PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 145. Perasaan Dian Untuk Lemon & Kesadaran Dewi


__ADS_3

Pria berkopiah menghela nafas panjang, kemudian dia masih terlihat berpikir tanpa bisa diprediksikan, sehingga Lelaki berkalung menatapnya dengan wajah penasaran, kemudian dia mengajukan pertanyaan.


"Kakak Senior!! Apakah yang anda katakan barusan adalah benar? Apakah ada Batu Giok Zamrud dikepala Monster itu? Darimana kakak senior tahu soal hal itu, lalu apa kehebatan dari Batu Giok Zamrud?" Lelaki berkalung berkata panjang lebar dikali luasnya.


"Heemm.. Dasar Bogoh kamu!! Batu Giok Zamrud mampu meningkatkan Kekuatan atau Kultivasi seseorang ketahap yang lebih tinggi, saya mengetahuinya dari sang guru" bentak Pria Berkopiah.


"Oohh.. Jadi seperti itu?? Saya tidak pernah mendengarkan nama itu, makanya saya tidak tau" sahut Lelaki Berkalung Tasbih, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Wajar sajalah kau tidak tau, namanya saja Kamseupai.. Hahahaa" Pria berkopiah terkekeh ketika mengatai temannya kamseupai.


Lemon yang mendengar pembicaraan mereka dengan menggunakan Pendengaran ilahinya, dia hanya bisa mengerutkan kening dan berpikir bahwa orang-orang yang memakai Jubah Kuil ini bukanlah orang biasa.


"Tuan!! Anda ditunggu diparkiran disana, semuanya sudah siap, kalian akan diantarkan sampai kaki bukit" pelayan yang dibayar Lemon berkata dengan suara kecil.


Lemon mengangguk dan berjalan sesuai dengan arahan dari pelayan, Maret Silalahi hanya mengekori Lemon dari belakang.


Dikediaman Walikota Dian berada dilantai teratas rumah itu, dia berdiri dekat jendela menatap kearah Kota Gowe, dengan ekspresi dan perasaan yang tidak bisa ditebak.


"Non!! Minumannya ditaruh dimana" kata seorang pelayan yang memakai topi layaknya seorang pembantu.


"Emm.. Bibi.. Taruh dimeja itu bi" Jawab dia sambil menyuruh pembantu meletakan minuman itu diatas meja yang berada tidak jauh dari tempat dia berdiri.


"Non mikirin apa? Kok bibi perhatikan Akhir-Akhir ini Non sering melamun? Jangan-jangan hati Non lagi berbunga-bunga ya" kata pembantu itu menggoda Dian.


Dia memutar pandangannya kearah bibi, lalu dia berkata "Bi.. Apakah aku berhak mencintai??" Dian sambil tersenyum.


"Heemm.. Berhaklah Non! Siapa bilang Non tidak berhak mencintai seseorang, asalkan! Orang itu juga mencintai Non" jelas bibi itu sambil memandang Dian dengan penuh iba.


"Itulah Bi... Saya juga tidak tau apakah dia menyukaiku?!" Dia berkata dengan menghembuskan nafas pelan, namun masih terpancar tatapan yang tidak bisa diartikan.

__ADS_1


"Loh.. Kok Non berkata seperti itu?" Jawab Bibi dengan wajah penasaran. "Iya Bi!! Karena aku dan berkenalan hanya dalam waktu singkat, dan dia memberiku warna ketika dia menolongku" jawab Dian dengan senyuman kesedihan sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan-jangan yang Non Maksud?? Tu.. Tuan Lemon ya?" Tanya Bibi dengan Suara pelan.


Dian kembali menatap Bibi, kemudian dengan wajah yang cerah dia memegang tangan bibi lalu dia berkata: "Betul bi!! Memang dia..


Apakah aku tidak pantas ya bi, tolong bi berikan aku saran?! Apakah aku tidak pantas ya bi" Dia menggerak-gerakan tangan Bibi sembari dia terus bertanya.


"Non... Non pantas kok, bahkan Non sama Tuan Lemon sangat serasi jika bersama, cuman".. Kata-kata bibi terhenti ketika dia menatap Dian. "Cuman apa bi?" Tanya Dia penasaran.


"Cu.. Cuman Non, apakah Tuan Lemon juga punya perasaan kepada Non Dian" suara bibi terbata-bata ketika berucap, dia takut Dian akan tersinggung dengan pertanyaannya.


"Itulah Bi.. Aku juga gak tahu" Kata Dian dengan menganggukan kepalanya dengan ekspresi sedih.


"Ya Sudah Non, Non yang sabar ya, mungkin ada lebih baiknya, Non harus bertemu dengan Tuan Lemon, supaya non tau perasaannya yang sesungguhnya" Saran Bibi dengan mengelus-elus punggung Dian.


