
Makhluk yang berparas cantik itu, tersungkur ketanah bagaikan udang Goreng, kemudian dia berdiri sambil memegang dadanya, dan setetes darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Siapa kau ini sebenarnya? Kau ternyata bukan orang biasa, hanya dengan kekuatan jiwamu aku tidak bisa menghadapimu" Ujar Makhluk itu dengan gemetar.
"Heemm.. Kau tidak perlu harus tau siapa namaku, tapi yang jelas kau telah salah orang, maka kau harus membayarnya dengan nyawamu" Kata Lemon dengan tatapan Tegas.
"Sial!! Aku tidak mau mati ditangannya dengan sia-sia" Batin Gadis itu dalam hatinya, sehingga dengan diam-diam dia merubah dirinya menjadi kabut putih, lalu ingin melarikan diri hadapan Lemon.
"Apa kau pikir?! Kau bisa melarikan diri dari tempat ini! Hah" Selesai Lemon berkata dia langsung mengeluarkan Kabut Putih dan Bercampur Hitam dari dalam jari-karinya, sehingga dalam hitungan detik Kabut itu langsung membungkus tubuh Gadis Cantik itu.
Dengan erangan yang sangat mengerikan, gadis itupun lebur dan menghilang ditelan oleh Kabut Putih Hitam miliknya Lemon, kemudian dia merasakan kekuatan daya hisap Kabut Putih dan Hitamnya semakin besar, sembari dia semakin banyak menghisap para Kultivator yang memiliki energi spiritual yang sangat kuat.
Selesai menghancurkan gadis itu Jiwa Lemon langsung kembali kedalam tubuh nyatanya, sehingga tanpa disadari Matahari sudah membuka matanya dan menunjukan pagi hari yang cerah, dengan kicauan burung-burung diatas langit biru.
Maret Silalahi terbangun dari tidur panjangnya, dimana dia bermimpi bertemu denhgan para Gadis-Gadis Desa yang sangat cantik dan Ayu, sehingga dia tersenyum-senyum sendiri sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.
Lemon juga perlahan-lahan membuka matanya, kemudian dia menghembuskan embun dengan pelan.
"Tuan!! Ternyata tidur dipondok ini sangatlah Nyenyak.. Hemmm" Ujar Maret Sambil berdiri dari tempat tidurnya.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Lemon singkat. "Heemm.. Habisnya, saya semalam bermimpi bertemu dengan Gadis-Gadis Desa yang sangat Cantik dan Ayu, mereka semua sangat ramah dan santun" Jelas Maret.
"Baguslah kalau kau sudah ketemu dengan pujaan hatimu, tapi lebih baik kau beres-beres, karena kita melanjutkan perjalanan" Kata Lemon dengan santai.
"Tapi Tuan!! Apakah saya bisa bertemu dengan mereka didunia nyata" Ujar Maret dengan penuh penasaran.
"Bisa!! Asal kau sudah menjadi mayat" Ucap Lemon tersenyum sambil terkekeh. "Aaahh.. Tuan ini! Bercandanya keterlaluan, ahh.. Gak asik" Jawab Maret dengan wajah cemberut.
"Heeii.. Maret!! Apakah kau pernah dengar gak, kalau mimpi itu hanyalah bunga-bunga tidur" Kata Lemon sambil menatap Maret penuh harap.
__ADS_1
"Iya Sih.. Ibuku sering bilang seperti itu padaku, ketika aku sering mimpi buruk" Jawab Maret Silalahi dengan tatapannya tertuju keluar pondok.
"Nah itu dia.. Jadi! Mimpi itu hanyalah ilusi semata, tidak ada kenyataan dalam dunia mimpi, apakah kau mengerti??!" Tanya Lemon tegas.
"Iya.. Iya Tuan saya mengerti sekarang" Jawab Maret dengan penuh kekecewaan.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan, Lemon berjalan didepan sementara Maret Silalahi berjalan mengekori, namun dia masih terbayang-bayang dengan kecantikan para gadis Desa yang telah datang kedalam Mimpinya.
Satu Jam diperjalanan, dari belakang Lelaki Berkalung Tasbih dan Pria Berkopiah sampai dipondok tempat Lemon dan Maret Silalahi beristirahat semalam.
"Kakak Senior!! Sepertinya semalam ada yang tidur disini, lihatlah bekas obor ini, masih terlihat bekas api yang baru saja mati" Lelaki Berkalung berkata kepada Saudaranya yang berkopiah.
"Iya.. Ini juga ada bekas makanan mereka disini" sambil mereka memperhatikan Rusa Kecil yang masih tersisa diatas Api unggun yang dibuat Maret Silalahi semalam.
"Berarti mereka masih belum jauh dari sini kakak" Kata Lelaki berkalung. "Iya.. Ayo kita kejar mereka, pasti tujuan mereka datang ketempat ini terkait Ginseng 1000 tahun" jawab Pria Berkopiah.
