PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 102. Lemon Mengobati Devi


__ADS_3

Mata semua orang merasa kaget, dan tidak berkata apa-apa ketika mereka melihat semua adegan dihadapan mereka.


Ucok yang telah mencekeram pundak Lemon, hanya berdi mematung ketika tangannya terasa kaku, dan tidak bisa bergerak sama sekali.


Lemon tidak bergerak sama sekali, dia dengan santainya menusukan jarum peraknya kebagian-bagian titik terlemah tubuh Devi.


Sehingga dalam sekejab 15 Jarum perak sudah terpasang ditubuh Devi, yang membuat Devi sadarkan diri dan membuka matanya dengan perlahan.


Devi menggerakan tangannya, kemudian dia batuk-batuk karena kerongkonga kering, karena dia belum minum air selama beberapa jam yang lalu.


Melihat Devi sudah sadar dan Teknik Akupunturnya telah berhasil, Lemon dalam satu gerakan dia telah mencabut seluruh 15 jarum dari tubuh Devi, dan seketika Ucok terlempar terhempas dibelakang, dan menghantam bangku kayu yang ada tepat dibelakangnya, yang membuat kayu itu hancur berkeping-keping.


Ekspresi semua orang sangat terkejut, ketika melihat Ucok sudah terpental kebelakang, yang membuatnya mengerang kesakitan, dan langsung memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.


Orang-orang yang berada disitu langsung menghampiri Ucok, kemudian membantunya untuk berdiri, Ucok yang sudah terluka bagian dalam hanya menurut ketika dia angkat dan memegang dadanya yang sangat terasa sakit.


"Ibu! Aku mau minum" kata Devi dengan pelan.


Mata semua orang tiba-tiba teralihkan kearah Devi, ketika mereka mendengar Devi meminta Air Minum kepada ibunya, tidak terkecuali Ucok dan Kepala Suku, mereka langsung memperhatikan Devi.


"Nak! Kamu sudah sadar?" Tanya Linda ibunya Devi, ketika dia melihat anaknya sudah sadarkan diri.


Linda langsung bergegas mengambil semangkuk air minum, kemudian dia memapah Devi untuk duduk, dan memberikan minuman itu kepada Devi.


Tanpa bantuan dari sang ibu, Devi Laoli langsung mengambil mangkuk dan meminumnya, dia telah pulih bagaikan sejak dulu.


"Nak! Kamu tidak apa-apa?" Kepala suku berkata sambil dia berjalan mendekati Devi.


"Iy Ayah.. Saya sekarang sudah lebih baik, saya rasanya telah pulih kembali, dan sepertinya tubuhku merasakan sangat segar, beda seperti hari-hari kemarin" Devi berkata panjang lebar menjelaskan kepada sang Ayah.


Lemon yang berada disamping, langsung jatuh duduk lemas ditanah, dia sangat berkeringat dingin, karena energi esensialnya sudah terkuras cukup besar.

__ADS_1


Linda membenarkan kerah baju Devi, yang sudah dibuka Lemon tadi sewaktu mengobatinya.


"Ayah.. Siapa yang sudah mengobatiku? Bukankah saya tadi tidak memiliki kekuatan untuk bergerak" Devi bertanya dengan wajah penasaran kepada Ayahnya.


"Nak.. Tuan Lemonlah yang sudah menolongmu" Linda berkata pelan kepada Devi sang sibuah hati.


Mendengar nama Lemon, tiba-tiba raut wajah kepala suku berubah kaget, dia langsung berkata dengan gemetar "dimana Tuan Lemon?".


Mereka tidak lagi menyadari keberadaan Lemon, setelah mereka sibuk dengan gembira, melihat Devi yang sudah pulih kembali.


"Saya disini pak Kepala, tolong berikan saya minum" kata Lemon pelan, yang sudah duduk lesuh ditanah disamping tempat tidurnya Devi.


Kepala Suku langsung bergegas menghampiri Lemon, sambil dia bertanya "Tuan Lemon! Apakah tuan tidak apa-apa?".


Lemon hanya bisa mengibaskan tangannya, kemudian dia meraih mangkuk yang berisi Air Minum, yang diberikan Linda Kepadanya.


"Saya hanya sedikit kelelahan, karna saya telah memfokuskan perhatian saya pada penambahan kekuatan non Devi" Lemon berkata kepada Kepala Suku.


