
Namun sebelum Dewi bertanya panjang lebar, Widya sudah muncul didalam ruangannya, kemudian menghampiri mereka, namun tanpa Widya sadari dia langsung berkata kepada Hasrat.
"Maaf Tuan! Saya sudah mentransfer dananya diRekening Keluarga Chandra sebesar 2,5 Triliun" Kata Widya santai.
"Loh.. Kok besar sekali? Apakah itu tidak melewati batas, dan jangan sampai CEO menjadi marah" Kata Hasrat sedikit besar, karena dia sangat Kaget dengan apa yang sudah dia dengar dari mulut Widya.
"Maaf Tuan, tapi itu langsung perintah dari CEO" Jawab Widya dengan sedikit gemetar, karena dia melihat Ekspresi Hasrat yang sedikit kusam.
"Ya Sudah! kalau itu adalah perintah CEO, saya pergi dulu" Hasrat berkata Sambil dia melihat Dewi dengan tersenyum.
Hasrat langsung melangkahkan kakinya dari tempat itu dengan sangat cepat, karena dia takut kalau lama-lama disitu, Dewi akan semakin menjadi-jadi memberikan pertanyaan padanya.
Setelah Hasrat Naibaho tidak terlihat lagi, Widya berbalik menghadap Dewi, namun Dewi dan Lea tidak mengatakan apa-apa, mereka hanya fokus dengan percakapan antara Widya dan Hasrat.
Tiba-tiba Dewi tersadar dari lamunanya, kemudian dia berkata kepada Widya "Mba!.. Kenapa Uang yang ditransfer ke rekening perusahaan kami sangat besar ya, sudah melebihi dari pengajuan proposal, saya takut Patriak keluarga marah sama saya, jika dia mengetahui jumlah uang itu".
"Maaf Nona, saya hanya mengikuti perintah dari CEO, Saya tidak berani membantah" Kata Widya yang sangat ramah, namun tiba-tiba HPnya berbunyi, nada dipanggilan dari oleh seseorang, kemudian berkata kepada Dewi "Maaf Nona, saya harus mengangkat telepon, saya rasa urusan nona sudah selesai, dan nona boleh pergi" kata Widya lembut sambil dia membungkuk hormat kepada Dewi, setelah itu dia langsung membalikan tubuhnya berlalu pergi.
Dewi hanya bisa menghela nafas panjang, ketika dia meraih tangan Lea untuk pergi dari tempat itu.
Dikediaman Chandra Kenji membawakan data transfer uang dari perusahaan Yayasan Kuil Naga, yang membuat mata Restu Chandra hampir melompat dari tempatnya, saking terkejutnya dia.
"Ini beneran?" Tanyanya kepada Kenji dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
"Betul Tuan, saya juga hampir pingsan setelah menerima bukti transfer ini dari manajer keuangan, namun setelah saya selidiki memang benar adanya transfer uang sebesar itu dari perusahaan Kuil Naga" Kenji menjelaskan panjang lebar.
Restu Chandra hanya bisa menghela nafas panjang, ketika dia memikirkan apa maksud suntikan dana yang besar, dari Perusahaan Kuil Naga.
__ADS_1
"Saya sedikit ragu dengan kerjasama ini Tuan Patriak, saya curiga akan ada dampak besar dimasa depan dari Perusahaan Kuil Naga kepada kita, karena mengingat jumlah saham yang dia berikan ke perusahaan kita, bukanlah jumlah yang sangat sedikit, mulai dari pengajuan proposal dari bulan yang lalu, ditambah dengan ini" kata Kenji sambil berpikir.
"Heemm.. Saya juga berpikiran yang sama" Ujar Restu Chandra sambil dia mengesap Tehnya yang berada diatas Meja.
Restu Chandra melihat Lili yang sedang duduk disebelahnya, kemudian dia berkata: "Bu.. Apa Dewi anak kita sudah pulang?".
Lili menggelengkan kepalanya sambil berkata "Masih Pak, katanya tadi samaku, dia akan pergi keperusahaan Yayasan Kuil Naga, untuk mencari bantuan dengan mengajukan Proposal lagi".
"Heemm.. Anak itu memang berbakat" Restu berkata kecil sambil dia tersenyum sumringah.
Kemudian dia melanjutkan "Bu.. Dia pergi tadi bersama siapa?".
"Maaf Pak, kalau soal itu saya kurang tahu, tapi semalam Nak Lemon berkata kalau dia bersedia bersama Dewi untuk pergi" Ujar Lili sambil dia mengingat-ingat.
"Baiklah kalau begitu, kita tunggu saja nanti dia pulang" Jawab Restu datar.
