
"Apakah kamu tinggal sendirian disini? Dimana yang punya rumah ini, kok kenapa mereka tidak kelihatan?" Dewi bertanya dengan wajah kebingunan.
"Apa Maksudmu! Saya memang tinggal sendirian disini" Lemon berkata jujur.
"Heemm.. Dasar pembual! Kamu pikir saya percaya begitu saja, kamu jangan berani berbohong padaku" Sambil dia menatap Mata Lemon.
"Hufft.. Ya Sudah! Kalau kamu tidak percaya, saya mau ganti pakaian dulu" Lemon hanya bisa menghela nafas, ketika Dewi tidak mempercayai penjelasannya.
Lemon langsung berbalik dan masuk kedalam kamarnya, namun Dewi yang sangat penasaran, dia langsung berjalan kearah dapur yang searah dengan Danau dibelakang rumah.
Ketika sampai didapur, Dewi menatap kearah Jendela, seketika mata Dewi terbelalak takjub, dia melihat pemandangan yang sangat Asri dan Indah.
"Andai saja saya bisa tinggal diVilla ini, betapa bahagianya saya" Dewi bergumam dalam hatinya.
Dewi terus mencari tahu, tentang keberadaan pemilik Villa itu, namun dia tidak menemukan tanda-tanda sama sekali, sehingga dia terus berkeliling dan tiba-tiba dia sampai, didalam Kamar Lemon.
Dewi tiba-tiba terkejut, ketika dia melihat tubuh kurus Lemon yang hanya mengenakan Handuk Mandi, Lemon ditutupi sebatas pinggangnya saja, sedangkan bagian atas dadanya terbuka Lebar.
Lemon juga sangat terkejut melihat Dewi yang sedang berdiri menoleh, Dewi mengangkat tangan untuk menutupi matanya, kemudian dia berteriak kepada Lemon.
"Dasar Mesum! Kamu telanjang dada dihadapannku" Teriak Dewi bergema.
"Wuuss.. Siapa juga yang mau telanjang didepanmu, kamu sendiri yang masuk kekamarku" Lemon berkata dengan wajah panik, dia tidak menyangka Dewi masuk kedalam kamarnya.
"Dasar kamu! Otak Mesum, Mana ada Maling mau ngaku" Dewi masih saja mencari pengelakan, walau dia sadar dia sudah salah masuk pintu.
Setelah beberapa saat, Dewi langsung berbalik dan pergi, dia langsung berlari kembali keruang tamu.
Setelah beberapa menit, Lemon baru keluar dari dalam kamar, dengan pakaiannya yang sederhana seperti biasa, Dewi hanya meliriknya sekilas, karena dia merasa malu dengan kejadian beberapa waktu yang lalu.
Lemon berjalan kearah Dewi, dengan senyumannya yang sangat menggoda, dia duduk persis dihadapan Dewi, namun Dewi hanya bisa membuang muka, ketika Lemon melemparkan senyuman menggodanya.
__ADS_1
"Kita santai sejenak, karna masih ada waktu sekitar satu jam" Lemon berkata kepada Dewi.
Namun dengan wajah datar, pipinya yang memerah karena malu, Dewi menatap Lemon dengan perlahan, kemudian dia menjawab: "Baiklah, tidak apa-apa, kita tunggu saja disini".
"Saya mau tanya sekali lagi! Ini rumah siapa? Kenapa kamu bisa diijinkan tinggal sendirian" Dewi bertanya lagi, dengan wajahnya yang serius.
"Heemm.. Bukanya tadi saya sudah menjawab, kalau saya memang tinggal sendirian dirumah inu, karena rumah ini memang rumah saya" Lemon berkata tegas.
"Heemm.. Dasar Kentut! Baiklah kalau kamu memang berkata seperti itu, Saya iyaakan saja, tapi saya tidak percaya" Dewi berkata acuh tak acuh, ketika dia menanggapi jawaban Lemon.
Lemon mengambil HPnya, kemudian dia menelpon Hasrat Naibaho, "Hallo Tuan! Apa yang bisa saya bantu?" Suara Hasrat terdengar dari ujung telepon.
Sambil berjalan menjauh dari Dewi, Lemon berkata; "Besok saya kekampus, tolong kamu urus Perusahaan, yang baru kita beli dari keluarga David Laiya, dan kalau bisa, Kamu Lelang seluruh Aset keluarga Laiya!".
"Maaf Tuan! Sepertinya itu Sulit, karena David Laiya masih memiliki seorang anak laki-laki, dan Orang Tuan David Laiya masih hidup" Hasrat berkata jujur.
