
Dewi sampai dirumah dengan Wajah Masam, dia kemudian menghentakkan tubuh indahnya disofa.
Kali ini dia sangat Kesal terhadap Sikap Lemon, yang sangat terlihat dingin dan terlihat Acuh tak acuh padanya.
"Dia pikir dia itu siapa? Berani sekali dia bersikap seperti itu padaku! Awas saja dia! Akan kubalas!" Dewi membantin dalam hatinya.
Dia menatap kelangit-langit atap, dengan dipenuhi dengan hawa kecemburuan.
Tiba-tiba dari dalam keluar seorang wanita paruh baya, wanita itu berjalan sambil berkata:
"Anak Manis Ibu.... kenapa Wajahnya muram seperti itu, nanti parasmu yang cantik itu Luntur lho...??".
Mendengar suara yang sangat familiar itu, seketika Dewi langsung mendongak dan dia sangat terkejut, melihat seseorang yang sangat dia sayangi.
Ya, wanita itu adalah Lili, Ibunya Dewi istri Restu Chandra, Keluarga nomor satu dikota Gowe.
Melihat ibunya yang sudah bisa berjalan dan berbicara, seakan rahang Dewi lepas dari tempatnya, dan mulutnya terbuka lebar bisa dimasukan sebutir telur Bebek.
Dewi tidak melihat kondisi ibunya semalam, karena dia pulang kerumah sudah sangat terlalu larut malam.
"Ibu..Ini Ibu..!! Betul ini ibu kan...??" Suara Dewi terbata-bata, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Atau jangan-jangan saya lagi sedang bermimpi?" Dewi mencubit pipinya.
Melihat Ekspresi Dewi, Ibunya hanya memasang senyum bahagia dan berkata "Iya nak..? ini memang ibumu, kamu tidak bermimpi!" Lili memegang tangan Dewi dan memeluknya.
Seketika Dewi baru tersadar dari lamunanya, dan dia memeluk erat ibunya, dengan air mata bercampur bahagia, mereka berpelukan cukup lama.
Setelah rasa kangen dan bahagia yang sangat mendalam tercurahkan, akhirnya Dewi dan Lili melepas Pelukan.
"Ibu..?? Siapa yang telah mengobati ibu?" Dewi bertanya dengan penasaran, sambil mengusap matanya yang memerah.
__ADS_1
Ibunya tersenyum sambil memegang tangan Dewi.
"Nak...! Itulah dia Tuan Lemon..!! Tuan Lemonlah yang telah mengobati Penyakit ibumu ini".
Lili meceritakan seluruh kisahnya kepada Dewi, hingga sampai Lili tersadar dari jeratan Roh Jiwa dan bisa berbicara kembali.
"Kapan lagi dia kembali mengobati ibu?" Dewi bertanya dengan serius.
"Karna Roh Jiwa itu masih belum dimusnahkan sepenuhnya...!! katanya dia akan kembali kesini dalam beberapa hari lagi, jika dia tidak ada kesibukan" Lili berkata menjawab pertanyaan Dewi.
"Bu.. Pasti Tuan Lemon, Sudah Tua ya? Sehingga dia bisa menjadi Tabib yang sangat Hebat" Dewi berkata sambil memijat tangan ibunya.
"Hem.. Kamu salah..! Tuan Lemon itu sepertinya masih sebaya sama kamu! Umurnya berkisar 20 tahunan, dia juga tampan tapi penampilannya saja yang membuat dia seperti gembel" Lili berkata sambil merebahkan Tubuhnya yang tidak pegal disofa.
Mendengar perkataan ibunya Hati Dewi bagaikan tersambar petir tornado.
Karna Lemon yang dia kenal sama persisnya dengan apa yang diceritakan ibunya barusan.
Disisi lain, Lemon dan Dennis telah sampai di Asrama.
Lemon langsung masuk kedalam Kamarnya, kemudian dia langsung duduk bersilah diatas tempat tidurnya.
Kemudian Lemon mengeluarkan Liontin Gioknya dan merapalkan Mantranya, dalan sekejab Lemon memasuki Area Perumahan dipinggir Sungai.
Tiba-tiba dihadapannya muncul sosok kabut hitam, kemudian dalam sekejab kabut hitam tersebut berubah menjadi sosok yaitu Elisama.
Lemon yang melihat sosok tersebut langsung memberi hormat "Salam Hormat Kek".
Elisama menatap Lemon dengan Senyuman, dan menganggukan kepalanya jawaban sambutan Lemon.
"Hehehe.. Ternyata Perkembangan Kultivasimu sangat Cepat, kamu memang benar-benar Pewaris Titisan Dewa Perang..! Hahahaa"...
__ADS_1
Elisama tertawa sangat bangga, karna melihat perkembangan Kultivasi Lemon yang sangat Pesat.
"Ternyata kamu sudah melewati tahap pembentukan Pondasi" ucap Elisama.
"ini semua berkat arahan dan bimbingan dari Kakek, makanya saya bisa sampai ditahap yang kecil ini" Lemon berkata dengan nada merendah.
"Bagus..!! Lanjutkan terus berKultivasi, sampai kamu benar-benar kuat, karna dibulan Dua belas bulan Purnama, kamu harus pergi dipegunungan Silewe, karna pada waktu itu dipegunungan silewe, akan terbuka Mata Air.. Mata Air Naga" Elisama berkata sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
Kemudian dia melanjutkan "ingat!. Mata Air Naga tidaklah banyak, Mata Air Naga paling banyak satu botol air mineral, sehingga kamu harus mengambilnya dengan hati-hati, dan kemudian dalam mencapai Pegunungan Silewe, kamu akan dihadapkan dengan berbagai Tantangan!".
"Baik Kek! Saya melakukan yang terbaik, Lalu kalau saya sudah mendapatkan Mata Air Naga, apa yang selanjutnya akan saya lakukan?" Lemon bertanya dengan wajah penasaran.
"Hemm.. Mata Air Naga dapat meningkatkan Kultivasi menjadi 2 tingkat! Sampai disitu Apakah kamu sudah paham!" Elisama menatap Lemon dengan dingin.
"Iya saya paham kek" Lemon terbata menjawab perkataan Elisama.
"Satu lagi..!! Dalam waktu 2 hari yang akan datang, ada Pelelangan Raja Ginseng yang berumur 100 tahun di Puncak Gomo, kamu bisa pergi kesana untuk mengikuti pelelangan tersebut, Ginseng yang sudah berumur 100 tahun itu baik untuk peningkatan Kultivasimu, tapi kalau kamu tidak bisa jangan paksakan".
Selesai berkata Elisama langsung menghilang dari tempatnya.
Melihat Elisama sudah pergi, Lemon hanya bisa menghela Nafas, karna sebenarnya dia masih ada beberapa pertanyaan kepada Orang Tua itu, namun apalah daya Malam sudah keburu datang.
Lemon mengeluarkan Kotak yang diberi Elisama dan Ibunya, kedua kotak itu terlihat sangat mirip bentuknya.
Kemudian Lemon membukanya didalam kotak tersebut, Lemon menemukan Gelang naga giok.
Kemudian Lemon mengamati Kotak itu, terdapat tulisan aksara dipinggir kotak tersebut.
Lemon teringat dengan Darah, sehingga Lemon menginggit ujung jarinya dan mengoleskan setetes darahnya digelang giok tersebut.
Tiba-tiba Sebuah Cahaya Sinar yang sangat menyilaukan keluar dari gelang giok itu.
__ADS_1