
"Saya sangat khawatir! Saya pikir kita tidak akan bertemu lagi" Dewi berkata merengek didalam pelukan tubuh kurus Lemon, sambil mengeluarkan tetesan Air mata.
"Kamu tidak perlu kuatir, kamu lihat sendiri kan? Saya tidak apa-apa" Lemon berkata sambil mengusap-ngusap punggung mungil Dewi.
"Ehem..ehemm".. Suara deheman terdengar dari arah pintu. Kemudian Lemon melihatnya dan dia langsung tersenyum ketika melihat.
"Bryan! Lea, Oohh.. Dennis" Lemon menyapa mereka ketika mereka masuk kedalam kamar tersebut.
Dengan Dewi masih didalam pelukannya, Dewi juga sama sekali tidak ada tanda-tanda untuk melepas pelukannya, sehingga Lemon hanya bisa membiarkannya sesuka hatinya, Kemudian dia berkata: "Kapan kalian datang kemari?" Sambil dia menatap teman-temannya.
"Eh.. Sori Bang bro! Sepertinya kami menganggu waktu kalian" Bryan berkata sambil mengedipkan matanya kearah Lea dan Denis.
"Oh iya Mon.. Syukurlah kamu sudah siuman, jadi kami tidak lama-lama disini" Denis langsung mengerti maksud kedipan mata Bryan.
"Kenapa kalian buru-buru, Ayolah... Tinggal dulu selama beberapa menit, kita ngobrol-ngobrol sebentar" Lemon berkata santai, kemudian Sambil melihat Dewi yang masih merengek, didalam pelukannya dia melanjutkan "Iya kan Dewi?".
Namun Dewi tidak berkata apa-apa, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil dia melirik Lea yang masih berdiri disamping ranjang pasien.
Lemon hanya bisa menghela nafas panjang, ketika dia melihat jawaban Dewi, hanya menggelengkan kepalanya, itu tandanya dia tidak setuju jika mereka berada disini.
Dewi yang melirik Lea, dia mengedipkan matanya kepada Lea, supaya Lea cepat pergi dari tempat itu, namun tiba-tiba Lemon berteriak, sambil dia menggerakan tubuh Dewi.
"Dewi! Itu Pak Restu Chandra dan Patriak Song" Lemon berkata dengan suara meyakinkan.
Dalam sekejab Dewi langsung melompat dari dalam pelukan Lemon, dia langsung berdiri dan merapikan rambutnya, dia berdiri tegak disamping Lea.
Beberapa menit suasana menjadi hening, mereka semua menunggu dengan tenang, kedatangan orang-orang nomor satu itu dikota gowe.
Namun Lemon tertawa terbahak-bahak, kemudian dia turun dari atas ranjang pasien, dia melangkah menuju kamar mandi.
Setelah Lemon masuk kedalam Kamar Mandi, Mereka semua baru sadar jika mereka telah dibohongi oleh Lemon.
"Lemon!!"... Dewi berteriak, sambil memeluk Lea.
"Awas saja dia, dia berani membohongi kita" Ucap Dewi seraya dia masih berpelukan kepada teman akrabnya Lea.
__ADS_1
"Haahahaa" mereka semua tertawa terbahak-bahak, setelah menyadari Lemon berbohong, dan semata-mata agar dia lepas dari jeratan pelukan bintang kampus itu.
Tidak berselang lama, Lemon kemudian keluar dari dalam Kamar Mandi, kemudian dia.langsung duduk disamping Denis dan Bryan Calvin.
"Bagaimana kabar kalian?" Lemon bertanya kepada mereka berdua.
"Kamu tahu sendirilah, kami semua baik-baik saja, seharusnya kami yang bertanya sama kamu,
bagaimana keadaanmu sekarang ini" Dennis berkata santai.
"Oh.. Itu kayaknya hanya luka kecil saja" Lemon menjawab dengan santai.
"iihh.. Kamu tu ya??" dengan wajah cemberut Dewi berteriak kepada Lemon.
Tiba-tiba mereka melihat kearah Dewi, Namun Lemon sangat terkejut melihat raut wajah Dewi, yang cemberut bagaikan Balon udara, kemudian Lemon berdiri dan berjalan disamping Dewi.
"Kamu jangan cemberut seperti itu, seperti balon udara tau" Lemon berkata menggoda.
"iihh kamu tu ya, kamu sudah bohongi kita semua" Dewi berkata jengkel, sambil dia memukul lengan lemon dengan manja.
"Aduuh!! Sakit!" Teriak Lemon dengan berbohong.
