PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 202. Fanolox Geram dengan Cristof


__ADS_3

"Itulah bu, makanya aku sekarang lagi memikirkan hal itu" Jawab Restu Chandra singkat.


Lili hanya bisa menghela nafas pelan, kemudian dia mengusap punggung tangan suaminya, dia sambil berkata: "Ayah yang sabar ya, semoga semuanya cepat berlalu".


"Iya bu, makasih" balas Restu Chandra dengan senyuman manisnya.


Dikuil Maifu, Pendeta Rusli sedang duduk disingganah sananya, dengan wajahnya yang menatap lurus kedepan.


Sementara disampingnya, terlihat Cristof yang sedang duduk dengan pakaian Tao putih, dia memegang sebuah tongkat, yang diujung Tongkat tersebut terukir sebuah pagoda yang berwarna emas mengkilat.


"Kita harus bergerak cepat! Jangan sampai Perguruan Kuil Naga menguasai Kota Gowe, belum lagi kalau ada kekuatan-kekuatan dari Provinsi Tera" Ujar Pendeta Rusli dengan tatapan tegasnya.


"Benar Ketua! Kekuatan yang kita miliki sekarang ini sudah mencapai 75%, maka dari itu kita bisa pastikan mampu menguasai seluruh Kota Gowe, dan Dunia bawah tanah" Sahut salah seorang penatua Perguruan Kuil Maufa.


"Heemm.. Makanya kita harus mempersiapkan kekuatan kita, supaya kita mampu menguasai kota ini" Jelas Pendeta Rusli dengan tatapan yang lurus kedepan.


"Kamu selidikilah kekuatan Yayasan Perguruan Kuil Naga" Perintah Pendeta Rusli kepada Cristof yang sedang duduk dismpingnya.


"Bail Ketua, saya akan bergerak besok" Jawab Cristof dengan hormat.


"Kamu bawalah beberapa orang bersamamu" sambung Pendeta Rusli.


Setelah mereka semua berbicara, semua orang kembali kedalam kamar masing-masing.


Sementara dilembah Mondrowe, Fanolox mengepalkan tinjunya dengan rahangnya bergetar.


Dia telah mendengar berita tentang Cristof yang kini sudah membelok, dan memilih bersama dengan pendeta Rusli di Kuil Maufa.


"Dasar anak yang tidak tau diuntung! Dia berani menghianati saya! Padahal disini dia selalu diberi kehidupan yang sangat berkecukupan, tapi kenapa dia malah berbuat seperti ini... Huuft" Ucap Fanolox dengan perasaan beratnya.


"Betul Ketua! Kalau kita ketemu dengan anak itu, kita harus memberinya pelajaran! Biarlah akan menjadi pelajaran dengan junior-junior yang lain" Sahut salah satu Senior Perguruan yang berada dikursi.


Fanolox hanya menggeleng pelan, perasaannya sekarang tidak beraturan, dia sangat tidak percaya dengan kelakuan Cristof.

__ADS_1


Kemudian dia menatap langit-langit ruangan itu, dia mendesih pelan "semoga saja para anggota perguruan yang lain tidak terpengaruh dengan kejadian ini" Ujar Fanolox.


"Semoga sajalah ketua, itulah yang menjadi Tugas berat kita terus memberi arahan kepada yang lain, supaya mereka tidak terpengaruh dengan hasutan hasutan orang lain" Jawab Senior itu.


"Eemm.. Benar benar! Kita harus bergerak cepat, mulai besok kamu arahkan mereka untuk selalu tetap tegar dan setia" Kata Fanolox menyetujui perkataan senior yang sedang berada didekatnya.


Keesokan harinya diperusahaan Kuil Naga, Dennis berjalan masuk kedalam Ruangannya, setelah dia turun dari Mobilnya yang bermerek Pajero Spot.


"Mbak Widya, Tuan Lemon telah menyetujui tentang Proposal Perusahaan Keluarga chandra, hari ini kami proses dan lakukan pencairan" Ujar Dennis dengan nada bicara yang lembut, ditambah dengan tatanan rambuntnya yang rapi dan barulah nampak dia sebenarnya tampan.


Widya sedikit mengernyit ketika dia menatap wajah Dennis, hatinya sedikit gemetar dengan tiba tiba, namun Widya Sirait menepis hal itu, dia hanya tetap Fokus pada pekerjaannya saja sebagai wanita karir.


"Baiklah kalau Tuan Lemon sudah memberi persetujuan, biarkan saya langsung menghubungi Non Dewi" Jawab Widya dengan meraih HPnya didalam Tas kecil.


Namun sebelum Widya melakukan panggilan, dia menyempatkan untuk bertanya beberapa kepada Dennis.


"Denn.. Kamu kan teman kuliah dengan Tuan Lemon? Iya kan, kamu juga temanan sama Dewi? Tapi kenapa Tuan Lemon menyembunyikan semua ini dari Dewi?" Tanya Widya sedikit penasaran, dan harus butuh jawaban dari Dennis.


Sebelum Widya menyerang pertanyaan lagi, tiba-tiba dari ujung telepon terdengar suara "Hallo Mbak Widya? Apakah mbak mendengarkan saya?".


