melihat Vina dan Istrinya yang sedang duduk disofa, Vina sedang membantu Ibunya untuk meminum Obat.

__ADS_1


Pak Mentos berteriak sangat keras: "Heeii... Wanita Tua!!.. Kau darimana saja??.. Dasar Wanita M'rahan, tidak melayani suaminya dengan baik".


Pak mentos berjalan kearah mereka berdua, sambil terhuyung-huyung.


Pak Mentos langsung membekap Mulut Istrinya, sambil mengarahkan tangannya menggapai Tas Ibu Rossi.


Vina yang melihat hal tersebut, dia berteriak dan melepas tangannya ayahnya yang sedang memegang mulut ibunya.


"Ayah!!.. Ayah jangan sakiti ibu, ibu itu sedang dalam kondisi sakit, kami barusan dari Rumah Sakit" Vina berkata sambil menangis.


Pak Mentos membalikan pandanganya menghadap Vina, kemudian dia berkata: "Makanya kamu lebih baik Bekerja, biar saya bisa mendapatkan Uang, sudah waktunya kamu membalaskan Budi kepada kami".


Pak Mentos melanjutkan: "Untuk Apa kamu Kuliah, kuliah itu tidak ada artinya! Bekerja lebih baik.. Dapat membantu orang tua".


"Kamu memang dasar Lelaki tidak berguna!! Kamu hanya hebat menyiksa keluargamu, kamu tidak pantas menjadi kepala keluarga" Rossi berkata dengan wajah memerah, karena dia sangat kesal dengan perbuatan suaminya itu.


Mendengar istrinya berkata seperti itu, Pak Mentos menjadi Murka, seketika dia menarik Rambut Istrinya dan menyeretnya kearah kamar mandi, ibu Rossi meronta kesakitan.


Melihat ibunya yang berteriak karena kesakitan, Vina berusaha melepaskan tangan Ayahnya dari kepala ibunya, namun sekuat apapun dia berusaha melepas tangan pak Mentos, tetap saja dia tidak mampu.


Pak Mentos semakin keras menyeret Ibu Rossi, yang membuat ibu Rossi menjadi Pingsan.


Setelah Ibu Rossi pingsan, Pak Mentos melihat Vina yang sedang menangis disamping ibunya, kemudian Pak Mentos berkata: "Dimana kamu simpan Uangmu".


Vina tidak menanggapi perkataan Ayahnya, dia hanya terus menangis dan menggelengkan kepalanya.


Pak Mentos yang masih terhuyung-huyung, pergi kekamar Vina dan mengacak-acak Kamar Vina, dalam sekejab dia menemukan Dompet yang berisi Uang Tunai, yang berjumlah Jutaan Rupiah.


Pak Mentos yang menemukan Uang tersebut, seketika wajahnya sangat senang dan bahagia, dia tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha.. Akhirnya saya mendapatkan Uang lagi, ini Cukup untuk Minum beberapa hari". Selesai berkata Pak Mentos langsung berlalu pergi.


Vina hanya terus memanggil-manggil ibunya yang sedang Pingsan, kemudian Vina mengangkat Ibunya diatas Tempat tidur.


Setelah beberapa saat, Ibu Rossi akhirnya perlahan membuka matanya dan berkata: "Nak.. Ayahmu dimana?".

__ADS_1


"Dia sudah pergi lagi, setelah dia mengambil semua uang tabunganku dikamar!" Vina berkata sambil berderai Air Mata.


Ibu Rossi dan Vina hanya bisa saling berpelukan, sambil menangis meratapi Nasib mereka yang sangat menyedihkan.


__ADS_2