Namun Lemon langsung memegang tangan Dewi, mereka saling bertatapan satu sama yang lain, kemudian Lemon berkata: "Sudah tidak sakit lagi kok" Lemon tersenyum kepada Dewi, dengan mata mereka yang masih saling beradu.
Dewi tidak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum tersipu malu, ketika dia melihat tatapan Lemon yang sangat berarti.
Lea dan semua orang yang berada didalam ruangan itu, mereka semua tersenyum bahagia ketika mereka menyaksikan Adegan Romantis, yang dilakukan oleh dua Insan yang sangat sempurna.
Tiba-tiba mereka berdua terkejut, dan langsung memalingkan pandangan masing-masing, ketika suara gagang pintu terdengar dan terbuka.
Restu Chandra dan Istrinya, mereka bersama dokter yang menangani Lemon. Kemudian mereka tercengang ketika melihat Lemon, yang sudah berdiri dan tidak apa-apa.
"Salam Hormat Tuan Patriak" sapa Lemon kepada Restu dan Lili.
"Oh! Ternyata Tuan Lemon sudah sehat, sepertinya Tuan Lemon sudah pulih kembali" Restu Chandra langsung bertanya dengan penasaran.
__ADS_1
"Iya Tuan! Saya memang tidak apa-apa" Lemon menjawab dengan santai.
Dokter yang sangat tidak percaya dalam hal ini, dia menatap Lemon dengan ketidakpercayaan, bagaimana dia tidak terkejut, karena baru tadi pagi dia mengecek keadaan Lemon, namun masih belum menunjukkan adanya, tanda-tanda melewati masa kritisnya.
"Maaf Tuan! Bolehkah saya memeriksa keadaan tuan?" Dokter itu berkata dengan suara pelan.
Lemon tersenyum melihat Dokter itu, kemudian dia kembali naik diatas ranjang dan berbaring dengan santai, kemudian dokter itu memeriksanya dengan menggunakan Stetoskopnya.
Dokter sangat terkejut, ketika dia memeriksa Luka pada Lemon yang sudah menghilang tanpa jejak sama sekali.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Lirih Dokter sembari dia terus mengecek kondisi Lemon.
"Bagaimana Dokter, bagaimana dengan kondisinya?" Dewi berkata penasaran.
"Eemm.. Siapa keluarganya?" Dokter bertanya santai, sambil melihat semua orang.
Mereka semua saling menatap, antara satu dengan yang lain, kemudian Dewi berkata: "Saya Dokter, saya Pacarnya" yang membuat Mata Restu Chandra terbelalak.
Restu Chandra tidak masalah jika Anaknya berpacaran dengan Lemon,
Namun dia takut jika Anaknya menyinggung perasaan Lemon. Sehingga Restu Chandran terasa bergetar ketika dia mendengar pernyataan Dewi.
Beda halnya dengan Lili ibundanya Dewi, Lili hanya bisa tersenyum ketika dia mendengar pernyataan dari Dewi.
"Oh iya Nona.. Pacar Nona tidak apa-apa, dia sudah bisa pulang kerumah hari ini, tapi ingat dia harus istirahat total sampai dia benar-benar pulih kembali" Dokter berkata serius.
"Makasih dokter" Dewi menjawab sambil tersenyum kepada Dokter.
Dewi melihat Lemon kemudian dia berkata: "Kamu dengar apa yang dikatakan dokter! Kamu harus istirahat" Dewi membuat senyuman romantisnya.
Tanpa menjawab Lemon hanya bisa tersenyum, dia juga merasakan malu terlihat dari wajahnya yang memasang senyuman malu.
"Kalau begitu saya pamit!" Dokter berkata sambil memberi hormat kepada semua orang.
Setelah Dokter menghilang dari tempat itu, Restu Chandra menatap Dewi sambil berkata: "Cepat kamu minta maaf kepada Tuan Lemon! Kamu tidak boleh berbuat sesuka hatimu kepada Tuan Lemom" ketegasan restu chandra terpancar dari nada bicaranya.
__ADS_1
"Eemm.. Tuan Patriak! Tidak ada yang perlu minta maaf" Sambil berkata Lemon mengalihkan pandangannya kepada Dewi, Kemudian dia melanjutkan "Saya yang seharusnya meminta maaf, karena saya sudah merepotkan kalian semua, dan saya juga berterimakasih kepada Nona Dewi, sudah membantu saya selama beberapa hari ini" ucap sambil tersenyum.
"Tuan Lemon tidak perlu meminta maaf dan berterimakasih, karena kami sudah menganggap Tuan Lemon sebagai keluarga, iya kan bu?" Restu Chandra berkata sambil melihat Lili yang berada disamping Dewi.