Suara yang terdengar dari ujung telepon itu adalah Dewi, Widya sudah melakukan panggilan kepada Dewi, namun dia lupa karena asik mendengarkan cerita dari Dennis.


"Iya Hallo Nona, Maaf jaringan disini kurang bagus, apakah nona sekarang mendengarkan saya?" Sambut Widya dengan sedikit panik, dia takut jika Dewi akan mendengarkan semua percakapannya dengan Dennis.


"Iya mbak.. Saya kurang dengar juga, mungkin jaringan masih belum stabil, berhubung karena masih pagi, jadi jaringannya masih belum sarapan.. Hahahaa" Gelak Tawa terdengar dari balik telepon, yang spontan Widya juga ikut tertawa terbahak bahak.


"Begini Non Dewi, kemarin lusa kan Non Dewi sudah menyerahkan Proposal di Perusahaan Kami, jadi setelah CEO Perusahaan mengkroscek semuanya, dia menyetujui dengan permohonan proposal dari perusahaan keluarga anda, jadi apakah hari ini ada kesempatan Non Dewi datang keperusahaan kami? Supaya langsung melakukan penandatanganan Surat Perjanjian dan langsung diproses" Kata Widya dengan panjang lebarnya.


Sontak Saja Perasaan Menjadi sangat berbunga-bunga, dia akhirnya bisa bernapas legah, setelah menunggu beberapa hari.


"Yeaaass!! Akhirnya perusahaan kami memiliki suntikan biaya, terimakasih ya Tuhan, engkau memanglah sangat baik pada keluarga kami, dan terimakasih juga kepada Dennis yang sudah membantuku dalam memproses proposal ini, begitu juga dengan Lemon yang selalu memberikanku suport, kiranya engkau Tuhan memberkari mereka semua.. Amin" Doa Dewi dalam lamunannya, dimana dia sekarang dengan posisi berlutut dilantai.


Setelah dia selesai berdoa, dia kemudian berjalan ketempat sang Ayah.

__ADS_1


Restu Chandra dan Istrinya bersama dengan beberapa Tetua Keluarga, dengan ditemanin Kenji mereka sedang membahas beberapa masalah perusahaan yang sedang mereka hadapi.


"Ayah.. Ibu.. Aku sudah berhasil lagi" teriak Dewi dari atas tangga, dia sekarang sedang berjalan menuruni anak tangga.


Sontak saja wajah semua orang langsung berbalik melihatnya, mereka sangat terkejut dengan teriakan Dewi yang terlihat sangat gembira.


"Nak.. Apa yang sedang kamu bicarakan? Kami semua sangat kaget mendengarmu" ucap Restu Chandra sedikit kesal, namun dia tidak bisa menampakan wajah kesalnya dihadapan si buah hatinya.


"Ayah.. Ibu.. Proposal yang kita Ajukan, diperusahaan Kuil Naga, lagi-lagi sudah disetujui Bu, aku sudah dipanggil oleh Sekretaris CEOnya untuk melakukan penandatanganan Surat Perjanjian" Ujar Dewi dengan sangat Gembira.


"Syukur Alhamdulilah... Syukurlah kalau begitu, kita tidak perlu lagi untuk merasa cemas, kita tunggu dananya baru kita eksen" Ucap salah satu tetua keluarga.


"Heemm.. Benar Benar, kita tidak perlu lagi menggadaikan Perusahaan Cabang kita yang ada diProvinsi Aceh, lebih baik kita tunggu Suntikan dana dari Perusahaan Kuil Naga, bukankah begitu?" Tanya Restu Chandra kepada semua orang, wajahnya baru bisa tersenyum setelah mendengarkan berita dari Dewi.


"Nak.. Kamu baca semua isi perjanjiannya, jangan sampai kita rugi dan perusahaan mereka juga rugi, artinya harus sama sama saling menguntungkan" Ujar Salah Satu Tetua Keluarga Chandra.


"Heemm.. Saya semakin ragu dengan apa yang terjadi ini, bukankah kita semakin terlilit dengan utang diperusahaan Kuil Naga, hutang kita yang dulu dulu masih belum lunas, sekarang kita tambah lagi" Kata Restu Chandra lirih.


"Sudahalah.. Ayah tidak perlu kuatir tentang hal itu, makanya kedepan kita harus hati-hati dan jeli, jangan sampai kita kebobolan lagi" jawab Dewi dengan penuh semangat.


"Baiklah terserah kamu saja, yang penting semua masalah ini cepat selesai" Ungkap Restu Chandra pasrah.


Dewi langsung bergerak menuju Perusahaan Yayasan Kuil Naga, dia ditemanin sahabat Sohibnya Lea.


Dewi menelpon Lemon namun HPnya Lemon tidak aktif, sehingga dia langsung bergerak menunu perusahaan Kuil Naga.


Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, akhirnya Dewi dan Lea tiba diloby Perusahaan Kuil Naga.


Mereka langsung berjalan menuju Lift dilantai atas, setelah mereka mendapatkan ijin dari reseptionis.


Sementara didalam ruangannya, Widya Sirait sedang mempersiapkan segala berkasnya, dia sedang menunggu kedatangan Dewi.


"Tok tok tok" suara pintu diketok dari luar.

__ADS_1


__ADS_2