"Maaf Tuan! Saya tidak berhasil menemukan Marko, tapi kata seorang pelayan, dia melihat Marko terhisap oleh Kabut Putih yang terlihat seperti Tornado" Eben menjelaskan kepada David Laiya.
Mendengar penjelasan Eben, David Laiya duduk lemas dan bersandar dikursi dengan tatapan yang terlihat buram.
David Laiya sudah mengerti tentang Kabut Putih itu, sehingga dia tidak bisa menyangkal, kalau Marko sudah tewas.
David Laiya mengangkat tangannya, lalu dia berkata: "Sudah Cukup! Saya sudah mengerti semuanya, kamu jangan lagi mencarinya karena dia sudah tewas didalam kabut itu" sambil menumpahkan air matanya, David Laiya sangat terpukul.
"Ta,, tapi Tuan, apakah anda yakin dengan apa yang anda katakan?" Eben Haezer bertanya dengan wajah penasaran.
David Laiya menggelengkan kepalanya, dia sepertinya sudah mengerti semuanya, kemudian dia membantin dalam hatinya "Anak itu tidak sesederhana yang saya bayangkan, ternyata dia memiliki kekuatan yang tidak bisa diprediksi".
David Laiya akhirnya menyesal, namun apalah daya nasi sudah terlanjur menjadi bubur, sehingga David Laiya hanya bisa menggertakan giginya, meratapi tentang Nasib yang telah dialami oleh keluarganya.
__ADS_1
Eben Haezer hanya menatap David Laiya dengan perasaan iba, dia sudah tidak bisa berkata-kata ketika melihat David Laiya berdiri dan melangkah masuk kedalam jeruji besi.
Ditempat lain didalam sebuah perguruan sekte Gale-Gale, Yerfan Laiya berjalan masuk dengan tergopoh-gopoh, kemudian dia menjatuhkan tubuhnya tepat didepan Pintu Aula besar.
Para penjaga sekte dan beberapa murid-murid yang melihat seseorang jatuh didepan pintu, sontak saja mereka langsung berlari dan membantu Yerfan Laiya untuk berdiri dan diangkat masuk kedalam Aula sekte.
Seorang pria paruh baya keluar dari dalam sebuah ruangan, kemudian bergegas melangkah melihat orang asing, dengan dalam kondisi menyedihkan masuk kedalam Sekte.
Pria paruh baya itu menyuruh beberapa murid untuk merawatnya, dan memberikan dia minum supaya dia cepat untuk pulih.
Setelah memberikan perintah kepada para murid sekte, pria paruh baya itu langsung bergegas masuk kedalam ruangan khusus, setelah dia sampai didalam dia langsung menyalakan lampu sehingga ruangan itu menjadi terang.
"Ada apa Julvan? Bukankah baru beberapa yang lalu kau datang kemari?" Kata seseorang yang sedang duduk bersilah diatas sebuah batu besar, dengan mata masih tertutup dan didepannya terdapat buku Alkitab Kuno.
"Maaf Ketua!! Kita kedatangan seseorang yang tidak kita kenal, dia datang dalam kondisi yang sangat terluka, sepertinya dia banyak mengalami luka dalam" Kata Pria Julvan kepada ketua Sekte.
"Kenapa kau tidak menyelidiki orang itu, bagaiman kalau dia memiliki Misi untuk menghancurkan sekte Gale-Gale kita, apakah kau mampu menahannya" ujar ketua sekte dengan tegas.
"Maaf Ketua! Saya salah, saya salah, mohon pengampunannya, saya akan segera mengusirnya dari sekte kita" Kata Julvan meminta maaf kepada ketua sekte, dia berlutut memohon sampai mencium tanah.
"Kamu uruslah orang asing itu, jika dia melawan segera lakukan dengan tindakan yang tepat, dan cepat laporkan pada saya" Ucap Ketua Sekte dengan nada serius, dengan masih menutup kedua bola matanya.
"Baik Ketua! Akan segera saya lakukan" selesai bicara Julvan langsung beranjak pergi dari tempat itu, dan dalam satu kali jentikan jari ketua sekte, semua lampu mati secara permanen.
Julvan langsung bergegas keluar dan mencari keberadaan Yerfan Laiya, Julvan memerintahkan murid-murid Sekte untuk segera melemparkan Yerfan Laiya keluar gerbang Sekte.
"Kalian semua!! Kita tidak mengetahui tentang identitas orang asing itu, maka sesuai perintah Ketua sekte, orang asing itu harus dikeluarkan dari dalam sekte, Apakah kalian Paham!!" Teriak Julvan memberi arahan kepada seluruh murid-murid sekte yang berdiri dihadapannya.
"Kami mengerti senior!!" Kata Murid sekte serentak.
__ADS_1