Tidal terkecuali Tabib Alvin, dia sangat terpukul dengan pengobatan Lemon kepada Devi, dia hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya, kemudian dia berdiri dan berjalan kearah Lemon, dalam sekejab dia langsung berlutut dihadapan Lemon dengan suara Gedebuk.


"Mohon Tuan, mengangkat saya sebagai murid, saya akan melakukan apapun yang Tuan Inginkan, asalkan saya bisa menjadi Muridnya Tuan" Tabib Alvin berkata sambil bersujud dihadapan Lemon.


Mata semua orang sangat tegang, seakan mata mereka akan keluar dari tempatnya, ketika mereka melihat Tabib Alvin yang sudah berapa puluh tahun, menjadi andalan di Desa Hilikara sebagai tabib yang jenius dan ternama.


"Sepertinya anda tidak memenuhi kulifikasi untuk menjadi murid saya! Kata Lemon tegas, terlihat dari tatapannya.


Kemudian dia melanjutkan "Saya melihat cara pengobatan anda hanya sebagai simbolis, anda tidak jujur dalam pengobatan, seharusnya ketika anda mengobati Nona Devi tadi, anda harus mengeluarkan kekuatanmu yang tersimpan, tapi apa yang anda lakukan, anda semakin menyedot kekuatannnya, untuk menambah kekuatanmu supaya anda bisa menjadi Tabib Abadi di dunia ini" tegas Lemon melihat Tabib Alvin didepannya.


Mendengar ucapan Lemon yang sudah menyentuh titik kelemahannya, tabib alvin seketika wajahnya berubah menjadi sangat pucat, dia tidak menyangka anak yang baru berusia 20tahunan dihadapannya, mampu membongkar rahasianya, yang sudah ia sembunyikan selama ini.


"Ternyata kamu kamu selama ini, diam-diam mengabdi ilmu sihir roh hitam, kamu menghisap seluruh kekuatan pasien yang kamu obati" Lemon berkata mencibir.

__ADS_1


Mendengar keterangan dari mulut Lemon, wajah kepala suku seketika berubah merah menyala, dia menggertakan giginya, dia sangat marah kepada Tabib Alvin, kemudian dia berkata dengan suara dingin "Kamu memang bajingan! Pantas saja selama ini, semua wanita yang obati merasa lemah! Ternyata kamu memperalat mereka".


Kepala suku berdiri dan menendang Tabib Alvin, kemudian dia menatap orang-orangnya "Kalian! Cepat kalian seret dia disungai Rahasia, tempat pemandian Buaya Putih" kepala suku memberi titah.


Tabib Alvin langsung diseret kesungai, setelah mereka mendapatkan titah dari sang kepala suku.


"Ampun!".. "Ampun Ampun!!... Ampun pak kepala, tolong Ampuni saya, saya berjanji tidak akan mengulanginya" Tabib Alvin meraung memohon ketika dia diseret keluar.


Kepala suku yang masih marah, seketika dia berteriak keras "Ucok! Ucok!" Dia mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan gubuk itu, namun dia tidak menemukan keberadaan ucok.


Kemudian dia bertanya "Dimana Ucok?".


"Kami tidak tahu pak Kepala, sepertinya dia sudah pergi" salah seorang warga menjawab.


"Anak yang kurang ajar, berani-beraninya dia mencekeram pundak tuan Lemon" Kepala Suku berkata dengan dingin.


"Sudah pak Kepala, saya juga tidak apa-apa kok" Lemon berkata menghibur kepla Suku.


Mendengar Lemon berkata, Devi membalikan pandangannya dia melihat Lemon, Devi mengerutkan keningnya kemudian dia mengingat-ingat kejadian didalam Gua, dibalik Air Terjun pada beberapa bulan yang lalu.


"Bukankah kamu, yang berada didalam Gua itu, kan! Tapi" Devi menghentikan kalimatnya, ketika dia mengingat Lemon yang Mati didalam Lubang besar.


Semua orang hanya bisa menunggu lanjutan kalimat dari bibir Devi.


"Nak! Tapi Apa?" Kepala Suku berkata dengan penuh penasaran.


"Tapi.. Tapi bukankah kamu, sudah mati ketika melawan Prajurit bayangan itu?" Devi melihat Lemon dengan wajah ketidakpercayaan.


Lemon hanya memberikan senyuman tampannya, ketika dia melihat Devi mengajukan beberapa pertanyaan dengannya.


"Eemm.. Saya memang kalah pada waktu, tapi sang Pencipta masih belum mengijinkanku untuk mati" Lemon menjawab dengan santai.

__ADS_1


__ADS_2