
Beruang ganas berhasil mengelak sehingga anak panah api berlalu begitu saja tanpa mengena sasarannya.
Pria berkopiah hanya bisa menggertakan giginya kesal, ketika kakinya mendarat ditanah dengan posisi berdiri.
"Beruang sialan! Dia mampu menghindar dari serangan andalanku?" Batin Pria berkopiah didalam hatinya.
Tiba-tiba dari arah hutan, sebuah gelombang aura yang sangat besar datang kearah mereka, pohon-pohon menjadi terbelah bagaikan ada angin tornado, burung-burung berkicau dan berterbangan kesegala arah.
Beruang yang ganas melihat kearah hutan dengan ekspresi mengerutkan dahinya, kemudian dia berlari dengan sekuat tenaga, namun usahanya itu sia-sia.
Sebuah telapak tangan yang sangat besar langsung menangkapnya, dengan tanpa bisa berkedip beruang ganas hanya pasrah, ketika tubuhnya dicabik-cabik dan dijadikan sebagai jajanan oleh makhluk itu bertelapak tangan besar itu.
"Gorila" seru pria berkopiah dengan wajah pucat, dia mundur selangkah demi selangkah dengan kondisi tangannya yang masih berdarah-darah.
Lemon menarik tangan maret silalahi untuk menunduk dan bersembunyi, mengingat monster itu bukanlah tandingan yang bisa dikalahkan dengan mudah.
Pria berkopiah terhenti ketika dibelakang terdapat sebuah batu besar, sehingga dengan sigap dia langsung berlari bersembunyi dibalik batu besar.
Namun Gorila Raksasa itu sudah melihatnya sedari tadi, sehingga Monster Raksasa itu langsung menyerbu kearah pria berkopiah.
Melihat tidak ada jalan lain selain melawan, pria berkopiah mengeluarkan busur panah apinya, kemudian mengarahkan kearah Gorila.
Namun sehebat apapun pria berkopiah mengarahkan anak panah apinya, tetap saja gorila itu tidak bergeming sama sekali, malahan dia semakin mengeluarkan semburan hawa energi yang sangat besar.
Gorila Raksasa mengibaskan tangannya, ketika serangan anak panah diarahkan padanya bertubi-tubi.
"Bruukss" terdengar suara pukulan ketika tangan Gorila memukul tubuh kurus pria berkopiah, yang membuat pria berkopiah tersapu dan terpental kesamping dengan jarak yang cukup jauh, kemudian pria berkopiah menghantam pohon besar dengan suara gedebuk.
Pria berkopiah jatuh ketanah, kemudian dia berdiri dengan sekuat tenaga dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.
__ADS_1
Monster Raksasa itu langsung berlari kearah pria berkopiah, dengan memukul-mukul dadanya Gorila meraung dengan kesal, dia menampakan gigi-giginya yang tajam.
Pria berkopiah merasa putus asa ketika tanah bergetar hebat, dan debu-debu berterbangan kesegala arah akibat hentakan kaki Monster Raksasa itu.
Namun tiba-tiba suara pukulan terdengar "Duaar" sebuah pukulan yang kuat menghantam dada Gorila Raksasa, yang membuat Monster itu menjerit dengan menyedihkan, dia jatuh ketanah dengan suara dentuman yang sangat keras.
Gorila itu merasakan akibat yang fatal, sehingga dia hanya bisa meringis kesakitan ketika dia sudah tersungkur ketanah bagaikan udang rebus dengan mata yang memelas.
Pria berkopiah mendongak kepalanya, dia sangat tertegun menelan ludahnya, dia seakan bermimpi dan tak percaya terhadap apa yang dilihatnya.
Pria berkopiah menggelengkan kepalanya sambil mengucek-ngucek matanya, dia mengamati pihak lain yang sudah berhasil menaklukan Gorila Raksasa itu.
Dia menampar pipi kanannya, karena bagian lengannya tinggal lengan kanan, sehingga dia menatap pihak lain yang sedang berdiri tegap dihadapannya, bagaikan Dewa yang telah dikirim oleh Dewa Zeus yang datang entah darimana.
"Tuan!! Apakah saya sedang tidak bermimpi?" Tanya Pria berkopiah dengan raut wajah yang sangat menyedihkan.
Tanpa berkata-kata Pria itu melangkah berjalan kesamping pria berkopiah, dia memegang tangan kiri pria itu, kemudian dia langsung membasuh lukanya dengan Energi Qi esensial murninya, yang membuat Pria berkopiah meringis kesakitan dan tidak menunggu lama, lukanya langsung berhenti mengeluarkan darah dan lukanya tertutupi.