"Hufft.. Baiklah kalau begitu, kamu lakukan saja dulu, apa yang bisa kamu lakukan untuk mengelolah perusahaan itu" Lemon berkata dengan nada pasrah.
"Maaf Tuan! Apakah Inspektur dari Kepolisian sudah menelpon tuan, karena mereka sudah menjumpai saya tadi pagi" Hasrat berkata dengan suara pelan.
"Baik Tuan! Tapi tuan harus hati-hati ya, jangan sampai Tuan dimanfaatkan" Hasrat memperingati.
"Baik! Saya akan berusaha melakukan yang terbaik" selesai berkata Lemon langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah selesai berbicara di telepon, Lemon langsung berjalan disamping Dewi dan duduk disebelah Dewi, yang membuat Dewi seketika terkejut, kemudian Lemon berkata: "Saya mau bertanya sama kamu?".
Dengan wajah terkejut Dewi menjawab: "Apa yang ingin kamu tanyakan, cepat tanyakan!".
"Apakah kamu menyukaiku" Tanya Lemon datar.
"Aaiiss.. Dasar cowok yang gak romantis" Dewi berkata mencibir.
__ADS_1
Kemudian dia melanjutkan: "Kalau cerita teman-teman dikampus, laki-lakilah yang mengutarakan isi hatinya kepada perempuan, bukan laki-laki bertanya kepada perempuan.. Huuft.. Heran!" Dewi berkata sambil menggelengkan kepalanya.
"Saya bertanya serius sama kamu, karena kalau kamu menyukai saya! Lebih baik jangan! Karena saya tidak bisa membalasnya" Ujar Lemon dengan wajah serius.
"Kenapa??" Dewi bertanya sambil memutar badannya, dia melihat Lemon yang sedang duduk disampingnya.
"Apa karena Tiwi? Eemm.. atau kamu sudah punya gadis lain?" Dewi menyerbu beberapa pertanyaan.
"Saya sebenarnya sudah lama menunggumu, karna pada saat kamu bertanya sewaktu di hotel Suko, saya sudah membuat kesalahan atas jawaban yang saya katakan" Dewi berkata dengan Ekspresi keseriusan.
Kemudian dia melanjutkan: "Tidak apa-apa jika kamu menyukaiku... Karna, karna Saya juga... Suka sama kamu" Dewi berkata terbata-bata, sambil menggertakan giginya, dia menahan egonya sebagai seorang Gadis primadona bintang kampus, yang selalu dikejar oleh Anak Muda dari berbagai kalangan.
Lemon masih tetap memasang Ekspresi dingin, karena dia sudah lama memikirkan hal ini, dia sudah sangat kecewa, dia kecewa dengan jawaban Dewi pada saat dihotel Suko.
Tiba-tiba Lemon berkata: "Sudahlah! Hal itu tidak perlu lagi dibahas, anggap saja hanya angin berlalu, lebih baik sekarang kita pergi!".
"Saya tidak mau pergi, kalau kamu masih belum menjawab pertanyaanku barusan" Dewi berkata dengan nada tinggi.
"Kamu kenapa marah-marah seperti itu, kan saya sudah bilang, kamu tidak bisa menyukaiku karena saya dan kamu, sangat jauh berbeda.. Kamu, kamu orang kaya, sementara saya hanya orang miskin" Lemon berkata sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Oh jadi itu jawabanmu, jawaban yang tidak masuk akal" Dewi berkata sambil memelototi Lemon.
Tiba-tiba Lemon terbangun, dia didalam Mobil bersama Hasrat Naibaho, ternyata semua itu hanyalah mimpinya.
"Saya kira semua itu nyata, tapi ternyata hanyalah mimpi, saya ternyata tidak sedang bersama Dewi" Lemon berkata dalam hati, sambil dia mengucek-ngucek matanya.
"Sejak kapan saya bersama kamu" Lemon berkata kepada Hasrat.
"Maaf Tuan, saya menjemput Tuan sejak dikediaman Chandra, kemudian diperjalanan Tuan ketiduran dikursi penumpang, saya melihat Tuan sangat kelelahan, makanya saya takut membangunkan tuan" Hasrat menjelaskan secara rinci.
"Oh... Jam berapa sekarang?" Ucap Lemon.
__ADS_1
"Jam 7 Tuan" Hasrat menjawab.
"Masih tersisa sejam lagi untuk pertemuan dengan Inspektur, jadi antarkan saya keVilla terlebih dahulu, saya ingin membersihkan diri sejenak" Lemon mengarahkan Hasrat.