Setelah menunggu lama akhirnya David Laiya keluar bersama sipir itu, dengan tangan dan kaki yang masih diikat dengan rantai.
Marko yang melihat Ayahnya yang sedang dirantai, dia hanya bisa menundukan kepalanya dengan mata yang sembab dan berkaca-kaca.
"Ayah.. Yang sabar ya, saya akan berusaha mengeluarkan Ayah dari tempat ini" Kata Marko dengan wajah sedihnya.
Walaupun David Laiya sering memarahi anaknya itu, namun dia tidak tega melihat anaknya terpuruk dalam kesedihan seperti itu.
Marko dengan hati yang sangat rapuh, dia menatap wajahnya dengan senyuman yang dipaksa, kemudian dia berkata: "Ayah! Sepertinya Lemon sudah dibawa di Kuil Lembah Mondrowe oleh Ki Buyut, karena mereka sudah pergi ketempat tinggal Lemon namun sampai sekarang mereka belum kembali".
Mendengar pernyataan Marko, David Laiya hanya bisa menggertakan giginya sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Marko... Tau darimana kamu, kalau Ki Buyut sudah berhasil menaklukan si Anak Sialan itu!" David Laiya angkat bicara sambil menatap Marko.
David Laiya tidak melirik sama sekali kearah Vina, karena dari dulu David Laiya memang tidak suka dengan keberadaan Vina disamping Marko.
"Yah.. Kalau memang mereka tidak berhasil menangkap Lemon, pastinya mereka sudah kembali kerumah untuk menemuiku" Jawab Marko dengan wajahnya dia angkat keatas.
"Marko??..Marko! Inilah yang selalu Ayah tidak suka padamu, selalu menganggap semuanya sudah benar dibawah kendalimu, kamu mustinya harus menyelidiki terlebih dahulu, apakah Ki Buyut sudah berhasil atau sebaliknya" Kata David Laiya dengan ekspresi tidak percaya.
"Heemm.. Ayah ini memang benar-benar Kuno! Masa Ayah tidak percaya dengan kehebatan Ki Buyut! ditambah lagi dia sudah bersama saudara-saudaranya yang lain" Kata Marko yang dipenuhi dengan nada Arogansi, sambil dia menatap Ayahnya dengan senyuman sinis.
Sambil dia meregangkan otot-ototnya, Marko berkata kembali "Baiklah kalau Ayah tidak percaya dengan ucapan Anakmu ini yang ganteng??, saya akan menghubungi Penjaga Kuil Lembah Mondrowe sekarang" Kata Marko yang mengambil HPnya dari Saku celananya, sambil dia mengedipkan matanya kepada Vina yang duduk disebelahnya.
Vina tidak berkata apa-apa dia hanya terus menatap Marko dengan senyuman genitnya, namun dia menggertakan giginya dengan mata yang merah karena amarahnya yang terpendam, ketika dia melirik David Laiya yang tidak mengacuhkan keberadaannya sama sekali.
David Laiya yang posisinya berada diseberang meja tempat duduk Vina dan Marko, dia hanya menatap anaknya sambil menunggu sambungan telepon tersambungkan.
Tidak menunggu waktu lama sambungan telepon akhirnya aktif "Hallo ini siapa?" Kata suara yang terdengar dari Ujung telepon.
"Eemm.. Saya Marko, Anaknya Murid Tuan Ki Buyut, yang beberapa hari yang lalu dikuil Lembah Mondrowe" kata Marko santun setelah sambungan telepon terhubung.
"Oohh.. Ente yang kemarin datang kesini? Tapi bukannya Ente sudah pergi bersama Senior Ki Buyut? Kok kamu bertanya lagi" Kata orang itu diujung telepon.
"Iya memang saya sudah bersama Tuan Ki Buyut, tapi mereka sudah pergi dari tempatku, dan membawa anak sialan itu, Lemon!" Kata Marko tegas terlihat dari sudut matanya.
"Waaahh.. Ente jangan becanda! Senior Ki Buyut bersama dengan saudara-saudara kami masih belum kembali ke Kuil, Ente jangan mengada-ngada, Ente harus bertanggungjawab kalau sampai terjadi sesuatu kepada mereka" Kata orang diujung telepon dengan nada suara yang bergetar, terdengar ada kekhawatiran dinada bicaranya.
"Heemm... Lalu kemana mereka pergi?" Kata Marko bergumam kecil, lalu dia melanjutkan "Baiklah Tuan, biarkan saya mencari tahu lagi dimana keberadaan mereka" ucap Marko dengan nada sedikit kesal.
__ADS_1
Setelah selesai berbicara, sambungan telepon langsung terputus, dan Marko duduk kembali dikursinya seperti terlihat orang yang tidak bertenaga.