
Lemon hanya bisa mengerutkan keningnya, ketika dia mendengar ucapan Istri Pak Walikota, yang begitu meremehkan dan tidak percaya kepadanya.
"Ibu Bicara Apa sih? Saudara Lemon Perlu melibat Kondisi Dian anak kita, siapa tau saudara Lemon bisa membantu" Kata Pak Walikota dengan ekspresi dingin.
Pak Walikota menggertakan giginya, ketika istrinya berkata meremehkan Lemon, namun dia tidak berbuat apa-apa, karena walaupun dia Walikota, diluar rumah dia memang penguasa yang dijunjung tinggi dan dihormati, tetapi untuk dirumah dia ibarat lelaki yang tidak punya nyali, dia hanya terus mengikuti apa yang dikatakan oleh sang istri.
"Hah.. Apakah Bapak tidak salah! Masa tampang begini, usianya masih setara dengan anak kita Dian, bapak bilang dia mampu mengobati, Huh" Kata ibu Triska dengan Ekspresi dinginnya, dan dia menatap Lemon dengan tatapan penuh Provokasi.
Lemon hanya bisa menghela nafas panjang kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan, sementara Daran yang berdiri disamping dia hanya bisa menundukkan kepala, dia tidak tau harus berbuat apalagi.
"Heii Nak! Katakan apa sebenarnya tujuanmu mendekati keluarga kami? Apakah kamu menginginkan Uang? Hah" teriak ibu Triska dengan dingin.
"Saya hanya ingin memeriksa apa penyakit Anak Ibu, karena saya menghargai undangan Pak Walikota, dan saya tidak meminta imbalan apapun" Jawab Lemon santai.
"Heemm.. Dasar kentut! Memangnya siapa yang percaya dengan Anak Muda Jaman sekarang, mereka semuanya hanya pintar membohongi orang lain" Ucap ibu Triska pedas.
Melihat Istrinya semakin bertingkah menyudutkan Lemon, Pak Walikota menggertakan giginya kemudian dia menarik tangan istrinya kesamping, kemudian dia berkata "Ibu ini apa-apaan sih? Ibu jangan membuat saya malu, biarkanlah dia mencoba memeriksanya" Tatapan Pak Walikota sangat dingin.
Melihat raut Wajah suaminya yang dingin, ekspresi Ibu Triska tiba-tiba berubah drastis, yang membuat dia menjadi melembut, kemudian dia berkata "Baikalah! Saya ijinkan dia memeriksa Dian, tapi kesempatannya hanya sekali".
Pak Walikota langsung mempersilahkan Lemon untuk masuk, setelah istrinya luluh dan mengijinkan Lemon untuk memeriksa Anaknya tersebut.
Ibu Triska hanya bisa menggerutu dengan kasar, setelah dia melihat Lemon dan Pak Walikota masuk kedalam Kamarnya Dian.
Lemon mengernyit ketika dia Melihat Dian yang menghadap Jendela, dan sedang duduk diatas Kursi Roda.
"Bu! Kenapa ibu lama sekali mengambil Air Minumnya, aku sangat haus ni" Kata Dian yang masih menghadap Jendela, dia langsung berkata kepada Ibunya ketika dia mendengar suara Gagang pintu terbuka.
__ADS_1
"Maad Nak! Ibu ada pekerjaan lain, makanya ibu terlambat" Ibu Triska langsung menghampiri anaknya, kemudian dia langsung memutar Kursi Roda menghadap orang-orang.
"Ini Nak Munum" Ibu Triska sambil mengulurkan tangannya, memberikan Gelas yang berisi Air Putih.
Pak Walikota langsung melihat kearah Lemon, Kemudian dia berkata: "Saudaraku, silahkan coba kamu periksa keadaan matanya" sambil menggerakan tangannya mempersilahkan Lemon.
Lemon mengernyit ketika dia menyelidik wajah gadis itu, kemudian dia mengingat-ingat sesuatu "Bukankah saya pernah bertemu dengan Gadis ini, tapi dimana ya?" Batinnya dalam hati.
Kemudiam Lemon menganggukan kepalanya, tanpa membalas perkataan Pak Walikota.
Namun sebelum Lemon mendekat kepada Dian, tiba-tiba Dian bertanya "Ibu.. Apakah ada orang lain disini, kok sepertinya ada suara Ayah dan orang lain".
"Iya Nak, ada yang ingin mencoba memeriksakan kondisi Matamu" jelas Ibu Triska ketus.