"Padahal sudah berapa hari dia terakhir datang bi, sampai sekarang dia masih belum datang lagi" rengek Dian yang wajahnya terlihat sembab.


Sementara dikediaman Keluarga Chandra, Lili membuka Gorden Jendela sehingga sinar matahari pagi langsung menyinari Dewi yang sedang terbaring diatas tempat tidur, dengan berbagai selang Medis yang masih melekat ditubuhnya.


Ketika Sinar Matahari menerpa wajahnya, dalam sekejab dia menggerakkan jari-jarinya dan perlahan wajahnya yang pucat menjadi memerah.


Dewi perlahan membuka matanya, dengan Sinar Matahari yang sangat menyilaukan dia kembali menutup matanya karena silau.


Tiba-tiba Suara Dewi terdengar, walau suaranya pelan namun masih terdengar jelas ditelinga sang ibu "Bu.. Kenapa Silau sekali, Tolong dong diTutup Gordenya, mataku jadi Sakit nih" Ucap Dewi tanpa sadar meminta Lili untuk menutup kembali Gordenya.


Karena rasa Gembira yang sangat tidak bisa diprediksi, Lili langsung melompat kearah Dewi yang masih terbaring diatas ranjang, namun masih menggunakan selang Infus, dengan cepat Lili langsung melepaskan selang yang menutup Mulut Dewi.


"Nak!!.. Akhirnya.. Akhirnya kamu siuman.. Terimakasih ya Tuhan" Kata Lili dengan perasaan gembira, dia langsung memeluk erat tubuh Dewi.

__ADS_1


"Bu. Aku mau duduk, punggungku rasanya sakit sekali" Ucap Dewi memohon kepada ibunya, sehingga Lili langsung membantu Dewi untuk duduk diatas tempat tidur.


"Bu.. Kok aku bisa diinfus begini sih? Tanya Dewi penasaran kepada Ibunya tanpa dia menyadari dengan apa yang telah terjadi.


"Nak.. Ceritanya Panjang, bagaimana kalau kamu makan terlebih dahulu, nanti ibu ceritakan padamu apa yang sudah terjadi" kata Lili yang masih memeluk Dewi.


"Iya Bu" jawab Dewi singkat sambil dia menganggukan kepalanya.


Lili kemudian berteriak memanggil para pelayan, tanpa menunggu waktu lama pelayan langsung datang menghampiri mereka berdua.


"Maaf Nyonya ada apa??" Pelayan itu berkata kepada Lili, namun wajahnya tiba-tiba terkejut ketika dia menyadari Dewi sudah duduk dan berada didalam pelukan Lili.


"Nyonyaaa!!” kata Pelayan itu dengan keras, matanya melotot melihat kearah Dewi, dia sangat terkejut ketika Dewi sudah duduk bersama dengan ibunya.


Dewi melihat pelayan itu dengan rasa penasaran, namun dia membuang senyuman indahnya kepada pelayan itu sambil berkata "Bi.. Kenapa bibi sepertinya terkejut gitu?".


Pelayan itu langsung menyadari pertanyaan Dewi, sehingga dia tidak membuat banyak pertanyaan lagi "Ohh itu.. Tidak apa-apa Non" kata Pelayan yang langsung berjalan kesamping Lili dan Dewi.


"Bi!! Tolong siapkan makanan untuk Nak Dewi, dan dibawa kesini" Titah Lili yang masih memeluk anak simata wayangnya itu.


"Baik Nyonya" Pelayan itu langsung berpaling ketika dia menganggukan kepalanya kepada Lili.


Pintu didorong terbuka, terlihat Restu Chandra masuk dengan wajah yang sangat bahagia, dia tersenyum sumringah ketika dia melemparkan pandangannya ditempat tidur.


Restu Chandra langsung menyerbu Dewi dan memeluknya dengan Erat, dengan mata berkaca-kaca dia berkata "Terimakasih ya Tuhan, atas berkatmu terhadap kesembuhan anakku".


Tidak menunggu waktu lama, Pelayan masuk dengan beberapa jenis makanan diatas nampan dan dibawa didalam kamarnya Dewi.


Dewi langsung melahap makanannya dengan cepat, dia memakan makanan itu bagaikan hewan buas.

__ADS_1


Restu Chandra menatap Dewi dengan seksama, dia seakan tidak percaya kalau Dewi dengan semudah itu bisa sembuh, karena menurut kata Dokter penyakitnya ini sangat susah, apalagi Lemon yang sudah melakukan berbagai cara namun tidak membuahkan hasil.


Tiba-tiba Hujanpun turun, cuaca menjadi gelap dan kilatan petir menggelegar dimana-mana.


__ADS_2