
Setelah David Laiya tidak lagi terlihat, Hasrat Naibaho menelpon Bryan, dan menyuruh Bryan untuk datang ke Loby, untuk menemaninya mengobrol.
Bryan meminum Anggur Merah dengan Santai, sampai akhirnya dia sudah mulai mabuk pinang.
Didalam Kamar Hotel, David Laiya mengepalkan tinjunya dan meremas botol Sprite yang ada ditangannya.
"Kurang Ajar... Berani sekali kepala Preman itu memprovokasi kita, saya berjanji akan menghancurkannya jika, setelah saya menghancurkan keluarga Song" David Laiya berkata dengan mata memerah.
"Betul Tuan.. Kita harus memberi pelajaran kepada Orang Sialan itu" Rius juga ikut berkomentar tentang Hasrat Naibaho.
Kemudian Rius melanjutkan "Apa yang diandalkan Kepala Preman Jalanan itu? Apakah dia Pantas bersaing dengan Keluarga La ia?".
"Heemm.. Kita tunggu saja waktu yang tepat untul menghabisinya" David Laiya berkata sambil mengelus Jenggotnya yang terlihat Putih.
Lemon terus berkultivasi, tanpa dia sadari tiba-tiba sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan muncul dihadapannya, Lemon membuka matanya, dia sangat terkejut dengan keberadaan cahaya terang yang ada dihadapannya.
Cahaya putih itu mendekati Lemon, kemudian cahaya itu berubah menjadi sebuah Liontin Berlian yang sangat cerah, Liontin Berlian Krsital yang berasal dari Naga Emas.
"Itu adalah Hadiah Saya untuk Tuan Lemon, semoga dapat bermanfaat dalam mengikuti pelelangan yang akan dilaksanakan Besok" Sebuah suara yang sangat bergema terdengar, suara itu adalah Suara Naga Emas yang sudah menyatu didalam Tubuh Lemon.
"Terimakasih banyak" Lemon berkata menjawab.
Tidak terasa waktu terus berlalu, malam Sudah menjemput Pagi, Lemon membuka kedua Matanya, dan dia sangat bahagia Karna Kekuatannya sudah bertambah 2 Kali lipat dari kemarin, sehingga dia merasa Lega dan bergegas pergi dari tempat itu.
Dikamar Hotel Bryan bangun dari tempat tidurnya, namu dia masih merasa Pusing karna akibat Anggur Merah semalam.
"Bagaimana keadaanmu?" Hasrat bertanya sambil tersenyum kepada Bryan.
"Aahh.. Saya sepertinya masih Pusing" Bryan berkata sambil memegang kepalanya.
"Hahahaa... Itu mah biasa, Kamu kebanyakan minum Amer semalam, tapi sebentar lagi baikan" Hasrat berkata serius.
Bryan melihat Hp-nya, kemudian dia terkejut karna sudah beberapa kali Lea melakukan panggilan.
Bryan langsung pamitan kepada Hasrat, dia langsung bergegas pergi kekamarnya Lea dan Dewi.
Sebelum Bryan Calvin masuk kedalam kamar, tiba-tiba Lemon sudah sampai dihadapannya, kemudian Lemon meminta bantuan Bryan untuk mengambil Kopernya didalam Kamar.
Setelah Bryan mengangguk setuju, Tidak menunggu lama Lemon langsung bergegas pergi kekamar Hasrat Naibaho.
"Dir dir dir" Suara Bel kamar terdengar, Bryan menekan Bel dari luar.
Pintu Kamar Terbuka, Terlihat Dewi sedang mengucek-ngucek matanya "Bryan" Dewi berkata santai.
"Dimana Lea" Bryan berkata penasaran.
"Masuk saja didalam" Dewi menjawab.
Setelah Bryan Masuk kedalam, dia melihat Lea yang sedang tidur lemas diatas ranjang.
"Kamu kenapa?" Bryan sangat terkejut melihat Lea, yang sedang terkapar diatas Ranjang dengan wajah pucat bagaikan Salju.
"Sekitar Jam 3 Pagi, dia terbangun dia merasa kepalanya pusing, dan Perutnya yang sangat sakit" Dewi menjelaskan kepada Bryan.
"Ya sudah! Kita langsung membawanya kerumah sakit" Bryan berkata dengan wajah kacau.
__ADS_1
"Tinggi dulu! Apakah Lemon sudah kembali ke Hotel?" Lea bertanya kepada Bryan.
"Sudah! Bahkan dia berpesan kepada saya, untuk membawa Kopernya kekamar sebelah" bryan berkata jujur.