"Oh.. Baik Bu gak apa-apa, Siapapun anda saya sangat berterimakasih, karena anda memberikan sedikit perhatian anda kepda saya" Kata Dian berterimakasih, walaupun matanya masih belum diperiksa.
"Iya gak apa-apa, silahkan saja" jawab Dian memeprsilahkan Lemon untuk memeriksanya.
Lemon memindai Dian dengan Buku Mata Dewanya, kemudian dia mendapatkan Informasi bahwa penyakit Dian adalah efek benturan keras, yang memngakibatkan Pembuluh darah dibola matanya menjadi pecah, dan membuat Gumpalan Darah, sehingga mengganggu penglihatan.
Kemudian Lemon menarik Nafas Panjang, dia langsung menggerakan jari-jarinya, kemudian seberkas sinar muncul dan kemudian dia memusatkan keluatan Qi Esensialnya, kekuatan Murni dari Raja Naga.
Lemon sengaja menyemburkan Qi Murni dari raja naganya, karena dia tidak tahu apakah cara itu berhasil atau tidak, karena mengingat dia belum pernah melakukan pengobatan ini sebelumnya.
Lemon berjalan mendekat Dian, kemudian dia mengusap Mata Dian dengan pelan dan lembut, Lemon menahan tangannya dimata Dian, kemudian Kabut Putih dan Kabut Hitam bercampur menyelimuti wajah Dian.
Kabut Putih bekerja untuk memulihkan Energi Qi didalam Bola Mata, sedangkan Kabut Hitam bekerja untuk menghisap gumpalan darah yang sudah membeku didalam Bola Mata.
__ADS_1
Lemon terus menahan tangannya dimat Dian, sampai nantinya Kabut itu menghilang secara permanen, karena itu adalah Arahan dari Buku Mata Dewanya.
Namun Dian mengerang kesakitan karena dia merasakan Matanya Perih, karena kabut hitam menyedot seluruh kotoran yang menutupi bola mata, sedangkan kabut putih memulihkan atau menetralkan kondisi bola mata seperti semula, sehingga Bola Mata merasakan rasa denyut yang sangat menyakitkan.
"Aaaoohh.. Sakit sekali!" Teriak Dian, yang membuat wajah semua orang menjadi mengernyit, tidak terkecuali ibu Triska yang sangat marah, dia langsung berteriak "Hentikan! B" jingan.. Dia sudah berteriak kesakitan, tapi kamu malah terus menyakitinya, mau kamu apa! Hah, kenapa kamu menyakiti anakku??" ibu Triska berjalan menghampiri Lemon, namun dia ditahan oleh Pak Walikota.
"Jangan Bu! Ibu jangan mengganggu proses pengobatan saudara Lemon"
bentak Walikota kepada Istrinya.
"Tahan Non, tidak lama lagi" ujar Lemon dengan pelan, karena dia berkeringat dingin, seluruh bajunya basah kuyup, karena energi Qi Murni Raja Naga telah ia keluarkan.
"Baik" jawab singkat Dian, dia menggigit bibirnya untu menahan rasa sakit, yang membuat wajah cantiknya merah merona dan gigitannya dibibir membuat gayirah semua orang yang melihatnya.
Setengah Jam Kemudian, Kabut Hitam dan Kabut Putih akhirnya menghilang, dan Lemon melepaskan tangannya dari Mata Dian, yang membuat dia langsung duduk kelantai dengan suara gedebuk.
Wajah semua orang sangat penasaran, Walikota dan Istrinya, Daran Zebua bersama dengan beberapa anggota keluarga yang lain, mata mereka terpaku kearah Dian, dengan mulut yang terbuka bisa dimasukan sebutir telur bebek.
"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu" Kata Dian ketus, sembari dia berdiri dari Kursi Rodanya, dia berjalan kearah Ayah dan Ibunya, lalu memeluk mereka berdua.
Walikota dan Istrinya baru tersadar dari keterkejutan mereka, setelah Dian memeluk tubuh mereka berdua.
Ibu Triska langsung memeluk anaknya itu, kemudian dia memegang wajah Dian, dan melihat dari Ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ini Anak Ibu?? Ibu tidak bermimpi kan?" Kata Ibu Triska dengan wajah yang tidak percaya. "Iyalah Bu! Ini memang aku, masa ibu gak percaya sih!!" Jawab Dian dengan menggelembungkam pipinya.
Dian merasa sangat bahagia, karena dia bisa melihat kembali dengan Normal.
__ADS_1