
Dengan arahan dari Julvan, Yerfan Laiya langsung dipaksa keluar dari dalam Sekte, Yerfan Laiya dibuang keluar daerah Sekte Gale-Gale, sehingga dia dekat dengan pedalaman Hutan Terlarang Pulau Tello.
Yerfan Laiya berusaha meyakinkan para murid-murid sekte Gale-Gale, bahwa dia adalah lulusan dari perguruan mereka, namun Julvan sama sekali tidak mempercayainya dan berkata kalau Yerfan Laiya adalah seorang pembual dan mata-mata, yang dikirim oleh Sekte lain.
Yerfan Laiya dengan putus asa, dia berjalan menyusuri hutan belantara dipulau itu, dengan tiba-tiba dia jatuh kedalam lobang yang sangat dalam, tanpa ada yang melihatnya dia menghilang masuk kedalam lubang itu.
Sementara ditempat lain dikaki bukit pedalaman Pulau Tello, Lemon dan Maret Silalahi terus berjalan menyusuri jalan setapak, sedangkan dari belakang tanpa mereka sadari, lelaki Berkalung tasbih dan Pria Berkopiah terus saja mengikuti jejak kaki mereka berdua.
Tiba-tiba Lemon menghentikan langkah mereka, kemudian dia mengedarkan pandangannya keseluruh arah, dia mengernyitkan keningnya lalu berkata kepada Maret Silalahi "Ayoo... Kita cari Gua untuk bersembunyi, karena ada 2 orang yang mengikuti kita dari belakang" Lemon dan Maret melompat supaya jejak kaki mereka tidak diketahui oleh orang lain.
Mereka langsung menemukan Gua yang tidak jauh dari tempat mereka tadi, sementara Lelaki berkalung tasbih dan pria berkopiah merasa bingung, karena tiba-tiba mereka kehilangan jejak Lemon dan Maret.
"Kakak senior, kenapa kita berhenti? Bukankah kita harus bergerak cepat" tanya lelaki berkalung dengan wajah penasaran.
Pria berkopiah memberikan isyarat dengan memberikan jari telunjuknya dimulutnya, lalu dia berkata dengan pelan "Ssiisst.. Kamu jangan banyak berkata, sepertinya mereka sudah mengetahui kedatangan kita.
Sehingga Pria berkopiah mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru arah, dengan memindai tempat itu menggunakan kesadaran ilahinya, namun dia tidak menemukan siapa-siapa.
Lemon sengaja menyembunyikan keberadaan mereka, mengingat dia harus menyimpan tenaga untuk sampai ketempat pedalaman hutan.
Pria berkopiah mengerutkan keningnya, dia menggelengkan kepalanya lalu berkata "Sepertinya mereka sudah lari dengan menggunakan jalur yang berbeda".
"Lalu apa yang kita lakukan senior?" Tanya Lelaki berkalung tasbih, dengan memegang pinggangnya.
"Kita teruskan saja perjalanan kita, siapa tahu kita akan menemukan mereka ditempat yang lain" Selesai berkata Pria berkopiah dan Lelaki berkalung tasbih, langsung bergegas meninggalkan tempat itu.
Lelaki berkalung hanya manggut-manggut, sambil dia mengekori pria berkopiah.
Setelah selesai berbicara, mereka langsung begerak meninggalkan tempat itu, tanpa lagi mencari tahu keberadaan Lemon dan Maret Silalahi.
__ADS_1
Lemon mengedarkan pandangannya kearah tempat Kedua Pria paruh baya tadi, namun dia tidak lagi mendapatkan keberadaan mereka.
Sehingga Lemon langsung menarik Maret Silalahi untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.
"Tuan! Apakah tujuan mereka sama dengan tujuan kita? Sehingga mereka berusaha menghalangi kita" Ucap Maret Silalahi penasaran sambil mereka terus berjalan.
"Mungkin saja! Tapi, itu lebih jelas ketika kita bertemu langsung dengan mereka" jawab Lemon singkat sembari dia menatap langit biru.
Ketika mereka terus berjalan memasuki pedalaman hutan, tiba-tiba sebuah suara terdengar "Tolong! Tolong!" namun suara itu semakin jauh, sehingga Lemon Maret hanya mengamati sumber suara itu, dengan memasang pendengaran yang sangat jeli.
Seorang gadis cantik dikejar oleh seekor harimau ganas, dengan badan berukuran sangat besar.
Gadis itu sudah terlihat sangat berantakan, karena melawan serangan-serangan dari Harimau tersebut.