"Kalau begitu, kamu minta bantu kepadanya untuk mencari dokter, karna Lea tidak bisa bergerak, kalau dia bergerak perutnya semakin sakit" Dewi menjelaskan kondisi Lea kepada Bryan.
Dengan Perasaan yang sangat Kacau, Bryan Calvin langsung bergegas berlari dikamar Hasrat untuk menemui Lemon, Namun tidak berselang lama, dia sudah sampai dikamar Lemon berada.
"Bang Bro.. Apakah ada Dokter yang kamu kenali disini?" Bryan berkata tergesa-gesa.
Dengan wajah penasaran Lemon berkata: "Kenapa kamu mencari Dokter, Siapa yang sakit?".
"Lea! Lea sakit Parah, Perutnya sangat Sakit.. Bahkan dia tidak bisa bergerak dari tempat tidur!" Bryan berusaha menjelaskan, dengan nafasnya yang masih ngos-ngosan.
Lemon tidak berkata apa-apa, dia hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia berkata: "Saya tidak ada kenalan Dokter disini!".
Lemon bertanya kepada Hasrat "Sekarang Pukul berapa?".
"Sudah menjelang Pukul 7 30 Tuan" Hasrat berkata Hormat.
"Jam delapan lima belas, kita sudah berangkat! Kalian semua harua siap-siap" Lemon berkata dengan suara tegas, kemudian dia melihat Bryan.
"Biarkan saya Mandi terlebih dahulu, setelah itu saya kesana, Tenang saja! Tidak usah Panik, dia tidak akan kenapa-kenapa" Lemon berkata santai.
Bryan tidak berkata apa-apa, dia hanya tertegun penasaran mendengar perkataan Lemon barusan.
Hasrat Naibaho Juga merasa ngeri dengan perkataan Lemon, walaupun dia kepala preman namun dia tidak pernah menyepelekan soal penyakit.
Bryan langsung bergegas pergi kembali kekamar Lea dan Dewi, setelah dia sampai disana, dia langsung disambut pertanyaan dari Dewi: "Apakah ada yang dia kenal Dokter disekitar sini?".
Dewi hanya menggertakan giginya mendengar perkataan dari Bryan.
"Bagaimana kalau kita angkat saja dia, langsung kita bawa dia dirumah sakit terdekat" Dewi berkata dengan rasa panik diwajahnya.
"Kita tunggu saja kedatangan Lemon, mungkin dia punya Solusi yang lain" Bryan berkata meyakini Dewi.
Dewi hanya menghela nafas, dia takut terjadi apa-apa kepada Lea, karna bagaimanapun Lea datang ke Puncak Gomo karna ajakan darinya.
"Dir..dir" suara bel terdengar dari arah pintu.
Bryan langsung bergegas membukakan Pintu, sosok Lemon terlihat dari Arah Pintu, dengan pakaian kerennya, kali ini dia terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
Lemon memakai Baju Putih Lengan panjang, seperti yang selalu dikenakan pak Jokowi... Hehee.. Sekedar bercanda.. Okey Lanjut.
Setelah masuk kedalam Kamar, tidak luput dewi memandanginya, dewi terkejut dengan Nuansa penampilan baru Lemon, Namun Dewi tidak terlalu menampakan Lirikannya kepada Lemon.
"Kamu kenapa baru nongol? Kamu semalam kenapa tidak kelihatan disini?" Dewi berkata dengan wajah masamnya.
Lemon hanya tersenyum menanggapi serbuan ocehan Dewi, "Saya ada acara sama Teman, kebetulan kami asik cerita sangat Larut malam, makanya saya tidak sempat kembali ke Hotel".
"Laki-laki apa perempuan?" Celoteh Dewi sembari berjalan kearah Lea.
Tanpa melihat Dewi, Lemon langsung menjawab dengan santai "Laki-lakilah.. Mana mungkin ada Perempuan bercerita sangat larut malam".
Bryan hanya menjadi pendengar setia, ketika Lemon dan Dewi saling tanya jawab.
__ADS_1
"Siapa tahu Perempuan Malam" Dewi terus menanggapi jawaban dari Lemon.
Namun Lemon tidak berkata-kata lagi, dia langsung berjalan kearah Lea, Kemudian Lemon bertanya: "Kenapa dia sampai sakit Seperti ini, semalam kalian darimana?".
"Semalam kami tidak kemana-mana, hanya keluar sebentar mencari makan, setelah itu kami kembali ke Hotel" Bryan menjelaskan Detil perjalanan mereka semalam.
