
Vina menatap tajam kearah Lemon, kemudian dia berkata: "Heemm... Apa kamu belum mengenal pacar miskinmu ini!? Tanyakan padanya dimana dia membuang Jasadnya Marko, karena setelah dia membunuh Marko, dia langsung membakar jasad itu untuk menghilangkan barang bukti" Vina menatap Lemon dengan tatapan dinginnya.
"Aaiissh.. Dasar wanita j" lang! Dasar apa kamu mengatakan dia yang membunuh Marko? Hah! Apakah ada saksi atau bukti?" Tanya Dewi dengan sarkasnya.
"Aku memang tidak ada bukti! Namun ada penjaga yang menyaksikan bagaimana laki-laki miskin ini menghabisi seluruh keluarga Laiya" Vina berkata-kata sambil dia memutar mengelilingi Lemon, namun tatapannya masih tertuju kepada Lemon.
Namun Lemon tidak bergeming sama sekali, dia hanya bisa mengerutkan keningnya, dia masih menatap lurus kedepan.
"Sungguh lelaki yang gak ada rasa malu, mengharapkan untuk mendekati anak konglomerat!!,, heii.. Sadar diri dong!? Ngaca dulu baru bertindak" kata Vina dengan penuh penghinaan.
Dewi langsung mendorong Vina jauh kebelakang, dia menatap gadis itu dengan penuh penghinaan.
Lemon tidak menggubris kata-kata Vina, dia berjalan dengan santai memasuki arah koridor kelasnya.
Namun Vina tidak mau kalah, dia terus berjalan mengikuti Lemon "Heii... Anak Miskin! Lebih baik kau ikut samaku dikantor Polisi, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan bejatmu itu" Hardik Vina dengan nada penuh amarah.
Mendengar kata-kata Serangan dari Vina, Lemon langsung menghentikan langkahnya dia memutar badannya menatap Vina dengan tatapan tajam.
Vina bergidik gemetar ketika dia melihat tatapan Lemon yang seperti tatapan Dewa pembunuh.
"Aku tidal suka memukul wanita! Jadi lebih baik kau menjauh dariku! Karena kalau tidak! Nasibmu akan sama seperti pacarmu Marko!" Lemon berkata sambil menghunjuk Vina dengan tatapan yang sangat mengerikan.
Vina dalam keadaan tak sadar, dia hanya mangguk-mangguk karena merasa kengerian dari tatapan Lemon.
Dewi juga yang berada disamping, merasakan Aura yang sangat besar dari Lemon, sehingga dia hanya bisa menundukkan kepalanya untuk menghindari rasa gemetarnya.
Tanpa banyak berkata-kata, Vina langsung membalikan badannya dengan kaki yang terasa berat karena gemetaran, dia meninggalkan Lemon dan Dewi yang sedang berdiri dihadapannya.
Lemon yang memiliki temperamen dingin, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, ketika dia melihat Vina yang semakin lama semakin menjauh darinya.
"Ayoo.. Kita masuk kedalam kelas" Ucap Lemon sambil menarik tangan sang kekasih, yang hanya diikuti oleh Dewi dari belakang.
Sesampainya mereka didalam kelas, mereka disambut oleh Dennis dan Lea.
"Haaii... Akhirnya kalian berdua kembali masuk kuliah lagi, aku senang dehh" ujar Lea dengan langsung memeluk sahabat sohibnya Dewi.
"Iya Nih.. Semoga saja kalian bisa kuliah tanpa banyak masalah lagi" Sahut Dennis dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
"Iya semoga saja tidak ada halangan" Jawab Dewi dengan senyuman sumringahnya, sambil dia melirik Lemon yang sedang menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Aaminn" jawab Lea dan Dennis serentak, kemudian mereka langsung duduk ditempat duduk mereka masing-masing.
Singkat waktu, proses belajar selesai dan merekapun bersama-sama pergi kekantin kampus, disana sudah ditunggu Bryan Calvin.
"Haaii bang Bro!! Apa kabarmu?" Sapa Bryan dengan senyuman lebarnya.
"Baik bang bro!" Jawab Lemon singkat sambil dia duduk disamping Bryan Calvin.
Mereka semua mengobrol bersama, bercanda dengan gembira ria, hingga waktu berlalu 3 Jam.
"Oh ya.. Aku lupa! Aku ada Tugas yang harus aku selesaikan sore ini, sorry ya? Aku harus cabut" Tutur Dennis dengan memberikan senyuman miringnya kepada semua orang.
"Haadeehh.. Kamu ini! Lagi asik-asiknya kita mengobrol, eh kamu malah mau pergi, dah tau lagi ada pasangan yang baru asik-asikan bersamaan" Gerutu Lea kepada Dennis, yang ditanggapi Dennis dengan senyuman.
"Lain kali lagi deh!! Kita ngobrol bareng, aku harus pergi ni" Jawab Dennis sambil dia melihat Jam dipergelangan tangannya.
Setelah Dennis pergi meninggalkan mereka semua, Bryan dan Lea juga ikut berpamitan, karena mereka ingin pergi ke Mall dekat Perusahaan Yayasan Kuil Naga.