"Ti.. Tidak! Tidak! Ini benar.. Saya salah, saya salah! Mohon maafkan saya Tuan" Dengan terbata-bata Pria berkopiah berkata dan sambil membungkuk.
"Eemm.. Bagus! Sekarang kamu menyingkirlah, biarkan saya mengurus makhluk ini" ucap Pria itu dengan tatapan yang tertuju kepada Gorila Raksasa.
Dengan perasaan yang sangat gembira, Pria berkopiah langsung mundur kebelakang dan memilih duduk menyaksikan Pria Muda itu menghadapi Gorila degan caranya sendiri.
Pria muda itu adalah Lemon, dia memilih membantu pria berkopiah karena menurutnya, pria berkopiah bisa membantu Lemon untuk menunjukan jalan kepedalaman hutan.
Lemon menatap kearah Monster itu dengan tatapan tajamnya, kemudian dia menggerakan jari-jarinya, dalam sekejab muncul cahaya samar yang semakin lama menjadi besar.
Cahaya itu langsung ditembakan kearah Monster Gorila, yang membuat Gorila mengerang kesakitan dan tidak bisa bergerak sama sekali.
__ADS_1
Monster raksasa itu tunduk dihadapan Lemon tanpa melakukan perlawanan.
Kemudian Lemon mengangkat sebelah sudut bibirnya dia tersenyum sinis "Saya memberikanmu kesempatan pertama dan terakhir, jika kau menyakiti manusia maka saya akan membuat lebih sakit dari ini" kata Lemon tegas kepada Gorila itu.
Gorila Raksasa itu menggerakan tangannya ingin memukul pihak lawan, dia tidak berterima dengan pilihan yang dikatakan Lemon padanya, karena bagaimanapun Monster itulah adalah Raja penguasa Hutan Rahasia.
Melihat Monster itu melakukan perlawanan dan tidak mau tunduk, Lemon langsung menekan lebih dalam jari-jarinya, membuat kepala Monster itu tertekan kedalam tanah semakin dalam, yang membuat tanah disekitar kepala Monster itu menjadi retak.
Monster itu mengerang kesakitan namun masih belum mau menyerah, karena Gorila sebagai penguasa hutan memiliki pendirian yang keras dan tidak mau tunduk kepada siapapun.
"Heemm.. Baiklah! Kalau kau memilih untuk mati" kata Lemon kembali menegaskan, sambil dia menekan terus jari-jarinya, sehingga kepala Monster itu tertanam kedalam tanah dan membuat lubang yang sangat besar.
Monster itu mengerang kesakitan matanya sampai berair, barulah dia menyerah menganggukan kepala menyetujui tentang syarat yang diajukan oleh Lemon.
Lemon melepaskan tekanannya dari tubuh sang Monster, yang monster itu duduk ditanah dengan lega, kemudian dengan kepala tertunduk dia berada didepan Lemon.
Pria berkopiah hanya melotot, ketika dia melihat Lemon sudah menundukkan Monster buas itu.
Pria berkopiah hanya bisa menggeleng pelan sambil dia berkata dalam hati "ilmunya sangat luar biasa, dia patut mendapatkan penghargaan seorang Master tingkat Dewa".
"Sekarang kau sudah bebas dan kau boleh pergi, saya akan memanggilmu jika saya butuh bantuanmu" Titah Lemon tegas kepada Gorila Raksasa itu.
Gorila mengangguk dengan membungkuk badannya sampai mencium tanah, kemudian dia mundur selangkah demi selangkah kedalam hutan, sampai dia tidak kelihatan lagi.
Itulah rasa hormatnya kepada Tuannya yang baru, dia sekarang tidak bisa menghormati pihak lain selain daripada Tuannya sekarang.
Lemon memutar badannya ketika Gorila sudah tidak kelihatan lagi, dia kemudian berjalan menghampiri pria berkopiah lalu berkata: "Apakah kau merasakan sakit?" Tanyanya dengan santai.
Pria berkopiah langsung menundukkan kepalanya, kemudian dia berkata "tidak Tuan! Saya sekarang merasa baikan".
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, kalau kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, sekarang kau tunjukan saya arah menuju kepedalaman Hutan ini! Ingat?! Kau jangan sampai macam-macam! Karena kalau kau sampai macam-macam, maka kau akan menanggung sendiri akibatnya" kata Lemon dengan suara tegas.
Lemon melihat kearah Maret Silalahi, kemudian dia berteriak.