Lemon menggelengkam kepalanya, sambil menarik nafas dalam-dalam, kemudian dia berkata lagi "Pasti ada seseorang yang mengintainya semalam, makanya dia seperti ini".
Dewi dan Bryan saling memandang ketika Lemon selesai berbicara, mereka tidak mengerti dengan kata-kata Lemon.
"Apa Maksudmu? Kami tidak mengerti.. Memangnya darimana kamu tahu, kalau ada yang mengintai kami semalam" Dewi berkata tidak percaya.
Lemon tidak menghiraukan perkataan Dewi, kemudian dia memegang tangan Lea, dengan seketika Buku Mata Dewa langsung Aktif.
Ternyata Lea terkena sihir dari seorang Biksu, yang mengakibatkan dia Menjadi Sakit Kepala dan Sakit Perut, Namun Sihir itu salah sasaran, sebenarnya sasaran utama bukan Lea melainkan Dewi.
"Lea terkena Sihir membutakan Jiwa, Tapi sasaran sebenarnya bukanlah dia! melainkan kamu" Lemon melihat Dewi yang sedang berdiri disisi tempat tidur.
Dewi sangat terkejut mendengar perkataan Lemon, dia sangat tidak mengira akan ada orang yang mengincarnya.
"Kamu jangan banyak membual! Siapa yang beranj mengincarku? Saya tidak pernah menyinggung siapapun, jadi saya tidak punya musuh sama sekali" Dewi berkata kesal kepada Lemon.
Namun Lemon tidak mwnghiraukan Dewi, dia telah mendapatkan Pengarahan dari Buku Mata Dewanya, dalam menangani penyakit yang diderita Lea.
Lemon berjalan menggapai Botol Air Mineral yang berada diatas Meja, kemudian dia merapalkan Mantra, dan dengan sedikit Kekuatan Energi Spiritualnya, dia suntikan kedalam Botol Air mineral tersebut.
Kemudian dia menyuruh Dewi untuk menopang Lea, untuk memberi Lea Air Mineral yang sudah dia suntikan Energi Spiritualnya.
Lemon membantu Dewi, untuk menuangkan Air Tersebut kedalam Mulut Lea, setelah Lea Meminum Air tersebut, Lemon meletakan tangannya di Kepala Lea, kemudian dia mencabut Sihir yang sudah masuk kedalam Jiwa Lea.
Setelah itu Dewi membaringkan Tubuh Lea Kembali keatas Kasur, tidak menunggu 2 menit Lea kejang-kejang kemudian dia memuntahkan Cairan Berwana keunguan.
Melihat Lea yang sudah sampai pada titik sadarnya, Lemon langsung berbalik dan pergi, setelah dia melirik Jam yang sudah menunjukkan Pukul 8 Lima sepuluh menit.
Namun sebelum dia pergi, Dewi berkata dengan berteriak "Lemon! Kamu mau kemana! Kamu jangan lari setelah kamu membunuhnya" Dewi berkata suara tinggi, setelah dia melihat Lea yang kejang-kejang dan memuntahkan Cairan ungu.
Bryan juga merasakan hal yang sama, dia tidak menyangka Lemon akan berbuat seperti itu, dia meninggalkan Lea dalam kondisi seperti ini.
Lemon hanya tersenyum setelah membalikan badannya, sambil berkata "Dia kan baik-baik saja" .
"Baik-baik pantatmu! Mana mungkin dia baik-baik saja! Apa kamu tidak lihat dia memuntahkan cairan warna keunguan" Dewi berteriak menggertakan giginya.
Kemudian dia melanjutkan berkata "Cepat! Kamu carikan Dokter yang berada disekitar sini!".
Diwaktu bersamaan Lea berkata: "Untuk Apa Kamu Memanggil Dokter, saya sekarang sudah lebih tenang".
Tiba-Tiba Dewi dan Bryan Menoleh kearah Lea, yang sedari tadi mereka tidak memperhatikan Lea, karena mereka terus mengomeli Lemon yang akan pergi.
"Lea! Kamu sudah sadar" Dewi dan Bryan berkata penuh penasaran.
"Iya.. Saya sepertinya baik-baik saja kok" Lea berkata sambil turun dari atas ranjang, kemudian dia berjalan Mondar-mandir.
"Bagaimana ini bisa terjadi, berarti apa semua yang dikatakan Lemon barusan, itu semua benar!" Bryan Calvin berkata dalam hatinya.
"Bukannya tadi saya mendengar suara Lemon berada disini?" Dimana dia sekarang?" Lea bertanya Penasaran.
__ADS_1