Dewi dan Lemon memilih untuk pergi kePuncak Villa Ginting, mereka ingin menghabiskan waktu bersama sampai sore hari.
Dewi membeli makanan untuk mereka, dan beberapa cemilan yang lainnya.
Lemon langsung menginjak pedal gas mobilnya, mereka langsung menuju Puncak Villa Ginting.
Sesampainya mereka didepan Villanya Lemon, Dewi teringat saat-saat dulu dia sekap oleh Ki Buyut dari Lembah Mondrowe.
"Kamu kenapa bengong seperti itu" tanya Lemon keheranan karena dia melihat Ekspresi Dewi yang terlihat tegang.
"Aku hanya teringat! Waktu orang tua itu menangkapku, wajahnya sangat menakutkan" Kata Dewi lirih sambil dia mencekeram tangan Lemon.
"Sudah.. Sudah! Kamu tidak perlu takut lagi, karena aku ada disini" sahut Lemon dengan memberi penguatan kepada Dewi.
Lemon membawa Dewi duduk dibelakang Vilanya yang menghadap Danau Nias, Lemon merangkul Dewi yang masih terlihat gemetaran.
Setelah mereka terdiam beberapa saat, Lemon berkata dengan pelan "Aku akan pergi kesuatu tempat yang mungkin sangat jauh, aku berharap kamu bisa menjaga dirimu baik-baik".
__ADS_1
Dewi langsung terkejut kaget, setelah dia mendengar pernyataan dari sang belahan hati, dia menatap Lemon dengan tatapan yang penuh arti.
Dewi menggelengkan kepalanya Pelan, lalu dia berkata: "Bagaimana lagi kamu pergi jauh dari sisiku? Apakah kamu tahu kalau aku tidak bisa menjalani kehidupan ini tanpa adanya kamu disisiku? Kenapa lagi kamu harus pergi?".
Dengan wajah sembabnya, Dewi menggenggam tangan Lemon, begitu juga Lemon membalas genggaman Dewi.
"Aku ada tugas yang harus diselesaikan, aku berharap bisa mendapapatkan jawaban-jawaban, yang sudah kupendam selama ini" Ujar Lemon dengan nada sedihnya.
"Berapa lama kamu disana, dan kapan kamu akan pergi?" Tanya Dewi dengan nada suara yang bergetar.
"Aku tidak tahu berapa lama aku disana? Yang pasti aku akan pergi pada bulan dua belas bulan purnama" Jawab Lemon dengan menatap langit biru yang cerah.
"Bawa aku ikut bersamamu" Ujar Dewi dengan penuh harap.
"Aku tidak tahu perjalanan disana apakah aman atau tidak! Yang Jelas! Perjalanan menuju tempat itu sangatlah berbahaya, jadi aku tidak mau kamu mengambil resiko dan aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, karena aku sangat sayang sama kamu" Ucap Lemon dengan nada seraknya, dia menggenggam tangan Dewi dengan penuh kasih sayang.
Dewi menggeleng pelan, dengan butiran Air yang jernih, menetes dari pelupuk matanya "Aku tidak peduli bahayanya apa! Karena aku merasa nyaman jika berada disampingmu, aku rela mati jika bersama kamu" Sahut Dewi dengan nada sedihnya.
Lemon tidak lagi berkata apa-apa, dia hanya tersenyum menatap wajah Dewi.
Mereka berdua menghabiskan waktu romantis itu, hingga Cahaya Matahari tertutup diganti dengan malam.
Lemon mengantarkan Dewi kembali kerumahnya, setelah itu dia langsung menemui Hasrat Naibaho disebuah klub yang berada dipinggir kota.
"Kenapa Tuan tidak memberitahuku kalau datang kemari? Atau aku yang akan datang menemuimu" Tanya Hasrat Naibaho dengan tatapan penasaran.
"Heemm... Aku sengaja datang kemari untuk bisa bersantai sejenak, karena aku mau kamu benar-benar fokus mengurus Perusahaan Yayasan Kuil Naga, bersama seluruh anak cabangnya, karena aku akan pergi kesuatu tempat yang cukup Jauh" Ucap Lemon santai, yang membuat ekspresi Hasrat seketika berubah sendu.
Hasrat Berpikir dalam hati, bukankah tuannya baru saja kembali dari tempat yang cukup jauh, sekarang pergi lagi.
"Memangnya Tuan mau kemana lagi? Apakah perlu saya menemani Tuan" Jawab Hasrat Naibaho dengan santai.
"Jangan! Hanya kamu yang saya percaya mengurus segalanya disini, jadi! Lebih baik kamu tinggal saja disini, mungkin nanti saya ditemani Maret Silalahi" Sambut Lemon dengan santainya, smabil dia menengguk Bir yang sudah diisi didalam gelasnya.
"Baiklah Tuan... Saya hanya tunduk pada perintah Tuan Lemon saja" Jawab Hasrat dengan hormat.
Lemon menganggukan kepalanya, sambil dia menatap kedepan, dengan Ekspresi wajah yang sulit diartikan.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah pintu, selusin pengawal berjas hitam, dengan headset ditelinga mereka masing-masing, mereka masuk dengan menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan.