
Vina mengernyit ketika dia mendengarkan ucapan pak Dedi, kalau Marko sudah menghilang dipusaran Tornado itu.
"Non.. Siapa tau non ketemu dengan Patriak David Laiya, tolong sampaikan apa yang sebenarnya terjadi dengan Anaknya Marko dan Kakeknya Yerfan Laiya" Kata Pak Dedi memohon.
"Pak! Apakah bapak tidak mengenal ciri-ciri pemuda yang membuat kejadian ini?" Tanya Vina menyelidik.
"Eemm.. Seorang Pemuda yang bertubuh kurus, dengan penampilan biasa-biasa saja, wajahnya tampan namun dia memiliki kekuatan yang sangat besar" Pak Dedi menjelaskan.
"Apakah dia!" Kata Vina bergumam kecil sambil dia berpikir, namun gumamannya masih bisa didengar oleh Pak Dedi.
Pak Dedi menatap Vina dengan ekspresi penasaran, sehingga dia berkata "Apakah Non mengenal ciri-ciri pemuda itu?".
"Emm.. Saya masih belum bisa pastikan Pak, saya harus menyelidikinya terlebih dahulu... Makasih Pak atas informasinya.. Saya Pamit" Vina Berkata Kepada Pak Dedi, setelah dia menundukan kepalanya dia langsung meninggalkan tempat itu.
Ditempat lain dikediaman keluarga Chandra, Dewi terbaring dengan tidak bisa bergerak diatas tempat tidur, dia pasangkan selang oksigen untuk membantu tubuhnya dalam memberikan nutrisi.
"Pak! Apakah tidak ada cara lain untuk menyembuhkan Dewi?" Lili bertanya kepada Restu Chandra sang Suami.
"Heemm.. Saya sudah menyuruh Kenji untuk memanggil Dr Wandi Bu, siapa tahu Dr Wandi bisa memberikan solusi tentang kesembuhan Dewi" Ucap Restu Chandra sambil menghela nafas.
Lili hanya menatap Dewi dengan tatapan sendu, dia tidak menyangka anaknya akan mengalami kejadian memilukan seperti ini.
Satu Jam kemudian seorang pelayan dengan tergesa-gesa menemui Restu Chandra "Mohon Maaf Patriak! Dr Wandi sudah ada didepan, apakah beliau dipersilahkan masuk kedalam".
"Iya.. Silahkan langsung antarkan dia kemari" Jawab Restu Chandra dengan cepat. "Baik Tuan Patriak, mohon ijin" jawab pelayan itu balik.
Dokter Wandi masuk kedalam kamar tempat Dewi terbaring, dalam hitungan detik dia mengeluarkan stetoskopnya dan mengecek seluruh denyut Nadi, sehingga dia beranggapan kalau Dewi hanya kelelahan.
Doker Wandi menyuntik Dewi dengan penambah kekuatan, sehingga setelah dia selesai meresepkan obatnya dia menjadi tersenyum sumringah
__ADS_1
Ketika dia dokter wandi, berhasil mengobati Anak Restu Chandra kali ini, tentu dia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar, dan bisa membangun hubungan yang baik dengan keluarga chandra.
Setelah menunggu beberapa Jam, namun Dewi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan siuman, sehingga Dokter Wandi mengerutkan keningnnya, dia lalu memeriksa kembali dengan alat medisnya.
"Kondisinya masih sama seperti sebelumnya" Batin Dokter Wandi dalam hati, karena dia tidak menemukan adanya gejala yang lain, karena denyut nadinya masih normal seperti biasanya.
"Maaf Tuan Chandra, sepertinya penyakitnya aneh, berdasarkan hasil pemeriksaan saya, semuanya berjalan normal, hanya saja dia tidak sadarkan diri" Kata Dokter Wandi dengan wajah penasaran.
"Tolong dokter! Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak saya, saya mohon dokter" Pinta Lili dengan nada memohon, supaya anaknya bisa diberi kesempatan oleh Dokter Wandi untuk memeriksanya.
"Baik Nyonya, saya akan mencobanya lagi" Jawab Dokter Wandi dengan antusias.
Setelah mencoba untuk yang kedua kalinya, Dokter Wandi hanya bisa menggelengkan kepalanya, sembari bergerutu "Aneh!! Sangat Aneh.. Penyakit ini memang betul-betul diluar dugaan medis, karena sesuai pemeriksaan, semua urat Nadinya berjalan dengan sangat Normal".
Wajah semua orang hanya Pasrah ketika mendengar ucapan Dr Wandi, karena semua orang hanya menaruh harapan kepada Dr Wandi.
"Heemm.. Baiklah Dokter, saya mengerti situasinya, terimakasih kau telah berbuat semampumu untuk menangani putriku" Restu Chandra membalas bicara Dr Wandi.
"Maaf Tuan Patriak, alangkah lebih baik kita tunggu saja kabar dari Tuan Lemon, kan Tuan Lemon sudah berjanji untuk mencari obat Non Dewi dalam waktu beberapa hari kedepan, jangan kita terus memaksakan Dokter untuk menanganinya, saya takut akan terjadi sesuatu kepada Non Dewi, apabila dia sering terkena Jarum Suntik" kenji Angkat bicara memberi saran kepada Restu Chandra.
Restu Chandra hanya menganggukan kepalanya pelan, dia setuju dengan saran yang disampaikan oleh Kenji.
Namun beda halnya dengan Dr Wandi, Dokter Wandi mengerutkan wajahnya ketika dia mendengarkan Nama Lemon, karena dia tidak pernah melupakan nama Lemon sejak kejadian didekat Puncak Gomo, ketika dia kalah dalam pertarungan dengan Lemon.
"Apakah maksud Tuan Lemon Nababan?" Tanya Dr Wandi menghadap Kenji, dengan ekspresi yang sangat penasaran.
"Kok Dokter Tahu?? Apakah Dokter pernah bertemu dengannya" Tanya Kenji balik.
Namun Dr Wandi tidak menjawab banyak dia hanya berkata "Saya memang mengenal anak itu, ketika dia mengobati Pak Walikota, tapi pada akhirnya saya yang mengobati Pak Walikota, dia hanya berpura-pura hebat dalam pengobatan namun pada akhirnya dia menipu saya dan mengambil Mobil, dia memutar balikan fakta seakan-akan saya kalah dalam pertarungan dengannya".
__ADS_1
Dr Wandi sengaja memutar balikan Fakta, karena dia harus menjaga wajahnya dihadapan keluarga Chandra sebagai Keluarga Nomor satu dikota Gowe.
Wajah semua menjadi bingung dengan penjelasan dari Dr Wandi, karena setahu mereka Lemon tidak sama seperti yang dikatakan Dr Wandi.
Restu Chandra yang sudah mengerti kondisinya, dia langsung memotong perkataan Kenji dan Dr Wandi "Terimakasih Dokter, karena sudah memberi waktunya untuk memeriksa putri saya" sambil Restu Chandra mengulurkan tangannya.
Dr Wandi langsung meninggalkan tempat itu, setelah dia berpamitan dengan Restu Chandra.
Restu Chandra hanya bisa menghela nafas panjang, setelah Dr Wandi telah meninggalkan tempat itu.
"Ada baiknya kita tunggu saja Nak Lemon" Kata Lili kepada semua orang, yang dijawab dengan Anggukan kepala.
Vina berjalan tergesa-gesa memasuki Loby Kampus, dia berharap bertemu dengan Lemon maupun Dewi, namun dia hanya bertemu dengan teman-temannya Dewi.
"Apakah kalian melihat Lemon masuk kampus?" Tanya Vina kepada Dennis. "Maaf Saya belum melihatnya beberapa hari ini" Jawab Dennis santai.
Tiba-tiba dari ujung Koridor, Vina melihat Yoel sahabatnya Marko dan Adel, buru-buru Vina langsung mendekati mereka berdua.
"Apakah kalian lihat Lemon masuk kampus" dengan pertanyaan yang sama, Vina melemparkan pertanyaan kepada Yoel dan Adel.
"Aku baru dari kantin" Jawab Yoel dengan wajah penasaran "Aku Juga" timpal Adel. "Memangnya kenapa kamu mencari Anak Miskin itu?" Tanya Yoel balik kepada Vina.
"Heemm.. Ada yang perlu aku selidiki darinya" Vina berkata sambil memegang pinggangnya, kemudian dia berkata kepada Yoel dan Adel "Ayo kalian ikut aki, aku membutuhkan bantuan kalian untuk menyelidiki anak itu" Titah Vina tegas.
Vina menarik tangan Yoel dan Adel ketaman Kampus, kemudian dia menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Marko, sampai Marko menghilang dipusat Kabut Putih yang bagaikan Tornado itu.
Kemudian dia menjelaskan kecurigaannya kepasa Lemon, karena sesuai dengan keterangan pak Dedi, pelayan keluarga Laiya.
Yoel dan Adel hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Vina yang panjang lebar.
__ADS_1