Ketika berlari sangat kencang, tiba-tiba kaki tersandung oleh rumput liar, yang membuat dia langsung terjatuh ketanah.
Melihat mangsanya sudah terjatuh, Harimau yang berbadan besar memperlambat langkahnya, dia juga termasuk wanti-wanti untuk mendekati sang gadis.
Namun sebelum dia melompat menerkam sigadis, sebuah Lemparan Tombak langsung menancap kebagian perutnya, yang membuat sang penguasa Hutan itu terpental sejauh 5 meter, dan dengan mata yang masih terbuka dia telah mati seketika dengan bersimbah darah.
Perasaan sang Gadis baru legah, ketika dia melihat Sang Harimau sudah Jatuh tergeletak ketanah dengan tidak bergerak.
Dengan ngos-ngosan dia menarik nafasnya, kemudian dia memutar tubuhnya ketika dia mendengar langkah kaki sedang berjalan kearahnya.
"Apakah kamu baik-baik saja Nona?" Kata Maret Silalahi dengan wajah penasaran.
"Saya baik Tuan" Gadis itu berkata sambil mengibas-ngibaskan tangannya dari debu, dengan kepala yang menunduk sedikit sehingga dia tidak menyadari siapa orang telah menyelamatkan hidupnya, namun dia sangat tercengang ketika dia mendongak dan mengangkat kepala sejajar dengan mereka.
"Ka.. Kalian!" Kata Gadis itu terbata Sambil mengangkat jari telunjuknya kearah Lemon dan Maret.
__ADS_1
"Oh Ternyata Kamu" Jawab Lemon santai sambil dia tersenyum datar, kemudian dia berjalan kearah Harimau dan mengambil Tombaknya yang masih menancap ditubuh Harimau.
"Maafkan saya, saya tidak bermaksud dengan sengaja membunuhmu, tapi kau ingin menghilangkan nyawa manusia" Lemon berkata sambil menepuk-nepuk tubuh sang pemangsa yang sudah tidak bernafas lagi.
Sigadis hanya mematung melihat Lemon dan Maret Silalahi, gadis itu bernama Sinta Zega. Gadis yang membentak Maret Silalahi dan Lemon sewaktu masih diatas kapal beberapa hari yang lalu.
"Untuk apa nona dihutan Sendirian?" Tanya Lemon yang sudah kembali berdiri, dan mengembalikan Tongkat Artefak Nias Selatannya kedalam penyimpanannya.
"Saya sudah tersesat ketika saya mencari bunga Mawar disekitar hutan, namun saya terpisah dari teman-teman dan bertemu dengan Harimau itu" kata Sinta dengan termangap-mangap.
"Oh begitu toh ceritanya" jawab Maret dengan senyuman sumringahnya.
"Mari! Kita cari teman-temanmu" ajak Lemon sambil melangkah pergi, tinggal Maret Silalahi dan Sinta Zega yang berada dibelakang.
"Tuan saya minta maaf atas sikap saya berapa hari yang lalu" tiba-tiba Sinta Zega berlari didepan Lemon dan berkata sambil membungkuk.
Lemon menghentikan langkahnya, dia memperhatikan Sinta Zega, lalu dia berkata: "Siapa Namamu?".
"Nama Saya, Sinta Zega Tuan".. belum selesai Sinta berkata Lemon langsung memotong " Anak Kepala lorong kan?".
"Ma.. Maaf Tuan! Saya menyesal, saya benar-benar minta maaf" Kata Sinta dengan sungguh-sungguh.
"Eemm.. Permintaan maafmu diterima, sekarang lebih baik kita melanjutkan perjalanan, karena malam akan segera datang" ujar Lemon dengan santai, sambi berjalan dengan tatapan lurus kedepan.
Tanpa menunggu lama mereka semua langsung bergegas pergi dari tempat itu.
"Maaf kak, saya sudah gak sopan padamu" Sinta berkata kepada Maret Sambil mereka berjalan beriringan.
"Oh itu, saya tidak apa-apa kok, anggap saja itu hanya sebagai kesalahpahaman saja" jawab Maret singkat sembari dia menatap punggung sang gadis dari belakang, karena Sinta Zega berada tepat ditengah.
__ADS_1
Mereka melakukan perjalanan dengan gerakan kaki yang cepata, sehingga Matahari perlahan menyembunyikan tubuhnya dan malampun menguasai bumi.
Lemon melihat ada Gua diseberang jalan mereka berdiri.